
"Iya Bu, silakan tanda tangani surat tanda terimanya ya Bu," ucapnya dengan ramah.
"Hmm, baiklah ...!"
Setelah kurir pergi meninggalkan meja kerjanya, pintu sudah kembali tertutup dengan rapat. Vannya segera meraih kotak kecil di bawah buket bunga. Tidak ada namanya disana, Vannya segera membuka kotak kecil itu.
_________________
"Dari siapa Van?" tanya Pak Chandra.
"Gak tau Kak, ini juga baru aku lihat ...!" jawabnya.
"Mungkin dari Vin," sahutnya.
"Hmm, tidak tau nih. Kakak mau kemana?" tanya Vannya.
"Aku mau ke luar sebentar, kamu mau titip?" tanya Pak Chandra.
"Gak Kak, keluarnya mau lama atau sebentar? Kali aja nanti ada yang tanya," ujarnya.
"Hanya sebentar. Kalau ada apa-apa segera kabari aja ya, kamu jangan lupa makan siang ...!" ucapnya.
"Hmm, iya Kak. Hati-hati di jalan,"
Pak Chandra segera pergi meninggalkan ruang kerjanya. Sedangkan Vannya melanjutkan untuk unboxing apa yang baru saja di terimanya. Perlahan tangannya melepas pita kecil yang terikat di luae box.
"Astaga ...! Apa ini? Apa benar ini dari suamiku?" gumamnya.
"Baiklah, aku telepon aja buat mastiin. Tapi ... kalau bukan dia, yang ada nanti salah paham ... huh!" gumamnya berkata pada dirinya sendiri.
Tring ...!
Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak di kenal. Namun Vannya tau siapa pemilik nomor itu, dilihat dari 4 digit angka belakangnya.
*Obrolan di Telepon
"Ada apa Ham?" tanya Vannya ketus.
"Hallo Van, apa aku mengganggumu?" tanyanya.
"Tentu saja, ini kan jam kerja ...!" sahutnya ketus.
"Hmm, maaf ya aku sudah mengganggu," jawabnya.
"Ada perlu apa? Cepat katakan, pekerjaanku masih banyak ...!" ujar Vannya mencari alasan.
"Oh ya, aku cuma mau tanya. Apa barang yang aku kirimkan sudah sampai?" tanyanya.
"Oh jadi kamu pengirimnya. Makasih ya Ham, tapi maaf kau gak bisa nerima barang darimu. Aku harus emnajga perasaan suamiku," jawabnya memberikan pengertian pada Ilham.
__ADS_1
"Kamu menghargai perasaan suamimu, tap membuat orang lain kecewa?" ucapnya.
"Astaga ...! Lagian aku gak nyuruh kamu buat ngasih ini ke aku Ham. Berikan aja ke cewek lain," ujar Vannya.
"Hehh! Ternyata bukan cuma status kamu yang berubah Van ...! Tapi sikap kamu, angkuh sekali ...!" ujarnya dengan sedikit kesal.
"Bulan gitu maksudku. Tapi maaf sekali Ham, aku cuma gak mau ada salah paham antara aku dan suamiku. Apalagi sekarang aku sedang hamil," Vannya segera menutup teleponnya.
"Kamu kenapa Van?" tanya Mbak Eni yang sudah berdiri di pintu.
"Eh Mbak, udah lama disitu?" tanya Vannya.
"Belum kok, aku cuma mau antar ini untukmu. Buat teman kamu kerja," ujarnya seraya berjalan mendekat.
"Apa itu? Wah enak sekali sepertinya,"
"Salad buah dan susu hangat, ibu hamil kan cepat sekali merasa lapar ...!"
"Hehe, Mba En baik banget sama aku. Makasih ya Mbak," ujarnya.
"Iya Van. Sweet sekali suami kamu Van, padahal tadi pagi baru aja ketemu, sekarang malah kirim bunga ...!" celetuknya.
"Ini bukan dari suamiku Mbak, tapi teman SMP ku. Aku udah menolaknya, tapi malah dia bilang aku angkuh. Padahal aku cuma gak mau ada masalah dalam keluarga kecilku," ucap Vannya.
"Sabar Van. Apa yang kamu katakan udah benar kok. Dia aja yang gak sopan, main ganggu aja ...!" sahut Mbak Eni.
"Hmm, gak usah di pikirin. Kamu jangan sampai stress ya. Oh ya, ini mau dibuang atau gimana? Biar aku bantu," ucapnya.
