
"Sayang, kamu tunggu di sini ya. Aku mau ambil vitaminnya. Kalau ada apa-apa telepon aku atau panggil namaku," ucapnya.
"Iya, Sayang ...!"
Saat menunggu Vin yang sedang berdiri di depan loket apotek 24 jam, tiba-tiba seseorang memanggil Vannya. Suaranya tak asing, Vannya pernah mendengarnya dna mengenali pemilik suara tersebut.
"Vannya ...!" panggilnya dengan jelas.
_________
"I-Ilham ...!" ucapnya dengan sedikit terkejut.
"Hi ... kamu sedang apa disini?" tanya Ilham duduk di sebelah Vannya.
"A-aku lagi nungguin ... ." ujarnya yang belum selesai langsung di potong.
"Ah kamu lagi nunggu antrian di apotek ya? Siapa yang sakit?" tanyanya lagi.
"Eh ... hmm, gak ada yang sakit. Kamu ngapain disini?" tanya Vannya.
"Aku baru selesai jaga, tadi ada panggilan darurat ...!" ujarnya.
"Kamu kerja disini? Jadi security?" tanya Vannya.
"Haih! Apakah wajahku lebih pantas jadi security?" ujarnya tersenyum simpul.
"Astaga! Aku salah, dia seorang Dokter ...!" batin Vannya yang baru melihat jas putih di atas tas kecil yang Ilh letakkan di samping kirinya.
"Oh ... maafkan aku Ham ...! Aku tidak tau," celetuk Vannya.
"Hmm, tidak apa. Wajar lah ... Kan kita belum pernah ketemu lagi selepas lulus SMP kan. Dan ternyata kamu semakin cantik," ujarnya memuji Vannya.
"Hmm, bisa aja ...!" sahut Vannya membuang wajahnya mencari keberadaan suaminya yang belum juga kembali.
"Kamu sendirian?" tanyanya.
"Tidak, dia bersamaku ...!" sahut Vin yang sudha berdiri di belakang Vannya.
Seketika Vannya mendongak dan melihat Vin di sana. Vannya tak bisa berkutik, ia tidak ingin Vin salah paham. Lagian ia juga tidak sengaja bertemu dengan Ilham teman sekolahnya semasa SMP.
"Wah, apa kalian pacaran?" celetuk Ilham segera berdiri dari duduknya.
"Lebih dari pacaran. Kami sudah menikah dan sebentar lagi kami akan memiliki anak," sahut Vin seraya melingkarkan tangan kanannya di leher Vannya dari arah belakang.
__ADS_1
"O-oh ... aku kira Vannya belum menikah. Kalau begitu aku permisi," ujarnya tersenyum masam.
"Ya ...!" sahut Vin tanpa elspresi di wajahnya.
Vannya hanya diam, mendengar dari suara Vin yang sedikit ketus membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Vannya tak berani menatap suaminya yang sudah duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa?" tanya Vin tiba-tiba menjadi lebih dingin.
"E-enggak ... hmm, aku gak sengaja ketemu sama dia. Aku gak tau kalau dia kerja disini, maaf ya Sayang ...!" ucap Vannya yang memberanikan diri untuk mwmbuka suara.
"Kamu takut padaku?" tanyanya menyentuh dagu Vannya dan mendongakkan wajah Vannya agar menatap matanya.
"Hmm ...!" gumamnya seraya menganggukan kepalanya pelan.
"Aku gak marah Sayang. Aku cuma gak suka lihat orang lain yang mendekati isteriku, aku gak suka dari caranya menatapmu ...!" ujar Vin menjelaskan.
"Maaf ya," hanya itu yang terucap dari bibir mungilnya.
"Tak perlu minta maaf. Karena kamu gak salah. Yaudah, yuk pulang ...!" ajaknya.
"Sayang, hari ini Kak Nana sama Kak Chandra kan lagi anniversary. Apa gak sebaiknya kita kesana?" tanya Vannya.
"Astaga! Aku hampir lupa. Jam berapa ini?" segera melihat arloji di pergelangan tangannya.
"Acara dua jam lagi, ayo kita kesana. Gak apa kita telat sedikit," ucapnya.
Vannya dan Vin bernajak pergi dari lorong rumah sakit yang sudah sepi. Langit semakin berwarna gelap, wkatu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dengan kecepatan sedang Vin terus menyetir mobilnya membelah jalanan yang sepi.
