
Selesai berganti pakaian dengan kaos lengan pendek berwarna hitam dan celana pendek yang menutupi sebagian lututnya. Sebelum pergi meninggalkan meninggalkan ruang ganti, ia memastikan beberapa kali untuk melihat penampilannya.
"Harusnya aku tak perlu melakukan ini karena sudah pasti aku tampan dan menarik. Tapi tak ada salahnya jika aku berusaha mempertahankan kadar ketampananku yang pastinya tidak akan berkurang."
Setelah memastikan untuk yang kelima kalinya, ia baru benar-benar pergi berlenggang meninggalkan ruang ganti. Saat hendak melewati meja kecil di samping pintu penghubung ruang ganti dengan kamar, ponselnya berdering menandakan sebuah pesan masuk.
Semua aman terkendali, Tuan.
Sebuah senyuman terlukis di wajahnya, dia merasa puas dengan hasil kerja anak buahnya yang tak perlu dia ragukan lagi.
Dia kembali meletakkan ponselnya dan melanjutkan untuk pergi menemui seseorang yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Bapak mandi atau tidur? Bapak tau? Aku sudah menunggu Bapak 44 menit lebih 59 detik." Ujar Alina dengan menunjukkan sebuah stopwatch di layar ponselnya.
"Apa kamu tidak bisa menggunakan ponselmu untuk keperluan yang lain selain menghitung waktu aku mandi? Atau kamu tidak bisa lama-lama untuk tidak melihatku?" Ujar Chandra.
"Time is money. Apakah Bapak tidak tau betapa berharganya waktu meski hanya satu detik? Sebagai seoramg dokter saya harus memperhitungkan waktu secara matang-matang, kalau terlambat satu detik saja saya bisa membuat pasien kehilangan nyawa. Dan. . " Ujar Alina yang langsung di potong Chandra.
"Cup. Dan sayangnya, sekarang kamu sedang di rumah. Bersama suami mu." Ucap Chandra setelah me****** b**** Alina.
"Haish. .Tidak bisakah Bapak ijin dulu sebelum men******?" Ujar Alina.
"Untuk apa. Kita sudah sah menjadi pasangan suami isteri. Dan kamu sudah menjadi milikku, apakah aku masih perlu meminta ijin terhadap milikku sendiri?" Ujar Chandra.
"Oh Tuhan. . . ." Ucap Alina dengan meremas rambutnya sendiri menahan kesal.
"Oh Tuhan. . .ku sayang dia. .rindu dia. . ing. . ." Ucap Chandra yang malah menyanyi membuat Alina semakin kesal di buatnya.
"Stop !! Sekarang ayo kita turun. . .aku sudah lapar dan hampir pingsan karena menunggu Bapak yang lama sekali." Ujar Alina segera pergi meninggalkan Chandra yang masih berdiam diri di tempat.
"Apakah dia selalu seperti itu kalau sedang lapar?" Batin Chandra.
~Diruang Makan~
Sebuah meja berlapis emas telah penuh dengan berbagai macam hidangan. Tak lupa lilin berwarna merah telah menyala di tengah-tengahnya.
Seorang pelayan dengan cekatan membuka kursi untuk Chandra dan Alina dan pergi begitu saja tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Makanlah yang banyak, supaya tenagamu terisi kembali setelah menungguku selama 44 menit lebih 59 detik." Ujar Chandra mengulangi ucapan Alina saat masih di kamar tadi.
"Hmm." Alina hanya mengangguk dan terus mengunyak makanan yang sudah ada di dalam mulutnya.
"Jangan terlalu kekenyangan, karena malam ini adalah malam pertama kita." Ujar Chandra membuat Alina tersedak.
__ADS_1
"Uhukk. . uhukk. . "
"Kamu baik-baik saja? Minumlah, tidak usah buru-buru mengunyah. Kunyahlah 33x supaya makanan benar-benar halus." Ujar Chandra.
"Apakah Bapak tidak bisa membahasnya nanti saja setelah kita makan? Astaga, bagaimana kalau aku mati karena tersedak . ." Ujar Alina menggelengkan kepalanya.
"Yang mana? Yang malam pertama? Memang apa salahnya?" Ujar Chandra.
" Haissh. . .Diam atau aku tidak akan menghabiskan makan malamku." Ucap Alina dengan ketus.
Chandra tidak berani mengeluarkan suara lagi, dia pun melanjutkan makan tanpa bersuara sedikitpun sesuai permintaan Alina barusan.
*****
~Pagi Hari di Kediaman Randy~
Kinan sedang berada di dapur bersama Bu Ti menyiapkan sarapan untuk Randy dan Vin yang akan pergi bekerja. Seperti biasa Kinan membuatkan jus jeruk sesuai permintaan kedua jagoannya.
"Biasanya kalau kita sedang masak, Nana pasti diam-diam sudah duduk di kursi itu ya Bu." Ujar Kinan yang tiba-tiba teringat dengan putrinya ketika tak sengaja melihat sebuah kursi kosong di hadapannya.