"Iya Mbak, tapi ini gimana? Buat Mbak aja deh, dia udah ngasih buat aku. Dan aku berhak dong ngasih ini ke Mbak," ujarnya menyerahkan kotak kecil berwarna berwarna hitam.
"Eh? Ini mahal Van, aku gak berani ah ...!"
"Yaudah, kalau Mbak gak mau. Sekalian buang aja Mbak," celetuknya.
"Haih! Sayang juga kalau di buang. Yaudah aku simpan deh, kalau dia minta buat kembaliin barang yang uda dia kasih ini ... kamu kabari aku ya,"
"Okay Mbak ...!" jawab Vannya dengan cepat.
"Ya udah, aku balik dulu ke ruanganku. Semangat kerjanya ya Van,"
"Iya Mbak, ngomong-ngomong ini makasih loh ya ...!" ujarnya lagi.
"Hmm, sama-sama ...!" sahutnya seraya pergi meninggalkan Vannya sendirian di meja kerjanya.
Vannya segera meneguk susu hangat, setelah berbincang dengan Ilham lewat telepon membuat suasana hatinya tidak baik dan merasa haus.
Sementara itu,
Tokk ... tokk ...!
__ADS_1
"Masuk ...!" sahutnya dengan lantang.
Cklekk ...!
"Pagi Pak ...!" sapa Aura mengintip dari balik pintu yang baru terbuka sedikit.
"Oh, kamu Ra ... silakan masuk," ujarnya segera memutar kursi yang ia duduki menghadap ke meja kerja.
"Maaf Pak kalau saya mengganggu," uajrnya berbasa-basi.
"Tidak, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vin.
"Hmm iya Pak, soal Ibu saya ...!" jawabnya mencari alasan untuk berbohong.
"Ayo duduk dulu," perintahnya.
"Makasih Pak,"
"Hmm ... gimana? Apa Ibumu minta sesuatu lagi?" tanya Vin.
"I-iya Pak. Dalam waktu dekat ini, Ibu minta saya buat ajak Bapak makan malam. Makanya saya langsung kesini untuk menemui Bapak selagi saya ingat," ucapnya.
"Makan malam? Dalam rangka?" tanya Vin.
"Ibu saya ulangtahun Pak," jawabnya.
"Hmm, bukankah Ibu kamu di Kalimantan?" tanya Vin lagi-lagi pura-pura tidak tau jika Ibu tirinya sudah meninggal.
"Hmm, I-iya Pak, tapi katanya aka di usahakan ke Ibukota dalam waktu dekat ini ...!" Ujarnya dengam gugup mencari alasan yang bisa membuat Pak Vin percaya dan tidak curiga.
"Ah bagitu ... Akan aku usahakan juga ya,"
"Hmm, iya Pak ...! Oh ya, bagaimana kabar Ibu Vannya Pak? Sudah lama saya tidak bertemu dengannya," tanyanya berbasa-basi.
"Kabarnya baik, cuma sedang sedikit sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi sekarang jadi sekretaris Kak Chandra," Ujarnya.
"Hmm, hebat sekali ya Bu Vannya. Pantas saja Bapak tergila-gila padanya ... atau malah sebaliknya,"
"Ya isteriku memang hebat Ra. Tidak ada wanita yang bisa menyamainya," ujarnya sengaja memuji isterinya di depan Aura untuk melihat ekspresi wajahnya.
"Hmm, dan sebentar lagi kata-kata itu tidak akan berlaku lagi untuknya Pak. Akulah yang akan menggantikannnya," batin Aura.
"Hmm Bapak benar," sahutnya tersenyum masam.
"Oh ya Pak, untuk kerjasama dengan Madava Furniture bagaimana? Kabarnya mereka akan mengadakan pertemuan dengan para investornya. Kemungkinan besar, mereka juga akan mengundang Bapak," ucap Aura mengubah posisi duduknya dengan sedikit membusungkan bagian dadanya.
"Begitukah? Kabari saya saja jika akan diadakan pertemuan ya. Saya pasti datang ingin mengenal lebih dekat klien terbaik *Ardhana Group,"
"Hmm, kamu sednag berusaha menggodaku ya? Tubuhmu memang menarik, tapi sayangnya mataku sudah terkunci oleh pesona isteriku," batin Vin melempar pandangan ke kaca di sudut ruang kerjanya*.
__ADS_1