Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Satu Minggu


__ADS_3

Sudah seminggu yang lalu, ia harus terpisah jauh dengan sang belahan hati. Pasangan yang baru sebulan resmi menyandang status suami isteri harus saling berjauhan karena tuntutan kerja.


Mungkin jika Vannya tidak bekerja, dia akan ikut dengan suaminya ke luar kota. Tapi sayangnya, saat ini Vannya harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah menjadi pilihannya.


Menjadi salah satu staff sekretaris bukanlah pekerjaan yang mudah. Dia harus konsisten dan membagi waktunya dengan baik. Dia juga harus tetap fokus dan menyingkirkan egonya yang seringkali datang tanpa melihat waktu.


Seperti saat ini, hujam di luar gedung turun dengan derasnya. Membuat rasa kantuk yang ia rasakan sejak siang tadi semakin kuat ia rasakan. Sesekali ia terus menguap entah sampai berapa kali.


"Van, minum kopinya. Mungkin rasa kantukmu akan sedikit berkurang," ucap Mbak Eni salah satu seniornya.


"Makasih Mbak. Maaf jadi merepotkan ya," ucapnya merasa tidak enak hati.


"Tidak apa Van, sekalian aku buat tadi. Kamu sehat kan? Kok sepertinya seharian ini kamu lemas," tanyanya.


"Hmm ... Aku baik-baik saja kok Mbak, cuma ngantuk saja. Padahal semalam aku tidur lebih cepat dari biasanya,"


"Jangan-jangan kamu di tempelin hantu ngantuk Van," celetuknya.


"Ih Mbak Eni, membuatku takut saja. Aku jadi merinding loh ini," ujarnya meraba tengkuknya.


"Hahah Van, kamu itu lucu sekali. Ya sudah minum dulu kopinya, setelah itu tolong antarkan ini ke Kak Vallent ya,"


"Okey Mbak," ia segera meneguk kopi yang baru saja di bawakan Mbak Eni.


Secangkir kopi panas yang asapnya masih mengepul lumayan bisa mengusir rasa kantuknya. Setelah menghabiskan setengahnya, Vannya segera bergegas pergi menemui Vallent yang tak lain adalah sekretaris Tuan Chandra.


Dengan cepat, Vannya berjalan melewati koridor lantai 7 menuju meja kerja Kak Vallent yang berada satu ruamg dengan ruang Tuan Chandra hana di sekat pintu saja sebagai pembatas ruangan.


Tokk ... tokk ... tokk!


"Permisi Kak!" ucap Vannya setelah membuka pintu.


"Masuk Van," ucapnya dengan ramah.


"Terimakasih Kak, aku di minta Mbak Eni mengantarkan berkas ini ke Kak Vallent," ujarnya menyerahkan setumpuk berkas diatas meja kerja Vallent.


"Ah, terimakasih ya Van. Pekerjaanmu sudah selesai?" tanyanya.


"Sudah Kak, pekerjaan Kakak masih banyak? Ada yang bisa aku bantu?" ujarnya menawarkan diri.

__ADS_1


"Hmm tidak, tapi besok aku izin tidak berangkat karena ada urusan keluarga. Aku boleh mina tolong?"


"Minta tolong apa Kak?"


"Kamu gantiin aku ya, sehari saja. Selebihnya nanti aku kabari lagi,"


"Eh? Kenapa aku Kak? Kan masih ada staff yang lain,"


"Mereka sudah pernah dan jelas bisa, tapi kan kamu belum pernah mencoba. Anggap saja ini sebagai latihan kamu, siapa tau nanti aku di mutasi ke perusahaan cabang jadi kan ku bisa menggantikanku,"


"Tapi aku belum bisa Kak,"


"Ya sudah, kamu duduk sini. Aku ajari sedikit, selebihnya kamu akan tau dengan sendirinya," berdiri dan meminta Vannya untuk duduk di kursi kerjanya.


Vannya mengikuti apa kata Vallent, ia duduk di kursinya menghadap layar monitor di depannya. Dengan perlahan dan jelas Vallent mulai menjelaskan pada Vannya. Dengan sabar ia menjelaskan apa yang di tanyakan oleh Vannya.


"Gimana? Pahamkan? Kalau kamu bingung, kamu tanyakam saja pada staff yang lain," ujarnya setelah pelajaran singkat berakhir.


