Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Mini Cooper


__ADS_3

"Mana aku tau, tadi pagi aku hanya mendengarnya sedikit. Tapi kalau benar, kasihan juga ya ...!" ucapnya.


"Hmm, kamu benar. Tapi takdir Tuhan siapa yang bisa melawan, kita doakan saja supaya Dokter itu tenang di sana. Kalau benar jenazah itu Dokter yang hilang," jawab Dokter Fani.


"Kalau boleh tau, siapa nama Dokter yang hilang itu?" tanya Alina.


"Kalau tidak salah namanya Ilham, ya aku sih tidak terlalu kenal," sahut Dokter Stef.


"Ilham si buaya darat itu bukan? Dulu aku juga ada junior yang namanya Ilham, setiap hari suka sekali godain mahasiswi di kampus," celetuk Dokter Fani.


"Dan kamu slaah satu dari mahasiswi itu?" tanya Alina.


_______________________


"Tidak, mana mungkin aku termasuk salah satu dari mereka. Kalau dia berani menggodaku bisa-bisa sudah ku otopsi hidup-hidup. Lagian dia menggodanya bukan anak kesehatan, melainkan anak ekonomi yang bening-bening ...!" jawabnya.


"Emang kamu gak bening?" sahut Dokter Stef.


"Astaga ...! Mau ku jahit mulutmu?" ujar Dokter Fani pada Dokter Stef.


"Aku kan cuma nanya," celetuknya.


Perbincangan mereka berakhir saat ada pasien yang datang. Ilham yang melayaninya, karena dia yang datang lebih dulu. Dan membiarkan Alina dan Dokter Fani untuk duduk saja.


"Oh iya Na, bagaimana kabar Vannya? Aku dengar kemarin dia sempat pendarahan?" tanya Dokter Fani.


"Iya Fan, untunglah pendarahan segera berhenti. Aku tidak tau bagaimana kejadiannya, karena aku tidak berani bertanya. Takut akan membuka luka lama yang masih basah. Dan kebetulan saat itu bersamaan dengan kepergian Papi," jawab Alina.


"Tapi sekarang dia udah baik-baik aja kok. Kalau gak salah, sekarang dia juga dah mulai kerja," imbuhnya.


"Syukurlah ...! Aku dulu pernahbsatu organisasi sama dia. Tapi sekarang belum pernah ketemu lagi, sampaikan salamku buat dia ya Na," ujarnya.


"Iya Fan, nanti aku sampaikan salamnya," jawab Alina.


Di Tempat yang berbeda...


Sepuluh jemarinya berlomba menciptakan irama dengan sebuah keyboard kecil di depannya. Kedua matanya tak berkedip melihat layar monitor yang menampilkan beberapa data hasil laporan dari beberapa divisi.


Sesekali dia langsung menekan kode telepon divisi untuk menanyakan kejelasan dari laporan mereka dan memintanya untuk revisi ulang karena data yang masuk masih kurang lengkap.


Laporan hari ini lumayan banyak, sebagian sudah di bantu Mbak Eni kemarin. Dan Vannya hanya melanjutkan beberapa laporan yang belum tersentuh. Sesekali dia berdiri untuk meregangkan otot di badannya.

__ADS_1


"Hmm, enak sekali ...!" gumamnya seraya menyendok kue cokelat yang baru saja di terimanya pagi tadi.


Kopi di hadapannya sudah hampir dingin, namun tak mengurangi rasa kenikmatan dari kopi itu sendiri. Di temani sekotak cokelat yang lembut dengan rasa manis yang pas membuatnya seperti sedang berada di Coffee shop.


Hujan rintik masih awet di luar, menambah suasana terasa lebih hening dari biasanya. Vannya menyandarkan tubuhnya, mengistirahatkan punggungnya yang sudah satu jam lebih duduk dengan posisi tegak.


"Huh ...! Badanku sudah tidak bisa diajak kerja lama-lama. Tapi aku bosan kalau harus di rumah," gumamnya seraya memejamkan kedua matanya dan bersandar pada sandaran kursi.


Di Ruang yang berbeda ....


Tring ...!


Sebuah pesan masuk di group chat WhatsApp, senuah berita tentang kematian seorang pria yang di temukan secara mengenaskan di dalam hutan. Mbak Eni membacanya dari awal paragraf sampai selesai.


Saat melihat wajah jenazah ia sangat terkejut, pria yang sudah mencelakai Vannya beberapa hari lalu. Mbak Eni tak segan-segan melempar ponselnya ke atas meja karena kaget.


Badannya gemetar, keringat dingin mengucur di tubuhnya. Membayangkan apa yang terjadi padanya di tengah hutan sana. Tapi setau dia, security Perusahaan membawanya ke kantor polisi.


