
"Sekarang terserah kamu, kalau kamu tidak mau ikut Mamah turun dan menjawab lamaran Vin berarti kamu harus siap datang ke acara pernikahannya dengan gadis lain," Ujar Mamah Maya.
"Apa? Kak Vin melamarku?" Tanya Vannya terbelalak.
"Kalau tidak salah tanggap, kurang lebih seperti itu dia bilang," Ungkap Mamah Maya.
"Sekarang keputusan di tanganmu, Van! Ikut Mamah turun atau kamu biarkan pria sebaik Vin pergi begitu saja. Dan kemungkinan besar kamu tidak akan bisa menemukan pria yang sama dengannya," Nasihat Mamah Maya membuat Vannya terdiam sejenak.
"Hmm ... Baiklah aku ikut Mama!" Berdiri dari duduknya dan mengembangkan senyuman manis di sudut bibir.
"Good girl! Ayo kita turun, Nak!" Tangan kirinya menggandeng tangan kanan Vannya.
Kedua makhluk ciptaan Tuhan sebagai seorang Ibu dan anakpun memutuskan untuk turun menemui kedua pria yang sejak hampir satu jam mereka biarkan berdua. Entah sudah sampai mana kedua pria yang mereka tinggalkan berbincang.
Dengan sedikit malu-malu, Vannya mengikuti langkah kaki Mamah Maya. Sesampainya di lantai bawah, ia segera duduk di antara Papah dan Mamahnya berhadapan dengan pria yang dua jam tadi menyatakan niat baiknya untuk meminang dirinya.
"Sayang! Apa jawabanmu?" Tanpa basa-basi Papah Revan langsung meminta jawaban dari Vannya.
"Apakah Papah sama Mamah sudah ikhlas kalau seandainya aku menikah di usia muda?" Vannya berbalik tanya kepada orangtuanya.
"Kalau Vin pria yang akan menjadi suamimu, tentu saja kami ikhlas. Dia pria yang baik, dalam pekerjaan saja dia bertanggungjawab. Papah yakin, dia juga akan bertanggungjawab penuh pada keluarga kecilnya kelak," Jawaban Papah Revan seolah memberikan jalan lebar untuk Vin mendapatkan gadis pujaannya.
"Ayo Nak! Jawab sekarang! Sebelum pria tampan ini pergi karena menunggu jawabanmu terlalu lama Nak!" Celetuk Mamah Maya yang mencairkan suasana karena sejak tadi Vin dan Vannya seperti dua anak manusia yang sedang disidak kedua orangtuanya.
"Hmm ... Kalau itu yang terbaik untukku dan Kak Vin! Aku menerimanya Mah, Pah!" Dengan kedua mata terpejam Vannya menerima pinangan Vin.
Suasana berubah menjadi lebih hangat, terlihat senyum bahagia dari semua yang berada di ruang tamu sore itu. Mamah Maya meminta Vin untuk menunggu makan malam sebelum pulang.
Dua insan yang baru saja terikat hubungan beberapa menit yang lalu, kini tengah berada di taman rumahnya yang berada di bagian belakang rumah.
Meski sudah terikat dalam hubungan, mereka nampaknya masih sama-sama canggung. Tak ada obrolan yang keluar dari kedua mulutnya. Hanya hembusan angin dan kicauan burung yang memecah kesunyian sore itu di belakang rumah.
"Kapan kamu siap aku lamar secara resmi?" Tanpa basa-basi lagi Vin bertanya pada Vannya yang sejak tadi sibuk menggulung ujung bajunya.
"Terserah Kakak saja. Aku tidak bisa menentukan kapannya,"Dengan malu-malu Vannya menjawabnya.
__ADS_1
" Baiklah, besok sore aku akan meminta Mami dan Papi untuk datang melamarmu. Besok siang kamu ada waktu?" Tanya Vin lagi.
" Hmm ... Tergantung dari Perusahaan Kak. Besok aku ada kunjungan ke Wijaya's Group sebelum benar-benar magang disana,"Ujar Vannya.
" Ya sudah, pulang dari sana aku jemput kamu!" Ucapan Vin yang tidak bisa di tolak Vannya.
Di tempat lain...
Sejak pagi, Alina merasa tidak enak badan. Dia memutuskan untuk tidak datang ke klinik pagi ini dan meminta teman dokternya untuk menggantikan posisinya sehari ini.
