
"Aku harus menceritakan darimana? Percuma aku mengatakan kakak sudah menikah, pasti Kakak tidak akan percaya dan justru membuatnya tertekan karena harus mengingatnya." Batin Vin yang merasa bingung dengan pertanyaan Alina padanya.
"Kenapa kamu diam Dek? Apakah ada sesuatu yang aku lupakan?" Tanya Alina lagi.
"Sebaiknya Kakak istirahat saja, selama dua tahun ini tidak terjadi apapun. Biarkan ingatan Kakak pilih dengan sendirinya. Jangan paksakan untuk mengingat, yang ada nanti Kakak tambah sakit." Ucap Vin dengan lembut.
"Haih, kamu ini. Oh, iya. . .selama dua tahun ini apakah kamu sudah memiliki gadis idaman mu? Ayo ceritakan pada kakakmu, sudah lama aku tidak mendengarkan ceritamu bukan?" Ujar Alina dengan semangatnya.
"Hmm. . aku belum sempat cerita sama Kakak. Waktu itu aku tak sengaja bertemu dengan seorang gadis cantik, dia lemah lembut dan beda dari yang lain. Bahkan aku bisa mengenalinya hanya karena senyuman di wajahnya Kak." Vin mulai menceritakan pada Alina.
"Oh yah? Apakah sebelumnya kalian pernah bertemu? Dimana? Apakah Kakak juga mengenalnya? Siapa dia?" Tanya Alina secara beruntun membuat Vin kembali tersenyum saat mengingat kejadian dua tahun silam.
"Ya, aku pernah bertemu dengannya. Dan kami tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama Kak. Dan pagi itu aku tak sengaja membuatnya hampir jatuh, dengan spontan aku langsung menangkap tubuhnya. Dan dia mengeluarkan senyuman yang selalu aku ingat. Matanya begitu indah Kak, dan entah kenapa aku langsung mencintainya saat itu juga." Lanjut Vin dengan wajah yang bersemu merah.
"Seperti apa wajahnya? Aku jadi penasaran dengan calon adik iparku. . " Tanya Alina lagi.
"Dia cantik Kak, manis, imut. . pokok nya semua kriteria ku sudah ada padanya." Ujar Vin malu-malu.
Kedua nya larut dalam obrolan, hingga tak menyadari ada seseorang yang sejak tadi mengintai nya secara diam-diam.
....Chandra POV....
Di sudut lorong yang sepi, sebuah ruangan yang hening. Chandra duduk sendirian di Sofa yang berada di sudut ruangan dekat jendela. Selang infus masih terpasang di tangan kirinya.
Hujan masih turun, membuat suasana malam semakin hening. Kilat beberapa kali muncul membuat langit terlihat terang, kini hatinya telah sedikit tenang setelah di berikan wejangan Kinan dan Randy sore tadi.
Chandra hanya masih buruh waktu untuk bisa menerima kenyataan ini, dan ia pun memikirkan saran dari Kinan dan Randy untuk mulai pendekatan dari awal layaknya orang yang berpacaran.
"Terakhir pacaran, 6 tahun yang lalu. Itupun bukan aku yang menyatakan perasaan lebih dulu. Namun perasaan nyaman tumbuh menjadi rasa sayang, hingga pada akhirnya dia pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Lalu bagaimana caranya aku harus mendekati nya? Aku harus bertanya pada siapa?"
Kini dirinya tengah di landa perang batin, berbagai pertanyaan muncul di kepalanya tanpa titik terang yang bisa ia dapatkan untuk memecahkan masalahnya.
Malam semakin larut, angin malam yang dingin menyelundup masuk ke dalam ruang rawat melalu celah-celah ventilasi. Chandra masih bertahan di tempat duduknya, pikirannya sedang melayang entah kemana.
__ADS_1
cklekk. .
"Kakak belum tidur? waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, sebaiknya Kakak tidur. Bukankah Kakak harus segera pulih? Kak Nana membutuhkan Kakak, dan juga Kakak harus bekerja bukan? Sudah cukup selama dua tahun ini Kakak melimpahkan tanggungjawab Kakak ke orang lain. Kakak harus bangkit, sampai kapan Kakak harus terpuruk?"
Ujar Vin dengan bijaknya memberikan wejangan yang bisa dia ucapkan pada kakak iparnya. Vin juga bingung, disisi lain dia hanyalah adik iparnya, usianya jauh lebih muda darinya. Tapi dia juga tidak bisa melihat kakak iparnya yang terus-terusan terpuruk dalam keadaan seperti ini.
