
"Proses hukum pasti ada Pak, tapi saya kurang tau lebih jelasnya. Karena bukan wewenang saya," jawabnya dengan ramah.
"Ah, ya. Baiklah kalau begitu saya permisi Pak! Ini ada sedikit bantuan dari saya. Semoga bisa lebih bermanfaat," ujarnya menyodorkan amplop coklat pada petugas di hadapannya.
"Terimakasih banyak Pak Chandra, ini samgat mmbantu untuk kami disini. Semoga rezekinya lancar dan di berikan umur yang barokah," ucapnya dengan tulus.
"Aamiin. Saya permisi dulu ya Pak,"
Chandra segera bergegas pergi meninggalkan area bangunan yang baru saja dia masuki. Sesampainya di mobil, Chandra masih terdiam disana mengamati area sekitar.
"Rencana Tuhan sulit untuk di tebak. Mungkin ini adalah tempat yang baik untuk Er, dan kamu harus menerima konsekuensi dari apa yang kamu perbuat 3 tahun lalu terhadap kedua orangtuamu sendiri," batin Chandra.
Chandra segera pergi meninggalkan area parkiran pusat rehabilitasi. Dia memutuskan untuk pulang le rumah saja, hari ini pekerjaan sudah selesai dan jika ada apa-apa Vannya yang akan meng-handlenya.
Ia mampir membeli jajanan makanan ringan untuk isterinya di rumah, akhir-akhir ini ia sering melihat isterinya suka sekali jajan. Dan tidak ada salahnya kalau dia membelikannya sekarang, mungkin akan sedikit memberikan rasa bahagia meski sangat kecil.
Chandra berhenti di depan toko kue, Alina suka sekali donute strawberry dan cokelat. Setelah membawa satu kotak donat, Chandra lagi-lagi mampir ke outlet yang menjual aneka gorengan dan kue basah.
"Kata Mami orang hamil butuh banyak makan, semoga ini cukup untuk isteriku," batinnya mengangkat 2 kantong plastik dan satu kotak donat yang dia beli.
30 menit kemudian, mobilnya mulai memasuki halaman rumahnya. Gerimis sudah reda, tersisa air yang masih berada di atas area parkiran yang masih menetes beberapa kali.
"Pindahkan ke piring, dan buatkan teh manis untuk kami berdua," ucapnya pada seorang asisten rumah tangga yang menyambut kepulangannya.
"Ba-baik Tuan," jawabnya.
"Dimana isteriku?" tanyanya kemudian.
"Nyonya di atas Tuan, mungkin sedang mandi karena ini waktunya Nyonya mandi sore," jawabnya lagi.
__ADS_1
"Baiklah," Chandra segera bergegas menaiki anak tangga.
Cklek!
Tidak ada orang di kamar, hanya terdengar suara air kran yang menyala dari dalam kamar mandi. Benar kata asisten rumah tangga, Alina sedang mandi. Chandra menjatuhkan badannya di atas kasur setelah seharian bekerja meski tidak banyak yangbia kerjakan hari ini.
Saat selangkah lagi memasuki dunia mimpi, tiba-tiba sebuah suara membuyarkan semuanya. Chandra masih enggan untuk membuka matanya dan menyahut. Ia masih diam dan mendengarkan apa yang di katakan isterinya saat ini.
"Hey, udah pulang rupanya," ujarnya berjalan mendekati ke arah ranjang di mana ada Chandra disana.
"Sayang, apa kamu tidur?" ucapnya lagi setelah suaminya masih terdiam dengan kedua matanya terpejam.
"Astaga! Baiklah tidak mau menjawabku ... aku pergi saja," imbuhnya tak jadi mendekati ranjang.
"Haiss! Kenapa tidak jadi kesini sih," celetuknya segera bangun dari tidurnya.
"Aku kangen sama isteriku. Makanya aku pulang," sahutnya mendekati isterinya.
"Cih! modus. Sana mandi, kan habis dari luar ... ." ucapnya.
"Iya, tadi mau langsung mandi tapi kamu lagi mandi. Tunggu aku disini ya, turunnya bareng aku nanti," ucapnya seraya bangun dari sofa.
