
Meski populasi pria dan wanita lebih sedikit, bukan berarti wanita bebas bermain sesuka hatinya mengganggu rumah tangga orang lain hingga menghancurkan komitmen pernikahan yang sudah di bangun mungkin cukup lama.
Lagian kenapa Aura tidak mencari pasangan lain saja? Mungkin ibunya takut Aura akan lebih fokus bekerja dan mengabaikan masalah percintaannya. Atau mungkin ... Ibunya sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu.
___________
"Hmm, sudah pagi ... Sayang bangun," ujar Vannya membangunkan Vin yang masih memeluknya dari belakang.
"Iya, mandilah dulu nanti aku menyusul ... ." jawabnya melepas pelukannya dan berbalik badan memeluk guling di belakang.
"Aaiishh? Menyusul dia bilang, apakah masih di dunia mimpi sekarang? Dasar," gumam Vannya segera turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi bergantian dengan Vin.
Setelah selesai mandi dan masih memakai kimono, Vannya membangunkan suaminya karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 6 pagi. Dengan sabar Vannya mengguncang tubuh suaminya yang semakin mengeratkan pelukannya pada benda empuk berbentuk lonjong.
"Kak, bangun ... ." ujar Vannya terus menggunjang tubuh suaminya.
"Iya Sayang. Ini sudah bangun," sahutnya dengan suara parau.
"Buka matamu, dan bangunlah. Ini sudah hampir jam 6, atau aku akan berangkat sendiri saja?" ujarnya kemudian.
"Huh!! Santailah, kalau Kak Chandra memarahimu karena terlambat. Re-sign saja," celetuknya tanpa merasa bersalah.
"Astaga! Lentur sekali mulutnya, ayo calon ayah dari bayi yang ada dalam perutku. Segeralah mandi, atau aku akan mual dan pusing setelah ini?" ujarnya.
"Okey! Maafkan aku," ucapnya memeluk isterinya dari belakang.
Vin segera pergi mandi, sementara itu Vannya bergegas menyiapkan pakaian untuk suaminya dan juga berhias memoles sedikit wajahnya dengan beberapa jenis make up yang dimilikinya.
Rambutnya di cepol dengan hiasan pernak pernik aksesoris rambut berbentuk mutiara. Setelah memastikan wajah dan rambut selesai di rapihkan, Vannya segera berganti pakaian untukna bekerja.
Ia memilih celana trouser dan t-shirt polos berwarna hitam di padukan dengan waist-length blazer berwarna putih senada dengan bawahannya. Tidak terlalu formal, lebih santai dan cocok untuk semua bentuk tubuh.
Tak lama kemudian, Vin keluar dari kamar mandi dengan mengalungkan handuk di lehernya dan rambut yang masih setengah basah.
"Bajunya udah aku siapkan," ujar Vannya yang masih duduk di depan meja hias sambil mengolesi bibirnya dengan lipcream.
"Makasih Sayang," sahutnya melenggang mendekati lemari dimana bajunya di tanggalkan pada gagang pintu lemari.
"Kamu tidak ada mual?" tanya Vin sambil memakai pakaiannya.
"Tidak," sahutnya cuek.
__ADS_1
"Tidak pusing?" tanyanya lagi memastikan.
"Tidak juga," sahutnya lagi.
"Tidak mau makan apa gitu?" ujarnya.
"Tidak sayang, nanti kalau aku minta sesuatu kamu bilang anak buat alasan padahal gak tau apa-apa," Celetuk Vannya sambil merapikan alat make-upnya.
"Pasti kalau udah lahir, dia mirip denganku. Tidak suka macam-macam, kalem, pintar dan ... .!"
"Dan aku iyakan aja biar suamiku bahagia, yuk ah kita turun," ajak Vannya menggandeng tangan suaminya.
Mereka segera turun untuk sarapan sebelum berangkat kerja. Satu gelas susu terhidang di atas meja untuk Vannya, diam-diam Vin membeli susu hamil dengan berbagai macam merk dan varian rasa yang ada karena dia tidak tau apa yang di sukai isterinya.
"Kamu membelinya?" tanya Vannya menoleh ke arah suaminya.
"Tentu saja, aku suami yang perhatian kan?" ujarnya.
