
Jam pulang telah tiba, Kinan dan yang lainnya segera keluar dan berjalan melewati lorong untuk menuju lift. Saat sedang menunggu pintu lift terbuka, tiba-tiba Sofi memanggilnya dari lift sebelah yang di khususkan untuk Randy dan keluarganya.
"Kinan...." Panggil Sofi.
"Hai..." Ujar Kinan saat melihat Sofi.
"Masuklah kesana, pangeranmu telah menunggu." Ujar Sofi mendekatinya.
Kinan masih diam saja karena bingung dan dia sedang bersama teman-temannya yang lain. Karena Kinan masih saja diam di tempat, akhirnya Randy keluar dari lift dan mendekati Kinan untuk menggandeng tangan Kinan dan mengajaknya masuk ke dalam lift.
Semua mata tertuju pada Kinan dan juga Randy. Semua tersenyum melihatnya, kecuali Devi yang wajahnya datar tidak bisa di tebak apa maksud dari mimik wajahnya itu. Kinan masih tetap diam dan hanya mengikuti langkah kakinya. Setelah masuk di dalam lift Randy melingkarkan tangannya di pinggang Kinan membuat Maya dan yang lainnya berseru kecuali Devi.
Astaga.... sweet sekali... mereka memang pasangan yang serasi. Aku seperti sedang melihat drakor saja. Ayo Kin balas .... peluk Pak Randy...Ayo....-Batin Lila.
"Kau tak mau memelukku?" Bisik Randy pada Kinan.
"Hmmm. baiklah... " Kinan memeluk Randy dengan wajahnya yang bersemu merah.
"Waaaahhhh......" Ujar teman-teman Kinan yang lain sebelum pintu lift tertutup.
Aku memang sudah move on dari Pak Randy, tapi tidak seharusnya Kinan berlaku seenaknya. Dia kan masih baru, meskipun sekarang menjadi kepala divisi..... Aku kira dia orang baik, tapi sama saja penjilat, aku akan membuatnya merasa tidak nyaman Kinan.- Batin Devi dengan tatapan ingin membunuh.
"Aku ikut denganmu ya Li." Ujar Sofi yang sudah bergabung dengan mereka.
"Baiklah." Ujar Lia.
"Mereka seperti Ratu dan Pangeran di negeri dongeng...." Ujar Lila yang masih teringat dengan Randy dan Lila.
"Kau ikutan saja dengan Haris seperti itu La." Ujar Maya menggoda.
"Besok ya May." Jawab Lila.
Pintu lift akhirnya terbuka, dan mereka masuk ke dalam lift bersamaan tanpa ada yang tertinggal. Maya berdiri di samping Revan, tanpa sengaja ia terdorong oleh Lila yang tidak bisa diam membuat Maya hampir terjatuh. Untung saja ada Revan di belakangnya jadi Maya tida jatuh dan bersandar di tubuh Revan.
"Ma...maaf Re..." Ujar Maya malu-malu. "La jangan banyak tingkah kita sedang di dalam lift, hampir saja aku terjatuh karenamu." Ujar Maya.
"Maaf May, tidak sengaja, maaf juga ya Re." Ucap Lila dengan manisnya.
Apakah Devi marah padaku? kenapa wajahnya tampak murung begitu? Astaga... apa yang harus aku lakukan... aku kan tidak sengaja tadi...-Batin Maya.
Tidak Kinan tidak Maya... sama saja membuatku marah. Apa mereka sekongkol untuk merebut pria yang aku sukai? Pantas saja Maya dan Kinan sangat dekat ternyata ada udang di balik batu....Aku akan membuat perhitungan padamu May. -Batin Devi kesal.
Maya kenapa? Kenapa dia seperti ketakutan? Apakah ada yang mengancamnya? - Batin Revan yang melihat wajah Maya tampak panik.
Setelah pintu lift terbuka Devi keluar lebih dulu dan disusul oleh Lila yang segera menggandeng tangannya agar menunggunya. Lia dan Sofi segera keluar menarik tangan Maya menuju parkiran mobil. Sedangkan Revan segera menuju parkiran motor dengan langkah cepat.
"May, kamu kenapa?" Tanya Sofi.
__ADS_1
"Apa kalian tidak melihat wajah Devi tadi? Dia tampak marah setelah melihat aku yang hampir jatuh dan bersandar di tubuh Revan." Ujar Maya.
"Tenang saja, dia hanya cemburu." Ujar Sofi.
"Hmm tapi aku takut mengecewakannya." Ujar Maya.
"Mau sampai kapan kau akan mempedulikan perasaan orang lain daripada perasaanmu sendiri May?" Ujar Lia dengan bijak.
"Lia benar, kau juga berhak bahagia May. Jangan terus-terusan mengalah dan kau mengorbankan dirimu sendiri." Ujar Sofi.
"Aku hanya berteman dengan Revan, tidak lebih." Ujar Maya berbohong.
"Hmmm. Ya sudah kalau memang benar kau hanya sebatas teman dengan Revan, kau tidak perlu takut Devi akan marah padamu May.... " Ujar Lia.
"Tapi kalau kau menyukainya... perjuangkan May..." Ujar Sofi.
