Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Bukan Anak Kecil


__ADS_3

"Oh, begitu. Kenapa tidak bilang dari pagi? Tau gitu kan Mami bantuin siap-siap di rumah," ujar Mami.


"Makanya aku gak bilang dari pagi. Kalau bilang, pasti Mami capek sendiri," celetuk Vin.


"Ya udah, kalian masuk gih. Mandi, ganti baju dna istirahat dulu ...! Mami mau bantu Mbok Jum ke dapur," ujarnya.


"Biar saya bantu ya Bu," ujar Dewi dengan sopan.


"Iya Nak. Tapi kamu mandi dulu gih, ganti baju ya. Kayaknya ada tuh baju yang ukuranmu," ujar Mami.


"Baik Bu,"


___________


Dewi segera masuk ke kamar yang sudah di siapkan Bi Minah sore tadi. Tubuhnya lengket dengan keringat, membuatnya ingin segera mandi dan mengilangkan segala penat setelah seharian beraktivitas di luar.


Dewi mandi dengan kilat, teringat alasan kenapa dirinya ada di rumah Vannya dan Vin adalah untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk makan malam bersama Pak Arsen dan keluarganya.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Dewi segera turun, membantu Mami dan yang lain di dapur. Namun Mami meminta Dewi untuk menyiapkan tempat saja, karena Dewi memang ahli dalam mendekorasi tempat.


Mereka memilih untuk makan malam di tempat terbuka. Dengan bantuan Pak Parjo, Dewi memindahkan kursi dan meja makan di sana. Kemudiam di lanjutkan mendesaign semuanya secantik mungkin agar tidak kalah dengan restoran bintang 5.


Beberapa lilin kecil sudah ia siapkan di berbagai sudut area taman belakang. Termasuk pelindung lilin agar tak padam tertiup angin malam. Dalam waktu tak kurang dari 1 jam, pekerjaaan sudah selesai.


Waktu terus berjalan, hari sudah beranjak gelap. Semua persiapan sudah selesai tepat pada waktunya. Beberapa jenis aneka hidangan sudah tersaji di atas meja makan yang panjang.


"Tidak salah aku ajak kamu ke rumah Wi," gumam Vin.


"... ." tak ada suara yang terdengar, hanya senyuman tersipu malu yang terlukis di wajah gadis berusia 22 tahun itu.


"Kenapa kamu gak buka usaha dekorasi aja sih Wi? Kamu ada bakat loh," celetuk Vannya.


"Hahah, kumpulin modal dulu Van, biar bisa bayar karyawan ...!" sahutnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Vin dan yang lainnya segera bergegas keluar untuk menyambut kedatangan mereka. Vannya menggandeng Mami, untuk ikut menyambut mereka.


"Selamat datang," sapa Vin dengan ramah.


"Terimakasih, Pak Vin ...! Wah ...! Akhirnya saya sampai juga di kediaman Bapak," ujarnya.


"Bagaimana perjalanan?Macet atau tidak?" tanyanya.


"Tidak, hanya sedikit ramai ...!" jawabnya.

__ADS_1


"Selamat malam, Ibu Kinan. Perkenalkan saya Arsen ...!" ujarnya dengan sopan dan ramah.


"Malam, Pak Arsen ...! Selamat datang ya," ucapnya.


"Terimakasih ... suatu kehormatan untuk saya bisa bertemu dengan Ibu. Saya dan isteri menyampaikan turut berduka cita atas kepergian Pak Randy," ujarnya dengan berhati-hati.


"Iya Pak, terimakasih banyak ...!"


"Tante Cantik ...!" panggil Madav.


"Hai, Sayang ...!" sahut Dewi yang langsung membungkuk memeluk Madav.


"Eh, siapa ini? Tampan sekali," puji Mami Kinan.


"Madav, Omah ...!" jawabnya.


"Pintar sekali ...!" pujinya seraya mengusap kepalanya dengan lembut.


Mereka segera di ajak ke halaman belakang untuk segera menikmati makan malam yang sudah hamour dingin. Lilin sudah di nyalakan Bi Minah saar yang lain keluar untuk menyambut para tamu.


Makan malam berjalan dengan baik, sesekali mereka berbincnag entah apa yang di perbincangkan. Dewi, memilih ikut bergabung bersama Madav, Kemal dan Amanda yang duduk di meja terpisah karena lebih leluasa untuk melakukan apapun.


