Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Cerita Maya


__ADS_3

"Apa kau mau membuat Eyang ku jantungan Ran?"Tanya Keanu setibanya di kamar.


"Tidak, aku hanya bertanya siapa Bagus? Apa dia anak raja yang akan di jodohkan dengan Kinan? Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya kalau adikmu sudah di jodohkan? Bawa aku bertemu dengan Bagus, aku akan memintanya untuk dia tidak mengganggu calon isteriku lagi. Enak saja dia mau merebut Kinan dariku, apa dia tidak tahu siapa aku." Ujar Randy kesal.


"Astaga.....Randy.... Kau ini bod*h atau bagaimana? Kemana otakmu yang cerdas itu? Percuma punya wajah tampan tapi terlihat bod*h seketika. Nak Bagus itu sama saja dengan anak ganteng." Ujar Keanu.


"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Aku kan tidak tahu." Ujar Randy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dan satu lagi, jangan kamu bawa bahasa-bahasa gaul saat berhadapan dengan Eyang. Mereka tidak terbiasa dengan itu, bahkan aku dan Kinan saja tidak pernah seperti itu." Ujar Keanu.


"Astaga.... Apakah Eyangmu benar-benar keturunan Majapahit? Sampai-sampai kalau bicara dengan mereka harus menggunakan bahasa yang formal." Ujar Randy.


"Bukan hanya pada keturunan Majapahit saja kau harus hormat, tapi bagi orang Jawa kita yang muda harus hormat dan sopan kepada yang lebih tua." Ujar Keanu.


"Baiklah, kalau aku ada salah ingatkan aku. Aku mau mandi. Dimana handuknya?" Tanya Randy.


"Di dalam lemari. Ambil saja." Ujar Keanu.


"Oh iya kakak ipar, bisakah setelah mandi aku menemui Kinan?" Tanya Randy.


"Mandi saja dulu, nanti aku antar kau untuk bertemu dengan adikku.


"Baiklah kakak ipar." Ujar Randy berlalu ke kamar mandi.


Kenapa dia jadi terlihat bod*oh, kemana sikap cool nya selama ini? Bukankah dia terkenal dingin, lalu kenapa sekarang jadi seperti lelaki bucin... Bisa-bisanya adikku jatuh hati pada lelaki bucin seperti dia.- Batin Keanu.


"Dri, giliran kamu mandi. Cepat... setelah itu antar aku bertemu bidadariku." Ujar Randy keluar dari kamar mandi.


"Kamu mandi atau hanya melepas pakaianmu?" Ujar Keanu.


"Apa perlu aku mendekatkan tubuhku yang wangi ini padamu? Ah tidak... aku masih normal." Ujar Randy.


"Kau pikir aku tidak normal?" Ujar Keanu.


"Tidak...tidak kakak ipar... sudah sana mandi." Ujar Randy.


Keanu pergi mandi, sedangkan Randy membaringkan tubuhnya di atas kasur menunggu Keanu. Tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat nama Febby di layar ponselnya. Randy tidak mengangkatnya karena dia ingin fokus pada Kinan yang sedang ngambek padanya. Setelah layar mati karena panggilan berakhir, sebuah pesan masuk dari Febby.


•• Ran, where are you? Kamu kan sudah janji mau menemaniku selama seminggu ini. Aku senin sudah harus kembali ke US. Aku ingin menghabiskan masa liburku bersamamu.••


•• *Sorry Fe... aku sedang perjalanan bisnis bersama calon isteriku. kau habiskan saja waktumu dengan Erika. ••


•• Jadi Erika bukan calon isterimu?••


Astaga... jadi selama ini Fe menganggap anak kecil itu calon isteriku. -Batin Randy*.

__ADS_1


Di kamar Kinan...


"May bagaimana hubunganmu dengan Ivan?" Tanya Kinan.


"Kami hanya berteman tidak lebih Kin." Jawab Maya malu-malu.


"Bukankah beberapa hari yang lalu kau pergi berdua dengan Revan May? Aku melihatmu." Ujar Lia.


"Benarkah?Kenapa kau tidak memanggilku?" Tanya Maya.


"Aku tidak mengganggu orang yang sedang kasmaran May." Ujar Lia.


"Kau jadi jalan dengan dia May? Ayo ceritakan....." Ujar Kinan.


"Baiklah akan aku ceritakan..." Ujar Maya merubah posisi duduknya.


Dua hari yang lalu....


••*May, apa kau sepulang keeja ada acara?••


•• Tidak ••


•• Ok, nanti kau pulang denganku.••


•• Mau kemana?••


Maya tersenyum melihat isi pesan dari Revan yang masih satu ruangan. Maya ingin cerita pada Kinan, tapi sepertinya waktunya tidak tepat karena dia sendiri sedang kesal. Akhirnya Maya diam saja, dan tidak ada orang lain yang tahu.


Sepulang kerja Maya memisahkan diri dari teman-temannya beralasan mau mampir ke supermarket buat belanja bulanan. Setelah teman-temannya pulang, Maya menunggu Revan di depan toko dekat kantornya.


"Pakai helmnya..." Ujar Revan memberikan helm pada Maya.


"Ok" Maya memakai helmny.


"Ya sudah ayo naik." Ujar Revan.


Maya segera naik ke motor dan di bonceng Revan. Sepanjang jalan Maya dan Revan saling diam, karena keduanya grogi dan tidak tahu harus ngobrol apa. Maya hanya tersenyum dan diam saja dengan jantung yang terus berdepar sejak Revan memberikan helm padanya.


