
"*Baik Sayang. Oh iya, Mamah hari ini mau ke Rumah Sakit buat temani Kinan. Sekalian bawakan baju ganti untuk Papah," ujarnya.
"Oh, kalau gitu nanti kita ketemu di sana Mah ...! Aku sama Kak Vin juga mau mampir ke Rumah Sakit dulu buat lihat kondisi Papi," ucapnya.
"Ah kebetulan sekali kalau gitu, baiklah Mamah mau siap-siap dulu deh,"
"Mamah jadi kan menginap di rumah?" tanya Vannya.
"Jadi Sayang, nanti sekalian deh Mamah bawa beberapa baju buat ganti selama di rumahmu," celetuknya.
"Jangan bawa banyak-banyak Mah ...! Disini banyak baju kok yang udah kita siapin," ujar Vannya*.
_____________
"Baiklah, tidak banyak kok. Hanya beberapa, ya udah Mamah siap-siap dulu ya Nak. Kalian nanti hati-hati kalau udah mau berangkat, bilangin Vin jangan ngebut ...!" ujar Mamah.
"Iya Mah, siap ...!" sahut Vin yang mendengarnya.
"Makasih anak Mamah yang tampan, see you ...!" ucapnya segera mematikan telepon.
Vannya melanjutkan memotong buah yamg sudah di ambilnya untuk sarapan. Tak berapa lama kemudian, Bi Minah keluar membawa segelas susu hangat untuk Vannya.
"Makasih ya Bi," ucap Vannya.
"Sama-sama Nyonya,"
"Bi, siapkan beberapa buah juga ya. Aku mau bawa ke Kantor juga, jangan lupa di cuci dulu ...!" pinta Vannya lagi.
"Baik Nyonya. Akan segera saya siapkan,"
Tak sampai 10 menit, Bi Minah telah kembali dengan satu kotak berwarna lavender berisi berbagai macam buah sesuai permintaan Vannya. Kebetulan sarapam sudah selesai, merekapun segera beranjak pergi meninggalkan rumah.
Di Lorong ICU
Horden telah di buka kembali, para penunggu bisa melihat pasien yang saat ini berada di dalam sana. Begitupun dengan Revan dan Papah yang langsung berdiri saat seorang perawat sudah membuka horden kaca di depannya.
Masih sama, Randy masih belum sadar dari komanya. Monitor di sampingnya menampilkan angka entah apa maksudnya, karena mereka awam. Lagi-lagi terlihat seorang dokter di dampingi perawat datang mendekati bed Randy dan memperhatikan layar monitor di hadapannya.
Sesekali Dokter berbincang pada perawat, dan dengan sigap perawat lansung mencatatnya di kertas yang di bawanya. Mungkin Dokter sedang meresepkan obat atau tindakan selanjutnya untuk pasien.
Saat melihat Dokter akan keluar, Revan dan Papah segera bergegas menuju pintu untuk menemui Dokter dan menanyakan tentang kondisi Randy saat ini.
"Selamat pagi, Dokter ...!" sapanya dengan ramah.
"Selamat pagi, Pak ...! Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah, tersungging sebuah senyuman di sudut bibirnya yang sedikit tebal.
"Pagi Dokter, maaf jika kami mengganggu. Kami keluarga dari pasien atas nama Pak Randy, kalau boleh tau bagaimana kondisi beliau saat ini?" tanya Revan dengan tegas dan jelas.
__ADS_1
"Kondisinya masih sama seperti kemarin, tidak ada perubahan secara signifikan. Tapi semua hasilnya normal, semoga ada keajaiban Tuhan yang ikut campur untuk kesembuhan beliau," ujarnya.
"Aamiin, terimakasih Dok,"
"Sama-sama Pak. Kalau ada yang ingin di sampaikan lagi, bisa langsung tanyakam saja ya. Di sebelah sana ada ruang dokter," ucapnya menunjuk ke sebuah ruangan.
"Pah ...!" Panggil Mamah Irene seraya melambaikan tangan ke arahnya.
"Mereka sudah datang Pak Revan," ujar Papah.
"Iya Pak," sahutnya.
"Pagi Pah ... Om ...! Makasih ya sudah menjaga Papi semalaman," ujar Chandra.
"Tidak perlu berterimakasih Chand, kita semua adalah keluarga. Sudah sepantasmya untuk saling tolong menolong," sahut Revan.
"Van ... Pak ...! Kami bawakan sarapan untuk kalian, silakan di makan dulu ya," ujar Mami Kinan.
"Terimakasih Kin," ujarnya.
"Bagaimana kondisi Mas Randy?" tanya Kinan.
"Masih sama seperti kemarin Kin. Tapumi semua normal dna hasilnya baik kata Dokter barusan," ujarnya menjelaskan.
