
"Astaga ...! Kenapa Aura? Apa hubungannya Aura sama wanita seram itu?" gumam Dewi.
Dewi segera berlalu meninggalkan meja kerja dan menuju ruang kerja Aura untuk memanggilnya ke ruang kerja Pak Vin.
Tokk ... Tokk ...!
"Masuk ...!"
"Ra, kamu sedang sibuk?" tanya Dewi.
"Enggak Wi, masuk aja ...!" ujarnya dengan senyum ramahnya.
"Aku cuma sebentar ... kamu di panggil Pak Vin, katanya suruh kesana sekarang," ujar Dewi.
"Pak Vin memanggilku? Wah ...!" ucapnya.
"Hmm, yaudah aku lanjut lagi ya ...!" ujar Dewi pamit undur diri hendak memanggil Pak Revan dan Pak Haris.
Sementara itu Aura segera bebenah diri, berdiri di depan kaca kecil di ruang kerjanya. Bibirnya sedikit di poles dengan lipstik berwarna merah membuat bibirnya yang sensual semakin menawan dan menggoda iman.
"Hmm, baiklah ...! Aku datang Pak ..." ujarnya bersemangat.
Aura segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerjanya menuju ruang kerja Vin. Tak butuh banyak waktu ia sampai di depan ruang kerjanya, dan mengetuk pintu.
Tokk ... tokkk ... tokkk!
"Masuk Ra ...!" sahut Vin dari dalam.
"Astaga ...! Bahkan Pak Vin sudah mengenali suara ketukan pintu dariku," gumam Aura yang semakin berdebar.
"Masuklah, silakan duduk ...!" perintahnya menunjuk pada sofa samping wanita paruhbaya yang tak asing untuknya.
"Ke-kenapa Ibu disini? Astaga, dia bertindak sendiri tanpa bicara padaku lebih dulu," batin Aura yang berdiam diri mematung di depan pintu.
"Ra ... masuk. Ini Ibumu kan?" tanya Vin.
"Ba-baik Pak," jawab Aura segera menutup pintu dan duduk di sofa dekat dengan Ibunya.
Aura tak berani berkutik, selain diam dan menelan cairan salivanya yang sudah mengumpul bak danau di dalam mulutnya. Ia pun tak berani menoleh ke arah kiri karena ada Ibunya di sana.
"Baiklah, kita lanjutkan lagi ya. Tadi Tante bilang apa? Ah ya, aku ingat ... kepemilikan Perusahaan ini. Apakah Tante ada bukti yang menunjukkan jika Perusahaan ini sudah berpindah tangan ke Tante?" ujar Vin dengan tenang.
"Aku tidak mungkin mengatakan tanpa adanya buktim Aku berani kesini karena sudah ada bukti dalam genggamanku," ujarnya dengan sombong.
__ADS_1
"Sayang, tolong berikan ini padanya ...!" ujarnya dengan licik.
"I-ini Pak ...!" ucap Aura terbata.
"Aku gak tau apa yang akan terjadi setelah ini, tapi kau harap Pak Vin gak akan menjebloskan aku ke penjara. Aku cuma menjalankan perintah Ibu," batinnya dengan cemas.
Sementara itu,
Tokk ... tokk ...!
"Masuk ...!" sahutnya.
"Maaf Pak, apakah saya mengganggu?" tanya Dewi dengan sopan.
"Tidak. Masuklah ...! Silakan duduk ...!" ujarnya dengan penuh wibawa.
"Terimakasih, Pak ...!" Dewi segera menutup pintu dan bergegas duduk di kursi depan Pak Revan.
"Ada yang bisa saya bantu? Tida biasanya sekretaria Pak Vin datang kesini," ujarnya dengan ramah.
Wajah yang sudah tidak muda masih terlihat ketampanan semasa mudanya dulu. Meski kerutan sudah tak terhitung berapa jumlahnya, namun senyum dan keramahannya selalu di segani oleh para pegawai di Ardhana Group.
"Maaf Pak, kalau kedatangan saya mengganguu. Saya kesini bukan di suruh Pak Vin, melainkan keingin saya sendiri," ucapnya mulai menjelaskan.
"Jadi ... gini Pak. Saat ini Pak Vin sedang kedatangan tamu yang tidak ada janji temu sebelumnya. Saat saya sedang memberitahukannya kepada Pak Vin, ternyata tamu itu sudah berada di depan pintu,"
"Dan malah Pak Vin menyuruhnya duduk," imbuhnya lagi.