"Iya Sayang! Gih mandi," sahut Alina dengan tenangnya.
Sementara menunggu Chandra mandi, Alina iseng-iseng membuka album foto semasa dirinya masih kecil. Ya, dia sedang merindukan mendiang Ibu dan Ayahnya yang sudah pergi saat dirinya masih kecil.
Alina tidak bisa ingat dengan jelas pada sosok Ayahnya, karena dia pergi lebih dulu saat usianya masih satu tahun. Sedangkan Ibunya meninggal saat usianya masih 3,5 tahun. Untunglah dia bertemu dengan Mami Kinan dan Papi Randy yang sangat menyayanginya.
Bahkan sempat terjadi beberapa kejadian yang membuatnya trauma. Tapi mereka tidak pernah menyerah atau berniat meninggalkan Alina supaya mereka tidak terlibat dalam masalah yang terus saja datang dari saudara mendiang Ayahnya.
__ADS_1
...ALINA POV...
Chandra baru saja masuk ke kamar mandi, terdengar air kran mulai menyala. Daripada aku bingung menunggunya yang sedang mandi, kedua mataku tak sengaja melihat sebuah album kecil di bawah meja kecil dekat dengan tempatku duduk saat ini.
Ya, aku merindukan Ibu dan Ayahku, meski aku tidak ingat betul dengan kenangan semasa kecilku bersama mereka. Meski sudah ada Mami dan Papi yang selalu memberiku kasih sayangnya yang berlimpah.
Aku merindukan mereka bukan berarti aku tak bahagia atau kurang kasih sayang dari orang tuaku saat ini. Mami banyak cerita, Ibu sangat menyayangiku begitupun dengan Ayahku. Mami selalu memelukku saat aku menanyakan dimana Ibuku saat itu.
Sebuah foto usang, terlihat seorang anak kecil dengan gaun berwarna putih dan mahkota di atas kepalanya. Di kanan kirinya duduk sepasang orangtua yang terlihat bahagia melihat putrinya sedang menyentuh kue ulang tahun pertamanya.
Ya, itu adalah aku saat ulang tahun yang pertama. Terlihat wajah Ayahku yang memang kurang sehat, tapi Ayah tetap saja tersenyum di foto. Andai aku bisa masuk ke dunia masa lalu, aku ingin masuk ke masa dimana foto itu di ambil.
Ayah, rindukah padaku? Aku memang belum mengenal sosokmu. Tapi kata Oma wajahku mirip denganmu, benarkah itu? Aku tau, meski dunia kita telah berbeda, tapi Ayah selalu hadir saat aku sedang merindukanmu. Begitupun dengan sekarang, mungkin saat ini Ayah sedang disini menemaniku.
Bu, terimakasih sudah merawatku seorang diri selama dua tahun lebih setelah Ayah pergi. Aku banyak mendengar cerita dari Mami, Papi, Tante Maya dna teman-teman Ibu yang lain.
Katanya, Ibu adalah wanita yang tangguh. Ibu wanita yang kuat, rela melakukan apapun untuk menghidupi anak semata wayangnya yang masih kecil. Aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di posisinya saat itu.
Berbahagialah kalian disana. Aku sudah bahagia disini, bersama Mami, Papi, Chandra dan keluargaku yang baru. Terimakasih sudah membawaku ke kehidupan mereka Bu.
"Sayang," ucapnya dengan lirih.
Entah sejak kapan Chandra sudah berada di belakangku. Dia segera memelukku dari belakang, membuat tangisku pecah seketika.
"Besok kita ke makam Ibu sama Ayah ya," bisiknya padaku.
Aku tak mampu menjawabnya, dadaku seketika terasa sesak. Chandra terus memelukku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Aku merasa beruntung, saat perasaan sedang kacau dia selalu ada dan tiba-tiba ada entah dari mana dia datangnya.
"Jangan menangis, ingat kata dokter. Ibu hamil tidak boleh sedih sampai berlarut-larut. Aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa," ucapnya mengecup keningku dengan lembut.
__ADS_1