Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Main Belakang?


__ADS_3

"Astaga! Kau mengagetkanku. Sini duduk," ajaknya.


"Angin malam tidak baik untuk isteriku yang sedang mengandung putraku," ucapnya ikut duduk di samping Alina.


"Sekarang akan baik, karena ada kamu di sisiku. Kamu yang selalu sigap menjagaku juga bayi kita," ujarnya.


"Hmm, kenapa kamu suka sekali disini? Padahal AC di kamar tak kalah dinginnya dengan angin malam yang berhembus," ujarnya.


"Tapi di dalam aku tidak akan bisa melihat cantiknya bulan Sayang," jawabnya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


"Apa harus setiap malam kamu melihatnya?"


"Hmm, karena saat aku melihatnya. Aku merasa seperti sedang bersama Ayah dan Ibuku," ucapnya.


"Bahkan tidak melihatnya pun. Mereka selalu bersamamu, karena mereka selalu ada di hatimu,"


"Hmm, tapi akan lebih terasa kalau aku melihat benda langit berbentuk bulat disana," ujarnya tak mau kalah debat.


"Hah! Terserahmu sajalah, karena pada dasarnya wanita selalu benar. Begitukan?" ucapnya.


"Siapa bilang? Wanita benar pada saatnya saja, karena manusia tidak ada yang sempurna. Tapi kali ini aku yang benar," ujarnya dengan mencari alasan.


"Iya Sayang, iya ... isteriku selalu benar. Itulah kenapa aku sangat mencintaimu," ucapnya.


"Kau sedang tidak menggodaku kan?" tanyanya dengan curiga.


"Astaga! Tanggal berapa ini. Kenapa isteriku bawel sekali," ujarnya menyandarkan dirinya pada sandaran sofa di balkon kamar.


Mereka menghabiskan waktu bersama di sana hingga larut dan Alina lagi-lagi tertidur dalam pelukan Chandra. Sebelum membawa Alin masuk ke dalam, Chandra mendongakkan kepalanya menatap benda langit yang bersinar dengan terang menerangi langit yang gelap.


"Ayah, Ibu ... lihatlah putrimu, bawel sekali. Aku janji akan menjaganya seperti Mami dan Papi yang sudah merawatnya penuh dengan kasih sayang," batin Chandra.


Sementara itu di tempat lain,


Selesai makan malam, Vannya memilih pergi ke perpustakaan di ruang bawah tanah. Sudah lama dia tidak kesana, meski hanya duduk dan menikmati sepinya ruangan disana.


Di sana jga terdapat ruangan berukuran 6x12 meter yang mereka sebut sebagai bioskop, meski jarang sekali mereka gunakan karena kesibukannya masing-masing.


Vannya duduk di kursi panjang dekat rak buku, tak lupa ia menyalakan lilin aromatherapy agar lebih betah berlama-lama disana. Entah apa saja yang ia pikirkan hingga betah tinggal di ruangan gelap itu.


...VANYA POV...

__ADS_1


Di tempat inilah, aku terbiasa menghabiskan waktu sendirian saat libur dan suamiku sedang dalam perjalanan bisnis. Dan spot favoritku adalah kursi panjang ini, kadang aku sampai ketiduran dan di bangunkan ART untuk makan atau karena ada telepon penting dari keluarga, teman atau masalah pekerjaan.


Aku suka sepi, aku suka gelap. Mungkin aku tidak seperti wanita pada umumnya, entah apa yang membuatku seperti ini. Tapi kata Mamah aku memang lebih suka menyendiri sejak kecil.


Tapi bukan berarti aku insecure atau karena memiliki sesuatu hal yang harus aku tutup-tutupi dari khalayak umum. Aku bahkan aktif berorganisasi sejak sekolah hingga kuliah.


drtt ... drrttt ....


Tanpa melihatnya, aku segera meraihnya dan membuka pesan yang baru saja masuk. Tertulis nama Aura di sana, aku tidak punya teman yang namanya Aura. Lalu bagaimana bisa nomornya terdapat di kontakku.


• Pak! Bisakah besok ketemu di Star Cafe jam 10 pagi? Saya tunggu disana,


"Pak? Saya bukan Pak. Siapa sih dia," batinku kesal.


Sesaat aku baru tersadar jika aku salah membawa ponsel suamiku yang kebetulan sama. Jadi, selama ini Kak Vin diam-diam suka pergi bersama Aura? Ada hubungan apa mereka di belakangku? Apa Kak Vin mendua?