"Apakah dia sudah tidur?" Tanya Chandra pada Vin.
" Sudah, Kakak juga harus segera tidur. Ayo aku bantu ke atas bed." Ucap Vin memapah Chandra.
"Terimakasih, kamu sudah menjaganya." Ucap Chandra pada Vin.
"Hmm. . bukankan itu hal yang wajar? Jadi tidak perlu berterimakasih Kak." Ungkap Vin dengan menyunggingkan sedikit senyumnya.
"Tidurlah." imbuh Vin setelah menaikkan selimut sampai dada Chandra.
Kini giliran Vin yang merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruangan yang sama dengan Chandra. Dalam hitungan menit ia sudah terlelap larut dalam mimpi.
Pagi Hari di Rumah Sakit. .
"Selamat pagi, Mam. Sudah, apakah Nana sudah bangun Mam?" Tanya Chandra yang sejak pagi teringat dengan istrinya tapi dia mengurungkan niatnya untuk datang melihatnya secara langsung.
Chandra khawatir, Nana tidak ingin bertemu dengannya, karena dia hanyalah orang asing untuknya. Chandra tidak ingin membuat Nana merasakan sakit lagi jika Nana memaksa untuk mengingatnya.
"Sudah, kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Kinan.
"Tidak Mam, aku takut kedatanganku akan merusak moodnya, melihatnya dari jauh saja sudah cukup untukku Mam." Ucap Chandra.
"Sampai kapan kau akan melihatnya hanya dari jauh? Bukankah dengan kau sering muncul di hadapannya, akan membantu memulihkan ingatannya dengan cepat?" Ujar Kinan.
"Tapi Mam. ." Ucap Chandra dengan ragu.
"Apa yang kamu ragukan Nak? Kau harus terbiasa sekarang. Anggap saja kamu sedang berusaha untuk mendekati putri Mami." Ucap Kinan lagi.
__ADS_1
"Apakah Nana akan baik-baik saja?" Tanya Chandra lagi masih ragu.
"Percaya pada Mami. . ." Ucap Kinan berusaha membangun kembali percaya diri Chandra.
"Ayo, Mami bantu kamu. . .Mami tau, kamu kangen Nana. Dua tahun bukan waktu yang singkat untukmu, dan mau menunggu berapa tahun lagi untukmu bisa ngobrol dengan istrimu, Nak." Imbuh Kinan.
Kinan membantu Chandra untuk jalan menuju ruang rawat Alina yang berada tepat di samping ruang rawatnya. Kebetulan Randy dan Vin sudah berangkat kerja pagi ini, jadi hanya Kinan yang menjaga Alina dan Chandra di Rumah Sakit.
Tokk. . tokk. . tokk. .
"Sayang, Mami ajak seseorang untuk menemani mu ngobrol. Karena Mami harus menemui dokter Lani untuk melihat perkembangan mu." Ucap Kinan pada putrinya.
"Siapa Mam?" Tanya Alina mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke Kinan yang masih berdiri di pintu.
"Nak, ayo masuk." Ajak Kinan pada Chandra yang masih bersembunyi di balik tembok.
"Dia sakit apa Mah? Bukankah kemarin dia sehat-sehat saja?" Tanya Alina pada Kinan.
"Dia galau, jadi dia kabur hujan-hujanan sama anak kecil. Sampai akhirnya dia tumbang, dan jadi pasien juga di Rumah Sakit ini. Ruang rawatnya kebetulan di sebelah ruangan ini, keluarganya sedang tidak ada. Jadi daripada dia sendirian, kamu juga sendirian, jadi Mami ajak dia saja ke sini untuk menemanimu, bolehkan Nak?" Tanya Kinan beralasan.
"Boleh Mam." Jawab Alina dengan mengembangkan sedikit senyuman di wajahnya.
"Ayo sayang, masuk. Kamu panggil Mami juga ya Nak. Biar enak di dengarnya." Ucap Kinan pada Chandra dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Iya Mam, makasih." Jawab Chandra dengan kikuk.
"Ya sudah, kalian berbincang-bincang lah, sebentar lagi sarapan akan datang. Mami sudah bilang, sarapan Nak Chandra di antar kesini juga. Nak Chandra titip putri Mami yang cantik ini ya." Ucap Kinan meraih handbag di atas meja samping bed Alina.
"Iya Mam." Jawab Chandra lagi menganggukkan kepalanya dengan sopan.
______________________________________________________
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍
__ADS_1
Happy Reading 😘😘