
"Baik Dok, terimakasih ya ...!" ujar Mbak Eni.
Setelah Dokter pergi, Mbak Eni dan Chandra sehera masuk untuk melihat kondisi Vannya saat ini. Dan mereka di sambut dengan senyum manis Vannya yang mengembang menghiasi wajah cantiknya.
"Astaga Van ...! Kamu udah sehat? Kamu bikin Mbak panik tau ...!" celetuk Mbak Eni.
"Aku udah baikan Mbak, makasih ya Mbak ... Kak Chandra ...!" ujar Vannya.
"Sama-sama Van, maaf ya karena aku pergi jadi kamu seperti ini," ujar Chandra merasa bersalah.
"Tidak apa Kak, ini bukan salah Kakak ...!" jawab Vannya.
"Memang apa yang terjadi sih?" batin Mbak Eni masih penasaran.
__________
Tokk ... tokk ...!
Saat mengetahui kedatangan Vin, Chandra segera keluar dan menceritakan apa yang terjadi pad Vin.
"Ada apa Kak? Apa yang terjadi?" tanya Vin cemas.
"Aku tidak tau siapa pria itu, yang pasti saat ini security sudah membawanya ke kantor polisi. Dia hampir menodai Vannya," ujarnya.
"A-apa? Bagaimana bisa?"
"Entahlah, aku minta maaf ya Vin tidak bisa menjaga Vannya dengan baik. Maaf aku hari ini pergi keluar jadi tidak bisa menolongnya sejak awal. Tapi janin dalam kandungannya tidak apa-apa, itu karena dia stress dan terbanting di atas sofa," ucapnya.
"Ini bukan salah Kak Chandra, tapi bajingan itu. Aku akan mencari tau siapa dia ... aku akan menghajarnya ...!" ucap Vin dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Tunggu dulu ...! Temui dulu isterimu, apa kamu tidak ingin melihatnya?" ujar Chandra.
"Nanti saja Kak," ucap Vin segera berlalu pergu meninggalkan ruang tindakan di bagian IGD.
"Semoga saja kamu tidak bertindak bodoh disana Vin, aku memberitahumu sekarang supaya kamu tau apa yang terjadi pada isterimu," gumam Chandra.
"Pak Vin pergi lagi?" gumam Mbak Eni.
"Ya, mungkin mau melihat siapa pelakunya ...!" jawab Chandra.
"Maaf Pak, kalau boleh tau ... ada apa sebenarnya? Siapa pria di ruangan itu?" tanya Mbak Eni.
__ADS_1
"Aku tidak tau dia siapa, yang jelas dia bukan pria yang baik. Dia hampir saja melakukan tindakan cabul terhadap Vannya, mungkin kalau aku datang terlambat sedikit saja dia sudah melakukan hal keji itu," ucap Chandra.
"Astaga ...! Andai saja, saya ke ruang kerja Vannya lebih cepat. Mungkin kejadian ini tidak akan ada," ujar Mbak Eni.
"Hmm, yang terpenting sekarang Vannya sudah aman. Dan janin yang ada di dalam kandungannya bisa di selamatkan, apakah dia tidur?" tanya Chandra.
"Hmm, mungkin Vannya kelelahan ...!" jawab Mbak Eni.
"Baiklah, aku titip Vannya dulu. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Sepertinya aku harus menyusul Vin sebelum terjadi keributan disana," ujarnya.
"Baik, Pak ...! Hati-hati," ucap Mbak Eni.
Mbak Eni kembali masuk duduk di kursi kayu samping bed. Wajah Vannya masih terlihat pucat, keringat dingin keluar membasahi tubuhnya yang masih terlelap. Mbak Eni dengan perlahan menghapus keringat dengan tissue di meja samping.
...MBAK ENI POV...
Ada-ada saja kejadian yang terjadi hari ini, kenapa harus Vannya mengalaminya? Ada masalah apa pria itu dengan Vannya? Rasanya tidak mungkin sekali kalau Vannya menipu atau menyakiti orang lain.
Wajah yang biasanya selalu berseri, senyum mengembang di wajahnya. Sekarang tidak terlihat lagi, wajahnya pucat, tatapan ketakutan lebih mendominasinya sekarang. Semoga saja setelah ini, sneyum itu kembali terlihat.
Van, kamu harus kuat. Mbak disini untukmu, Pak Vin dan Pak Chandra sedang menemui pria itu. Mereka akan memberikan pelajaran yang pantas dia dapatkan. Kamu tenanglah ...!
Maaf ya Van, Mbak tidak tau kalau kamu sedang dalam situasi yang urgent. Tadinya Mbak mau ke tempatnya lebih cepat, tapi mendadak dari divisi lain meminta Mbak untuk mengirimkan form saat itu juga.
...VIN POV...