"Perjuangkan... Kalian kira ini masih jaman penjajahan." Ujar Maya yang diam-diam tersenyum sendiri tanpa arti.
Di mobil Randy
"Sayang... acaranya dimana?" Tanya Kinan.
"Di gedung hotel milik keluargaku sayang... Keluarga besarku dari keluarga Mamah juga datang. Nanti aku kenalkan ya." Ujar Randy.
"Hmm... tapi aku takut mereka tidak akan menyukaiku." Ucap Kinan.
"Tenanglah, kalau mereka masih mau bekerja pasti tidak akan membuat masalah." Ujar Randy.
"Kamu akan tahu sendiri nanti." Ujar Randy.
Sesampainya di Hotel, Randy segera turun dari mobil dan menggandeng Kinan dengan mesra. Pelayan hotel membawakan hadiah yang Randy beli tadi siang. Saat memasuki gedung, semua orang tertuju pada Kinan dan Randy. Kinan menggenggam tangan Randy semakin erat karena takut.
"Randy..." Teriak seorang Pria yang seumuran dengan Papahnya.
"Halo Om.. kapan datang?" Tanya Randy menyalami.
"3 jam yang lalu, kau baru pulang kerja?" Tanya pria tersebut.
"Iya Om, dimana Devon dan Rista?" Ujar Randy.
"Mereka di taman. Apakah ini gadis yang akan menjadi pendampingmu?" Tanyanya.
"Iya Om, perkenalkan namanya Kinan, Sayang kenalkan dia Om Pram, adik Mamah." Ujar Randy memperkenalkan keduanya.
"Halo Om, saya Kinan." Ujar Kinan dengan sopan.
"Saya Om Pram, sejak kecil Randy sangat dekat dengan saya. Semenjak kerja dia sudah jarang main ke rumah." Ujar Om Pram.
__ADS_1
"Iya besok aku main ke tempat Om jika waktunya tepat." Ujar Randy.
"Nak Kinan kamu juga ikut ya, agar kamu mengenal keluarga Randy yang lain." Ujar Om Pram lagi.
"Iya Om, saya ikut Mas Randy saja." Ujar Kinan malu-malu.
"Ya sudah Om, aku mau antar Kinan ke Mamah dulu." Ujar Randy.
Randy dan Kinan segera naik ke lantai 2 dimana keluarganya yang lain sudah berkumpul. Melihat kedatangan Randy dan Kinan, Mamah segera berdiri dan menghampiri keduanya. Mamah sudah sangat menyayangi Kinan, karena berkatnya Randy sekarang sudah semakin dewasa dan lebih pengertian lagi.
"Selamat sore Tante." Ujar Kinan.
"Sore sayang, terimakasih ya kamu sudah datang.Panggil Mamah saja, kan sebentar lagi kalian akan menikah dan biar kamu tidak canggung lagi panggil saya Mamah. " Ujar Mamah memeluk Kinan.
"Iya Mah... Selamat ulang tahun untuk pernikahan Mamah dan juga Papah." Ujar Kinan.
"Terimakasih sayang...kamu manis sekali...." Ujar Mamah dengan gemas.
"Mamah... jangan cubit calon isteriku." Ujar Randy.
"Sedikit sayang, Mamah gemas..." Ujar Mamah.
"Ini hadiah dari Randy dan Kinan. Semoga Mamah suka ya." Ujar Randy menyerahkan satu paper bag berisi 1 set perhiasan dan juga jam tangan couple.
"Wah... seharusnya kalian tidak perlu repot-repot membeli ini untuk Mamah. Kehadiran kalian saja sudah cukup membuat Mamah dan Papah senang." Ujar Mamah.
Kenapa Mas Randy bilang itu dari aku juga? Bukankah dia semua yang beli...Lalu kemana satunya lagi?Bukankah dia membeli 2 set perhiasan? Oh.. atau mungkin itu untuk Rayna.... -Batin Kinan.
"Kak Kinan...." Teriak Rayna berlari menghampirinya.
"Hai Ray..." Ucap Kinan menerima pelukan dari Rayna.
"Hai anak kecil, kakakmu itu aku... kenapa kau langsung memeluk calon isteriku bukan aku?" Tanya Randy.
"Kak Kinan kan kakak iparku, lagian kalau peluk kakak bisa-bisa kepalaku dijitak lagi." Ujar Rayna.
"Kalian ini dimanapun selalu tidak akur..." Ujar Mamah.
"Mah, Kak.. Rayna ajak Kak Kin kesana dulu ya." Mengedipkan mata pada Randy.
"Jangan kamu ajari yang tidak-tidak Ray.... Dia masih polos." Teriak Randy.
"Kakak juga sudah mengajari Kak Kin yang aneh-aneh kan. Wleee" Ujar Rayna.
"Mah, jagain Kinan ya. Jangan sampai dia hanya berdua dengan tante Dona." Ujar Randy.
"Iya sayang...kamu tenang saja." Ujar Mamah.
__ADS_1
"Ya sudah, Randy mau turun dulu menemui beberapa tamu." Ujar Randy.
"Baiklah." Ucap Mamah.