Ternyata Revan mengajak Maya ke pantai sesuai janjinya beberapa hari yang lalu saat mereka makan siang bersama yang lain. Maya sangat senang karena sudah lama ia tidak ke pantai semenjak kedua orangtuanya meninggal. Maya tidak berani mengajak adiknya ke pantai, karena takut adiknya akan histeris jika teringat kedua orangtuanya.


"Kamu senang?" Tanya Revan menatap Maya tanpa arti.


"hmm.... aku sudah lama tidak ke pantai, dan aku pikir aku tidak akan ke pantai lagi. Tapi kau mengajakku ke tenpat ini sekarang. Thankyou Re." Ujar Maya.


"Panggil aku Ivan, seperti Kinan memanggilku." Ujar Revan.

__ADS_1


"Hmm baiklah." Jawab Maya.


"Ayo kita ke sana." Revan menggandeng tangan Maya dan melangkahkan kakinya ke arah pantai.


Dia menggandeng tanganku lagi...... Maya tarik nafas May.... Jangan sampai Ivan tahu kalau kamu salah tingkah dibuatnya.... -Batin Maya.


Mereka berhenti di bibir pantai, Revan melepaskan tangan Maya dan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Maya memejamkan matanya untuk menghirup udara di pantai sore itu. Dia mendengarkan deburan ombak yang terdengar merdu di telinganya.


Air matanya mengalir teringat semua kenangan bersama keluarganya 3 tahun silam. Setiap liburan Papa dan Mama selalu mengajak anak-anaknya ke pantai agar mereka selalu ingat keluarga jika sedang berada di pantai saat kesua orangtuanya sudah tidak ada lagi.


Terngiang senyum manis di wajah kedua orangtuanya saat mereka di pinggir pantai. Teriakan bahagia saat kakinya tersapu air laut yang menepi, genggaman tangan saling menjaga satu sama lain saat ombak kecil datang menghampirinya.


Menyadari Maya yang menangis dnegan mata terpejam, Revan merasa iba dan terharu. Dia segera mengganggam tangan Maya untuk sedikit menenangkannya meski dia tidak tahu apa yang Maya rasakan saat ini.


"Kamu kenapa menangis? Apa kamu tidak suka tempat ini? Kalau begitu ayo kita pergi cari tempat yang lain."Ujar Revan dengan lembut.


"Aku suka tempat ini... sangat suka.... aku rindu tempat ini... hanya saja aku tidak bisa menahan rinduku pada Mama dan Papa." Ujar Maya.


"Ceritakan padaku agar kamu merasa sedikit lega, aku akan menjadi pendengar yang baik unrukmu. Jangan menangis."Ujar Revan mengusap air mata di pipi Maya.


"Dulu saat Mamah dan Papah masih ada, pantai adalah tempat favorit kami untuk berlibur. Setiap ada liburan Mama dan Papa selalu mengajak kami ke pantai, entah hanya sekedar melihat air laut dari kejauhan atau hanya melihat sunset. 3 tahun lalu Mama dan Papa meninggal dalam perjalanan pulang dari acara nikahan anak temannya, mereka kecelakaan dan tidak tertolong. Mereka meninggalkan aku dan adikku yang saat itu dia masih SMP. Aku pernah mengajak adikku ke pantai agar bisa sedikit mengobati kerinduan kami pada Mama dan juga Papa. Tapi adikku menjadi histeris sampai tidak sadarkan diri. Semenjak itu aku tidak berani lagi ke pantai meski aku merindukannya. Aku pikir, aku tidak akan kesini lagi. Tapi hari ini kau membawaku ke tempat ini, tempat yang selama ini aku rindukan. Terimakasih Van." Ujar Maya terisak.


"Aku akan membawamu kemana saja yang kamu mau May. Aku akan membantumu untuk mengobati trauma pada adikmu, agar kalian bisa tersenyum di tempat ini seperti dulu lagi saat kedua orangtua kalian aasih ada. Jangan menangis lagi." Ujar Ivan menarik tubuh Maya ke dalam pelukannya.


Mereka berpelukan cukup lama sampai matahari terbenam hampir seluruhnya. Revan membiarkan tubuh Maya terbenam dalam pelukannya sampai Maya benar-benar merasa lebih baik lagi.


Maya bermain air di pantai bersama Revan, mereka berlarian di sepanjang tepi pantai sampai mereka benar-benar merasa lelah. Revan mengajaknya makan di restaurant pinggir pantai, setelah itu Revan mengantarnya pulang.


_…_…_…


"Gitu ceritanya……" Ujar Maya malu-malu.


"hmmm.... si sweet...."Ujar Kinan


"Lalu bagamana rencana kalian kedepannya?"Tanya Sofi.


"Entahlah.... Aku tidak tahu dengan perasaannya... setidaknya aku dan dia bisa menjadi teman baik...."Jawab Maya.


"Tembak saja dia sebelum di tembak wanita lain."Ujar Lia.


"Aku tidak seberani itu Li. Kalau Devi mungkin saja berani."Ujar Maya.


Mereka tertawa saat mendengar cerita dari Maya bersama Revan. Banyak yang mendoakan agar Maya dan Revan bisa bersatu, tapi jodoh sudah ada yang mengatur, mereka hanya berdoa dan berharap yang terbaik. Tiba -tiba pintu kamar Kinan ada yang mengetik dari luar.


TOKK.……TOKK.……TOKKK

__ADS_1


"Iya sebentar...."Ujar Kinan turun dari kasurnya.


__ADS_2