
"Wah! Jangan-jangan kita sudah melakukan kesalahan, makanya Bu Dokter datang," celetuk Dokter Stef.
"Heh? Mana ada? Aku cuma bosan di rumah, aku tidak mengganggu kalian kan?" tanya Alina.
"Mana mungkin kamu mengganggu kami Na, kamu bisa jalan sendiri, datang sendiri pula kemari. Ayo duduk," ucapnya mempersilakan.
"Makasih Stef! Gimana? Apakah ada masalah? Mungkin atap bocor atau apa gitu? Aku mau dengarkan keluh kesah kalian. Sepertinya menarik," ucapnya memasang telinga bersiap-siap untuk mendengarkan.
______________
"Kau ini seorang dokter atau tukang bangunan?" tanya Dokter Stef tersenyum lebar.
"Hahah! Aku sedang bosan Stef, supaya aku tidak mengantuk saja. Kau tau rasanya aku ingin tidur terus. Makanya aku kesini," ujarnya ikut tertawa.
"Kalau ngantuk ya tidur, bukan pergi meninggalkan rumah. Disini aman, tenang saja. Sesuai yang kau harapkan bukan?" ujarnya.
"Ya, aku tau. Pasti akan baik-baik saja selama ada kalian disini," sahutnya.
Tiba-tiba seorang pasien datang dengan riwayat kecelakaan tunggal di jalan dekat dengan klinik. Untuk itu warga ang berada di sekitar tkpcsegera membawanya ke klinik terdekat untuk mendapatkan penanganan.
Para petugas sigap membawa pasien ke ruang tindakan untuk menganalisa lebih dulu tindakan apa saja yang ahrus mereka berikan. Yang pertama adalah menghentikan perdarahan karena luka robek di bagian kaki sebelah kiri.
Sementara itu, yang lain menyiapkan peralatan obat yang mereka butuhkan. Alina duduk di kursinya, membantu perawat melakukan anamnesa pada saksi kejadian untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Selamat siang, Bapak saksi kejadian dari kecelakaan yang menimpa pasien? Perkenalkan saya Dokter Alina, izinkan saya untuk bertanya beberapa hal pada Bapak," ucapnya dengan sopan.
"I-iya Dok, silakan!" ucapnya dengan kooperatif.
"Kira-kira pukul berapa pasien melintas di tkp? Lalu apa yang terjadi sehingga pasien mengalami perdarahan pada kakinya? Silakan di ceritakan Pak," Ujar Alina.
"Sekitar pukul 8.00 lebih tepatnya saya tidak tau Dok. Tiba-tiba terdengar suara benturan cukup keras, ternyata ada sebuah motor yang menabrak pagar beton. Menurut penjelasan, pasien menghindari kucing yang melintas. Karena melihat darah sudah mengalir cukup banyak, kami berinisiatif untuk membawanya kesini agar segera mendapatkan pertolongan,"
Dalam waktu 5 menit beberapa pertanyaaan sudah diajukan. Tinggal menunggu yang lain selesai memberikan tindakan pada pasien. Setelah menunggu hampir 1 jam lamanya, mereka sudah keluar dengan senyum di wajahnya.
"Kerja bagus teman-teman," Ujar Alina memuji rekan kerjanya yang lain.
__ADS_1
"Pasien sudah kami berikan injeksi ATS(anti-tetanus serum) pukul 08.45 Dok," lapor salah satu perawat yang baru saja keluar dengan membawa spuit dan one swape yang baru saja mereka gunakan untuk tindakan.
"Apakah sudah dilakukan skin test lebih dulu sebelum pemberian injeksi ATS?" Tanya Alina memastikan.
"Sudah Dok, tidak ada tanda-tanda alergi yang muncul pada kulit sekitar bekas suntikan," jawabnya.
"Baiklah, terimakasih ya. Lakukan observasi selama 1 jam, jika kondisi sudah membaik pasien diperbolehkan untuk pulang," ujarnya.
"Baik Dokter," sahutnya.
"Suster, apakah sudah menghubungi pihak keluarga dari pasien?" tanya Dokter Stef.
"Sudah Dok, keluarga pasien sedang dalam perjalanan kesini. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai," ujarnya menjelaskan.
"Terimakasih Sus," ucapnya seraya mengelap tangannya setelah melakukan handwash.
"Baiklah, aku sudah terhibur disini. Aku akan kembali ke rumah. Selamat bekerja teman-teman. Terimakasih untuk kerja keras kalian," pamit Alina pada yang lain.
"Selamat istirahat Dokter Nana. Kami tunggu kunjungan selanjutnya," sahut Dokter Stef.
