
"Biar saya yang gendong Tuan Muda Kecil, Tuan ...!" ujarnya dengan sopan.
"Hmm, baiklah ...! Kamu tidak akan ada masalah dengan beratnya Madav, gendonglah ...!" ucapnya menyerahkan Madav pada Kemal.
"Astaga ...! Gitu aja berat Mas. Tadi katanya kamu yang mau gendong," celetuk Tyas.
"Ya kan udah ada Kemal, harus kita manfaatkan biar tidak makan gaji buta. Iya kan Kem?" ujarnya.
"Benar Tuan," jawabnya.
"Tuhkan kamu dengar sendiri," imbuhnya.
"Haiiis ...! Tidak suami, tidak asisten sama saja ...!" gumam Tyas.
_______________
Kemal segera mengantar keduanya ke kamar yang sudah ia booking untuk mereka. Setelah menidurkan Madav di atas kasur, Kemal segera berpamitan kembali ke kamar sebelum menjalankan tugasnya nanti malam.
Sebelum sampai di kamar, tak sengaja sepasang matanya melihat sosok gadis sedang duduk di taman seorang diri. Karena penasaran, Kemal mendekatinya untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Kau kenapa?" tanyanya tanpa berbasa-basi.
"Astaga, kau mengagetkanku. Aku tidak apa-apa. Kenapa kau disini?"
"Harusnya aku ang tanya itu, kenapa kamu disini? Istirahatlah sebelum kita menjalankan tugas nanti malam. Tuan dan Nyonya sudah kembali, saat mereka sedang beristirahat di kamar," ujarnya.
"Me-mereka sudah kembali? Tapi kau tidak mengabariku? Astaga ...! Bagaimana bisa," ujarnya terperanjat segera turun dari atas ayunan.
Sett ...!
Dengan sigap Kemal segera menangkap tubuh kecil gadis itu yang hampir terjerembah ke tanah karena kecerobohannya. Untuk beberapa saat mereka saling diam, Kemal hanya diam tak berekspresi.
"Lepaskan aku," ujarnya.
"Kau yakin minta di lepas? Mana bisa? Aku bukan pria yang seperti itu, jaga keseimbangan tubuhmu. Badanmu kecil, lebih berhati-hati. Kena angin seidkit saja bisa jatuh nanti," jawabnya yang lagi-lagi dengan wajah datar.
"Aiiihhh ...! Aku tidak kecil," sahutnya mendengus kesal.
"Lalu apa? Kurus?"
"Tidak juga,"
"Heh ...! Segera kembali ke kamar, sebelum Om-om mendekatimu dan mengajakmu pergi," celetuk Kemal.
__ADS_1
Buggg ...!
"Kau mencolekku?" ujarnya seraya mengehentikan langkahnya.
"Astaga ...! Sekeras itu di bilang mencolek? Dasar manusia besi," celetuknya segera bergegas pergi meninggalkan taman area penginapan.
"Dasar gadis aneh. Bagaimana bisa Tuan Muda Kecil menyukainya? Bahkan Nyonya Tyas pun sekarang memiliki tabiat yang sama," gumamnya menyeringai memandangi gadis itu yang sudah semakin menajuh darinya.
Cuaca di ibukota sangat panas, membuatnya ingin segera mandi dan mungkin akan berlama-lama berdiri di bawah pancuran shower. Untung saja mereka hanya beberapa hari di Ibukota.
10 sebelumnya ...
Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 15.00 WIB, tapi terik matahari masih menyengat. Membuatnya enggan untuk berpindah tempat. Sejak beberapa menit yang lalu, ia masih terduduk di atas ayunan besi di bawah pohon area taman.
Semilir angin berhembus kecil meniup rambutnya hinga menutupi sebgaian wajahnya. Dulu, Nenek pernah bilang. Jika kedua orangtuanya tinggal di Ibukota, meninggalkan dirinya dan membawa saudari kembarnya ikut bersama mereka.
Ya, selama ini Amanda tidak tinggal dengan orangtua kandungnya. Melainkan orangtua asuh karena Neneknya meninggal saat usianya masih menginjak 10 tahun.
Hanya kata-kata itu yang ia ingat, tidak ada selembar foto yang Nenek punya. Lalu bagaimana dia akan mencari orangtua kandungnya? Bahkan wajahnya saja dia tidak tau.
Ingin rasanya, Amanda mencari keberadaan mereka. Tapi waktu yang tak berpihak. Ia ke Ibukota bukan untuk berlibur, melainkan ikut dengan atasannya menjaga putra mereka yang begitu dekat dengannya.
"Ayah ... Ibu ...! Akankah kita bertemu? Meski hanya sebentar," gumam Amanda sebelum rekan kerjanya datang dan membuyarkan lamunannya.
______
"Mas, aku mandi dulu ya ...! Kamu jagain Madav," ujarnya seraya melenggang pergi menuju kamar mandi.