"Iya Nyonya. . . Biasanya Nona selalu duduk di kursi itu, memakan buah sebelum sarapan yang sudah Nyonya siapkan." Ujar Bu Ti.
"Sekarang dia udah bangun belum ya Bu?" Tanya Kinan.
"Tidak tau Nyonya, kalaupun belum itu wajar saja buat pengantin baru." Ujar Bu Ti membuat Kinan tertawa karenanya.
Tokk . . tokk. . .
Ceklekk. . .
Kamarnya terlihat rapih, berbagai miniatur karakter berjejer rapih di lemari kaca yang menempel di tembok. Suara dengkuran terdengar dengan teratur.
Kinan berjalan mendekati ranjang dimana putranya berada. Saat hendak membangunkannya, di lihat sebuah foto berfigura di bawah bantalnya. Dengan perlahan Kinan mengambilnya.
"Pasti semalaman dia memeluk foto ini, terimakasih Nak, kalian selalu membuat Mami merasa beruntung memiliki kalian di tengah-tengah keluarga ini."
"Sayang. . .bangun, sudah pukul 6.30. . Ayo mandi." Ujar Kinan mengusap kepala Vin.
"Hmm. . .Sebentar Mam. . .Semalam aku tidak bisa tidur . . " Ujar Vin.
"Salah siapa kamu tidak tidur?" Ujar Kinan.
"Itu karena aku kangen Kakak. Kenapa dia cepat sekali menikah? Paling tidak menginap dulu di rumah ini selama seminggu setelah menikah." Ujar Vin bangun bersandar di kepala ranjang.
__ADS_1
"Kamu pun akan melakukan hal yang sama Nak, setelah kamu menikah nanti kamu akan memboyong isterimu dari rumahnya dan membawanya ke rumah kalian yang baru." Ujar Kinan.
"Huhh. . Masih lama Mam. Aku belum ingin menikah, bahkan S1 ku belun selesai." Ujar Vin.
"Lantas kalau kuliahmu belum selesai, kamu tidak bisa menikah?" Tanya Kinan.
"Astaga. . Apa Mami sudah tidak sabar memiliki dua menantu? Bahkan satu menantu saja baru Mami dapatkan, terus sekarang sudah membahas calon menantu yang belum jelas." Ujar Vin.
"Nah. . obrolan sudah nyambung, kamu sudah tidak ngantuk kan? Ayo mandi lah. Sebelum sainganmu sampai lebih dulu di meja makan." Ujar Kinan.
Hampir tiga puluh menit lamanya Kinan menunggu kedatangan Randy dan Vin di meja makan. Dan seperti biasa mereka selalu datang bersamaan dan adu kecepatan untuk bisa sampai di meja makan lebih dulu.
Selesai sarapan, Randy dan Vin berpamitan secara bergantian. Mereka berangkat dengan mobilnya masing-masing. Karena pagi ini Vin harus mengumpulkan tugas lebih dulu ke kampus.
Sesampainya di parkiran yang luas, Vin segera turun dari mobilnya dan berlalu menuju ruang dosen. Di sepanjang koridor banyak sekali teman wanitanya yang berdecak kagum karena penampilannya yang rapih.
Sesampainya di depan pintu Vin mengetuk pintu dan masuk begitu saja karena waktu yang sudah tidak banyak lagi. Tanpa lama-lama dia segera mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah terjilid dengan rapih.
"Huhh. . .Seperti biasa, belum ada yang mengumpulkan." Batin Vin.
Saat baru keluar dari ruang dosen, dan menutup kembali pintunya, tak sengaja dia membuat seorang wanita yang sedang melewatinya tersenggol dan hampir saja jatuh.
"Ahhh. . ." Teriaknya.
Dengan sigap Vin segera menangkapnya dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja." Ucap Vin.
"I. . iya Kak. . tidak apa-apa." Ucapnya yang belum menampakkan wajahnya.
"Kamu?" Ujar Vin yang mengenalinya dari caranya ia tersenyum.
"Kakak. . ." Ucapnya yang juga mengenalinya.
"Kamu kuliah disini juga? Kenapa kita tidak pernah bertemu." Ujar Vin.
"Kita kan beda lima semester. Tentu saja jadwal kita juga berbeda Kak. Kalau pun kita berpapasan pasti kita tidak menyadarinya." Ucapnya.
"Aku bisa mengenalimu lewat senyuman, bahkan aku langsung mencintaimu setelah hampir tiga tahun lamanya kita tidak bertemu. Apa kamu sudah memiliki pacar?"
>>>>>>>>>>>
¤ Vin harus gimana? Langsung mengungkapkan perasaannya? Atau mulai tahap pendekatan dulu nih?
__ADS_1
¤Jangan lupa Like, komen, rate5 dan vote untuk mendukung coretan ku ini ya. Biar tambah semangat coret-coretnya. Hehe
♡KEKASIH KONTRAK TILL JANNAH EPS 162♡