
Di Kediaman Randy
Semua orang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara lamaran nanti sore. Sofi yang baru dapat kabar semalam dari Kinan, paginya langsung memutuskan untuk datang ke rumahnya membantunya persiapan.
"Tidak di sangka, ternyata jodoh Vin adalah anak sahabat kita ya Kin. Syukurlah, setidaknya kita sudah kenal dekat dengan keluarga besarnya. Bahkan sudah seperti keluarga sendiri," Ucap Sofi sembari jemarinya sibuk menghias beberapa barang yang akan di bawa ke rumah Vannya nanti sore.
" Iya, Mbak! Aku juga tidak menyangka, ternyata jodoh sedekat itu. Semoga hubungan mereka langgeng," Ujar Kinan penuh harap.
" Aamiin, Oh iya ... Alina kemana? Apa dia tidak di kabari kalau adiknya akan melangsungkan tunangan sore ini?"
"Tentu saja tau Mba, tadi katanya sedang menemani Bu Iren ke pusat perbelanjaan. Mungkin sebentar lagi mereka akan kemari,"
"Senang rasanya mendengar mereka bahagia dengan pasangannya Kin, dulu mereka masih ku gendong-gendong, lari-larian di taman, tapi sekarang sudah menemukan jodohnya masing-masing. Entah aku yang sudah tua, atau mereka yang cepat dewasa," kenangan demi kenangan muncul dalam ingatannya, membuatnya tersenyum dan tak percaya jika dalam waktu beberapa jam Ponakan kecilnya juga akan bertunangan.
" Iya, Mba. Aku dan Mas Randy juga tidak habis fikir, anak-anak yang dulunya masih kami gendong, di temani saat mau tidur sekarang sudah dewasa dan menemukan jalannya masing-masing,"
"Oh iya, Lila dan Devi bantu-bantu di sana kan?"
"Iya, Mba! Tadinya Devi mau datang kesini, tapi sepertinya Maya lebih membutuhkan banyak tenaga disana. Disini kan sudah ada Mba, Mamah, dan juga Bunda,"
"Hmm ... Kamu benar,"
Dua sahabat yang kini telah menjadi saudari ipar tampak sibuk mempersiapkan beberapa aneka hiasan hasil tangannya sendiri. Sedangkan para Oma dan Opa sedang duduk bercengkerama dengan cucu-cucu yang masih kecil.
Suasan tampak hangat siang itu, yang biasanya Kinan sendirian di rumah. Kini ada teman mengobrol dan berbagi cerita, apalagi Bunda dan Ayah yang memilih untuk tinggal di Jogja setelah Nenek meninggal.
Dan rumah lamanya di tempati Bang Keanu dan keluarga kecilnya. Mereka menjadi berjauhan, tapi komunikasi terus terjalin by Phone. Dan momen jni mereka jadikan sebagai ajang silaturahmi keluarga besar.
Sementara itu...
"Mah, kita pulang ke rumah Mami kan? Sore ini Vin akan bertunangan," seraya berjalan menuju parkiran mobil.
"Benarkah? Wah, kenapa Mamah baru tau Nak? Baiklah, ayo kita pulang ke rumah Mami Kinan. Sudah lama juga Mamah tidak silaturahmi adiknya Mamah,"
Semenjak Alina dan Chandra menikah, Mamah Iren sudah menganggap Mami Kinan adalah adik perempuannya. Dan mereka saling bertukar kabar baik lewat social media atau pesan elektronik.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, jarak mall dengan rumah yang akan di tuju lumayan jauh. Untung saja mereka pergi diantar sopir, jadi lebih aman dan tidak capek di jalan.
Sebelumnya Alina telah mengabari suaminya bahwa hari ini ia akan pulang ke rumah orangtuanya. Dan meminta Chandra untuk menyusulnya sepulang kerja, biar bagaimanapun dia harus ikut menyaksikan acara tukar cincin adiknya.
"Nak, siapa calonnya si Ganteng?" Mamah selalu memanggil Vin si Ganteng.
