
Perlahan kedua matanya terbuka, semua terlihat remang-remang, lama kelamaan terlihat semakin jelas. Sosok pria asing berada di hadapannya dengan senyuman yang tak bisa diartikan.
"Sayang, kau sudah bangun?" Ucap Chandra dengan tatapan sendu.
"Kak. . ." Panggil Vin secara perlahan karena Alina membuka matanya tapi tidak merespon ucapan Chandra.
"Vin, kau kah ini? Kau sudah banyak berubah sekarang. . ." Ucap Alina menatap adik laki-lakinya dengan tatapan penuh kerinduan.
"Tentu saja, dua tahun bukan waktu yang singkat Kak." Ujar Vin.
"Dua tahun? Memang kau pergi kemana?" Tanya Alina.
"Kakak koma selama dua tahun, kami semua menunggu Kakak selama waktu dua tahun lamanya." Ucap Vin lagi pada Alina.
"Sayang, apa kau merasakan sakit? Maafkan aku yang sudah membuatmu menjadi seperti ini." Ungkap Chandra penuh dengan rasa penyesalan.
"Kau. . Siapa?" Tanya Alina saat menatap Chandra.
"Kak. . . Kak Chandra suami Kakak, dua tahun yang lalu Kakak menikah dengannya." Ucap Alina.
"Aku sudah menikah? Benarkah?" Tanya Alina.
"Sayang. . . " Kinan segera mendekati putrinya yang sepertinya sedang bingung.
" Mami. . . Benarkah Nana sudah menikah? Lalu bagaimana bisa Nana bisa menikah dengannya? Bukankah Nana tidak kenal dengannya?" Tanya Alina dengan bingung berharap ia mendapatkan jawaban dari Kinan.
"Kamu tidak ingat dengan suamimu? Bagaimana bisa sayang? Bahkan kamu ingat dengan Mami, Papi, dan adikmu. Kenapa kamu tidak ingat dengan suamimu?" Tanya Kinan dengan khawatir.
"Dokter, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak mengingat suaminya?" Tanya Randy.
__ADS_1
"Sepertinya ada sebagian memorinya yang hilang Pak, Dokter Alina hanyan bisa mengingat kejadian 3 tahun yang lampau. Dia tidak bisa mengingat kejadian dua tahun ke belakang, termasuk pernikahannya dengan Pak Chandra." Ucap Dokter Lani.
"Bagaimana bisa? Lalu apa yang harus aku lakukan supaya dia bisa mengingatku?" Tanya Chandra dengan cemas.
"Hal seperti ini tidak bisa di paksakan Pak, biarkan Dokter Alina menjalani hidupnya seperti 3 tahun yang lalu dulu, lambat laun ingatannya akan pulih. Tapi saya tidak bisa memprediksi kapan ingatan akan pulih karena saya hanya seorang dokter yang hanya mengetahui secara medis bukan mistis." Ucap Dokter Lani.
"Ini semua salahku, aku yang salah. Ini hukuman untukku. . . " Ujar Chandra berteriak kemudian pergi meninggalkan Ruang Rawat VIP.
" Biarkan saja, dia butuh waktu untuk menerima kenyataan. Tidak perlu khawatir." Ucap Mamah Irene yang tak lain adalah Mamah Chandra.
"Sayang Nana, panggil aku Mamah ya, aku teman Mami Kinan. Aku juga sudah memganggap Nana seperti anak sendiri." Ucap Mamah Irene.
"Hmm. . . " Alina menganggukan kepalanya.
" Boleh Mamah peluk kamu Nak?" Tanya Mamah Irene dengan lembut.
"Boleh Mah. . " Jawab Alina.
Setelah mendengar penjelasam Dokter perihal kondisi isterinya pasca koma, membuat hatinya bergejolak penuh dengan kemarahan. Dia tidak marah pada siapapun, melainkan marah pada dirinya sendiri.
Rasa penyesalan selama dua tahun lamanya kini semakin terasa, dia sudah merasa tersiksa dengan melihat istrinya yang koma selama dua tahun, dan sekarang dia harus menerima kenyataan jika isterinya tidak bisa mengingatnya dalam jangka waktu yang tidak bisa di tentukan.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan ibukota yang semakin ramai, jalanan mulai sepi, matahari sudah kian meredup di selimuti awan hitam yang sepertinya akan turun hujan siang itu.