"Tante, kenalin ...! Ini Kakak Cantik," ujar Madav memperkenalkan Dewi pada Amanda.


"Hai Dewi, saya Amanda ...!" menyambut uluran tangan Dewi dengan hangat.


"Yang disana Paman Kemal, teman Ayah ...!" imbuhnya menunjuk pada sosok pria yang sejak tadicdiam saja tanpa ekspresi.


"Paman, senyum dikit. Nanti Tante Cantik takut sama Paman," celetuk Madav membuat mereka tertawa.


"Hallo, Dewi ...!" ujar Dewi pada Kemal.


"Saya Kemal," sahutnya menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.


Madav merasa paling bahagia malam ini. Bisa duduk bersama Kakak Cantik dan Tante Cantiknya. Dia merasa temannya bertambah sekarang, sejak kejadian penculikan itu Madav jadi tidak bebas lagi main dnegan temannya.


"Tuan Muda Kecil, jangan banyak bicara selama makan. Nanti tersedak," tegur Kemal.


"Iya Paman ...!" sahutnya.


"Paman kenapa diam saja? Emang Paman tidak punya cerita yang bisa aku dengarkan? Selama ini Kakak Cantik yang selalu cerita ke Madav, tapi Paman tidak ...!" ujarnya.


"Karena Tuan masih kecil jadi belum paham semuanha," jawabnya.

__ADS_1


"Aku sudah besar Paman. Aku bukan anak kecil lagi, aku adalah anak kecil yang pintar," ujarnya membela diri.


"Bagaimana bisa, tadi bilang bukan anak kecil. Tapi sekarang anak kecil yang pintar," sahut Kemal yang mulai terpancing untuk bersuara.


"Kakak ...!" rengek Madav meminta bantuan Amanda untuk membelanya.


"Hmm? Kenapa Sayang?" tanya Amanda pura-pura tidak tau.


"Paman menggodaku, bilang padanya kalau aku bukan anak kecil ...!" pintanya dengan manja.


"Kan Madav, sudah besar. Bilang sendiri dong," ujarnya.


"Iiihhh ...! Tante ...!" panggil Madav mulai mendekati Dewi karena tidak dapat dukungan dari Amanda.


"Iya? Tante bisa apa? Tante saja tidak kenal sama Paman kan?" ujar Dewi.


"Tuan Muda Kecil ...!" goda Kemal dengan sengaja.


"Isshh ...!" gerutu Madav.


Yang lain hanya tertawa melihat tingkah Madav dengan Kemal. Hal ini bukanlah hal baru bagi Amanda, dia sudah sering mendapati keduanya seperti ini. Tapi dalam waktu sekejap mereka akan akur kembali seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


"Kamu enak ya Man, tiap hari ada saja hiburannya ...!" celetuk Dewi.


"Iya Wi, aku merasa beruntung bisa bekerja dengan pak Arsen dan Bu Tyas. Meski begitu, pekerjaan kami tidaklah mudah. Tidak boleh lengah mengawasi Madav yang sudah aktif berkativiatas," jawab Amanda.


"Iya Man. Tapi setidaknya kamu selalu terhibur karena ocehannya kan?"


"Tentu saja, apalagi kalo drama sudah di mulai," sahutnya.


Sementara itu,


Selesai makan malam, dua anak manusia yang sudah seharian tak bertemu kinu tengah melepas rasa rindunya. Sore tadi sebelum langit mulai gelap, sebuah mobil mulai memasuki halaman rumah.


Alina yang kebetulan baru saja turun segera lari berhambur menyambut suaminya yang baru pulang dari luar kota. Tanpa banyak bicara, ia langsung memeluknya dengan erat seperti habis di tinggal dalam waktu yang lama.


"Sayang ...!" ujar Alina seraya bersandar di bahu Chandra yang kekar.


"Hmm? Kenapa?" sahutnya.


"Selama di sana kamu kangen aku gak?" sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu di jawab. Tentu saja Chandra merindukan isterinya.


"Tentu saja Sayang, setiap hari aku selalu kangen sama kamu. Malas rasanya kalau harus ninggalin kamu meski cuma bekerja seperti biasa sekalipun," ujarnya.

__ADS_1


"Sama ... aku juga kangen sama kamu. Aku kemarin gak bisa tidur karena gak ada kamu," gerutunya.


__ADS_2