
Waktu menunjukkan pukul 13.00, perlahan Alina mulai terbangun dari tidurnya setelah menemaninya suaminya yang tiba-tiba seperti anak kecil hingga membuatnya kebingungan.
"Hmm, pulas sekali tidurnya. Tapi aku lapar," batinnya memegangi perutnya yang mulai demo.
"Sayang, bangun ... aku lapar," ujarnya perlahan membangunkan Chandra yang masih terlelap.
_________
"Hmmm,"
"Ayo bangun, kita makan ... ." ajaknya mengguncang tubuh Chandra yang masih terlelap.
"Iya Sayang," sahutnya lirih.
"Buka matanya, ayo!" ujarnya lagi seraya membuka kedua mata Chandra dengan tangannya.
"Iya, iya. Ayo!" ucapnya segera membuka mata dan tersenyum.
"Heh! Tumben bangun tidur senyum, kamu sehat kan?" tanya Alina.
"Sayang, kamu selalu menggodaku. Bagaimana aku tidak kangen terus coba," celetuknya mengacak-acak rambut Alina dengan pelan.
"Aiihh! Rambutku," ujarnya segera turun dari kasur berlalu ke meja rias untuk menyisir rambutnya yang panjang.
"Astaga! Segitunya cuma demi rambut," gumamnya menyandarkan badannya di kepala ranjang.
Chandra segera beranjak turun dari atas kasur dan berlalu ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya selagi Alina masih menyisir rambut panjangnya. Dalam waktu 3 menit dia sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah.
"Udah?" tanya Chandra.
"Udah, yuk turun!" ajaknya lagi menggandeng lengan suaminya.
Mereka segera turun, dan bebarengan dengan Mamah juga Papah yang baru saja keluar dari kamarnya. Mereka sudah berganti pakaian rapih, hari ini mereka memutuskan untuk kembali ke rumah karena besok harus kembali bekerja.
"Mamah sama Papah jadi pulang hari ini? Kenapa tifak nanti saja?" ujar Alina.
"Iya Nak! Kalau nanti takut di jalan macet. Jadi kita terlambat sampai rumah dan waktu istirahat menajdi berkurang. Toh Mamah sama Papah sudah bahagia karena bisa melihat kalian," ucap Mamah dengan lembut.
"Hmm, sering-sering kesini Mam, Pah!" ujar Alina.
"Pasti Nak! Mamahmu pasti akan lebih sering mengajak Papah kesini, semoga perlahan Mamah bisa lupa dengan jatah shopping," ucap Papah membuat Alina dan Chandra tertawa.
"Tidak masalah jatah shopping hangus, tapi jatah bulanan dua kali lipat ya Pah?" celetuk Mamah.
__ADS_1
"Aiishh! Mana bisa?" sahutnya.
"Kenapa tidak, kata pepatah tidak ada yang tidak mungkin kan?" ujarnya tak mau kalah.
"Hahah! Papah, Mamah kalian lucu sekali. Sebelum kalian pergi, ayo makan dulu. Aku sudah lapar dan ingin makan bersama kalian," ajak Alina.
"Hmm, yuk. Sepertinya aku kenal dengan bau masakannya," ujar Mamah.
Mbok Jum memasak sayur asam pedas dan ikan keranjang kesukaan Alina. Nasi yang masih hangat, di campur dengan sayur asam yang baru saja di plating ke dalam mangkung di tambah dengan ikan pindang yang lezat.
Sudah lama mereka tidak makan siang bersama seperti ini. Dan saat makan siang berlangsung, tiba-tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan Mami dan Papi yang datang tanpa sepengetahuan Alina juga Chandra.
"Selamat siang," sapanya dengan lembut.
"Mami ... ." teriak Alina saat melihat kedatangan mami juga Papi.
Dia langsung bangun dari duduknya dan menghampirinya, serta memeluknya dengan sangat erat. Meski baru kemarin mereka menginap di rumah Mami, tak membuat rasa rindu yang hampur setiap saat bertambah menjadi berkurang.
"Mih, Nana kangen ... ." bisiknya lirih.
"Mami juga Sayang. Kamu sehat kan?" tanyanya menciumi wajah putrinya dengan lembut.
