
Gerbang yang menjulang tinggi ke atas terbuka secara perlahan, sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah yang luas dengan pepohonan yang menjulang tinggi ke atas dan berbagai tanaman hias disana.
Terlihat sebuah gazebo yang luas dengan beberapa kain putih yang berkibar disana. Air mancur yang indahpun tak luput dari pandangannya saat baru memasuki halaman rumah.
Terlihat beberapa pelayan memakai baju hitam putih sudah berdiri di depan pintu. Alina turun dari mobil, dan lagi-lagi pandangannya menyapu sekeliling rumah yang menjulang tinggi tak ingin kalah dari pohon tingginya.
Sebuah tangan melingkar di pinggangnya, hembusan nafas hangat membuat tengkuk lehernya terasa merinding.
"Biar bagaimanapun kita sudah menjadi sepasang suami isteri. Aku harys memberikan nafkah lahir batin padamu. Begitupun denganmu, jadilah isteri yang menuruti perkataan suami." Ujar Chandra setengah berbisik pada Alina.
"Tidak masalah, selagi Bapak tidak melanggar perjanjian yang sudah kita sepakati bersama. Aku akan belajar menjadi isteri yang baik untuk Bapak." Ujar Alina.
"Kau memanggilku Bapak?" Tanya Chandra pada Alina.
"Apalagi. . .Kan kita baru bertemu pagi tadi, lalu belum sempat kenalan. Bahkan Kita saling adu mulut karena ulah Bapak. Dan takdir berkata lain, mengikat kita dalam sebuah tali pernikahan." Ujar Alina.
Tanpa aba-aba Chandra mengangkat tubuh Alina dan menggendong ya. Semua pelayan membuka matanga lebar-lebar namun tak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Astaga. . Apa yang Bapak lakukan?? Turunkan aku. . " Ucap Alina.
"Aku tidak ingin ambil resiko." Ujar Chandra.
"A. .apa maksud Bapak?" Tanya Alina tak mengerti.
"Mamah dan Tante yang mengidolakanmu sudah mewanti-wanti kalau aku tidak boleh membuatmu pingsan untuk kedua kalinya." Ujarnya yang terus berjalan menaiki tangga kecil menuju teras rumah.
"Tapi kan tadi karena aku belum makan. Dan sekarang aku sudah tidak apa-apa." Ujar Alina mencari cara supaya di lepaskan.
"Tapi kau harus menyimpan tenagamu untuk nanti malam." Ujar Chandra.
"Astaga. . . apakah ucapannya tidak bisa di perhalus lagi? Inikah suamiku? Pria asing yang pagi ini datang sebagai pasien dan dalam hitungan beberapa jam telah menjadi suamiku.
__ADS_1
Tidak ada penyesalan dari dalam diriku. Mungkin ini sudah jalanku untuk menjalani hidupku sekarang. Aku berharap Bapak ini jujur dalam perkataannya.
Dan jujur saja, yang membuatku mengiyakan permintaannya adalah keluarganya yang sudah langsung menerimaku bukan karena gelarku atau ketenaranku.
Semoga kedepannya keluarga kecilku tidak ada yang mengusiknya." Batin Alina yang sejak tadi berada dalam gendongan Chandra yang saat ini sudah melewati 64 anak tangga untuk menuju lantai 3.
"Kamu mengantuk? Tidurlah." Ucap Chandra.
" Ah tidak. Aku ingin mandi. Badanku terasa begitu lengket setelah seharian di Rumah Sakit." Ujar Alina.
"Hmm. . mandi lah. Apa perlu aku temani?" Tanya Chandra lagi.
"Ti. . tidak. . .aku bisa sendiri. Turunkan aku Pak." Ujar Alina.
Chandra segera menurunkan Alina dsri gendongannya. Dan Alina segera pergi menjauhi Chandra menuju kamar mandi untuk berendam menghilangkan rasa lelah setelah seharian bekerja dan juga berkumpul dengan keluarganya dan juga keluarga suaminya.
Sedangkan Chandra berlalu keluar dari kamar, menaiki anak tangga menuju lantai ke 4. Tidak ada orang lain yang berani menginjakkan kakinya di lantai 4 karena Chandra sudah memberikan warning supaya tidak ada yang ke lantai 4 kecuali pelayan yang di tunjuk untuk membersihkannya.
