
"Aku mau tanya Auraku, aku ingin tau kondisinya. Kamu tau kan Wi?" tanya Rico.
"Auraku? sejak kapan kamu sama dia jadian?" tanya Dewi bingung.
"Jadian? Belum sih, tapi aku dan dia udah semakin dekat. Dan aku yakin suatu saat Auraku akan jadi milikku," ujarnya dengan yakin.
"Astaga ...! Seyakin itu kamu sama dia," celetuknya.
"Tentu saja Wi. Eum, kamu belum jawab pertanyaanku," ujarnya.
"Ah ya, aku hampir lupa. Aku tidak tau pastinya, tapi kaa Pak Vin Aura kehilangan salah satu kakinya. Dan Ibunya meninggal dalam keadaan yang cukup mengenaskan," ujar Dewi menjelaskan apa yang dia dengarkan dari Pak Vin.
_______________
"Astaga ...! Kasihan sekali Auraku, pasti sekarang dia lagi kesakitan dan sedih," gumamnya merasa kasihan pada Aura.
"Ya Ric. Kasihan sekali dia, tapi kita bisa apa. Dia harus menanggang akibat dari perbuatan Ibunya yang licik," ujar Dewi.
"Kalau kamu serius sama dia. Aku cuma minta, kamu harus bisa bimbing dia jadi pribadi yang lebih baik lagi ya Ric," imbuhnya dengan serius.
"Astaga ...! Kamu serius sekali ngomongnya," celetuk Rico.
"Aiihh ...! Lalu aku harus apa?" sahutnya kesal.
Dewi kembali meneguk kopi dalam gelas di genggaman tangannya. Sementara itu, Rico lebih banyak diam setelah mendengar pesan dari Dewi. Bukannya dia tidak senang, melainkan sedikt ragu saat ini.
Rico takut, dia tidak bisa membahagian Aura. Apalagi saat ini pasti jiwanya sedang terguncang, akan lebih sulit untuknya mendekati Aura.
"Kamu kenapa?" tanya Dewi.
"Eh? Tidak, yaudah aku kembali ke mejaku ya Wi ...! Thank's buat infonya," ujar Rico.
"Hmm, sama-sama Ric ...!" jawab Dewi..
..."Kalau kamu mencintainya, semoga kamu bisa mendapatkan hatinya Ric. Aku yakin kamu akan bisa membahagiakan Aura," batin Dewi yang tiba-tiba merasa seperti ada ketakutan dalam dirinya....
Di sisi lain ....
__ADS_1
"Sayang, makan dulu. Sejak semalam kamu belum makan kan?" ujarnya dengan sabar.
"Aku tidak lapar," sahutnya ketus.
"Makanlah, meski hanya sedikit ...!" ujarnya tak menyerah.
"Aku tidak lapar," sahutnya lagi.
"Hm, ya sudah. Kalau kamu lapar panggil Ayah ya. Ayah keluar sebentar," ucapnya mengusap kepala Aura dengan lembut.
Pak Ruli segera keluar dari ruangan sempit berisi satu bed pasien. Dia memilih untuk duduk di ujung lorong yang sedikit jauh dari orang, disana ia menumpahkan rasa sedihnya melihat putri semata wayangnya seperti sekarang ini.
...RULI POV...
Kenapa harus anakku yang menerima akibat dari apa yang sudah Erika perbuat? Apa belum cukup engkau mengambil nyawa Erika? Kenapa tidak kakiku saja yang engkau ambil.
Dia masih sangat kecil, masa depannya masih panjang. Aku tidak becus mengurus keluargaku, dulu aku merasa gagal menjadi suami dari wanita yang tak pernah sekalipun menghormati aku sebagai seorang suami, dan sekarang aku merasa gagal menjadi Ayah untuk putri semata wayangku.
Berikan dia kekuatan dan hati seluas samudera. Agar dia bisa dengan ikhlas menerima kondisinya saat ini. Bsa dengan ikhlas menjalani kehidupannya yang baru dari sebelumnya.
...AURA POV...
Untuk apa aku hidup? Kenapa aku harus hidup? Apa siksaanku belum cukup untuk-Mu? Sampai kapan aku masih harus bertahan di dunia yang fana ini? Bagaimana dengan Arsenku? Bagaimana dengan Pak Vinku?