"Siapa tamunya? Apa salah satu klien yang bersiang dengan Pak Vin?" tanya Pak Revan masih bersikap tenang.
"Saya sendiri tidak tau siapa dia, tapi saat OB keluar setelah mengantar minuman ke ruang kerja Pak Vin. Dia bilang kalau yang di dalam adalah musuh Pak Rendy dulunya, makanya saya kesini ingin meminta Bapak untuk membantu Pak Vin. Karena saya takut akan terjadi apa-apa," ujarnya mulai menceritakan.
"Musuh? Setau saya Pak Rendy tidak memiliki musuh, kecuali mereka sendiri yang menganggap Rendy adapah musuhnya," sahut Pak Revan.
"Kalau boleh tau, tamunya laki-laki atau perempuan?" tanya Pak Revan.
"Wanita berusia sekitar 50an tahun Pak, jika di lihat dari raut wajahnya ...!" jawabnya.
"Hmm, kalau begitu ayo kita kesana. Saya jadi penasaran siapa tamu yang datang ...!" ujar Pak Revan.
"Syukurlah Pak Revan bersedia untuk datang ke sana. Maaf Pak Vin hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu Bapak," batin Dewi.
"Hmm, silakan Pak," ucap Dewi yang sudah membukakan pintu untuk Pak Revan.
__ADS_1
"Van ...! Mau kemana?" panggil pria berkacamata.
"Ris ...! Aku mau ke ruang kerja Pak Vin. Katanya ada tamu yang aneh, ayo kita kesana ...!" ajak Pak Revan pada Pak Haris.
"Tamu aneh? Ada-ada saja.Baiklah kau ikut, jadi penasaran siapa tamunya," gumam Pak Haris.
"Sekali mendayung dua pulau terlampaui ... Akhirnya Pak Haris ikut juga," senyum mengembang di wajah Dewi yang chubby.
Mereka segera bergegas menuju lantai 6 untuk melihat siapa tamu yang datang. Dan ada perlu apa menemui Vin tanpa sehingga memaksa untuk bertemu tanpa membuat janji lebih dulu.
*Di Sisi Lain ...
"Cepat sekali mereka bergerak. Padahal ini baru kemarin kan," Batinnya saat melihat selembar kwrtas yang terdapat tanda tangan disana*.
"Hmmm, ah yang ini ... Wah benar ada tanda tanganku. Tapi, kapan aku menandatanganinya ya?" ujar Vin pura-pura lupa dan tidak tau tentang selembar kertas yang kemarin ia tak sengaja melihatnya.
"Tidak perlu kamu tau kapan kamu menandatangani itu, yang pasti disitu terlihat dengan jelas tanda tanganmu di atas materai," ujar Nyonya Erika dengan ketus.
"Astaga ...! Sepertinya aku melakukan kesalahan ...!" gumam Vin.
"Apa yang salah Vin?" tanya Pak Revan yang sudah berdiri di ambang pintu bersama Pak Haris di belakangnya.
"Papah? Kalian ada disini?" celetuk Vin melihat ke arah pintu.
"Boleh kami masuk?" tanyanya.
"Silakan Pah ...!" ujar Vin berdiri memberika tempat untuk Pak Revan juga Pak Haris.
"E-Erika? Ada apa disini?" tanya Pak Revan terkejut.
"Aku hanya ingin mengambil apa yang sudah emnjadi hakku," sahutnya tanpa menoleh ke arah Pak Revan seolah enggan untuk melihat wajahnya.
"Hak? Hak apa? Sepertinya kamu salah tempat Er. Disini tidak ada lagi kerja sama dengan mendiang Om Harun," sahut Pak Haris.
"Tunjukkan kertas yang tadi kau pegang," suruh Nyonya Erika pada Vin tanpa menyebut namanya.
"Ini Pah," Vin segera menunjukkan selembar kertas di tangannya.
Pak Revan dan Pak Haris melihat secara bersamaan. Sesekali mereka saling bertatap muka seorang berbincang dengan bahasa isyarat dan kembali melihat ke arah kertas.
"Aku tidak salah kan? Menantumu yang bo*oh ini sudah menyutujuinya," ujarnya.
"Hmm, Aku sudah lihat. Tapi sepertinya bukan Vin yang bo*oh, melainkan kamu ...!" sahut Pak Revan melirik ke arah Vin yang masih bersikap tenang seolah sedang tidak terjadi apa-apa di ruang kerjanya.
__ADS_1