
Vannya dan Chandra segera berhambur keluar dari ruang kerjanya, tak perduli dengan pegawai lainnya yang saat itu memperhatikan keduanya dengan tatapan penuh kebingungan.
Vannya takut untuk kehilangan lagi orang yang berarti dalam hidupnya. Kepergian Papi Randy pun masih membekas luka dalam hatinya. Air matanya seolah belum kering dan masih menyisakkan trauma karena kehilangan sosok panutan.
Di sepanjang perjalanan, Vannya terus berdoa memanjatkan segala doa untuk kebaikan Mami Kinan. Chandra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, cemas dan panik bercampur menjadi satu.
Setelah kepergian Papi, dia bertanggungjawab untuk menjaga Mami. Tapi saat ini Mami sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Sekitar 30 menit mereka sudah tipa di halaman Rumah Sakit, berhambur keluar dari mobil memasuki ruangan IGD mencari sosok Bi Minah yang membawa Mami ke Rumah Sakit.
"Nyonya ...!" Panggil Bi Minah.
"Bi ...!" sahut Vannya.
"Maafkan saya Tuan, Nyonya! Saya tidak bisa menjaga Nyonya Besar," ujarnya sedikit gemetar.
"Bagaimana ini bisa terjadi Bi? Kenapa Mami bisa tau-tau sudah di halaman belakang?" tanya Vannya.
"Saya tidak tau Non, sebelum saya mengepel di lantai 2 saya semoat mengintip ke kamar Nyonya Besar. Disana Nyonya masih duduk di kursi sambil menyulam pakaian kecil,"
"Tidak ada suara langkah kaki yang terdengar, teriakan pun tidak saya dengar Nyonya. Mungkin kalau tidak ada suara telepon, saya masih melanjutkan pekerjaan saya di lantai 2," imbuh Bi Minah dengan rasa pilu.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Chandra.
"Saat ini Dokter sedang melakukan tindakan di dalam, Nyonya kehabisan banyak darah. Dan saya terpaksa menanda tangani surat persetujuan dilakukan tindakan, karena saya takut jika menunggu Tuan dan Nyonya semua akan terlambat," jawabnya.
"Yang Bibi lakukan tidak salah. Makasih ya Bi ... satu-satunya harapan kita hanya doa, semoga Mami baik-baik saja di dalam," ucap Chandra.
••
Di Tempat yang Berbeda ....
Alina sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit di antarkan Stef. Kaget dan syok saat ia mendengar kabar yang kurang mengenakan. Ia dihantui rasa takut yang teramat sangat.
"Stef! Bisakah lebih cepat lagi?" ujar Alina.
"Ini sudah cepat Na! Kalau aku tambah lagi kecepatannya, yang ada kita akan cepat sampai ke Tuhan. Kamu mau itu?"
"Ya Tuhan, Stef ... Aku tidak tau lagi harus bagaimana. Aku takut Mami ... Mami juga akan pergi ninggalin aku. Aku tidak siang untuk kehilangan orang yang aku sayang dalam waktu yang berdekatan,"
"Kita serahkan semuanya pada Tuhan Na! Aku yakin, Nyonya Kinan adalah wanita yang kuat. Dia akan bertahan dan berjuang untuk anak-anaknya, apalagi calon cucu-cucunya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia,"
__ADS_1
"Kamu tidak tau bagaimana rasanya jadi aku Stef! Aku ... aku ...!"
"Kamu jangan kayak gini Na! Ingat kandunganmu, kamu jangan egois! Nyonya Kinan juga tidak akan suka kalau tau kamu seperti ini," Terpaksa Stef membentak Alina. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
"Lebih baik kamu berdoa, bukankan doa akan lebih membantu Nyonya Kinan untuk saat ini,"
••
Setibanya di Rumah Sakit, Alina bertemu dengan Vin yang juga baru datang. Keduanya saling berpelukanz menguatkan satu sama lain. Vin menggandeng tangan Alina, mengajaknya masuk ke dalam ruang IGD.
Dari kejauhan mereka melihat Vannya dna yang lain sedang duduk di deretan kursi panjang di depan ruang tindakan bagian IGD.
"Duduk dulu," ujar Chandra pada Alina.
"Bagaimana?" tanya Alina.
"Tindakan masih berlangsung. Kita doakan yang terbaik untuk Mami,"
Alina memeluk Chandra dengan erat, tubuhnya masih terasa lemas. Tak percaya, saat ini ia berada di Rumah Sakit untuk menunggu Mami, baru kemarin ia disana karena Papi yang sakit.