Saat fisikku masih sempurna saja, mereka tidak tertarik padaku. Apalagi sekarang? Tidak ada lagi pria yang mau melirikku, aku benci dengan diriku sendiri. Aku benci dengan apa yang ada di dalam diriku.
Tidak ada lagi harapan untukku hidup, semua sudah lenyap dalam hitungan menit. Lalu apa lagi yang harus aku banggakan dari kehidupanku yang sudah tak berguna ini?
Tuhan tidak pernah adil kepadaku, sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang tulus dari Ibu kandungku. Saat aku sudah mendapatkan kasih sayang dari Ibu Mayang, Engkau mengambilnya dengan tiba-tiba.
Lalu, saat sekarang aku sudah hampir mendapatkan apa yang aku inginkan. Engkau ambil kaki sebelahku dan menyulitkanku untuk menjalankan apa yang sudah aku rencanakan.
Kenapa tidak Engkau ambil sekalian nyawaku? Kenapa?
_____________
"Selamat pagi, Pak Ruli ...!" sapanya dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak ...!" jawabnya seraya berdiri dari duduknya.
Dua anggota polisi berdiri tegap dengan atribut lengkap di pakaiannya. Mereka menyunggingkan senyum ramah padanya, Pak Ruli tau maksud tujuan kedatangan mereka. Tanpa menunggu lama, Pa Ruli segera membawa mereka untuk masuk ke ruang perawatan Aura.
Di sisi lain ....
Dua Pria berbadan tegap baru saja keluar dari mobil dinas. Area parkiran tampak penuh, tersera beberapa tempat untuk mobil dan kendaraan lain disana. Setelah mengambil berkas di jok belakang mereka melanjutkan perjalanan untuk menemui seorang korban dari kejadian tabrak lari kemarin siang di Jalan Kamboja.
Beberapa petuga medis yang berpapasan dengannya segera menganggukkan kepalanya dan melempar senyum di wajahnya. Begitupun dengan orang-orang yang tak sengaja berpapasan.
Setelah melewati beberapa lorong, dua tangga dan beberpaa belokan. Sampailah mereka pada sebuah ruangan ber-plang ICU. Dari pintu lorong mereka sudah bisa melihat salah satu keluara dari pasien tersebut.
"Selamat Pagi," sapanya setelah sampai di ujung lorong dimana mereka berada saat ini.
"Selamat Pagi, Pak ...! Silakan duduk ...!" ujar Mamah Maya dengan ramah.
"Terimakasih Bu, maaf kalau kedatangan kami mengganggu," ucapnya dengan sopan dan jelas.
"Tidak sama sekali Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya Mamah Maya lagi.
"Sebelumnya kami minta maaf, jika baru datang pagi ini. Kedatangan kami kesini tidak lain adalah untuk melihat kondisi dari Pak Randy, korban tabrak kari dari mendiang Nyonya Erika," ujarnya menjelaskan maksud dari kedatangannya.
"Oh, silakan Pak ...! Tapi maaf sekali, kalau tanya bagaimana kejadiannya. Kami kurang paham, karena kami tidak melihat secara langsung kejadian itu ...!" ucapnya.
"Iya Bu. Kebetulan kami sudah mendapatkan informasi dari Pak Chandra dna warga sekitar di lokasi kejadian," sahutnya.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Semoga masalah ini cepat selesai dan pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal,"
"Erika sudah tidak ada May, kita tidak bisa menghukumnya," isaknya.
"Astaga ...! Maaf aku tidak tau Kin," ujar Mamah Maya yang benar-benar tidak tau.
"Nyonya Erika dan sopir meninggal di tempat, tapi putri dari Nyonya Erika selamat dan saat ini di rawat di Rumah Sakit dekat sini," ujarnya.
"Kalau begitu hukum saja putrinya. Pasti buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," celetuk Mamah Maya dengan kesal.
"Kami masih mendalami kasus ini Bu. Dan hari ini tim kami juga mendatangi Nona Aura untuk mendapat informasi dari pihak sana,"
__ADS_1
"Semoga hukum bisa ditegakkan Pak ...! Jangan sampai yang bersalah bisa bebas berkeliaran,"