Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Aku Harus Apa?


__ADS_3

...WIJAYA GROUP...


...PUKUL 11.30 WIB...


"Hai, apakah Chandranya ada?" tanya seorang wanita dengan pakaian yang sedikit terbuka.


"Pak Chandra di dalam, tapi ... ." belum selesai bicara wanita tersebut sudah berlalu begitu saja.


"Eh, Nona ... Apakah sudah ada janji sebelumnya?" tanyanya sedikit lantang, tapi sia-sia wanita terdebut sudah masuk.


"Oh ya Tuhan, bagaimana ini?" gumamnya.


"Hai Chan!" sapanya dengan riang.


"E-Erlina, bagaimana kamu ada disini?" ujarnya dengan bingung.


"Cih! Kamu ini, aku sms tapi tidak kamu balas, ya sudah aku kemari saja. Sebentar lagi waktunya makan siang, ayo kita makan siang bersama," ajaknya mendekati Chandra yang masih duduk di kursi.


"Aku masih ada pekerjaaan, kamu makan siang sendiri saja ya," ucapnya menolak dengan halus.


"Ya sudah aku disini saja, aku tidak akan makan kalau tidak kamu temani," ucapnya dengan manja.


"Astaga! Baiklah, 5 menit lagi. Aku selesaikan ini dulu,"


"Okey Chan, aku akan menunggumu ... ." duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Kamu tidak akan bisa menghindar dariku lagi Chan, dulu aku kalah karena kamu lebih memilih adikku. Tapi sekarang adikku sudah tiada bukan?" batinnya tersenyum licik.


Tepat 5 menit, Chandra sudah menutup laptopnya dan bangun dari duduknya. Erlina segera berdiri dan memasang senyum penuh kemenangan. Ia segera menggandeng lengan Chandra dan berjalan keluar dari ruang kerjanya.


Vannya tak mampu berkata-kata, ia hanya diam dan menelan salivanya berkali-kali. Mulutnya serasa terkunci, ia tak habis pikir kenapa wanita asing itu tiba-tiba hadir dan kini Pak Chandra malah diam saja saat wanita itu menggandengnya.


"Vannya, aku pergi dulu. Kamu jangan salah paham, ini tidak seperti yang kamu kira," ujarnya.


"Ba-baik Pak," jawabnya dengan gugup.

__ADS_1


"Memang kenapa Chan? Apakah dia juga menyukaimu?" ucapnya seraya menyandarkan kepalanya di lengan Chandra dengan mesra.


Pak Chandra segera berlalu meninggalkan Vannya sendirian di meja kerjanya. Vannya masih saja terdiam, beberapa pertanyaan berkecamuk menjadi satu dalam kepalanya.


...VANYA POV...


"Astaga, drama apalagi ini? Kenapa Pak Chandra diam saja saat wanita cantik itu menggandengnya. Bukankah Kak Nana saat ini sedang hamil, bagaimana kalau nanti Kaka Nana tau. Ya Tuhan, sadarkan Pak Chandra" batinku penuh harap.


Aku takut Kak Nana tau tentang ini, dan akan berakibat fatal untuknya. Setauku, Pak Chandra adalah pria yang setia dan dia begitu mencintai Kak Nanan. Lalu bagaimana bisa dia malah bermesraan dengan wnaita itu.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak ada hak untuk mencampuri urusan rumah tangga Kak Nana. Tapi aku akan merasa bersalah kalau aku menutupi ini semua dari Kak Nana, Kak Vin, Papi juga Mami.


Astaga! Aku berada di posisi yang benar-benar sulit. Haruskah aku diam saja melihat penghianatan di depan mataku ini? Tapi kalau aku mengatakannya, bisa-bisa aku di habisi Pak Chandra.


"Ya Tuhan, kalau memang Pak Chandra sudah berkhianat. Segera sadarkan dia, atau setidaknya biarkan Kak Nana tau secepatnya. Setelah itu, aku serahkan saja padamu ... ." gumamku.


"Van, makan siang yuk!" Ajak Mbak Eni yang tau-tau sudah berdiri di depanku.


"M-Mbak En, sejak kapan sudah disini? A-apa Mba En lihat Pak Chandra saat keluar tadi?" tanyaku was-was.