Kanan kirinya jurang dan tebing, entah dimana dia saat ini berada. Pikiran sedang kacau, dia tak peduli saat ini memacu mobilnya menjauh dari kota dan memasuki kawasan sepi yang dia sendiri tidak tau.
"Harusnya aku tidak terbawa emosi saat itu, harusnya aku dengarkan penjelasan darinya. Aku memang pria b*******, aku begitu egois. Aku pantas mendapatkannya. Selama dua tahun aku sudah tersiksa karena nya, sekarang hukumanku bertambah lagi. Sampai kapan aku harus menjalani hukuman yang datang silih berganti ini?" Ceracaunya dengan terus melajukan mobilnya menembus jalanan yang sudah berganti dengan bebatuan.
Hujan turun dengan derasnya, petir kian menggelegar membasahi tanah dan pepohonan di sekelilingnya. Mobil telah berhenti di tepi jurang yang sepi oleh lalu lalang. Chandra turun dari mobil, membiarkan tubuhnya basah di guyur derasnya hujan yang turun siang itu.
__ADS_1
Matanya menatap jauh ke depan, kakinya terus melangkah menjauhi mobil yang ia parkirkan di tepi jalan. Entah apa yang ada di depan pikirannya saat itu, yang jelas dia masih kalut dalam kesedihan. Otaknya tak bisa berfikir dengan jernih lagi.
Jarak ia berdiri dari jurang hanya terpaut satu meter, kakinya berhenti melangkah. Kepalanya menengadah keatas dengan kedua mata terpejam. Air mata yang turun telah menhatu dengan air hujan membasahi wajahnya.
"Apakah aku masih kuat menjalani hukumanku? Akankah aku kembali mengalami kejadian 5 tahun lalu saat Erlita pergi meninggalkanku? Bahkan rasa sakit yang kini aku rasakan tak sebanding saat aku mengantarnya ke liang lahatnya."
Di Rumah Sakit. . .
"Vin, apa kau sudah dapat kabar tentang Kakak Iparmu? Sudah 4 jam lamanya dia pergi dan belum kembali sampai saat ini." Ucap Kinan dengan cemas.
"Belum Mam, nomornya tidak aktif, bagaimana aku akan menghubunginya. Mungkin Kak Chandra masih butuh waktu, dia pasti sangat terpukul dengan keadaan Kak Nana sekarang." Ucap Vin.
"Itu sudah pasti, dulu aku memang marah padanga saat tau putriku terjatuh dari tangga dan koma karenanya. Lambat laun melihat penyesalannya dan siang malam tak ada lelahnya dia menjaga Nana membuatku luluh dan aku sadar, aku tak berhak membencinya. Dia tidak sengaja, tapi justru sekarang dengan sadarnya Nana menambah kepiluan untuknya." Ungkap Randy dengan lirih.
"Akupun sama sepertimu Mas, bagaimana aku tidak marah padanya? Putri yang sejak kecil kita rawat dengan baik, kita besarkan dengan penuh kasih sayang tiba-tiba harus mengalami kecelakaan oleh suaminya yang baru satu hari menikah. Tapi lambat laun kemarahanku berubah menjadi rasa iba saat melihat Chandra yang bahkan rela harus terjaga siang dan malam berharap Nana sadar." Ucap Alina dengan sedih.
"Hmm. . . Kita doakan saja supaya ingatan Kak Nana cepat pulih, dan mereka saling memaafkan. Sekarang hanya keajaiban Tuhan yang kita harapkan untuk mengubah semuanya menjadi seperti dulu lagi." Ucap Vin.
Saat ini Nana telah tertidur kembali setelah dia makan dan meminum Obat satu jam yang lalu, semua orang oamit untuk pulang, Kinan, Randy dan Vin memilih untuk stay di Rumah Sakit menjaga Alina. Kinan memilih untuk keluar dari ruangan mencari udara segar.
Terdengar suara langkah kaki dari ujung lorong, sama-samar terlihat seorang pria berjalan dengan langkah gontai. Tubuhnya basah kuyup, wajahnya terlihat begitu pucat membuat Kinan terpekik saat melihatnya.
Tiba-tiba dia jatuh pingsan membuat Kinan berteriak memanggil Randy dan Vin untuk segera menolongnya.
"Chandraa. . . . . " Teriak Kinan. " Mas, Vin. . . Tolong. . . " Panggil Kinan dengan panik.
______________________________________________________
Maaf terlambat Up, dan kemarin tidak Upπ π
__ADS_1
Masih belajar untuk bisa membagi waktu. Heheππ
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. πππ