Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Rencana gagal


__ADS_3

"Kenapa tidak ada penonton lain? Apa mereka tidak jadi masuk karena film yang di putar tidak sesuai dengan judul yang tertera pada tiket?" batin Chandra berhenti sejenak memandangi seisi gedung yang tampak kosong.


DUGG!!


"Awwhh! Kenapa berhenti Chan? Ada apa?" tanya Erlina.


"Kenapa cuma kita yang menonton?" celetuk Chandra masih bingung.


_______________


"Benarkah? Oh iya, kenapa bisa gitu ya?" ujarnya berpura-pura.


"Chan, aku ke toilet dulu ya," imbuhnya.


"Hmm, aku tunggu disana," ujarnya menunjuk bangku panjang.


"Iya," sahutnya segera berlalu menjauhi Chandra.


Chandra duduk di bangku yang kebetulan kosong, ia segera mengecek ponselnya yang tadi ia matikan takut isterinya akan mnghubunginya dan dia tidak bisa mengelak lagi.


Benar saja, 5 panggilan tak terjawab dari sang isteri. Chandra memijit kecil keningnya yang tidak sakit, dia segera mengirimkan sebuah pesan untuknya supaya tidak mengkhawatirkannya.


• Sayang! Maaf, aku ada pertemuan dadakan dengan klien. Aku akan segera pulang, aku mencintaimu ... .


Samar-samar terdengar suara obrolan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Chandra mengenali salah satu suara tersebut. Karena penasaran dengan siapa dia berbincang, Chandra berjalan mendekatinya untuk memastikan.


"Dia bicara dengan siapa? Bukankah katanya dia tidak ada teman di sini?" batinnya seraya berjalan tanpa bersuara sedikitpun.


Terlihat Erlina sedang bersandar pada dinding dekat toilet bersama dua rekan wanita. Suaranya tidak terdengar dengan jelas, Chandra terus berjalan mendekat dan berhati-hati supaya mereka tidak tau ada dia di dekatnya.


*Perbincangan Erlina dengan temannya*


"Terimakasih sudah membantuku, meski tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Setidaknya aku bisa bersamanya tanpa ada yang mengganggu,"


"Ini upah untuk kalian," menyodorkan amplop coklat mungkin isinya adalah uang.


"Thank's Er, senang bisa membantumu. Kalau perlu apa-apa hubungi kami saja. Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan," sahutnya menerima amplop tersebut.


"Untuk saat ini jangan sampai gegabah, aku tidak mau dia ilfeel padaku dan membenciku. Next time aku pasti akan menghubungi kalian," ujarnya.


Disisi lain,


"Apa maksudnya? Apa yang sedang mereka bicarakan? Apakah ini ada hubungannya dengan bioskop yang kosong tadi? Sebaiknya aku cari petugasnya dulu," ujar Chandra bergegas pergi mencari pekerja yang dia maksud.


Sesampainya di tempat petugas/orang di balik layar bioskop, ia segera duduk di kursi kosong meski belum persilakan. Mereka diam, dan tau siapa yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


"Apa yang terjadi hari ini?" tanyanya dengan tenang.


"Ma-maksud Bapak?" jawabnya dengan gugup.


"Siapa mereka?" tanyanya memperlihatkan sebuah foto yang baru diambilnya tadi.


"Sa-ya tidak kenal dengan mereka, tapi mereka yang sudah menyewa gedung bioskop untuk satu jam," ujarnya berkata jujur.


"Lalu apa yang mereka lakukan?"


"Mereka memutar film yang mereka bawa sendiri,"


"Berapa uang yang kalian terima dari mereka?" tanyanya lagi.


"5 juta Pak!"


"Masukkan nomor rekeningmu," menyodorkan ponselnya.


"U-untuk apa Pak?" tanyanya sedikit takut.


"Apa kau tak mendengarku?"


Dia segera mengetik nomor rekening pada ponselnya dan kembali menyerahkan ponsel pada Chandra. Dengan cepat Chandra juga mengetik pada layar ponselnya dan tak berapa lama kemudian ponsel orang di depannya berdering,"


"Itu upahmu, sekarang yang perlu kalian lakukan adalah berikan perhitungan pada dua wanita itu,"


"Kau diam saat mereka menyuruhmu, tapi kau menolak perintahku? Apa kau sudah bosan hidup?" ujar Chandra padanya.


