Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Berhalusinasi


__ADS_3

"Siapa dulu yang melakukan ini. Kalau sampai ada orang yang tau, tamatlah riwayat kita. Mereka akn mengira ... kita yang melakukan ini. Pak Vin dan Pak Chandra tentu saja tidak akan terlibat,"


"Meski kita membocorkannya sekalipun. Mereka sudah memeperhitungkan segala sesuatunya dengan matang-matang," imbuhnya.


"Kau benar. Baru kali ini aku berpihak pada tindakan semacam penculikan. Pak Vin melakukan ini bukan karena jabatan yang dimiliki, melainkan untuk melindungi isterinya, dan memberi pelajaran bagi yang sudah berani mengusik Bu Vannya," jawabnya.


"Kau benar, aku melihat dengan maa kepalaku sendiri saat Pak Chandra membawa Bu Vannya yang sudah terkulai lemah. Mungkin jika aku di posisi Pak Vin juga akan melakukan hal yang sama. Bahkan membunuhnya secara langsung," ujarnya dengan geram.


______________


"Aku lapar, aku mau makan ...!" teriaknya dari dalam gubuk kecil.


"Kamu lanjutkan makan. Biar aku yang mengurus," ujarnya.


"Baiklah,"


"Hai aku lapar, apa kalian tidak mendengarku? Cepat buatkan aku makanan, sebentar lagi aku akan pergi untuk jemput Vannya ...!"


"Kami akan kabur, kawin lari ...!" imbuhnya terus mengoceh.


"Aku mendengarmu," sahutnya melangkah mendekat.


"Kenapa lama sekali? Cepat aku lapar, Vannya pasti akan memarahi kalian karena sudah membuatnya harus menungguku," bentaknya tanpa merasa tak bersalah.


"Apa seperti ini caramu meminta tolong? Coba minta dengan sedikit lembut dan pelan," ucapnya semakin mendekat.


"Ah ...! Malas, aku lagi marah ...!" ujarnya dengan ketus.


"Aiih ...! Gampang sekali marah," ledeknya.


"Ssstt ...! Tuhkan Vannya sudah memanggilku," ucapnya seraya mendekatkan jarinya di depan hidungnya.


"Mana?"


"Makana tutup mulutmu, dengarkan. Tadi Vannya memanggilku. Kau dengar?" tanyanya.


"Tidak ada suara," jawabnya dengan cuek.


"Ada ...! Kamu tuli ya? Jelas-jelas tadi aku dengar suara Vannya yang lembut," ucapnya tak mau kalah.


"Aku tidak tuli, tapi kupingmu yang bermasalah," celetuk.


"Huh!! Dasar tuli, tapi tidak mau di salahkan. Tentu saja kamu tidak mendengarnya, kan Vannya hanya memanggilku. Bukan memanggilmu," gerutunya.


"Terus jadi makan apa tidak?" tanyanya dengan sabar.


"Jadilah, kamu pikir aku udah pikun. Jelas-jelas aku memanggilmu karena aku lapar,"

__ADS_1


"Astaga ...! Untung kejiwaannya terganggu, coba kalau tidak. Udah jadi abon dia," gumamnya tak habis pikir.


"Kamu mengataiku? Apa? Katakan dengan keras, ayo katakan di depanku ...!"


"Haihh ...! Buka mulutmu," seraya menyuapkan sesendok nasi dengan lauk.


"Kamu tau? Dulu aku menyukai Vannya. Setiap hari alasanku ke kampus cuma buat lihat dia, tapi sayangnya dia selalu jual mahal padaku. Heh ...! Bukannya aku menyerah, malah semakin membuatku bersemangat untuk bisa mendapatkannya," ujarnya terus berbicara dengan keadaan mulut yang penuh dengan makanan.


"Jangan banyak bicara, nanti tersedak ...!" ucapnya mengingatkan.


"Dulu, setiap ke kantin aku selalu duduk satu meja dengannya, tapi ... Uhhukk ...!"


"Apa aku bilang? Jangan bicara terus, telan dulu makanannya. Katanya kamu tidak tuli," menyerahkan sebotol air mineral padanya.


"Buka lagi mulutnya,"


"Setelah dia lulus aku tidak lagi bisa melihatnya, karena dia langsung di terima kerja di Perusahaan ternama di Ibukota. Aku galau, aku terus mencarinya. Tapi tak kunjung ketemu juga, sampai pada akhirnya aku bertemu dengannya di Rumah Sakit,"


"Ternyata dia sudah menikah, dan kondisinya sedamh hamil. Tapi aku merasa dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Dia pasti tertekan, makanya aku berhubungan intim dengannya, supaya anak yang di dalam kandungannya menjadi darah dagingku," imbuhnya terus melantur tat berarah.


Pria yang menyuapinya hanya menggelengkan kepalanya. Di satu sisi dia merasa kasihan, karena rasa cintanya membuat hatinya buta. Tapi disisi lain, dia tak bisa berbuat apa-apa. Biar bagaimanapun Ilham tetaplah bersalah karena sudah membuat Vannya hanpir kehilangan calon anak dan juga nyawanya.