"Oh tidak lihat ya, hmm ... tidak, tidak. Pak Chandra hari ini tidak marah-marah kok, ya sudah ayo mau makan siang dimana Mbak?" tanyaku lagi.


"Cafe depan saja, lebih dekat dan tidak menyita banyak waktu. Ayo cepat sebelu meja penuh,"


"Iya Mbak, aku ambil tasku dulu. Yuk,"


Aku dan Mbak Eni segera bergegas pergi, ku pastikan pintu ruangan sudah tertutup rapat dan tidak ada barang berharga yan tertinggal di meja. Meski saat ini aku sedang bersama Mbak Eni, tapi pikiranku tidak disini. Kalian tau kan apa yang sedang aku pikirkan sekarang. Menurut kalian aku harus melakukan apa? 😪


Sementara itu,


"Chan kita mau kemana?" tanya Erlina dengan manja.


"Katamu mau makan siang," jawabnya singkat.


"Tapi kita mau kemana? Ini sudah jauh dari Perusahaanmu loh. Hmm, apa kamu sengaja mengajakku pergi jauh supaya kita bisa berlama-lama," ujarnya menyeringai.

__ADS_1


"Aku bosan makan di resto dalam kota, aku ingin mencoba makan di tempat yang berbeda. Kamu jangan berfikir yang tidak-tidak," ucapnya dengan ketus.


"Hmm, gitu. Aku kira kamu sengaja melakukannya supaya kita bisa berduaan dengan bebas," celetuknya lagi.


Sesampainya di tempat makan, Chandra segera memesan private room supaya orang lain tidak bisa melihatnya. Apakagi orang terdekat yang kenal dengannya juga isterinya.


Tak berapa lama kemudian, makanan sudah datang. Mereka makan tanpa bersuara sedikitpun, sesekali Erlina terus melirik ke arah Chandra. Tak disangka, setelah hampir 5 tahun tak bertemu ternyata Chandra semakin tampan dan berwibawa.


"Ada apa kamu datang ke Indonesia? Bukankah disana kamu juga sibuk dengan aktivitasmu?" ujar Chandra.


"Aku bosan, aku sedang ingin liburan. Jadi aku kemari saja, sekalian lihat kamu. Sudah lama kan kita tidak ketemu," ucapnya bersemangat.


"Jadi, tujuanmu datang kesini cuma untuk melihatku?" tanyanya.


"Hm, tentu saja. Aku kan kangen sama kamu walaupun kamu tidak," ujarnya membuang nafasnya dengan panjang.


"Udahlah, kamu disana saja. Tempatmu disana, bukan disini. Karirmu akan semakin berkembang disana, sedangkan disini kamu tidak akan mendapatkan apa-apa Erlina," ucapnya dengan serius.


"Siapa bilang? Aku kesini untuk mendapatkanmu Chan, tinggal satu langkah lagi. Lalu aku harus menyerah begitu saja saat kesempatan ada di depan mata," batin Erlina yang terus menatap wajah Chandra dengan kagum.


"Iya Chan, aku hanya sebentar kok. Kamu mau kan temani aku selama aku ada disini? Aku tidak ada teman, kecuali kamu ... ." ujarnya mulai beralasan mencari cara supaya bisa dekat dengan Chandra.


"Bukankah teman kamu disini banyak? Dulu saja, saat Erlita sakit kamu tidak perduli. Kamu asyik bermain dengan teman-temanmu kan?"


"Haih! Itu kan sudah lama Chan, aku bahkan menyesal karena sudah egois. Dan sekarang mereka (teman-temannya) sudah tidak bisa aku hubungi, mereka sudah tau kenal lagi denganku. Dan kam juga tidak mau kenal lagi denganku," mulai terisak sedih berharap Chandra akan luluh dengan ucapannya.


"Huh!! Udah, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat ada wanita menangis di depanku," ucapnya.


"Aku tidak akan berhenti menangis kalau kamu belum mengiyakan," rengeknya dengan manja.


"Mengiyakan apa?"


"Mengiyakan kalau kamu mau temani aku selama aku ada disini," ujarnya mengulang perkataannya.


"Kamu mau kan?"

__ADS_1


__ADS_2