Akhirnya kejenuhanku terobati, rasa rinduku untuk bekerjapun sudah terobati meski hanya menganamnesa saja. Aku beruntung memiliki mereka yang sudah bekerja keras dengan sangat baik.
Semoga aku di berikan kesehatan dan umur panjang, supaya bisa terus membantu mereka dalam bentuk materi. Dan aku tidak tau akan seperti apa jadinya kalau tidak bertemu dengan mereka.
Untung saja Stef si Dokter yang super sibuk berkenan untuk part time di klinik kecilku meski gaji tidak seberapa dari gaji yang dia terima dari Rumah Sakit tempatnya dulu bekerja.
Hah! Terimakasih Tuhan. Entah sudah berapa kali aku mengucapkan terimakasih padamu, rasanya belum cukup aku mengucapkan terimakasih atas nikmat yang Engkau berikan secara cuma-cuma untukku, si manusia kecil yang tak berdaya ini.
Dan, sekarang rasa kantukku sudah tidak bisa aku tahan lagi. Sebaiknya aku tidur sebentar sebelum jam makan siang tiba. Masih ada waktu 1,5 jam untukku memanjakan mataku ini yang sejak tadi sudah demo.
Sementara itu,
Setibanya di Perusahaan Vannya dan Pak Chandra segera menuju ruang kerjanya. Barusan Mbak Eni mengirimkan pesan pada Vannya jika dia sudah meletakkan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Pak Chandra.
Dna benar saja, setibanya di meja kerjanya sudah di hidangkan dengan beberapa tumpuk berkas yang tertata rapih di sana. Setelah beristirahat sejenak, Vannya segera membawa sebagian berkas ke meja Pak Chandra untuk meminta tanda tangan.
__ADS_1
Tokk ... tokk ... tokk
"Permisi, Pak! Ada beberapa berkas yang harus Baoak tanda tangani," ujarnya dengan sopan.
"Masuklah," ucapnya memutar kursinya ke posisi yang benar.
Pak Chandra dengan cekatan, membubuhkan tanda tangan di bagian bawah sebelah kanan kertas. Vannya dengan cepat segera menata kembali berkas yang sudah mendapatkan tanda tangan dari Pak Chandra.
"Apakah masih ada lagi?" tanyanya sambil membubuhkan tanda tangan.
"Masih ada sebagian Pak," jawabnya.
"Baiklah. Bawa lagi kemari. Biar aku selesaikan," ucapnya.
"Baik, Pak!" Setelah berkas terakhir, Vannya segera kembali mejanya untuk mengambil sebagian berkas yang masih tersisa di meja kerjanya.
"Okey! Yang ini sudah di tanda tangani. Semangat Van!" gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Vannya kembali membawa beberapa berkas untuk mendapatkan tanda tangan. Tanpa basa basi Pak Chandra segera membubuhkan tanda tangan. Untung saja mood Pak Chandra sedang baik hari ini.
"Oh ya. Baru saja anak buahku mengirimkan video terkait wanita itu semalam," ujarnya ang masih fokus membubuhkan tanda tangan.
"Maksud Bapak, Erlina? Apa yang terjadi padanya?" tanya Vanna yang juga penasaran dengan nasib Erlina.
"Kamu lihat saja sendiri, letakkan berkas itu. Fokus menonton biar aku selesaikan ini," ujarnya seraya menyerahkan ponsel miliknya pada Vannya.
Vannya segera meletakkan berkas yang sudah mendapatkan tanda tangan Pak Chandra di meja bagian ujung agar tidak tercampur dengan yang lain. Dia segera duduk di kursi terdekatnya untuk melihat video yang di kirimkan anak buah Pak Chandra.
Betapa terkejutnya Vannya saat melihat isi dari video yang di kirimkan. Dia merasa kasihan dengan wanita itu, tapi di sisi lain dia tidak menyalahkan anak buah Pak Chandra karena memang itu adalah balasan yang setimpal untuknya.
Lagian mereka melakukannya pun atas perintah dari Pak Chandra. Tidak mungkin mereka bertindak dengan sendirinya.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Pak Chandra yang sudah selesai menandatangani berkas sampai habis.
"Sa-saya tidak tau harus berkomentar apa Pak! Tapi saya yakin apa yang mereka lakukan adalah atas perintah dari Bapak. Dan mungkin jika wanita itu tidak diberikan pelajaran, dia tidak akan jera ... ." jawab Vannya.
__ADS_1
"Ya kamu benar. Wanita sepertinya tidak akan pernah menyerah sebelum di berikan pelajaran," ujar Pak Chandra.