
"Nak, maafkan Ibu sama Ayah belum bisa membawamu ke Omah dan Opah. Ibu janji, cepat atau lambat Ibu akan bawa kamu ke Omah dan Opah ...!"
"Makasih Bu Kinan, sudah mengobati kerinduan Madav pada Omah dan Opahnya. Semoga Ibu diberikan umur panjang, supaya putraku bisa memeluk Ibu hingga dewasa nanti ...!" batin Tyas dari balik tembok ruang keluarga dimana Madav dan yang lainnya berada disana saat ini.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Arsen yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Mas," langsung memeluk suaminya dengan isakan tangis yang menyayat hati.
Arsen memeluknya dengan erat, ia tidak tau apa yang terjadi pada isterinya. Ia mengintip sedikit ke dalam melihat putranya disana, Madav sedang di peluk Bu Kinan. Seperti Omah yang sedang memeluk cucu tersayangnya.
__________
"Jadi karena itu yang membuatmu menangis? Maafkan aku Sayang, aku belum bisa membawa kalian pada keluargaku ...!" batin Arsen.
"Udah Mas, aku gak apa-apa kok. Yuk kesana lagi, tapi aku bersihin muka dulu ya. Mas kesana duluan deh," ujar Tyas menyudahi tangisannya karena ingat dia sedang di rumah orang.
"Hmm, aku kesana dulu ya ...! Jangan nangis lagi," ujarnya.
"Iya Mas," jawab Tyas.
Tyas segera berlalu ke toilet di ujung lorong lantai satu untuk membersihkan wajahnya yang sembab karena air matanya. Sementara itu Madav dan yang lainnya terus bercerita malam itu hingga malam semakin larut dan mereka harus menyudahi percakapan malam itu.
"Sayang, ayo pulang ...!" panggil Arsen.
"Hmm, ayo Ayah ...!" sahutnya.
"Pamit dulu sama Omah," pinta Arsen.
"Omah, aku pamit dulu ...! Besok Madav langsung pulang, Omah sehat-sehat ya ...! Jangan lupa main ke rumah Madav ya Omah," ucapnya.
"Iya Sayang. Besok kalau Om Vin ada perjalanan ke Kalimantan, Omah mau ikut. Gak apa-apa di titipin di rumah Madav. Yang penting Omah bisa ketemu sama cucu Omah,"
"Madav harus jadi anak yang baik ya buat Ayah sama Ibu," imbuh Mami Kinan pada Madav.
__ADS_1
"Iya Omah," sahutnya seraya memeluk Mami Kinan dengan erat.
Semua mata yang melihat merasa haru karenanya. Meski tidak au apa yang terjadi pada mereka saat itu. Setwlah berpamitan, dan penyerahan hadiah sebagai kenang-kenangan mereka segera pergi karena waktu sudah semakin larut.
"Nak, tadi Mami seriusan loh. Kalau kamu ada perjalanan ke Kalimantan ajak Mami ya," celetuk Mami saat mobil mereka tak terlihat lagi.
"Iya Mam, kayaknya Mami bahagia banget malam ini bisa ketemu sama Madav," ujar Vin.
"Iya Nak, dia lucu sekali. Mami langsung sayang sama dia, semoga nanti anak-anak kalian bisa jadi saudara sama Madav ya Nak ...!" ucap Mami lagi.
"Iya Mam, doakan yang terbaik ya. Sekarang ayo kuta masuk ... Mami harus istirahat," ujar Vannya.
"Kamu juga Nak ...!" sahutnya.
"Iya Mam, aku juga langsung istirahat. Selamat istirahat Mami, cupp!" Kecupan hangat mendarat di kedua pipi Mami.
"Selamat istirahat Sayang," balasnya dengan pelukan hangat.
Vin dan Vannya segera pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Begitupun Dewi, malam ini dia tidak di perbolehkan pulang karena sudah larut malam. Bi Minah segera membereskan meja di ruang tengah dan ruang keluarga setelah semua masuk ke dalam kamar masing-masing.
...MAMI KINAN POV...