Ceklek. . .
Chandra segera menyalakan lampu karena suasana di dalamnya begitu gelap di tambah warna cat temboknya yang berwarna merah hati. Di temboknya terpajang lukisan seorang wanita cantik sedang tertawa lepas.
"Entah sampai kapan aku akan bisa melupakanmu El. Kamu begitu sempurna untukku, hingga Tuhan tak mentakdirkan kita untuk bisa hidup bersama.
Aku sudah menikah dengan wanita itu, wanita yang baru pertama kali aku temui pagi ini di Rumah Sakit.
Bukan aku sudah melupakanmu, tapi permintaan Opah dan keluargaku yang tak bisa aku tolak.
Aku berharap semoga kamu tidak marah padaku saat ini."
~Di kediaman Randy~
__ADS_1
"Mas. . anak kira sedang apa ya sekarang? Baru 6 bulan kira bersama, tapi sekarang harus terpisah lagi karena dia telah menikah. Aku tidak menyangka, pernikahan ini datang begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menina bobokan Nana, tapi sekarang dia sudah menjadi istri orang." Ujar Kinan menyandarkan kepalanya di dada Randy.
"Sabar sayang. . cepat atau lambat kita pasti akan merasakan ini. Anak kita sudah dewasa, dan memang sudah waktunya dia untuk menikah. Aku pun tidak percaya, putri kita menikah secepat itu. Tapi paling tidak, sekarang sudah ada suaminya yang bertanggung jawab atas dirinya." Ujar Randy.
"Kamu benar Mas, padahal pagi tadi Nana pamitan mau kerja. Tapi tiba-tiba ada berita pernikahannya yang mendadak. Takdir Tuhan begitu susah di tebak, aku hanya berharap semoga Chandra bisa menjaga putri kita dan menyayanginya seperti kita menyayanginya Mas." Ucap Kinan.
"Hmm. . Dan aku tidak percaya, aku sudah menjadi wali untuk pernikahan anak kita. Rasanya seperti mimpi saat semua mengangguk dan bertepuk tangan saat putri kita telah sah menjadi isteri orang." Ucap Randy.
Diam-diam Vin mendengar semua perbincangan kedua orangtuanya yang juga kehilangan sosok Alina. Vin berlalu menuju kamar Alina, biasanya setiap dia masuk kemar kamar Alina selalu di sambut dengan senyuman manis kakaknya.
Tapi sekarang, dia hanya melihat seisi ruangan tak berpenghuni. Vin membuka pintu menuju balkon. Dia duduk di ayunan yang biasanya menjadi tempat favorit Alina menghabiskan malam sebelum rasa kantuk datang.
"Kak. . andai Kakak tau, aku sejujurnya belum ikhlas Kakak menikah. Aku masih ingin bisa bersama Kakak, bercanda, tertawa. .
Kakak tau? Rumah ini terasa begitu sepi, maaf aku tidak hadir di acara pernikahan Kakak. Aku tidak sanggup melihat Kakak jatuh ke pelukan pria lain.
Apalagi saat aku tau, Kakak baru bertemu dengannya pagi ini.
Aku hanya tidak mau pria itu menyakiti Kakak, meciptakan luka di hati Kakak.
Aku rasanya seperti kehilangan sebelah sayapku sekarang. Tidak bisa kemana-kemana. . "
Matanya terpejam, tapi pikirannya berkelana kemana saja mencari sasaran untuk bisa mengobati rasa kehilangannya.
"Padahal Kakak pergi hanya ke rumah Kakak yang baru bersama pria itu. Tapi kenapa rasanya berat sekali, seperti aku di tinggal jauh lagi sama Kakak. Sekarang Kakak sedang apa disana? Apakah Kakak baik-baik saja?" Ujar Vin yang sat ini sudah berdiri bersandar pada pagar balkon.
<<<<<<<<
Maaf typo yang masih suka nyempil heheh.
Jangan lupa Like dan Komennya untuk memperbaiki kekurangan dari coretanku ini.
__ADS_1
♡KEKASIH KONTRAK TILL JANNAH EPS. 160♡