Siapa yang sudah berbuat cabul pada isteriku? Apa dia tidak tau dia adalah isteriku? Jangan harap nyawamu masih bisa tinggal di tubuhmu setelah ini. Aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuh isteriku bahkan sehelai rambutpun.
Penjara tidak pantas untuknya, hukum sosial lebih pantas untuknya. Sayang, tenanglah ...! Aku akan membuatnya menyesal karena sudah mengganggumu. Kalau perlu aku akan membuat psikisnya terganggu, entah apapun jabatan yang dimilikinya saat ini.
_____
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, tak perduli beberapa mobil menyalakan klakson padanya karena mobil yang ugal-ugalan. Emosinya telah memuncak, tak ada yang mampu meredamnya kecuali memukul yang sudah dalam targetnya atau ada Vannya di dekatnya.
Mobil telah memasuki gerbang kantor polisi, Vin memarkirkan mobilnya secara sembarangan di depan pintu lobby kantor. Ia segera turun untuk memberinya pelajaran padanya.
Dari jauh terlihat dua wajah yang tak asing, ya dia adalah security dan OB dari Wijaya Group terlihat dari kedua pakaiaannya yang merupakan identitas dari Wijaya Group itu sendiri.
Vin bergegas mendekatinya untuk menanyakan keberadaan pria brengsek itu. Dengan seidkit takut, security memberitahukan jika saat ini prianitu masih di dalam sedang dimintai keterangan oleh Polisi.
Tokk ... tokkk ...!
__ADS_1
"Permisi Pak, maaf mengganggu. Saya Melviano suami dari Vannya, wanita yang sedang terbaring lemah di Rumah Sakit karena perbuatannya," ujar Vin yang masih berdiri di ambang pintu.
"Silakan duduk Pak Vin," ujarnya mempersilahkan.
"Terimakasih Pak,"
"Astaga ...! Siapa pria ini? Wajahnya sudah hancur, siapa yang memukulinya? Terus gimana caranya aku bisa mengenalinya?" batin Vin saat menatap wajah pria di sampingnya yang sudah babak belur.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan, dari pelaku mengatakan jika isteri Bapak yang berusaha menggodanya. Dan dia bilang di jebak oleh isteri Bapak," ujarnya.
"Benarkah? Maaf Pak, kalau boleh saya tau ... siapa namanya? Maaf saya tidak bisa mengenalinya karena wajahnya tak bisa saya lihat dengan jelas," ujar Vin.
"Namanya Ilham Danuarta, dia adalah seorang Dokter di sebuah Rumah Sakit," jawabnya.
"Oh, jadi kamu yang melakukannya? Hmm ... sudah ku duga. Baiklah aku akan mengikuti permainanmu yang licik, kamu tidak mau tinggal di sana kan? Okay akan ku bantu," batin Vin.
"Maaf Pak, apakah boleh saya membawanya pulang. Dia adalah teman isteri saya. Saya ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan," ucap Vin menyampaikan maksud dari kedatangannya.
"Kalau begitu keputusan Bapak, kami tidak bisa melarangnya. Tapi satu hal yang saya ingatkan, jangan gunakan kekerasan dalam bentuk apapun," ucapnya.
"Baik Pak ...! Kalau begitu saja bawa pulang dia, terimakasih ...!" ujar Vin.
"Ti-tidak Pak ...! Saya bersalah, saya yang salah sudah memaksa Vannya untuk melayani saya. Ka-karena saya tidak terima dia mengacuhkan saya. Penjarakan saya saja Pak," ujarnya
"Maaf Pak, sepertinya dia juga dalam pengaruh minuman keras. Jangan di dengarkan, bair saya selesaikan nanti," ucap Vin.
"Baik Pak, silakan ...!" jawabnya dengan ramah.
"Ti-tidak ... Pak saya mau disini saja, saya lebih baik di penjara Pak. Saya salah ...!" teriaknya seakan eminta bantuan polisi untuk di bebaskan dari ancaman di depan mata.
Vin menarik tangannya, dan membawanya keluar dari ruang pemeriksaan. Security dan OB yang membawanya segera berdiri dan menatap kebingungan karena melihat Pak Vin menarik pria yang mereka bawa tadi.
"Kalian ikut aku, jangan biarkan pria ini kabur," ujar Vin dengan datar.
"Baik Pak," jawabnya tanpa mengelak.
"Bawa masuk dia ke mobil," ucapnya.
Mereka segera memegang kedua tangan Ilham dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Astaga ...! Itu Vin mau bawa pria itu kemana?" gumam Chandra yang baru tiba di halaman kantor kepolisian.
__ADS_1
"Vin, tunggu ...!" teriak Chandra.
Namun usahanya terlambat, mobil Vin sudah berjalan meninggalkan area kantor kepolisian. Chandra tanpa berpikir panjang kembali masuk ke dalam mobilnya untuk mengikuti mobil Vin.