
Sepanjang perjalanan Vannya saling curi pandang memandangi wajah suaminya yang sudah tidak di lihatnya selama satu minggu terakhir. Rasanya lega dan bahagia bercampur jadi satu.
"Terimakasih Tuhan! Suamiku sudah kembali dengan sehat tanpa kurang satu apapun. Semoga kedepannya kami tidak akan lagi berjauhan seperti kemarin, cukup sekali aku harus tersiksa rindu," batinnya terus menatap wajah suaminya yang sedang fokus menyetir.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu sedang terpana melihat ketampananku?" celetuknya tanpa menoleh pada isterinya.
"Heh? Tidak, aku cuma lagi liat Kakak saja. Siapa tau ada bekas lipstik di wajah atau dimana gitu," ujarnya mencari alasan.
"Kalau adapun pasti sudah aku hapus sebelum kamu lihat,"
"Benarkah? Jadi memang ada bekas lisptik di wajah Kakak? Siapa yang sudah mencium Kakak?" tanyanya dengan sedikit kesal.
"Hahahah, lihat. Isteriku sednag cemburu," ujarnya terus tertawa.
"Kak! Aku serius. Dengan siapa Kakak berciuman disana? Turunkan aku saja, aku tidak mau pulang ... ." ujarnya semakin kesal.
Vin segera menepikan mobilnya di bahu jalan untuk menenangkan isterinya yang sedang cemburu tidak jelas. Vin hanya menggoda isterinya saja, melihat reaksi isterinya apakah dia cemburu atau cuek saja.
"Sayang," ujarnya dengan perlahan.
"Jangan memanggilku, aku mau turun saja. Kakak pergi aja sama cewek itu," kedua matanya sudah sembab menahan kesal.
"Hey dengarkan aku. Aku cuma becanda, aku cuma mau lihat apakah isteriku cemburu,"
"Terus sekarang Kakak senang lihat aku cemburu?"
"Dengarkan aku, mana mungkin aku berpaling ke yang lain. Sedangkan aku sudah memiliki bidadari secantik ini, bukan cuma parasmu yang cantik tapi hatimu. Itu yang membuatku merasa yakin dan memutuskan untuk menikah denganmu,"
"Jangan menangis lagi, maafkan aku Sayang!" imbuhnya seraya memeluk isterinya dengan erat.
"Kakak yakin? Kakak tidak bohong kan?"
"Lihat mataku, apa kamu lihat ada kebohongan disana? Kamu tau kan? Di hatiku cuma ada kamu, sejak dulu saat pertama kali melihatmu berpakaian seragam berwarna biru,"
"Kak, jangan membuatku malu. Maaf ya udah kesal sa Kakak,"
"Iya sayang! Aku juga minta maaf udah bikin kamu kesal, I love you ... ."
Mereka berpagutan cukup lama, gerimis mulai turun kembali membasahi aspal yang hampir saja kering setelah di guyur hujan tadi siang. Untung saja jalanan sepi, dan kaca mobil tak tembus pandang dari arah luar.
__ADS_1
"Kak, kita lanjut pulang yuk!" ujarnya dengan wajah bersemu merah.
"Hmm, iya Sayang!" ucapnya.
Sementara itu,
Selesai mandi dan berganti dengan pakaian rumah, Tuan Chandra segera turun dari kamar mencari isterinya yang saat ini tengah berada di taman belakang menikmati suasana sore yang sejuk setelah hujan mengguyur Ibukota.
"Sayang, kamu sudah pulang?" ujar Alina ketika menyadari kedatangan suaminya.
"Hmm, Apa yang membuatmu betah berlama-lama disini? Bahkan hampir setiap sore kamu disini," ujarnya seraya menjatuhkan badannya di samping isterinya.
"Entahlah, tapi semenjak ada dia aku jadi betah disini. Mungkin setelah dia lahir nanti akan menjadi anak yang cinta dengan alam," mengelus perutnya yang sedikit menyembul.
"Benarkah? Ini kemauan anak Daddy? Kalau begitu aku akan menyiapkan sesuatu untuknya jika sudah lahir besok," ucapnya ikut mengelus perus isterinya dengan lembut.
"Hmm, makasih Daddy ... ." ucap Alina menirukan suara anak kecil.