"Minum dulu," ujarnya memotong pembicaraan.


"Aiih ...! Dasar pengganggu ...!" celetuknya seraya menerima botol dan meneguknya.


"Tidak ...! Aku sudah benar. Aku hanya ingin menyelamatkan wanitaku, bahkan Vannya diam saja saat aku mulai menyentuhnya. Dia memintaku untuk cepat melakukan, tapi aku bodoh. Aku tak menghiraukannya, dan pada akhirnya terjadi kesalahpahaman ...!"


"Coba saja, atasanya tidak datang. Pasti Vannya dan anak yang ada dalam kandungannya sudah emnajdi milikku. Tapi tenang, setelah aku keluar dari sini, aku akan melanjutkan misi untuk menyelamatkan Vannya dari pria jahat itu,"


"Makanan sudah habis, cerita udah berakhir. Lanjutkan daja ceritamu itu. Jangan berteriak, percuma ... tidak ada yang akan mendengarmu," ucapnya seraya menggulung bungkus makanan dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.


"Kamu tidak mau menemaniku disini? Kamu tidak penasaran apa misi yang akan aku lakukan setelah ini?" ujarnya.


"Tentu saja penasaran, tapi aku lapar. Setelah ini, kami akan membawamu pergi dari sini,"


"Kamu mau menolongku? Ah ...! Aku beruntunh bisa bertemu denganmu, akhirnya kamu bisa berbikir dengan benar. Aku tidak bersalah ...!" teriaknya penuh rasa kemenangan.


"Sssst ...! Jangan teriak, apa kamu tidak mendengarku?"


"Hahaha ...! Maaf, aku terlalu senang. Aku akan diam, aku akan pura-pura ketakutan dan berteriak. Padahal kita bekerja sama, iyakan bro?" ucapnya.


"Hmm," gumamnya.


"Astaga ...! Terserahmu saja lah ...!" sahutnya dalam hati.


___________

__ADS_1


Di Sudut yang berbeda ....


Hari sudah mulai petang, Tyas dan yang lain sudah bersiap-siap untuk pergi makan malam. Mereka tidak akan makan di restoran hotel, melainkan Cafe tempat dimana Tyas bekerja dulu.


Arsen sengaja meminta Kemal untuk membooking Cafe tersebut, agar isterinya bisa bernostalgia dengan nyaman tanpa ada orang lain yang mengganggunya. Kebetulan yang menjalankan Cafe sudah berpindah tangan sejak 2 tahun yang lalu, dan hampir semua pekerja baru semua.


"Mas yakin kita akan kesana?" tanya Tyas.


"Tentu saja. Apa kamu tidak mau? Kalau tidak, kita pindah saja ...!" ujarnya.


"Tidak. Bukan seperti itu, tentu saja aku mau ...!"


"Benar?"


"Iya, Mas ...!" jawabnya dengan lembut


"Hmm, baiklah. Ayo kita turun," ajaknya meyodorkan tangan kirinya untuk membantu Tyas turun dari mobil.


Madav sudah turun lebih dulu bersama Amanda. Mereka lari-larian di area parkiran Cafe yang kosong. Gelak tawa memecah kesunyian sekita Cafe yang sudah sepi setelah hari menjadi gelap.


"Madav, jangan lari-larian Nak ...!" panggil Tyas.


"Tidak Ibu," jawabnya segera berhenti dan menggandeng tangan Amanda.


"Kakak cantik kita duduk satu meja ya, Paman Kemal biar sendiri aja ...!" celetuknya.


"Baiklah ...!" jawabnya seraya melirik Kemal yang masih diam tanpa ekspresi.


"Cih ...! Lama-lama dia jadi seperti anak kecil juga, siapa juga yang mau satu meja dengannya," gumamnya.


Mereka segera masuk, beberapa pekerja sudah berbaris berdiri di depan pintu menyambut kedatangannya. Mereka membungkukkan badannya dengan perlahan sebagi bentuk penghormatan terhadap tamunya.


"Apa sekarang sistem pelayanan di sini memang seperti ini? Atau karena mereka tau siapa yang datang? Semoga saja memang sekarang sistemnya yang seperti ini, bukan seperti yang aku pikirkan tadi," batin Tyas seraya berjalan memasuki Cafe yang bernuansa klasik.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya ...!" sambutnya dengan ramah.


"Silakan," imbuhnya menyiapka kursi untuk Arsen dna Tyas.


Arsen dan Tyas duduk di meja bagian tengah Cafe di terangi oleh beberapa lilin yang terpasang di atas meja dengan cantiknya. Semua ini adalah hasil kreasi dari Amanda yang memaksa ikut Kemal saat hendak mencari restoran untuk makan malam.


"Madav tidak ikut duduk disini?" tanya Tyas.


"Tidak, aku mau sama Kakak cantik saja. Kasihan Kakak tidak ada tema," celetuknya.


"Aiihh ...! Anak kita tua banget ya Mas, astaga ...!" gumam Tyas tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari putranya.


"Kelak kalau besar, dia akan bisa menghargai pasangannya karena sudah terlatih sejak kecil," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2