"Hmm, makasih Sayang ...!" ucapnya dengan manis.
"Tapi ada tugas untukmu, list merk dan varian rasa yang mau kamu minum. Karena aku membeli semuanya," celetuk Vin.
"Apa?" Kedua matanya terbelalak dan segera berlaly ke dapur melihat banyaknya susu yang di beli suaminya.
"Baik Nyonya ...!" jawab Bi Minah.
Setelah itu Vannya kembali ke meja makan melanjutkan sarapannya. Pagi ini dia memilih untuk sarapan dengan sandwich sayur, karena nafsu makanna sedang kurang baik pagi ini. Setelah sarapan, mereka segera bergegas pergi ke kantor.
Sementara itu,
"Sayang, aku berangkat dulu ya ...!" pamit Chandra.
"Iya, hati-hati dijalan. Kabari kalau sudah sampai," ujarnya.
"Pasti Sayang, Cupp ...!"
"Mam, Pap ... berangkat dulu ya, titip Nana ...!" ucapnya dengan sopan.
"Iya Nak, hati-hati di jalan ya. Jangan kebut-kebutan, keselamatan nomor satu," ujarnya.
"Iya Mam," ucapnya.
__ADS_1
Chandra segera bergegas masuk ke mobil dan segera pergi meninggalkan rumahnya. Jalanan sudah mulai ramai, suara klakson saling bersahutan saat melewati pertigaan ataupun perempatan di area gang perumahan.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 30 menit, mobil mulai memasuki halaman Perusahaan. Chandra segera memarkirkan mobilnya di tempatnya, dan segera bergegas menuju ke ruang kerjanya.
Di sana sudah terlihat Vannya sedang memeriksa jadwal untuk hari ini juga berkas yang akan di bawa untuk pertemuan siang ini.
"Selamat pagi, Pak ...!" sapanya setelah menyadari kedatangan Chandra.
"Pagi Vannya, ah ya ... selamat ya atas kehamilanmu. Akhirnya kalian menyusul kami juga, dan itu berarti honeymoon kedua kalian gagal dong," ujar Chandra.
"Eh? iya juga sih, mungkin Tuhan tidak ingin saya libur lama-lama dan memang harus membantu Bapak disini," sahut Vannya.
"Tapi kalau kalian sudah merencanakan libur, tinggal bilang saja ke HRD ...!" ujarnya.
"Siap Pak, terimakasih ...!"
"Oh ya, untuk pertemuan siang nanti kamu tidak perlu ikut denganku. Karena setelah pertemuan aku ada janji sama seseorang," ucapnya berpesan.
"Hmm, baik Pak ...!"
Chandra segera berlalu masuk ke ruang kerjanya. Sudah tersedia secangkir kopi yang masih panas di atas meja, Chandra segera duduk dan menyalakan monitor di depannya.
Berkas di atas meja pun tertata dengan rapih, selain itu yang menarik perhatiannya adalah pot kecil di dekat jendela. Disana terdapat bunga seruni yang mekar dengan cantik dan beraroma wangi dan bisa menghilangkan stress karena pekerjaan yang menumpuk.
"*Hmm, tidak salah kamu jadi sekretaris Van. Selain kamu menyiapkan berkas untuk masalah pekerjaan, kamu juga menyiapkan obat untuk menghilangkan stress ...!" batin Chandra.
tring* ...!
Sebuah panggilan masuk dari pusat rehabilitasi dimana Erlina berada saat ini. Chandra segera mengangkatnya, karena khawatir ada masalah disana.
*Obrolan di telepon
"*Selamat pagi, Pak...! Maaf apakah kami mengganggu?" ujarnya dengan suara yang sedikit panik.
"Pagi, ada apa Pak?" tanya Chandra.
"Ada berita buruk yang harus kami sampaikan Pak ...!" ujarnya.
"Hmm, katakan saja Pak ...! ujarnya dengan bersikap tenang.
"Kami ingin mengabarkan, jika saat ini pasien atas nama Erlina ditemukan dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa di kamar mandi," ucapnya terbata-bata.
__ADS_1
"Bagaimana bisa? Apa yang terjadi Pak?" tanya Chandra seraya bangkit dari kursi berjalan mendekati jendela di sudut ruang kerjanya*.