Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Memboyong Mami


__ADS_3

Semua aktivitas di dalam rumah sudah selesai sejak beberapa waktu yang lalu. Para penghuni pun sudah tidur dalam balutan mimpi masing-masing. Hari ini terasa sangat panjang, air mata pun berjatuhan mengiringi kepergian sang kepala keluarga yang selama ini menjadi panutan.


Malam telah beranjak pagi, bersama secercah harapan dalam angan. Senyum mulai kembali terlihat, meski tak seperti biasanya. Mereka memilih untuk tinggal di rumah ini beberapa hari, menemani Mami yang masih enggan untuk meninggalkan rumah dan tinggal bersama anak-anaknya.


______________


Setelah satu minggu mereka stay di rumah keluarga, tiba waktunya mereka memboyong Mami ke rumah Vin. Tidak mudah meyakinkan Mami untuk bisa ikut, karena sejatinya Mami tidak ingin meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempat berteduhnya sejak 30 tahun lamanya.


Namun, sebagai anak-anak tentu saja tidak tega jika harus meninggalkan orangtuanya sendiran di rumah meski ada beberapa ART. Vin dan Alina memutuskan untuk mengajak Mami tinggal bersama di rumah, mungkin bagi waktu 1 bulan di rumah Vin, bulan berikutnya di rumah Alina. Terserah permintaan Mami.


Sesampainya di Rumah, Vannya menggandeng Mami mengantarnya ke kamar yang sudah mereka siapkan untuknya. Tidak sebesar kamar milik Mami, setidaknya terasa nyaman dan dekat dengan taman. Mami bisa menghirup udara segar dan menikmati viewa yang tak kalah menariknya dari area taman kota.


"Maaf ya Mih, kamar ini tidak sebesar kamar Mami," ujar Vannya.


"Tidak apa Sayang, lagian kan sekarang Mami sudah sendiri. Jadi ini besar banget buat Mami," jawabnya.


"Mami gak sendiri, ada kami ...!" sahut Vannya berusaha meyakinkan Mami jika dia tidak sendirian.


"Ah ya, maafkan Mami lupa ...!"


"Hmm, Mami istirahatlah ...! Kalau perlu apa-apa panggil Bi Minah aja ya Mam,"


"Iya Sayang, makasih ya ...!"


Vannya beranjak pergi meninggalkan Mami di kamar. Ia sengaja menyiapkan beberapa peralatan lukis dan akat rajut beserta bahan-bahannya agar Mami ada aktivitas dan mengalihkan perhatian.


Hari ini Vannya izin untuk tidak masuk, karena harus menjemput dan menemani Mami di rumah. Padahal dia sudah rindu dengan suasana kerjanya, makan siang dengan Mbak Eni, ngobrol santai di sela-sela waktu mereka bertemu.


Sementara itu,


Vin izin pergi keluar karena ada urusan mendadak. Ya, itu hanya alasan agar isteri dan orang di rumah tidak banyak bertanya yang bisa membuatnya keceplosan nantinya.


Dia pergi mengunjungi Ilham, sudah lama dia tidak melihatnya sejak Papinya tiada. Hanya mendapat laporan dari anak buah yang ia tugaskan untuk mengantar makanan.


Sejauh ini belum ada yang tau tentang keberadaan Ilham. Meski beberapa media sudah meliput berita tentang orang hilang dan mengadakan sayembara pencarian.


"Bagaimana?" tanyanya setelah tiba di depan gubuk kecil itu.

__ADS_1


"Sejak seminggu lalu, mentalnya sudah tidak seperti biasanya Pak. Dia sering menangis, tertawa, dan berteriak tanpa alasan. Sekarang mungkin sedang tertidur," ucapnya.


"Hmm, kalau begitu antar saja ke Rumah Sakit Jiwa, katakan menemukan di jalan dan mengamuk," perintahnya.


"Baik, Pak ...!"


"Ini untuk kalian, terimakasih sudah membantu saya selama ini," menyodorkan dua amplop berwarna cokelat yang masing-masing amplop berisi 25 juta.


"Te-terimakasih Pak,"


"Nanti malam kalian bawa dia pergi dari sini dan masukkan ke RSJ, mengerti?"


"Baik, Pak ...!" jawabnya dengan kompak.


Setelah melihat kondisi Ilham, Vin kembali pergi meninggalkan hutan. Dia memilih untuk mencari hadiah bagi dua wanitanya yang saat ini sedang menunggu di rumah. Sudah lama dia tak memberinya hadiah, mungkin saat ini bisa di cobanya lagi.