Vin tidak bisa berkata apa-apa, selain hanya mememeluk Vannya di sampingnya. Tak berapa lama kemudian, lampu di depan pintu ruang tindakan sudah padam. Menandakan tindakan telah selesai dilakukan.
Secara bersamaan Vin dan yang lain menengok ke atas, melihat lampu tindakam yang sudah tidak menyala. Perasaan semakin bercampur aduk, lega dan kepanikan semakin kuat menguasai tubuh mereka.
Cklek!
Pintu ruang tindakan terbuka, Dokter Fina keluar dengan senyum tipis di wajahnya. Alina dengan ragu mulai membuka suara, menanyakan kondisi Mami di dalam.
"Dok, bagaimana kondisi Mami?" tanya Alina.
"Tindakan berjalan dengan lancar, pendarahan sudah berhasil kami hentikan, stok darah sudah cukup. Tapi kondisinya masih tak sadarkan diri," ujarnya.
"Berikan yang terbaik untuk Mami kami Dok," sahut Vin.
"Itu sudah pasti, 20 menit lagi pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat. Saat ini kami masih membersihkan darah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian Rumah Sakit. Itu saja yang saya sampaikan, oh ya ... Apakah Pak Keanu sudah tau hal ini?" tanya Dokter Fina.
"Be-belum ...!" jawabnya secara spontan.
"Sebaiknya segera hubungi beliau, sepertinya untuk sekarang beliau sudah kembali ke ruang kerjanya," ucap Dokter Fina.
__ADS_1
"Baik Dok!"
••
Mami Kinan sudah di pindahkan ke ruang rawat, Stef dan Bi Minah sudah pulang. Tinggal Alina, Vin, Chandra dan Vannya yang saat ini tengah duduk mengelilingi Mami Kinan yang masih tak sadarkan diri.
Cklek!
"Om!"
"Bagaimana kondisinya?"
"Masih belum sadar," jawab Alina.
"Cobaan apa lagi ini," gumam Om Keanu. Hatinya seperti teriris, untuk kedua kalinya ia harus melihat adik sematawayangnya tak sadarkan diri.
Rasanya dunia seperti akan runtuh, buliran bening lolos begitu saja. Ini untuk kesekian kalinya Alina dan yang lain melihat Om Keanu menangis, terakhir adalah saat kepergian Oma Rianty beberapa tahun yang lalu.
Vin memberikan kursinya untuk Om Keanu, ia hanya bsia menepuk pundaknya untuk memberikan kekuatan.
"Kinan, bangun ...! Kamu dengar suaraku kan? Buka matamu," ujar Om Keanu dengan lirih.
Digenggamnya tangan Mami Kinan, berharap bisa menyalurkan kekuatan untuknya agar segera bangun dan membuka kedua matanya.
"Jangan mendahuluiku Kin, kamu harus bertahan. Jangan tinggalkan aku,"
"Kinan ...!" panggilnya lagi.
Tidak ada respon yang diberikan Mami Kinan, kedua matanya terus saja terpejam. Om Keanu membelai wajah adiknya yang masih terlelap dalam ketidaksadaran. Berharap keajaiban datang untuknya.
"Aku dengar ... tapi aku tak berdaya. Aku pasrah jika Tuhan sudah memanggilku sekarang. Aku sudah tenang melihat anak-anakku sudah bahagia, bersama pasangan mereka. Tugasku sudah selesai disini, aku sudah lelah untuk menjalani hidupku tanpa cinta sejatiku," air mata keluar dati sudut matanya.
Tepat jam 11.00 alat monitor berbunyi, terlihat garis lurus berwarna hijau disana. Mami Kinan telah pergi untuk selamanya, meninggalkan anak menantunya yang begitu mencintainya.
Tangis histeris memenuhi ruang rawat berukuran 6x5 meter. Tak ada yang menyangka, jika Mami akam pergi secepat itu. Tepat 40 hari setelah kepergian Papi Randy.
"Kami tidak bisa berkata apa-apa selain 'Kami ikhlas Mih!'. Berbahagialah di surga bersama Papi dan Tuhan, tunggu kami disana,"
"Kami sangat mencintaimu. Tapi Tuhanlah sebaik-baiknya yang mencintaimu,"
__ADS_1