Mas, andaikan kamu masih hidup. Pasti kamu juga merasakan apa yang aku rasakan malam ini. Meski tidak ada ikatan darah, dan baru saja bertemu. Rasa sayang ini mengalir begitu saja pada anak kecil yang tampan itu Mas.
Kasihan sekali dia Mas, entah ada masalah apa antara Arsen dan keluarganya. Yang pasti mereka tidak ada komunikasi sampai detik ini, mungkin kalau kamu ada ... bisa sedikit memberikan wejangan supaya Arsen segera menemui kedua orangtuanya supaya Madav bisa bertemu dengan Omah dan Opah kandungnya.
Ahh ...! Kenapa aku jadi teringat dengan Nana kecil kita. Dulu kita juga baru pertama kali ketemu, dan rasa sayang ini langsung mengalir begitu saja. Dan sekarang terulang lagi saat aku bertemu Madav.
Mungkin kalau Madav ketemu sama Mas, dia jauh lebih happy Mas. Tapi Tuhan berkata lain, aku bisa apa. Maaf ya Mas, aku masih belum bisa mengikhlaskan Mas. Ini adalah hal yang paling berat dalam hidupku Mas.
Andaikan boleh meminta, aku mau kita menghembuskan nafas terakhir di waktu yang sama. Biar aku bisa temani Mas disana, entah sampai kapan aku harus seperti ini.
Yang pasti, aku sangat merindukanmu Mas. Biasanya setiap malam sebelum tidur, kita selalu banyak ngobrol membahas masa depan kita yang tak pernah ada ujungnya.
__ADS_1
Tapi sekarang, tidak ada lagi masa depan dalam hidupku. Satu-satunya yang aku minta saat ini adalah aku bisa secepatnya bertemu sama kamu Mas. Kita bersatu lagi disana, jadi keluarga yang utuh seperti saat kita masih sama-sama bernafas.
Sang Malam, sampaikan rindu ini yang teramat dalam. Jagalah dia, hingga tiba waktuku untuk berada di sampingnya. Menemaninya disana, menjadi pendamping untuk selama-lamanya.
________________
Malam telah berganti pagi, matahari sudah mulai mengintip dari balik awan kecil di atas sana. Aktivitas di dalam rumah sudah berlangsung sejak pagi tadi. Dewi yang bangun lebih awal segera pergi ke dapur membantu Bi Minah yang sibuk menyiapkan sarapan.
"Pagi Bi," sapanya.
"Pagi Non, ada yang bisa saya bantu Non? Mau susu hangat atau apa?" tanyanya dengan ramah.
"Tidak Bi. Aku mau bantu Bibi di sini, bolehkan?"
"Tidak usah Non, nanti saya kena marah Nyonya sama Tuan karena Non membantu saya," sahutnya.
"Emang pernah mereka marahin Bibi?" tanga Dewi.
"Tidak sih Non. Mereka tidak pernah marah, tapi kan tidak pantas saja kalau tamu malah bantu saya di dapur. Udah, Non Dewi duduk aja disitu. Saya buatkan susu hangat ya," ujarnya.
"Udah Bi, saya bantuin aja. Daripada saya bingung mau ngapain kan," ujarnya memaksa.
"Hehh ...! Baiklah Non, silakan saja ...!" ucap Bi Minah mengalah.
Sementara itu,
"Pagi Sayang ...!" Sapa Chandra pada Alina yang sednag menyiapkan pakaian kerja untuknya.
"Pagi, yakin gak mau libur?" tanya Alina untuk kesekian kalinya.
"Iya Sayang. Kasihan Vannya sama Eni kalau aku lama liburnya," sahut Chandra.
"Eh? Mana ada libur. Kamu kan kerja," celetuknya.
__ADS_1
"Iya Sayang, iya ...! Maaf ya aku belum ada waktu buat ajak kamu liburan. Tapi aku janji, setelah pekerjaan tidak terlalu banyak. Aku mau ajak kalian liburan," rayu Chandra seraya memeluk isterinya dari belakang.
"Kalian? Maksudnya?" tanya Alina.