"Ti-tidak Pak! Maafkan kami, ka-kami akan melakukan tugas sesuai perintah Bapak. Terimakasih untuk upahnya Pak," ucapnya dengan badan gemetar.


Tanpa menjawab Chandra segera pergi meninggalkan ruangan kecil di balik layar monitor. Sebelum kembali ke tempat pertemuan dengan Erlina, Chandra menghubungi anak buahnya untuk melakukan tugas yang dia berikan.


"Lakukan tugas kalian. Sebentar lagi kami akan turun," ujarnya.


"Baik, Pak!" jawabnya dengan tegas.


Chandra segera menuju bangku panjang dimana Erlina sudah menunggunya disana. Dengan tenang seolah dia tidak tau apa-apa segera mendekati Erlina dan mengajaknya segera pergi dari Mall.


"Chan, kamu dari mana saja?" tanya Erlina dengan manja.


"Maaf, barusan anak buah menghubungiku. Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Aku sedikit lelah hari ini," ujar Chandra.


"Hmm, baiklah. Kamu tidak mau makan dulu?" tanyanya.


"Tidak, aku masih kenyang," jawabnya.

__ADS_1


"Okey, ayo kita pulang," merangkul lengan Chandra.


"Jangan bilang kita lewat tangga itu lagi Chan," batin Erlina.


"Kita lewat sana saja, moodku sedang baik hari ini,"


"Huh! Syukurlah ... setidaknya aku tidak perlu lagi melewati anak tangga sialan itu," batinnya merasa lega.


Tanpa melirik kanan kiri, Chandra terus berjalan melewati lantai dua dan lantai satu dengan cepat. Tak perduli dengan Erlina yang kewalahan harus mengimbangi langkah kakinya.


Basemant tampak sepi, mobil hanya tinggal beberapa disana. Kebetulan mobil Chandra terparkir di area paling belakang dan tidak ada mobil lain di dekat tempatnya memarkirkan mobilnya saat ini.


Ketika Erlina hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba beberapa pria dengan masker kain berwarna hitam menarik tubuh Erlina. Spontan Erlina berteriak, tapi mulutnya langsung di bungkam dengan tangan mereka yang sudah memakai sarung tangan.


"C-chan," teriak Erlina ketakutan dan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pria tak di kenal.


"Kalian bawa wanita ini jauh-jauh, jangan sampai dia masih berani menampakkan wajahnya di depanku," ucap Chandra dengan suara dingin.


Erlina terperanjat, dia tak menyangka jika pria bermasker kain hitam itu adalah anak buah Chandra. Dengan susah payah, Erlina berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan pria tersebut.


"Chan, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Erlina tersengal.


"Harusnya kamu tau kenapa aku melakukan ini Erlina, aku tidak mungkin bertindak kalau tidak ada yang memulainya lebih dulu,"


Degg!


"A-apa Chandra sudah tau?" batin Erlina dengan panik.


"Ya, aku sudah tau. Aku mendengar perbincangan kalian," ujar Chandra seolah tau apa yang di ucapak Erlina dalam hatinya.


Erlina tak sanggup lagi berkata apa-apa. Dia tau Chandra tidak mudah di rayu jika ada yang melakukan kesalahan padanya. Badan Erlina lemas, seakan tulangnya melunak begitu saja.


Chandra segera masuk ke dalam mobil dan bergeas pergi meninggalkan Erlina bersama anak buahnya disana. Yang ada dalam kepalanya sekarang adalah isterinya yang sudah menunggu di rumah.


Tapi sebelum pulang dia memesan makanan cepat saji untuknya. Dia tidak mungkin pulang dalam kondisi lapar, yang ada isterinya akan curiga karena sebelumnya dia bilang makan malam di luar.


Di Tempat lain,


"Mah, Pah ... kami pamit dulu ya," ucap Vannya pada kedua orangtuanya.


"Kenapa tidak menginap saja sih?" ujar Mamah.


"Iya Mah, lain waktu lagi ya. Aku udah janjian sama Kak Nana mau ketemu di rumah Mami," jawab Vannya.


"Oh gitu, yaudah deh gak apa-apa. Salam ya buat yang lainnya," ucap Mamah.

__ADS_1


"Iya Mah, kita pulang dulu ya. Mamah, Papah sama Kakak jaga kesehatan," ucapnya memeluk Mamah dan Papahnya secara bergantian.


__ADS_2