"Anaknya sahabat Mami, Mah. Alina juga sudah kenal dekat dengannya, bahkan sudah seperti adik sendiri. Tapi ternyata, Tuhan mentakdirkan dia menjadi jodohnya Vin," dengan antusias Alina menceritakan tentang kedekatan keluarga besarnya.
"Wah, Mamah jadi iri Nak. Kalian punya keluarga besar yang sangat harmonis, bahkan teman kerja yang tidak saling kenal sebelumnya sekarang sudah seperti keluarga sendiri,"
__ADS_1
"Ya, Mah! Nanti Mamah juga akan kenal dengan Tante Maya, Tante Devi, dan Tante Lila. Mereka adalah sahabat Mami dari jamannya Mami masih gadis, siapa tau nanti Mamah dan Tante Resty cocok juga dengan mereka,"
"Pasti, Sayang. Mamah akan bahagia sekali kalau mereka mau menerima Mamah,"
"Pasti, Mah! Mereka akan dengan tangan terbuka menerima Mamah yang cantik, dan baik ... ." Puji Alina pada Mamah Iren.
"Kamu ini, memang paling bisa membuat Mamah melayang Nak," Ucapnya seraya mengusap kepala Alina dengan lembut.
Perjalanan masih jauh, Alina dan Mamah memilih untuk tidur selama perjalanan. Mengumpulkan tenaga untuk turut membantu orang-orang yang sata ini sibuk mempersiapkan acara perundangan Vin dan Vannya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 3 jam, mobil memasuki halaman rumah yang luas. Meski tak seluas halaman rumah keluarga Wijaya. Alina dan Mamah Iren telah terbangun 30 menit yang lalu.
"Ayo, Mah!" ajaknya dengan lembut pada Mamah Iren.
"Iya, Sayang!" lagi-lagi keduanya bergandengan, membuat semua pekerja yang berada di area halaman rumah tersenyum melihat keakraban keduanya.
Terlihat beberapa orang lalu lalang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Omah ... Opah!" panggil Alina sesampainya di ruang tengah. Dengan sopan, ia segera mencium tangan Omah dan Opah secara bergantian.
Dan Mamah Iren pun saling melempar sapa pada para Omah dan Opah yang memang juga sudah mengenal Mamah Iren sejak pernikahan Alina dna Chandra.
"Gimana kabar Omah?" Tanya Alina.
"Kabar Omah, sehat sayang. Omah kangen sekali sama kamu," dengan gemas Omah memeluk dan menciumi wajah Alina.
Mereka melepas rindu satu sama lain, sebelum Alina masuk menemui Mami Kinan yang sedang sibuk di dalam.
"Sayang, Mamah masuk dulu yuk. Mamah mau bantu Mamih kamu di dalam," bisik Mamah Iren pada Alina.
"Yaudah, Nana ikut. Omah, Opah! Nana sama Mamah masuk dulu ya, mau bantu Mami sama Tante," pamitnya pada Omah dan Opah.
Setelah di iyakan, mereka melanjutkan memasuki ruangan keluarga mencari keberadaan Mami Kinan dan Sofi yang kata para pekerjanya masih di ruang keluarga bagian tengah.
" Mami," seraya memeluk Mami Kinan dari belakang, melepas kerinduannya meski baru bertemu beberapa waktu yang lalu.
"Hai, Sayang! Kamu sudah datang Nak? Baru saja, Mami sama Tante ngomongin kamu," menghentikan sejenak pekerjaannya dan memeluk Alina.
"Maaf ya Bu Kinan, kami terlambat datang. Karena kami khilaf saat di toko tadi," Ucap Mamah Iren merasa tidak enak karena tidak datang lebih awal.
"Tidak apa, Bu Iren! Terimakasih ya, sudah berkenan untuk datang ke rumah. Bagaimana kabarnya Bu? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa,"
Terlibat obrolan tak berbobot untuk beberapa saat, Alina memilih untuk masuk ke kamar karena merasa sedikit tak enak badan. Tapi dia tidak ingin membuat orang di rumah khawatir.
" Akhirnya, sampai juga di kamar. Entah kenapa, badanku terasa sangat lemas, ngantuk dan ... Ah! Tiba-tiba malas tanpa alasan, sebaiknya aku tidur saja sebentar,"
__ADS_1
Dalam waktu yang singkat, Alina telah terlelah dalam tidur.
