Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Terpaksa Meng-iyakan


__ADS_3

"Aku tidak akan berhenti menangis kalau kamu belum mengiyakan," rengeknya dengan manja.


"Mengiyakan apa?"


"Mengiyakan kalau kamu mau temani aku selama aku ada disini," ujarnya mengulang perkataannya.


"Kamu mau kan?"


_______


"Tidak janji," jawabnya.


"Hiks!"


"Eh, jangan menangis aku bilang," ucapnya mulai panik.


"Janji dulu, biar aku tidak menangis ... ." rengeknya semakin menjadi.


"Huh! Dasar licik. Baiklah," ujarnya dengan berat hati.


"Nah gitu dong, sekarang aku ingin pergi berdua denganmu. Ayo ajak aku pergi," pintanya dengan manja.


"Hanya sebentar. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan di kantor,"


"Ya, tidak apa. Yang penting aku bisa berdua denganmu. Aku kan tidak suka memaksa,"ujarnya.


"Tidak memaksa palamu! Barusan apa kalau tidak memaksa," batin Chandra kesal.


Selesai membayar bill Chandra segera membawa Erlina pergi. Dia tidak suka keramaian, tapi jika membawa Erlina ke tempat yang sepi dan tenang akan lebih berbahaya. Erlina pasti akan sangat posesif lagi padanya.


Akhirnya Chandra mengajaknya ke taman kota, tidak ada pilihan lain. Disana ada beberapa gazebo yang disediakan, Chandra memilih salah satunya dan duduk disana sambil menikmati air mancur di tengah taman kota.


Tidak banyak pengunjung, tapi setidaknya masih ada orang disana. Meski sepasang muda mudi yang sedang bucin. Chandra hanya diam mendengarkan Erlina yang tak ada habisnya bercerita.


"Kamu tau, 2 tahun setelah aku pindah Papa dan Mama jatuh sakit. Mereka masih belum bisa menerima kepergian Erlita," ujarnya.


"Tentu saja, karena Erlita orang yang baik. Dia tidak pernah berbuat macam-macam sepertimu," sahut Chandra memuji Erlita.


"Ya aku tau, aku tidak sebaik Lita. Tapi aku akan berusaha untuk bisa merubah diriku dengan caraku sendiri. Aku tidak akan sama seperti Lita," ucapnya memasang senyum semu.


"Bahkan kau masih membanding-bandingkan aku dengan Lita Chan, baiklah kalau aku harus seperti Lita aku rela. Asalkan aku bisa mendapatkanmu," batin Erlina dengan licik.


"Memang," sahut Chandra.


"Ah ya, wanita kriteria kamu seperti apa? Apakah masih sama seperti Lita?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membanding-bandingkan wanita lain dengan Erlita. Biar bagaimanapun setiap wanita memiliki keistimewaannya masing-masing,"


"Lalu, dari segi sifatnya?"


"Lemah lembut, berani, tegas, mandiri dan tidak macam-macam," jawabnya.


"Baiklah, aku akan melakukan apapun untukmu Chan. Cepat atau lambat aku pasti akan mendapatkanmu," batinnya lagi.


"Chan," meraih tangan Chandra.


"Lepaskan tanganmu, ini tempat umum. Tidak enak untuk di lihat," ujarnya menolak.


"Hmm, maaf ... ."


"Cih! Masih saja kaku," batinnya kesal.


"Sebaiknya kamu pulang. Aku harus segera kembali ke Perusahaan," ujarnya seraya bangun dari duduknya.


"Pergilah dulu, aku masih ingin disini. Kamu tidak perlu khawatir denganku," ucapnya dengan manis.


"Siapa juga yang mengkhawatirkanmu," sahutnya dalam hati.


"Baiklah. Aku pergi dulu," segera pergi meninggalkan Erlina seorang diri di gazebo taman kota.


*Tuut ... tuutt ... tuutt !


"Okey, 5 menit lagi aku akan tiba," sahutnya langsung mematikan telepon*.


"Okey Erlina, sekarang kamu harus sabar. Lemah lembut, seperti Lita yang bo*oh itu," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.


Di sisi Lain


Dua insan berusia paruh baya kini tengah duduk di teras belakang menikmati segarnya udara di pagi hari. Selesai sarapan, mereka langsung pergi ke teras karena tidak ada lagi kegiatan setelah sang suami memutuskan pensiun di usianya yang sudah menginjak 65 tahun.