Vannya yang sudah mulai mengantuk perlahan memejamkan matanya dan tertidur selama dalam perjalanan. Musik menyala dengan volume sedang menemani Vin yang harus fokus mengemudikan mobilnya.
Sementara itu,
Chandra terus menggendong isterinya menuruni anak tangga dengan hati-hati. Untung saja pintu depan tidak di tutup jadi lebih memudahkan dirinya untuk terus menggendong Alina tanpa kesusahan membuka handle pintu.
Semua orang yang melihat kedatangan mereka bertepuk tangan dengan sangat meriah bak melihat pasangan pengantin yang baru saja mengucapkan janji suci di depan khalayak.
Sesampainya di halaman rumah, Chandra segera menurunkan isterinya dengan perlahan dan segera menggenggam tangannya agar Alina tidak langsung lari dan membahayakan dirinya yang sedang hamil.
Mereka segera mendekati dua pasang suami isteri berusia paruhbaya. Dari kejauhan, terlihat tatapan pen rasa bangga pada mereka. Alina segera memeluk mereka secara bergantian.
"Happy Annuversary Sayang ...!" ucap Mami dan yang lainnya secara bergantian.
"Makasih Mami, Papi, Mamah, Papah ... Kenapa Mamah sama Papah tidak disini saja sih? Kan jadi bolak balik," ujar Alina.
__ADS_1
"Kita gak pulang kok Nak, tapi menginap di hotel dekat sini," jawab Mamah membuat Alina menggelengkan kepalanya.
"Astaga ...! Kenapa Mamah sama Papah tidak stay di sini saja sih. Biar Mami tidak kesepian juga kan," ujar Alina.
"Hmm, tanyakan saja pada suamimu ...!" ujarnya melirik Chandra.
"Hmm, kamu tau ini rupanya?"
"Tapi sekarang semua sudah berkumpul kan? Tinggal Vannya dan Vin yang gak tau dimana," ujarnya seraya mencari-cari wajah keduanya yang belum kelihatan.
"Itu mereka," celetuk Papah yang melihat ke arah pintu gerbang.
"Astaga! Mereka datang juga ...!" ujar Alina tak menyangka.
Alina dan Chandra pun bercengkerama dengan yang lain yang sudah hadir ke acara yang lebih pantas di namakan acara dadakan. Karena Chandrapun baru merencanakan tadi setelah selesai mandi.
Tapi tidak ada yang mengecewakan, meski dadakan semua sudah di siapkan dengan cepat tanpa kendala satupun. Berkat bantuan dari yang lain yang bersedia membantunya meski mendadak.
Di Sudut yang lain ...
"Sayang, Mami senang deh ...! Akhirnya Mami akan langsung punya dua cucu. Makasih ya Sayang," ucap Mami yang tak hentinya bersyukur sejak tadi.
"Makasih ya Mih ...! Do'ain semoga lancar sampai lahiran nanti," ucap Vannya.
"Aamiin, Sayang ...! Kamu jaga baik-baik cucu Mami ya Sayang. Vin, jaga isterimu baik-baik ya ...!" ujar Mami.
"Iya Mamiku Sayang ...! Terus kapan nih Mami sama Papi tinggal beberapa hari bersama kami?" tanya Vin.
"Hmm ... besok lusa ya Sayang ...! Pasti Mami sama Papi ke rumah kalian kok, kalau bisa sekalian mau ngabarin Maya biar kita ketemu disana. Kalian udah kabarin mereka kan?" tanya Mami pada Vannya dan Vin.
"Hehe ...! Belum Mam ...!" jawab Vannya yang baru ingat.
"Astaga ...! Kalian ini, cepat kabari mereka. Pasti mereka bahagia sekali seperti kita semua Nak ...!" ujar Mami.
"Hmm ... iya Mih ...!" jawab Vannya.
Akhirnya Vannya dan Vin masuk ke rumah Alina untuk mencari tempat yang tenang supaya bisa berbincang dengan jelas. Mereka duduk di sofa ruang tamu dan segera mencari kontak Mama Maya di ponselnya.
Tut ... tuutt ...!
*Obrolan di telepon
"Hallo Sayang ...!" sapanya dengan lembut.
__ADS_1
"Hallo Mah, Mamah belum tidur kan? Apa aku mengganggu?" tanya Vannya.
"Belum nih ...! Gak ganggu kok Nak, ada apa?" tanyanya lagi.