
Sesampainya di sana, Chandra segera bergegas menuju ruang perawatan Aura di lantai 3. Di lorong masuk sudah terlihat beberapa polisi yang berjaga disana. Mereka menyambut Chandra dengan ramah dan mempersilakannya untuk segera ke Ruang Perawatan.
"Apakah saya terlambat?" tanya Chandra setelah sampai di depan pintu.
"Belum Pak, baru saja penyidik datang. Dan masih berusaha mengajak saksi untuk bicara secara baik-baik karena psikisnya masih terguncang," jawabnya.
"Hmm, baiklah, terimakasih infonya,"
Chandra perlahan mengintip dari balik dua badan besar di dalam ruangan. Di sana terlihat Aura masih enggan untuk bersuara dan memilih untuk membuang muka ke tembok.
"Nona Aura, mohon untuk kooperatif ya ...! Kami hanya meminta Nona menjawab iya atau tidak,"
_______
"Nak, jangan takut. Ayah disini," ucap Pak Ruli.
"Aku tidak tau apa-apa ... pergilah ...!" ucap Aura dengan pelan.
"Kalau kamu tetap begini, bisa-bisa kamu yang harus mendekam di balik jeruji besi. Katakan semuanya, Ayah yakin kamu tidak bersalah," ucap pak Ruli.
"Ya sudah, tidak apa ...! Mungkin ini adalah jalan Tuhan untuk aku menghabiskan sisa hidup di tahanan. Aku sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, tembak mati saja sekalian," ucapnya.
"Kami tidak mungkin menangkap yang tidak bersalah, mohon Nona untuk sedikit kooperatif. Setelah proses ini selesai, kami tidak akan lagi menemui Nona jika Nona tidak bersalah," ujarnya.
"Haih ...! Omong kosong ...!" sahutnya.
"Pak, biar saya yang bicara dengannya," ujar Chandra meminta izin.
"Pak Chandra, kapan datangnya?" tanyanya.
"Baru saja Pak, bolehkah saya bicara dengan Aura?" tanya Chandra lagi.
"Silakan Pak," ucapnya.
"Ra ... Kamu tau saya kan?" ujarnya berdiri di hadapan Aura.
"... ."
"Pak, boleh kami bicara 4 mata? Mungkin Aura tidak ingin ramai orang disini," ujar Chandra.
"Tapi Pak,"
"Percayakan pada saya, Pak ...!" ucapnya seraya menunjukkan ponselnya, mengisyaratkan jika dirinya sudah mengaktifkan alat perekam.
"Oh, baiklah. Yang lain ayo keluar, biarkan Nona Aura bicara dengan Pak Chandra," ujarnya.
Setelah semua keluar, suasana seketika menjadi hening. Hanya terdengar suara air oksigen, Chandra menarik kursi besi dan duduk di hadapan Aura meski wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat.
"Aura ... aku datang untuk menjengukmu. Aku tau apa yang terjadi padamu, aku yakin kamu tidak bersalah dalam hal ini. Makanya aku ingin membantumu," ujar Chandra.
__ADS_1
"Membantu? Apa yang mau di bantu? Membantuku berjalan? Menggendongku? Heh ...!" ujarnya dengan senyum masam.
"Aku akan membantumu unuk bisa terbebas dari kasus ini. Selama kamu kooperatif," jawab Chandra.
"Untuk apa aku di bebaskan? Penjarakan saja aku, itukan yang kalian mau? Karena kalian, Ibuku jadi wanita yang pemarah dan pendendam. Karena kalian, aku tidak pernah sedikitpun mendapat kasih sayang dari Ibuku, semua sudah kalian renggut. Lalu apa lagi yang kalian inginkan dariku?" ujar Aura yang masih membuang muka.
"Aku tidak tau masalah Ibumu di masa lalu. Disini aku bersikap netral, aku tidak memihak kepada siapapun. Kamu bisa percaya kan?" tanya Chandra menggenggam tangan Aura untuk memberikan rasa nyaman padanya dan lambat laun Aura akan mau menceritakannya jika sudah merasa nyaman.
"Tatap mataku, kamu akan bisa melihat jika ada kebohongan disana," ujarnya lagi.
Aura menatap mata Chandra, cukup lama mereka saling bertatap muka. Aura tak menemukan kebohongan disana, genggaman tangan Chandra berhasil menenangkannya.
"Sekarang, ceritakan semuanya ...! Aku akan mendengarkannya," ujarnya.
"Hmm," sahutnya bergumam seraya menganggukan kepalanya bak orang yang terkena hipnotis.
Flashback On
"Tidak ada ampun untukmu, bersusah payah aku membesarkanmu untuk bisa membalaskan dendam pada mereka. Tapi sekarang kamu malah mempermalukanku begitu saha di hadapan mereka,"
"Kamu tau? Mereka yang sudah membuatku hancur, mengandungmu di balik jeruji besi bukanlah hal yang mudah. Kamu pikir selama 20 tahun lebih aku mendekam disana, ingatanku akan hilang? Aku akan taubat seperti selebritis yang tersandung masalah? Tidak akan," ujarnya
"Ma-maafkan aku Bu. Tapi bukan mereka, melainkan orangtua mereka bukan? Kami tidak ada hubunannya sama sekali," jawab Aura menahan rasa takutnya.