Chandra POV
¬Sayang, aku sama Mamah sudah sampai di rumah. Jangan lupa pulang kerja pulang kesini ya, dan kalau bisa pulang lebih cepat, aku menunggumu!¬
Sebuah pesan singkat baru saja selesai dibaca, tanpa membalas Chandra segera memasukkan benda pipih itu ke dalam saku jas. Pertemuan siang ini baru saja selesai, dan ia harus kembali ke Perusahaan sebentar karena ada beberapa berkas yang harus ia tandatangani sebelum pulang.
Chandra meminta Valent untuk mengambil alih pertemuan sore nanti. Karena biar bagaimanapun ia haru menghadiri acara pertunangan adik iparnya.
"Apa ada lagi yang harus ku tanda tangani?"
"Tidak, Pak! Terimakasih,"
"Kalau begitu, handle pertemuan sore ini ya! Saya harus pulang, karena Ibu negara sudah menunggu,"
Chandra segera pergi, meninggalkan ruang kerjanya. Mobil miliknya sudah berada di lobby sejak lima menit yang lalu. Semua staff menganggukan kepala dengan hormat padanya, dan Chandra hanya membalasnya dengan senyum menawannya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, untunglah jalanan tidak terlalu ramai. Karena ia pulang satu jam lebih cepat dari jam pulang kantor. Jarak Perusahaan dengan rumah keluarga besar isterinya bisa di tempuh dalam waktu 2 jam saja.
¬Sayang, kamu sudah pulang? Tolong belikan makanan ya! Aku mau makan martabak kenangan di gang depan, Terimakasih Sayang! ¬
Sebuah pesan masuk dari Alina, Chandra hanya tersenyum saat membacanya. Martabak yang di minta Alina adalah martabak yang dulu sering sekali ia bawakan saat Alina masih lupa ingatan.
¬Okey, Honey! ¬
Sementara itu...
AC menyala dengan temperatur suhu 24°C di dalam kamar yang luas bernuansa merah maroon. Sebulan sekali pekerja di rumahnya mengganti horden dan sprei di kamarnya dengan warna yang senada.
Mami Kinanlah yang meminta para pekerjanya untuk menggantinya. Katanya supaya tidak bosan saja, meski kamar Alina tidak berpenghuni kecuali jika Alina dan Chandra sedang datang berkunjung.
Alina masih terlelap dalam balutan selimut yang tebal. Kamarnya terpasang alat kedap suara, membuatnya semakin terjaga dalam tidurnya. Bahkan suara hembusan angin dari AC terdengar begitu jelas di dalam kamarnya.
"*enngghhh..."
"Sudah jam berapa ini? Astaga aku ketiduran begitu lama," Gumamnya saat tersadar dari tidurnya*.
Jarum jam menunjukkan pukul 15.00, hampir dua jam lamanya ia tertidur. Tiba-tiba dia merasa lapar, dan terbesit dalam otaknya martabak manis di gang depan rumahnya. Dulu saat Chandra datang, selalu membawakan makanan itu untuknya.
Jemarinya segera mengetik sebuah chat yang di tujuan untuk suaminya. Karena sebentar lagi suaminya akan pulang, dan melewati gang depan. Jadi sekalian saja, pikirnya.
Tak berselang lama, ponselnya berdering singkat. Sebuah pesan singkat masuk, balasan dari suaminya yang mengiyakan permintaannya. Setelah pesna terbalas, Alina memilih untuk mandi supaya rasa kantuk yang masih melekat di matanya segera hilang terbawa guyuran air.
"Sebaiknya aku mandi saja, sebelum aku keluar membantu Mami dan yang lainnya. Huh! Padahal aku sudah tidur, tapi kenapa aku masih merasa ngantuk? Padahal semalam juga aku tidur lebih cepat, Nana lawan rasa kantuk mu," ujarnya seraya menyibak kan selimut tebal yang sejak tadi memeluk tubuhnya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Alina berjalan menjauhi ranjang dan melewati closet room sebelum sampai di kamar mandi.
"Hmm ... Wangi sekali, Mami memang terbaik,"