"Bagaimana pria itu bisa berada di tengah hutan? Bukannya dia sudah mendekam di penjara? Atau jangan-jangan dia kabur dari penjara dan bersembunyi di hutan?"


"Kalau iya, bisa saja suatu saat pria itu muncul kembali dan mengancam Vannya. Aiihhh ...! Bulu kudukku berdiri semua, Ya Tuhan aku tidak tau harus senang atau sedih mendengar kabar ini. Yang pasti aku bersyukur, pria itu tidak akan lagi muncul di depan Vannya dan mengganggunya,"


Tokk ... tokk ...!


"Mbak En ...!" panggil Vannya.


"Va-Van ...! Kamu kesini?" tanya Mbak Eni dengan terbata.


"Mbak En kenapa?" tanya Vannya yang vemas melihat Mbak Eni dengan wajah yang pucat.


"Ti-tidak Van. Aku baik-baik aja. Tadi cuma tidak sengaja lihat video horor jadi aku takut," jawabnya berbohong. Mbak Eni segera meraih ponselnya dan menghapus obrolan di group.


"Emang seramnya kayak apa sampai Mbak En ikutan ketakutan juga. Minum dulu Mbak," ujar Vannya.


"I-iya Van. Kamu kan tau, aku tuh paling tidak bisa lihat film horor. Tapi tidah tau kenapa tadi aku malah penasaran sama filmnya,"


"Masih banyak Mbak?" tanya Vannya.


"Tidak, tinggal sedikit. Kamu udah selesai Van?" tanya balik Mbak Eni.


"Sama, tapi aku bosan. Makanya aku jalan-jalan kesini sekalian meregangkan otot," jawabnya.

__ADS_1


"Vannya udah tau berita ini belum ya?" batin Mbak Eni.


"Mbak En kenapa sih? Kenapa liatin aku kayak gitu?" ujar Vannya yang sadar sejak tadi Mbak Eni memperhatikannya tanpa berkedip.


"Mbak cuma senang aja liat kamu Van. Kelihatan lebih fresh setelah seminggu tidak berangkat," sahutnya kembali berbohong.


"Sepertinya dia belum tau kabar ini. Sebaiknya tidak perlu tau, aku takut dia akan kepikiran dan terjadi apa-apa dengan kandungannya," batin Mbak Eni.


________


Suasana di pusat perbelanjaan sudah mulai ramai. Dewi dan Rico mengelilingi lantai dua entah sudah berapa kali untuk mencari hadiah yang cocok untuk Madav. Satu persatu toko juga sudah mereka datangai untuk melihat berbagai macam bentuk mainan.


"Astaga ...! Kalau gini caranya sih, sampai besok juga kita gak bakalan bisa keluar dari sini Wi ...!" celetuk Rico.


"Hmm, habisnya aku bingung Ric. Aku takut apa yang aku beli tidak sesuai dengan keinginan Pak Vin, dan dia marah padaku karena beli mainan yang murahan," gumamnya dengan sedih.


"Mana ada Pak Vin marah? Tidak akan. Yaudah kita duduk dulu disini, istirahat. Kali aja nanti otakmu bsia sedikit bekerja dan tercetus sebuah hadiah yang cocok buat Madav," ajak Rico menarik tubuh Dewi untuk duduk di salah satu bangku panjang dekat pagar kaca.


"Ya, aku tau apa yang harus aku beli ...! ini pasti cocok," ujar Dewi segera berdiri dari duduknya.


"Perasaan baru duduk, udah jalan aja otaknya ...!" gumam Rico tak percaya.


"Bagaimana kalai minicooper Ric? Ya meski tidak terlalu mahal, setidaknya lumayanlah bisa buat mainan Madav. Anak laki-laki kan pasti suka sama mobil-mobilan," ujarnya.


"Bagus kok, tapi kan mereka naik pesawat Wi. Apa gak susah bawanya?" usul Rico.


"Iya juga sih ...! Tapi setauku, mereka bawa asisten. Kayaknya gak masalah deh," gumamnya.


"Ya udah terserah kamu saja Wi," jawabnya.


"Baiklah ...! Ayo kita kesana," ajak Dewi menarik tangan Rico.


Merwka memasuki sebuah toko mainan yang lumayan besar di dalam gedung pusat perbelanjaan. Setelah mencari warna dan dan bentuk dari deretan di hadapannya. Dewi memilih sebuah minicooper berwarna merah menyala



sumber : iprice.co.id


"Gimana Ric?" tanya Vannya meminta pendapat Rico.


"Bagus kok," jawabnya.

__ADS_1


"Okay, Mbak kita beli yang ini ya ...!" ujar Dewi.


"Baik Kak, silakan di tunggu ya," ucapnya dengan ramah.


__ADS_2