"Hehe iya Kak, sedikit bisa aku pahami. Semoga aku tidak mengecewakan Kakak ya," ucapnya dengan lugu.


"Tentu tidak akan, kamu pasti bisa Van. Sebentar lagi waktunya pulang, sebaiknya kamu bersiap-siap. Aku juga akan bersiap-siap nih," ucapnya mengingatkan.


"Sama-sama Vannya,"


Vannyapun kembali ke ruangannya dengan senang hati, ia merasa beruntung di kelilingi orang-orang baik. Yang tak segan-segan memberikan ilmu yang belum dia dapatkan sebelumnya.


Sesampainya di ruangan, Mbak Eni juga sudah bersiap-siap untuk pulang.


"Kok baru kembali Van?"


"Iya Mbak, tadi Kak Vallent minta aku buat gantiin dia besok seharian, jadi ada beberapa hal yang harus aku pelajari. Kak Vallent baik ya Mbak,"


"Iya Van, dia sangat baik. Siapa saja yang belum paham, pasti dia tidak segan untuk mengajarinya, dulu aku juga gitu Van," ujarnya.


"Hmm, pantas saja Tuan Chandra masih mempertahankan dia disini ya Mbak. Aku juga akan seperti itu kalau jadi Tuan Chandra,"


"Tapi dengar-dengar Kak Vallent akan di mutasi ke perusahaan cabang di Kalimantan sana Van. Tapi masih rumor," ujarnya.


"Benarkah? Kata siapa Mbak? Wah jauh sekali,"

__ADS_1


"Ada beberapa yang membicarakannya, aku sih hanya tidak sengaja dengar,"


"Ya sudah, yuk pulang!" ajaknya pada Vannya.


"Okey Mbak, sebentar ... kopiku masih ada setengah," Vannya meneguk kembali kopi yang tersisa di cangkirnya.


Setelah kopi habis, ia segera bergegas keluar dari ruang kerjanya. Berjalan beriringan melewati koridor ruangan di lantai 7. Yang lain sudah jalan lebih dulu, mereka sudah berdiri di depan lift menunggu gilirannya.


Vannya dan Mbak Eni masuk di kloter terakhir, hana tersisa 5 orang disana. Untung saja mereka tidak perlu menunggu lama, pintu lift kembali terbuka sehingga mereka bisa segera turun dari lantai 7.


"Sayang!" teriak seseorang di halaman depan perusahaan.


Suara yang tidak asing, Vannya berhenti sejenak untu kmwlihat dengan jelas wajahnya. Ya, itu adalah suaminya. Air mata tak mampu ia bendung lagi, ia berjalan dengan cepat mendekatinya.


"Kak!" ucapnya seraya memeluk tubuh suaminya.


"Sayang, aku pulang ... ." ucapnya mengusap kepala isterinya dengan lembut.


"Kenapa lama sekali? Kakak tau, aku kesepian. Aku sangat merindukan Kakak," tangisnya pecah begitu saja.


"Maaf Sayang, ada masalah sedikit dengan jadwal penerbangan. Maaf ya sudah meninggalkanmu dengan waktu yang sangat lama, Cupp!" sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.


"Jangan tinggalkan aku lagi Kak. Setidaknya jangan lebih dari satu hari kalau mau pergi lagi," rengeknya dengan manja.


"Tidak janji, tapi akan aku usahakan. Sekarang kan aku sudah disini, ayo kita pulang ... ."


"Vannya! aku duluan ya," teriak Mbak Eni yang rupanya sejak tadi masih terdiam di tempatnya menyaksikan sepasnag suami isteri yang sedang saling melepas kerinduan.


"Eh iya Mbak, hati-hati dijalan!" ucap Vannya menghapus air matanya.


"Ayo Kak!" ucapnya dengan semangat.


Seatbelt telah terpasang melingkari tubuh keduanya, sejenak mereka saling bertatap wajah satu sama lain. Binar kebahagiaan terpancar di kedua bola mata mereka.


Mungkin dulu seminggu sangat singkat untuk mereka, tapi setelah menikah satu haripun akan terasa sangat lama.


"Sudah siap?" tanyanya mengusap kepala Vannya dengan lembut.


"Hmm, ayo kita pulang Kak!" jawabnya dengan wajah yang bersemu merah.

__ADS_1


__ADS_2