
Ia segera keluar dari bathup dan membilas tubuhnya dari guyuran sh**ower yang mengalir hangat. Setwlah merasa cukup, Chandra bergegas keluar dengan balutan handuk di pinggangnya dan mengambil baju ganti dari dalam koper.
"Kenapa mereka belum mengabariku? Apa sebaiknya aku yang menghubungi mereka dulu?" gumamnya.
"Baiklah, aku yang akan menghubunginya," meraih ponselnya di atas meja kecil dekat kasur.
Tuuttt ... tuuttt ...!
_______
Tidak ada jawaban, Chandra membiarkannya untuk beberapa saat sebelum kembali menghubunginya. Setelah menunggu hampir 15 menit, terdengar dering telepon dari ponselnya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Dia tewas Pak, saat kami hendak membawanya pergi. Tiba-tiba dia memberontak dan mencoba kabur, dan pada akhirnya dia terjerembah masuk ke dalam jurang dan tertusuk dahan pohon yang runcing,"
"Saat ini, ia masih tersangkut di atas pohon ...!" jawabnya menjelaskan apa yang baru saja terjadi dan mereka alami.
"Hmm, Ya sudah ...! Segera menjauh dari sana, kalau perlu kalian bersembunyi untuk beberapa hari. Ajak anak dan isteri liburan," ucapnya.
"Ba-baik Pak ...!"
Telepon terputus, Chandra tak habis pikir Ilham akan berakhir dengan tragis. Tapi semua sudah terlambat, waktu tak bisa di putar. Setidaknya Vannya akan aman tanpa di bayangi ketakutan jika Ilham masih ada.
________
"Jadi, gimana Ra? Kamu terima Rico?" tanya Dewi yang kini duduk di jendela kamar memandangi sekeliling komplek yang bisa dia lihat dari sana.
"Menurutmu bagaimana? Aku pikir malah kalian sudah jadian," sahut Aura dengan tenang.
"Eh? Mana mungkin? Tidak mungkin kita jadian, kami hanya sebatas teman. Tidak lebih ...! Dan aku tau, di hati Rico cuma ada kamu Ra ...!" ujarnya seraya memutar badan mengahadap Aura.
"Darimana kamu tau?" tanya Aura.
"Karena Rico banyak cerita tentang apa yang dia rasakan, termasuk sejak kapan rasa itu muncul dalam benaknya. Dan dari dulu, sampai sekarang perasaan itu masih sama,"
"Tidak ada salahnya kan kamu kasih kesempatan ke dia Ra?" imbuhnya seraya menepuh bahu Aura dengan perlahan.
__ADS_1
"Aku hanya tidak mau memberikan harapan padanya Wi, aku sendiri tidak mencintainya. Dan aku tidak tau, apa aku bisa mencintai pria lain selain Arsen," Aura menundukkan wajahnya membuat Dewi merasa bersalah karena sudah membuat Aura sedih.
"Ra, maafin aku. Aku gak ada maksud buat bikin kamu sedih. Kalau kamu gak bisa ... ya udah bilang aja ke Rico, aku yakin dia akan mengerti kok ...!" ucap Dewi dengan lembut.
"Apa aku jahat Wi? Selama ini aku terlalu sombong, aku angkuh pada orang lain. Dan kamu tau itu, selama ini aku tidak pernah melirik orang lain karena aku pikir mereka tidak panyas untukku. Aku terlalu sombong," ucapnya.
"Hey ...! Jangan berkata seperti itu, kalau kamu sombong dan angkuh mana mungkin sekarang aku bisa ada disini? Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan Ra, begitupun dengan aku ...!" ucapnya merangkul Aura dengan erat.
"Makasih ya Wi, cuma kamu satu-satunya teman yang aku punya. Makanya aku minta kamu untuk manginap disini, karena aku gak tau lagi mau cerita ke siapa ...!" ujarnya.
"Ada Ayahmu kan? Dia sangat menyayangimu ...!" ujarnya.
"Kamu benar, Ayah sangat menyayangiku. Walaupun aku bersikap kurang baik padanya, rasanya aku malu Wi. Orang di sekelilingku baik dan perduli denganku, sedangkan aku malah membuat mereka kecewa,"
Malam itu, Aura menumpahkan semua yang dia rasakan selama ini. Tangisan pecah begitu saja, menyelingi curhatan yang membuat Dewi merasa prihatin.
Dibalik sikap Aura yang kadang menyebalkan, ternyata banyak kesedihan yang dia rasakan. Di balik sikapnya, Aura hanya ingin membentengi dirinya dari pengaruh luar.