"Baru jam berapa," gumamnya sambil memainkan ponselnya di atas kasur.
"Emang kalau mandi harus lihat jam? Lagian kita dari luar, sebaiknya kita mandi ...!" sahutnya.
"Baiklah, apa aku harus ikut mandi denganmu?" celetuknya.
"Hais ...! Tidak mau ...!" teriaknya segera berlari masuk ke kamar mandi dna menguncinya dari dalam.
"Astaga ...! Sudah 5 tahun menikah, masih saja malu-malu ...!" gumamnya.
Tring ...!
• Abang, aku dengar kalian di Jakarta? Dimana? Bisa sharelok? Aku ingin bertemu,
Sebuah pesan singkat dari saudari kembarnya, sudah lama mereka tidak bertemu sejak Arsen memutuskan untuk menata kembali hidupnya di seberang pulau dan memutus komunikasi dengan keluarganya.
__ADS_1
Arsen tak langsung membalasnya, dia hanya memandangi barisan huruf yang ia kenal. Entah kenapa, meski sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak melihat barisan huruf itu. Sekalinya melihat ia langsung bisa mengenali siapa pemilik nomor itu.
Ada sebuah kerinduan yang tak bisa ia ungkapkan, tapi disisi lain ia harus menjaga keluarga kecilnya dari hal yang selama ini ia hindari. Meski saat ini mereka tengah berada di Ibukota, tempat dimana banyak sekali kenangan di masa hidupnya.
Rasanya belum siap untuknya menemui keluarga, bukan karena takut. Melainkan belum ada persiapan untuknya, banyak sekali hal yang harus ia siapkan, mulai dari bagaimana ia akan melindungi isteri serta anak, dan juga berhadapan dengan sosok yang selama ini selalu menghantui di setiap saat.
"Mas, kamu kenapa?"
Entah sudah berapa lama, Arsen terhanyut dalam lamunan. Hingga dia tak menyadari isterinya yang sudah berada di dekatnya. Sejenak Arsen masih terdiam, mencari jawaban yang bisa ia berikan pada isterinya tanpa membuatnya merasa sedih.
"Mas, ada apa? Coba lihat ...!" merebut ponsel dari genggaman tangannya.
"Eh ...!"
"Kenapa tidak di balas? Selagi kita masih disini Mas, sampai kapan kita akan hidup dalam ketakutan dan perasaan bersalah?"
"Percayalah, aku kuat. Aku akan mendengar dan menerima semua yang Daddy katakan pada kita nantinya. Jangan pikirkan aku, tapi anak kita ...!" imbuhnya seraya memeluk Arsen dari arah belakang.
"Kamu yakin?"
"Ya, kenapa tidak. Aku akan memasang badan, demi putraku. Sudah waktunya Madav bertemu Opah Omahnya. Sebelum dia dewasa dan tau apa yang terjadi di antara kita selama ini," jawabnya berusaha meyakinkan suaminya. Meski dari lubuk hatinya, masih ada rasa takut yang selama ini menghantuinya.
"Baiklah kalau ini maumu ...! Aku hanya minta, jangan pernah merendah di hadapan mereka nantinya. Apapun yang terjadi nantinya, kita akan terus bersama," ucapnya.
"Hmm, aku percaya kamu Mas. Sekarang mandilah, sebelum Madav bangun ...!"
"Hmmmh ...!" membalikkan badannya dan memeluk tubuh isterinya dengan erat.
Dalam hitungan detik, Arsen merubah posisi mereka. Kini Tyas yang terdesak antara tembok dan tubuh suaminya yang kekar. Tyas tak berani bersuara, hanya meneguk cairan saliva yang hampir keluar melewati celah bibirnya.
"Mas, mandi ...!" ujarnya dengan gugup tak berani menatap kedua mata suaminya.
"Kenapa kamu menunduk? Apa tatapanku menyeramkan?" bisiknya seraya mendongakkan wajah isterinya dengan jari tangannya.
"Ti-tidak ...! Mandi gih ...! Sebentar lagi Madav akan bangun," sambungnya.
"Hmm," tanpa aba-aba Arsen segera ******* bibir tipi Tyas dengan lembut.
Mereka saling berpagutan untuk beberapa saat dalam posisi berdiri di sudut kamarnya yang luas. Mungkin jika ada orang di taman, mereka akan melihat sepasnag suami isteri yang sedang bercumbu di sore hari.
Tapi sayangnya, di taman tidak ada orang. Tyas hanya mengikutinya saja tanpa melepas nafsunya yang sebenarnya sudah tak bisa di bendung lagi. Tapi dia berusaha mengontrol karena masih ingat ada Madav yang bisa melihatnya dengan mata terbuka.
"Ayah ... Ibu ... Kenapa kalian di sana?" panggil Madav dengan suara parau.
__ADS_1