Sesampainya di sana, Vin segera masuk ke dalam toko. Masih sepi, mungkin karena toko baru saja buka. Dengan ramh sang pekayan toko menyambut kedatangannya.


"Selamat pagi ...!" sapanya dengan ramah.


"Pagi," jawabnya.


"Apakah ada yang baru?"


"Ada Tuan, mari ikuti saya ...!"


Vin mengikutinya masuk ke dalam, duduk di ruang VIP menunggu pelayan datang mengambil beberapa barang dari dalam etalase kaca.


"Kebetulan sekali Tuan datang, kemarin sore baru saja barang di antarkan. Silakan Tuan," seraya meletakkan beberapa kotak di ata meja kaca.


Vin melihat beberapa kotak di hadapannya, seraya sang pelayan menjelaskan satu persatu secara rinci untuk menraik perhatian sang konsumen dan bersedia untuk membelinya.


"Aku mau ini," ujarnya memotong penjelasan sang Pelayan.


"Pilihan yang sangat tepat. Ini adalah Taaffeite dengan harga Rp503.800.000 per karatnya, sangat cocok untuk pasangan," ucapnya.


"Aku mau ini 2 ...!" ujarnya tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Ba-baik Tuan,"


Setelah menyelesaikan pembayaran, Vin segera pergi meninggalkan toko dan kembali ke Perusahaan. Hari ini ada pertemuan dengan klien dari Kalimantan, salah satu klien terbesar yang sudah hampir 5 tahun bekerja sama.


Kabarnya beliau datang memboyong anak dan isterinya yang ingin liburan di Ibukota yang macet ini. Vin sangat berantusias untuk menyambut kedatangan mereka. Apalagi katanya mereka memiliki seorang anak yang menggemaskan.


"Wi, apa semua sudah kamu siapkan?" tanyanya setelah tiba di lantai 6.


"Sudah Pak. Sebentar lagi klien akan datang, saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju kesini," ucapnya.


"Hmm, baiklah. Aku ke dalam dulu ...!"


"Iya Pak,"


Vin segera masuk ke ruang kerjanya, sementara Dewi memastikan kembali dari segi ruang, makanan dan lain-lain. Yang kenal dengan klien kali ini adalah Aura karena dialah yang selalu mengahadiri acara disana.


Tapi sekarang, tidak ada Aura disini. Mau tidak mau, Dewi yang harus menyiapkan semuanya, berbekal dsri catatan kecil yang dia dapatkan dari Aura saat mengunjunginya beberapa hari yang lalu.


Di sisi lain,


"Ayah, kita mau liburan disini kan? Lama tidak?" tanyanya seraya menyandarkan kepalanya di dada Ayahnya.


"Tidak bisa Sayang, Ayah kesini untuk bekerja. Kamu sama Ibu ya, harus nurut sama Ibu ...!" ucapnya.


"Iya Ayah,"


Mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu Perusahaan besar di Ibukota. Harusnya mereka yang datang ke Kalimantan, tapi ada kabar duka yang membuat mereka tidak bisa kesana.


Jadilah, dia yang mengalah untuk datang ke Ibukota. Seraya menyambangi kota kelahirannya, kota yang banyak kenangan bersama keluarganya dulu. Gedung-gedung yang menjulang tinggi ke atas mengingatkan dirinya dengan kenangan di masa lalu.


Sebelum mengatakan ada perjalanan bisnis ke Ibukota, ia sudah memikirkan secara matang-matang mencari cara agar isteri dan anak tidak ikut. Karena takut mereka akan bertemu dengan orang-orang di masa lalunya.


Setelah melewati perdebatan sengit, akhirnya ia mengalah. Isteri dan anak ikut, sekalian mengunjungi makam Ayah dan adiknya yang sudah lama tidak mereka sambangi.


_________


Sudah lama aku tidak menginjakkan kaki disini, semua masih sama. Gedung menjulang tinggi ke atas, macet terlihat dimana-mana. Hanya suasana yang sedikit berbeda, mungkin karena aku sudah terbiasa tinggal di kota yang sekarang menjadi tempat tinggalku.

__ADS_1


Aku ke sini bukan untuk kembali, melainkan untuk pekerjaan. Semoga tidak terjadi apapun di luar kendaliku, apalagi aku membawa putraku yang masih kecil. Aku belum siap untuk itu.


Aku bahkan tidak mengabari sahabatku, semoga saja aku tidak perlu berlama-lama disini. Itu akan lebih baik untuk kami, mungkin 2-3 hari sudah cukup untuk kami berada di Ibukota.


__ADS_2