Berbagai pertanyaan berkecamu di dalam kepalaku, aku tak berani menanyakannya, aku takut menerima kenyataan pahit ini. Badanku seketika lemas, jantungku berdebar dengan cukup kencang. Aku mulai kehilangan kendali, dan tiba-tiba pandanganku gelap.


"Vannya! Bangun, buka matamu ... ." suara yang tak asing di telingaku.


Tapi kedua mataku tak bisa terbuka lagi, perlahan kesadaranku menghilang. Suara yang tadinya cukup jelas terdengar perlahan mengecil dan tak mau ku dengarkan.


Di Kamar ....


Baru saja dokter memeriksa keadaan Vannya. Dia masih tak sadarkan diri, hingga membuat Vin panik tak karuan. Dia tadinya menyusul Vannya ke bawah untuk menukar ponselnya yang tertukar. Tapi belum sempat dia menyapa, isterinya sudah jatuh lebih dulu.


"Apa yang terjadi padanya Dok? Kenapa dia?" tanya Vin tak mampu menyembunyikan kecemasannya.


Dokter hanya tersenyum, membuat Vin bingung dan kesal. Emosinya tak mampu lagi tertahan hingga membentaknya dengan cukup keras.


"Kenaoa dokter tersenyum? Apa Dokter senang melihatku menderita? Hah! Harusnya aku tidak memanggilmu," ujarnya duduk di kursi.


"Tidak usah panik. Isterimu hanya butuh istirahat, dan satu lagi jangan buat dia kelelahan karena saat ini usia kehamilannya masih sangat muda," ujarnya dengan tenang meski Vin sudah membentaknya.


"A-apa maksudmu?" tanyanya lagi.


"Apa ucapanku kurang jelas sampai di telingamu? Selamat Vin, kamu akan menjadi Ayah. Jaga isterimu," ujarnya menepuk bahu Vin.


"Kau tidak berbohong kan? Ini bukan prank kan?" tanyanya masih tak percaya.


"Hmm, sini mendekat biar kamu percaya ... ." ucapnya.

__ADS_1


"Apa?" sahutnya mendekat tanpa menaruh curiga.


Ctakkk!!


Sebuah polesan mendarat dengan cepat tepat sasaran di kepala Vin yang tadinya hendak mendekatkan telinganya ke mulut snag dokter.


"Aiihhh! Apa yang kau lakukan?" ujarnya memegangi kepalanya.


"Sakit kan? Sekarang kamu percaya kalau aku tidak berbohong," ucapnya.


"Ja-jadi aku akan jadi seorang Ayah?"


"Hmm," sahutnya tersenyum penuh rasa bangga melihat adik sahabatnya berbahagia.


"Selamat ya," ujarnya menepuk pundah Vin.


"Te-terimakasih Dokter," ujarnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Setelah itu, Vin meminta ART nya untuk mengantarkan dokter Stef sampai depan. Sedangkan dia menjaga Vannya yang masih tak sadarkan diri. Vin duduk di sampingnya membelai rambutnya dengan lembut.


Perlahan Vannya mulai membuka matanya, dan menatap Vin dengan kesal. Ia segera memalingkan wajahnya supaya tidak melihat wajah suaminya yang sudah ketauan main belakang.


"Sayang, kamu sudah sadar. Minumlah," ucapnya membantu Vannya untuk bangun dan bersandar pada kepala ranjang.


Tanpa bersuara, Vannya meneguk air dalam gelas hingga habis. Setelah itu ia kembali memalingkan wajahnya lagi, membuat Vin bingung.


"Sayang, kamu kenapa? Mana yang sakit?" tanyanya pelan.


"Keluar," ujarnya pelan.


"Kenapa? Apa aku salah?" tanyanya.


"Baiklah. Aku saja yang keluar," ucapnya mencoba bangun tapi badannya masih lemas.


"Awwwhh!" pekiknya memegangi kepalanya.


"Sayang, kata Dokter Stef kamu harus istirahat. Usia kandunganmu masih rentan," ujarnya memegangi isterinya.


"A-aku hamil? Cobaan apa lagi ini? Disaat aku tau suamiku ada hubungan dengan wanita lain. Justru Tuhan membiarkan aku untuk mengandung,"


"Pergilah, biarkan aku sendiri untuk saat ini. Please!" ujarnya.

__ADS_1


__ADS_2