"Hmm, Nana senang Mami sama Papu kesini. Hy Pih," sapanya memeluk Papih tak kalah eratnya.
"Sehat Pih, makasih sudah datang. Ayo duduk. Kita makan siang bersama," ajaknya menuntuk kedua orangtuanya ke meja makan.
"Selamat datang besan," sapa Mamah Irene dengan hangat.
"Hy, besanku disini juga rupanya. Pantas aku ingin cepat-cepat kesini," ujarnya sambil cipika-cipiki.
"Iya besan. Habisnya kangen sama anak-anak, kebetulan bisa bertemu juga dengan besan," ujarnya.
Merekapun melanjutkan makan siang bersama. Suasana di meja makan sangat hangat, Alina dan Chandra merasa senang karena kedua orangtuanya berkumpul di rumah.
Di Tempat Lain,
Selesai makan siang, Vannya dan Vin duduk di taman halaman belakang yang terhampar luas. Beberapa tanaman bunga tumbuh dengan subur di pot besar, disana terdapat saung yang di buat dari bambu untuk menikmati suasana siang yang terik.
Tak lama setelah mereka duduk disana, menikmati semilir angin yang terhembus di sana. Bi Minah datang dengan membawa minuman dingin, lemon tea dan juga buah serta makanan ringan.
"Makasih Bi, sebaiknya Bibi istirahat. Sebelum nanti masak lagi untuk makan malam ya," ucap Vannya pada Bi Minah.
"Baik Nyonya," jawabnya seraya undur diri dan kembali menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Kamu maih mau bekerja?" tanya Vin pada isterinya.
"Hmm, aku masih ingin bekerja Kak. Boleh kan?" tanya Vannya.
"Boleh saja. Asalkan kamu bisa jaga diri, jangan sampai kamu lelah dan ada apa-apa dengan calon anak kita," ujar Vin.
"Iya Kak. Aku bakalan jaga kandunganku, tapi Kakak juga harus janji jangan macam-macam ... ." ucapnya.
"Iya Sayang, aku cuma minta jangan lagi kamu marah sama aku. Aku tidak bisa di cuekin kayak semalam," pintanya mengusap kepala Vannya dengan sangat lembut.
"Hmm," sahutnya tanpa berbicara karena mulutnya penuh dengan makanan yang Bi Minah bawakan tadi.
"Besok pulang dari kantor, kita ke dokter ya. Kemarin kan baru pendapat dari Dokter umum. Kita juga harus konsultasi ke Dokter Spesialis," ujarnya.
"Iya Kak!" jawabnya.
"Oh ya, katanya hari ini Mami sama Papi ke tempat Kak Nana," ujar Vannya setelah menenguk lemontea yang segar.
"Iyakah? Kok aku tidak tau," ujarnya.
"Hmm, aku juga tadi baca pesan dari Kak Nana," jawabnya.
Sementara itu,
Setelah mengantar Mamah dan Papah sampau halaman rumah, memastikan mobil sudahbmenghioang dari pandangan. Alina meminta izin untuk ke klinik sebentar karena masih penasaran dengan informasi dari Stef.
"Mam, aku ke klinik sebentar ya. Kata Stef ada info baru. Aku penasaran," ujarnya.
"Tidak perlu, aku udah tau infonya," sahut Chandra.
"Apa?" tanya Alina.
"Kita duduk dulu yuk, Mami dan Papi juga harus tau. Karena ini kabar bahagia untuk kita semua," ujar Chandra.
"Aiiishh! Membuatku penasaran saja. Ayo Mam," ajak Alina menggandeng Mami untuk masuk ke dalam rumahnya.
Setelah semua duduk di ruang tengah, Chandra memanggil Mbok Jum meminta di buatkan minuman yang segar karena cuaca sedang panas dan membuatnya sering merasa gerah.
"Apa infonya?" tanya Alina sudah tidak sabar.
"Iya Nak, ada info apa? Mami jadi ikut penasaran," ujar Mami menimpali.
"Aku tau bukan dari Stef. Tapi aku yakin infonya sama dengan info yang mau Stef sampaikan,"
__ADS_1
"Hmm, jadi semalam Stef di panggil Vin ke rumah karena Vannya tiba-tiba pingsan," imbuh Chandra mulai menjelaskan.