"Diam ...! Kamu punya mulut bukan untuk membantahku, tapi hanya menjawab iya saat aku perintahkan," ujarnya membentak Aura hingga sopir merasa takut meski tak melihatnya karena ia harus fokus menyetir mobil.
"Aku tidak suka jika ada yang membantahmu, kamu sedang bersamaku bukan dengan Ayahmu yang lemah," ujarnya.
"*Aku selalu bodoh di matamu Bu, aku selalu salah di matamu. Apakah itu bukti kasih sayangmu untukmu? Ibu hanya tidak ingin aku jadi wanita yang lemah? Kalau iya, katakan bu ...!"
"Sekali saja katakan padaku, apa Ibu menyayangiku? Aku belum pernah mendengarkan ini dari dulu," batin Aura dengan mata yang sudah berkaca-kaca*.
"Kenapa menangis? Kamu marah padaku? Kamu benci padaku? Katakan ...! Jangan diam dan menangis, menjijikan ...!" umpatnya dengan kesal.
"Ti-tidak Bu," jawabnya terbata.
"Aku tidak ingin lihat ada air nata di depanku, jangan melemah di depanku. Apa kau pikir aku akan memaafkanmu setelah melihat air matamu? Tidak ...!" ujarnya dengan lantang.
"Kenapa tidak? Apa aku anak yang tidak Ibu harapkan?" batin Aura.
"Pak, kurangi kecepatan sedikit. Apakah dia Randy?" ujar Erika saat melihat sosok pria yang sudah lama tidak di lihatnya.
"Iya Bu itu Pak Randy," sahut Aura yang mengintip dari celak jok sopir.
"Diam kamu, aku tidak tanya padamu ...!" sahutnya.
"Aku bahkan hanya menjawab untuk memberitahumu Bu," batin Aura.
"Ah benar itu dia ...! Pak tabrak dia ...!" ujarnya.
__ADS_1
"Ta-tapi Bu," sahut sang sopir.
"Apa kau tidak mendengarku?" ujar Erika dengan kesal.
"Apa maksud Ibu? Jangan ... Pak Randy kan ...!" ujar Aura yang langsung di bentak.
"Diam ...! Apa aku meminta pendapatmu? Tutup mulutmu selagi aku belum menyuruhmu membuka mulut, mengerti?" bentaknya.
"Tapi Bu, itu tidak benar ...! Aku tidak mau masuk ke dalam penjara, aku tidak mau ...!" ujar Aura terisak.
"Diamlah kalau kamu mau selamat ...!" bentaknya.
"Ayah ...! Tolong aku," batin Aura dalam isakan tangisnya.
"Ayo Pak, cepat tabrak dia ...! Kalau perlu lindas saja tubuhnya," perintahnya.
"Sa-saya tidak berani Bu," sahutnya ketakutan.
"Aku kasih 100 juta kalau kamu melakukannya," ucapnya.
"Ta-tapi Bu,"
"Cepat ...!" bentaknya.
"Ba-baik Bu ...!"
Sopir menginjak gas mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Sasaran sudah hampir sampai di seberang jalan, Aura panik dan takut ia menutupi wajahnya dengan tas kerja.
Sedangkan Erika senyum menyeringai melihat ke depan dengan tatapan percaya dirinya akan behasil menyingkirkan pria di depan sana.
"Brukk ...!"
Pria tersebut terpental, darah mengucur di kaca mobil bagian depan. Mobil terus melaju dan kehilangan keseimbangan hingga menabrak pohon besar yang berjarak 100 meter dari mobil.
Duaarrrr ...!
Flashback Off
"Tenanglah, kamu tidak bersalah ...! Kamu akan aman," ujar Chandra.
"Biar aku yang menebus kesalahan Ibuku, meski Ibu tidak pernah menyayangiku sekalipun," ujar Aura.
"Ibumu menyayangimu, hanya saja dia tidak bisa mengungkapkannya. Masih ada Pak Ruli. Dia sangt menyayangimu," ujar Chandra.
"Aku tau, tapi kenapa Ibu terus memarahiku. Tidak pernah sekalipun dia bilang sayang, tidak pernah dia memelukku ...!" ujar Aura.
"Maaf ya Nak, Ayah gagal menjadi kepala keluarga. Ayah tidak bisa merubah sikap Ibumu yang angkuh," sahut Pak Ruli yang sudah berdiri di pintu.
"... ."
__ADS_1
Pak Ruli mendekati putrinya, dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Putrinya tak pernah bahagia sejak dulu, ia menyadari itu. Itulah salah satu alasannya untuk menikah lagi dengan Mayang, tapi baru 5 tahun pernikahannya ia harus di pisahkan oleh maut.