"Hmm, sebentar lagi Maya akan datang. Kamu disini dulu aja," ucapnya.
Sementara itu, Kinan dan Chandra memilih untuk melihat kondisi Papi. Ternyata benar, masih sama. Hanya saja pagi ini terlihat lebih rapih daripada kemarin.
"Mas aku datang. Maaf semalam aku tidak bisa menunggumu disini," batin Mami.
"Mami ingin masuk ke dalam sana?" tanya Chandra.
"Apa boleh?" tanya Mami.
"Chandra tanyakan dulu ya Mam," ujarnya segera berlalu pergi ke ruang dokter untuk meminta izin aga Mami di perbolehkan masuk.
Tak lama kemudian, Chandra kembali dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia segera menggandeng Mami dan mengajaknya ke Perawat yang sedang berjaga di dalam.
"Suster. Ibu Saya mau masuk untuk melihat Papi, saya sudah izin ke dokter ...!" ujar Chandra.
"Oh baik Pak, mari Bu ikut saya. Jika ingin masuk harus berganti pakaian yang sudah kami sediakan ya," ujarnya.
"Chandra, makasih ya ...!" ucap Mami dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sama-sama Mi. Tapi janji, Mami gak boleh nangis ya, Mami hatus kuat dan senyum selama Mami di dalam. Papi akan ikut sedih kalau mendengan Mami menangis,"
"Biarpun saat ini Papi masih koma, tapi telinganya bisa mendengar apapun yang dia dengarkan saat ini," jjar Chandra.
__ADS_1
"Iya Nak, Mami gak akan nangis ...! Mami janji ...!", ucapnya.
"Hmm, masuklah Mam ...!"
Mami segera masuk untik berganti pakaian sebelum menemui Papi. Sementara Chandra keluar dan melihat Papi dari balik kaca. Tak lama kemudian, Vin dan Vannya datang.
"Pagi Pah, Om, Tante ...!" Sapa Vannya dan Vim secara bergantian.
"Pagi Nak, kalian juga kesini?" ujarnya.
"Iya Tante. Kalau tidak kesini dulu, Kak Vin tidak akan tenang nanti," jawab Vannya.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Revan.
"Udah kok Pah, silakan di lanjut dulu sarapannya. Kami mau lihat Papi dulu ya," ucapnya.
Vannya dan Vin mendekati Chandra yang sedang berdiri di depan kaca.
"Pagi Kak," sapanya.
"Hei, kalian ...! Sudah lama?" tanya Chandra balik.
"Baru saja, bagaimana kondisi Papi Kak?" tanya Vin.
"Masih sama Vin, tapi semuanya normal kata Dokter," jawabnya.
"Syukurlah," jawab Vannya dan Vin secara bersamaan.
"I-itu Mami kan?" tanya Vannya.
"Iya itu Mami, aku yang meminta izin pada Dokter agar Mami boleh masuk. Biar bagaimanapun, Papi dan Mami gak bisa dipisahkan," ujar Chandra.
"Makasih ya Kak," ucap Chandra.
"Makasih untuk apa? Aku hanya melakukan kewajibanku untuk orangtuaku kok," sahutnya.
"Kakak benar. Mami dan Papi adalah dua raga yang tak bisa di pisahkan. Sudah banyak kejadian yang hampir memisahkan mereka, tapi Tuhan tidak akan membiarkannya," batin Vannya menatap sepasang suami isteri yang sedang menumpahkan segala kerinduan di dalam sana.
Sementara itu,
"Mas, aku datang. Aku disini, apa kamu bisa merasakan kedatanganku Mas?" tanya Mami seraya duduk di kursi samping bed.
"Mas buka kedua matamu, ayo kita pulang dari sini. Aku tidak bisa berjauhan denganmu sekarang. Kamu tau? Semalaman aku tidak bisa tidur, aku ingin cepat-cepat pagi agar bisa kesini untuk menemanimu Mas," imbuhnya lagi.
"Aku mendengarmu Sayang, tapi lidahku kelu. Mulutku seakan terkunci. Aku juga ingin membuka mataku, tapi susah sekali," ucap Papi dalam hatinya.
"Mas, anak-anak kita sangat mengkhawatirkanmu. Lihat ... mereka disana, melihat ke arah kita. Nana hari ini ada rapat, jadi gak bisa ikut. Tapi mereka menitipkan salam untukmu," ujarnya.
__ADS_1
"Mas harus kuat ya, kita selalu disini buat Mas. Kita yakin, Mas adalah Ayah yang kuat. Mas tidak akan pernah mengecewakan keluarga, Mas pasti akan berjuang untuk bisa melewati ini semua kan Mas?" air mata perlahan mengalir dari ujung matanya.