Dia sudah cuku merasa tertekan dengan masalah Ibunya, dan mungkin rasa percaya dirinya perlahan lenyap dan membuatnya bersikap masa bodoh hingga enggan untuk perduli pada orang lain.
Gerimis turun, menambah suasana semakin syahdu dengan cerita yang terlontar dari mulut Aura. Dewi tak banyak bicara dalam menanggapi. Saat ini yang aura butuhkan adalah pendengar, untuk mendengarkan semua keluh kesah yang terpendam.
"Astaga ...! Sudah malam sekali, maaf ya Wi kamu jadi gak bisa istirahat," ujarnya dengan sesegukan.
"Tidak apa Ra. Aku malah senang bisa jadi pendengarmu, walapun aku tidak bisa membantumu. Setidaknya aku bisa mendengarkan dan membuatmu sedikit lebih lega," ujarnya.
"Hmm, makasih Wi. Aku sudah sedikit merasa lega sekarang. Ahh ... ! Aku jadi malu kan," rengeknya.
"Aiiihh ...! Udah selesai nangisnya baru ingat malu kamu Ra ...! Hahah," ledek Dewi untuk mencairkan suasana.
"Kamu diam aja dari tadi, bukannya suruh aku diam ...!" sahutnya dengan malu-malu.
"Hahah ...! Menangislah sepuasmu, keluarkan semua unek-unek dalam benakmu Ra. Tidak selamanya kita bisa hidup berdampingan dengan beban hidup,"
"Ada kalanya, kita harus menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan semuanya Ra. Kita sebagai manusia, tidak sekuat seperti apa yang kita mau. Menangislah sekarang, tapi tersenyumlah untuk besok," Dewi memeluk Aura dengan erat sampai benar-benar merasa tenang dari sebelumnya.
Untuk beberapa saat, Dewi membiarkan Aura untuk menumpahkan semua unek-unek yang masih ada dal dirinya. Hingga Aura sudah tenang dan bisa tersenyum lagi seperti sore tadi.
__ADS_1
"Huh ...! Udah ... aku udah tenang kok. Makasih Wi, aku gak salah manggil kamu ...!" senyum mulai terlihat di wajahnya.
"Hmm, cuma itu sih yang aku bisa sampaikan. Tapi aku bingung, dari mana aku dapat kata-kata itu. Perasaan pas sekolah guru tidak pernah menyampaikan hal itu," gumamnya.
"Dari lubuk hatimu Wi, karena kamu orang baik ...!" sahutnya.
"Kamu juga baik Ra. Btw, masih mau nangis lagi gak? Kalau gak, tidur yuk ...!" ajaknya pada Aura.
"Aku juga capek, ayo tidur. Makasih buat malam ini ya Wi ...!"
"Iya Ra, sama-sama. Ayo aku bantu naik ke atas ranjang. Kamu harus istirahat," ujarnya seraya mendorong kursi roda ke dekat ranjang.
__________
Malam telah berlalu, meski kantukmasih bergelayutcdi kedua matanya. Dewi memaksa tubuhnyabuntuk segera bangun dan turun dari ranjang. Tak sengaja ia melirik jam beker di atas meja kecil samping kasur.
"Jam 05.00 ... matakau susah sekali untuk ku buka ..!" batinnya.
Dewi berjalan meraba-raba sekitar menuju kamar mandi untuk membasahi wajahnya. Setelah kedua matanya tak terkunci, ia melanjutkan mandi sebelum Rico datang untuk mengampirinya.
10 menit sudah berlalu, Dewi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih setengah basah. Kedua matanya berkeliling mencari benda kecil untuk mengeringkan rambutnya.
"Ah ... Itu dia ...!" batin Dewi.
"Pagi Wi ...!" sapa Aura yang masih duduk di atas ranjang.
"Pagi Ra ...! Aku pinjam hairdryer ya ...!" tanyanya.
"Pakai saja. Maaf ya gara-gara semalam kamu jadi kurang tidur," ujarnya.
"Eh? Aku tidak apa Ra. Aku udah biasa kok, biasanya juga aku insomnia. Beneran deh," sahutnya sambil mengeringnkan rambutnya yang tergerai panjang.
"Nanti Rico jemput kamu kan?" tanyanya.
"Katanya sih gitu, tapi gak tau deh. Kenapa? Kamu udah kangen sama dia? cieee ...!" ledeknya membyat wajah Aura bersemu merah.
"Dih ...? Apa sih? Enggak kok ...!" sahutnya mengelak.
__ADS_1
"Iya juga gak apa-apa Ra. Santai aja," gumamnya.
"Apa sih Wi? Aku kan cuma mastiin kamu ada teman ke kantornya, kalau sendirian kan kasihan ...!" jawabnya menjelaskan maksud dari pertanyaannya.