"Apakah suara anakku akan seperti itu nantinya?" celetuknya.
"Mana ku tau, kan anak kita belum bisa bersuara Sayang, aku hanya menirukan suara anak kecil pada umumnya,"
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu, setidaknya Vannya tidak kesepian lagi. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu juga harus keluar kota Sayang,"
"Pasti aku akan mengajakmu, Sayang! Aku tidak akan bisa tidur kalau tidak denganmu kan," ujarnya mengecup leher isterinya dengan lembut.
"Hmm, Sayang. Sudah, nanti ada yang lihat ... ." ujar Alina menahan kepala Chandra agar tidak melanjutkan aksinya.
"Biarkan saja, kan ini tempat kita Sayang. Lagian mereka akan segera mundur kalau lihat ada kita disini," ujarnya tak mau kalah.
"Ah kamu ini, selalu saja begitu. Udah yuk, aku dah bosan disini," ujarnya seraya bangun dari duduknya dengan susah payah.
"Mau kemana?"
"Ke rumah lah, emang mau kemana lagi?" ujarnya.
"Okey, Ayo Tuan Putri," ucapnya dengan manis.
"Hillih, dasar buaya!" celetuknya.
__ADS_1
"Buaya tampan kan?"
"Iya buya tampan, karena kamu cowok. Ayo cepat bangun, atau aku tinggal?"
"Aduh! isteri buaya tampan tidak sabar sekali. Ayo sayang," ucapnya dengan sabar.
Mereka jalan beriringan, Alina memeluk lengan suaminya yang kokoh. Kicauan burung saling bersahutan membuat suasana sore itu semakin terasa lebih menyatu.
"Sayang, aku mau bakso itu ... ." celetuknya menghentikan langkahnya.
"Mana?"
"Itu, ada suaranya," menunjuk ke arah halaman depan.
"Iyakah? Ya sudah nanti aku minta Mbok Jum untuk beli ya,"
"Maunya Mas yang beli," rengeknya seraya mengwlus perutnya.
"Apakah ini Chandra Junior yang memintanya?" tanyanya menatap wajah isterinya lekat-lekat.
"Hmm, aku tidak bohong ... ." jawabnya menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau si junior yang memintanya, kamu tunggu saja di meja makan. Aku akan membelikannya untukmu, Cupp!!" mengecup kening Alina dengan lembut.
"Makasih Sayang," ucapnya penuh haru.
"Sama-sama Sayang! Aku menyayangimu," ucapnya begitu manis hingga membuat wajah Alina bersemu merah di buatnya.
"Aku juga menyayangimu. Sangat menyayngimu," jawabnya lirih melihat punggung suaminya yang sudah berlalu ke jalanan di depan rumah melewati samping rumahnya.
...ALINA POV...
"Kamu lihat kan Nak? Daddy sangat menyayangimu, bahkan dia mau melakukan apa saja untukmu. Semoga kelak kamu tumbuh menjadi anak yang berbakti pada kwdua orangtuamu ya. Mommy sama Daddy sangat menyayangimu," ujarku sembari terus mengelus perutku yang semakin terlihat jelas sedikit membesar.
Untunglah 2 bulan jalan 3 bulan aku tidak mengalami mual yang berlebihan. Bahkan jarang sekali mual, jadi aku bisa makan dengan banyak dan tidak menghindari apapun. Semua aku makan tanpa terkecuali.
Selama hamil, aku masih bisa melakukan aktivitasku bekerja di klinik kecil milikku. Baby yang ada di perutku seolah mengerti jika aku sedang bekerja dan harus fokus dalam menangani pasien yang datang dengan berbagai macam keluhan dan kondisi yang berbeda-beda.
Apalagi semenjak aku hamil, suamiku yang kata orang terkenal dingin dan angkuh berubah drastis. Bahkan dia lebih cerewet dari seorang wanita, terutama Mami dan Mamah Irene yang setiap hari menghubungiku untuk menanyakan kabar calon cucunya yang masih berada di dalam perutku.
__ADS_1
Bahkan Chandra begitu sabar saat menghadapi mood ku yang seringkali berubah dan membuat semua orang kewalahan. Aku sendiri kadang bingung dengan diriku sendiri, bahkan seperti bukan diriku yang sangat manja seperti anak kecil.