"Mas, mereka lagi apa ya?" ujarnya menopang dagu dengan tangan kanannya.


"Yang pasti mereka sedang bernafas Mi," celetuknya membuat sang isteri hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya Tuhan, sudah tua masih saja suka becanda. Emang Mas gak kangen sama anak-anak?" tanyanya lagi.


"Ya jelas kangen, tapi kan kita juga harus tau situasinya Mi. Yang satu dua-duanya kerja, yang satu lagi hamil terus suaminya juga sibuk. Lalu kita mau egois minta mereka untuk kumpul terus di rumah kita?" ucapnya dengan sabar.


"Iya juga sih, waktu cepat sekali berlalu. Perasaan dulu Nana masih kecil, suka tidur dalam gendongan. Eh sekarang sudah mau jadi ibu,"


"Satu lagi ... dulu masih lari-larian selesai mandi gak mau pakai baju sekarang udah beristri," ujarnya mengingat kejadian beberapa tahun silam.

__ADS_1


"Dan tau-tau sekarang kita sudah tua Mi," imbuhnya.


"Cih! Mas aja yang tua, aku mah enggak ya ... ." sahutnya.


"Pagi ... Mi, Pi ... ." sapa Alina yang baru datang.


"Sayangnya Mami, kamu kesini Nak?" ujarnya tak percaya.


"Iya Mih, aku datang. Maaf ya, udah lama gak main karena cuaca hujan terus jadi malas kemana-mana," ucapnya.


"Tuh Nak, Mami mu yang dari tadi kaya anak kecil. Katanya kangen anak lah," celetuknya mengadu pada Alina.


"Biarin aja, doa seorang Ibu selalu di kabulkan. Bagaimana keadaan cucu Mami?" tanyanya mengelus perut Alina yang semakin buncit.


"Baik Mi, Mami sama Papi gimana?"


"Kita sehat Sayang. Mami sama Papi kan mau gendong cucu, kaku datang sendiri?" tanya Papi.


"Iya Pi. Chandra kerja, tapi nanti sepulang kerja dia kesini kok. Salam dari Chandra buat Mami sama Papi," ujar Alina.


"Iya Nak, ayo kita masuk. Mami kangen sekali sama kamu," ujarnya bersemangat.


Sementara itu,


"Van, kamu kenapa sih dari tadi bengong. Kamu sakit? Kemarin ngantuk, sekarang bengong ... ." tegur Mbak Eni pada Vannya saat masih menunggu makanan datang.


"Eng-enggak kok Mbak, aku baik-baik aja," jawabnya berbohong.


"Kamu yakin? kalau ada apa-apa cerita sama Mbak ya," ujarnya.


"Iya Mbak, nanti aku cerita ke Mbak kalau ada apa-apa," jawabnya.


"Yaudah, makan dulu. Setelah ini bukannya kamu mau persiapan buat meeting. Atau jangan-jangan kam nervous karena ini kali pertamanya kamu terlibat langsung dalam meeting ya,"


"Hehe! iya Mbak, aku kan baru belajar. Tapi langsung ada meeting," jawabnya merasa lega ada alasan yang bisa dia berikan meski itu bukan yang sebenarnya.


"Pak Chandra sudah kembali ke Perusahaan belum ya, kemana mereka pergi? semoga mereka tidak macam-macam deh seperti yang di tv," batinnya penuh harap.


Selesai makan siang, Vannya kembali ke Perusahaan lebih dulu. Ingin memastikan apakah Pak Chandra sudah kembali ke kantor. Dan berharap wanita itu tidak ikut kembali ke Perusahaan.


Sesampainya di ruang kerja, Vannya mengintip ke ruangan Pak Chandra tapi tidak ada orang disana. Ia kembali ke meja kerjanya dengan perasaan bimbang.


"Huh! Kemana mereka? Semoga saja Pak Chandra segera kembali, Pak ingat Kak Nana di rumah. Dia isteri Bapak. Wanita itu tidak apa-apanya di bandingkan Kak Nana," gumamnya seraya menyandarkan kepalanya pada kursi.


Tring!

__ADS_1


"Ha-hallo," jawab Vannya tanpa melihat nama siapa yang tertulis di layar ponselnya.


__ADS_2