Seharian dia hanya tiduran di atas tempat tidur, Chandra tidak mengijinkannya turun dari kasur. Bahkan pekerjaan di kantornyapun di pindahkan ke rumah demi bisa menjaga istrinya.
Wajah Alina terlihat sangat pucat, tangannya terus berpegangan satu sama lain. Sedangkan tangan satunya sibuk dengan ponsel memeriksa beberapa file yang dikirim oleh sekretarisnya.
"Sayang, kamu mau makan apa?" Chandra dengan perlahan menanyakan keinginan istrinya.
"Aku mau makan bakso beranak tapi yang pedas, Sayang! Siapa tau pedasnya bisa menghilangkan rasa pusing dikepalaku ini," Dengan mata yang masih terpejam Alina menyampaikan keinginannya untuk menyantap makanan berkuah.
"Baiklah, aku akan menghubungi pelayan untuk mencarikannya untukmu," Melepas genggaman tangan Alina dan ingin turun dari kasur.
"Aku hanya ke bawah sebentar, Sayang! Nanti aku kembali lagi ya," dengan sabar Chandra membelai kepala Alina.
"Tidak usah! Disini saja, aku ingin terus bersamamu seharian ini,"Rengeknya dengan manja.
Tak seperti biasanya, Alina yang terkesan cuek kali ini sangat manja. Mungkin karena sedang tidak enak badan, pikir Chandra. Dengan sabar Chandra segera kembali pada posisinya.
Membiarkan tangan istrinya melingkar di pinggangnya, dengan kepala di benamkan diantara bantal dengan badannya. Itulah posisi nyaman selama seharian ini dan tidak mau di ubah meski hanya sebentar.
¬Carikan Bakso beranak yang pedas! Pastikan kebersihannya!!"
Sebuah pesan singkat Chandra kirimkan pada pelayan dibawah. Dengan cepat pelayan dari bawah memberikan balasan sesuai yang ia harapkan.
¬Baik, Tuan!¬
Tak lama setelah itu, ponselnya berdering dengan nada panjang. Sebuah panggilan masuk dari Mamah ya di seberang sana. Dengan cepat Chandra segera menggeser tombol hijau sebelum terlambat.
__ADS_1
"Hallo Mah," Sapa Chandra pada Mamahnya.
"Hai sayang! Kamu dimana? Kenapa Mamah menelepon Nana beberapa kali tapi tidak diangkat? Dia baik-baik aja kan?"
"Nana sedang tidak enak badan Mah! Seharian dia tiduran, dan menyanderaku di kamar. Ini saja aku tidak bisa kemana-mana kecuali ke toilet,"Celetuk Chandra.
" Ya Ampun, sakit apa menantu Mamah?Kamu apakan dia Nak? Makanya jangan kamu kerjain dia setiap malam, jadi capek mam menantu Mamah,"
" Hehh? ... Aku tidak mengerjainya Mah. Dia sendiri ketagihan, mana mungkin aku tega menyudahinya,"
"Astaga! Dasar lelaki! Ya sudah, sekarang juga Mamah dan Papah akan kesitu."
Tutt tutt!
Panggilan terputus begitu saja, Chandra kembali meletakkan ponselnya di atas nakas samping tubuhnya. Ia kembali membelai istrinya yang masih tertidur sejak tadi.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Seorang pelayan masuk dengan troli kecil berisi beberapa mangkuk disana. Dua mangkuk kuah berisi bakso dengan ukuran besar dan mangkuk lain berisi sambal dan yang lainnya. Terlihat sangat mengunggah seleranya.
"Terimakasih," Ucap Chandra dan menyuruh pelayan untuk pergi meninggalkan dirinya dengan Alina.
"Sayang, bangun. Baksonya sudah datang," Dengan lembut tangannya mengusap pipi Alina.
"Hmm ... Iyakah? Cepat sekali. Makasih Sayang!" Entah kekuatan apa yang merasukinya, kini Alina bahkan terlihat sangat sehat dan bersemangat.
"Astaga! Sepengaruh itukah bakso beranak yang diminta istriku hingga semangatnya seketika bangkit begitu saja? Kalau gitu aku akan memesannya setiap hari supaya istriku tidak sakit lagi,"
.
.
.
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍
Happy Reading 😘😘
__ADS_1