
"Hmm, coba lihat kesana ...!" tunjuk Chandra ke arah langit.
Meski kesal, Alina tetap saja menuruti perkataan Chandra. Ia mendongakkan kepalanya dengan malas, namun matanya terbelalak setelah melihat apa yang ada di atas sana.
Beberapa lampion kecil berwarna jingga terbang dari bawah ke arah langit. Tak lama kemudian di susul dengan lampion berukuran 5x lipat lebih besar dari lampion-lampion kecil yang sudah semakin ke atas.
"Kamu menyukainya?" tanya Chandra mengusap rambut Alina dengan lembut.
"Hmm, bagaimana bisa?" tanya Alina tanpa mengalihkan padangannya ke lampion.
"Kamu tau ini hari apa?" tanya Chandra.
"Hari senin kan? Oh Astaga! Bagaimana aku bisa lupa ... ini hari anniversary pernikahan kita yang ke ...!" ujarnya perlahan.
"Happy Anniversary Sayang ...! Makasih sudah menemaniku, mengisi hari-hariku dengan cinta, dan mau menjadi Mommy dari anak-anakku," ujarnya degan manis.
Alina tak mampu menjawabnya. Buliran bening lolos begitu saja membasahi wajahnya sudah melakukan nighyt routine sebelum beranjak tidur. Chandra memeluk isterinya dan mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.
"Jangan menangis," bisiknya seraya mengusap punggung.
"Hmm, bagaimana aku tidak menangis. Kamu ingat dengan hari ini, sedangkan aku malah lupa. Maaf sayang ...!" ucapnya terisak.
"Tidak apa, kamu ingat dan aku lupa. Bukankah itu saling melengkapi?"
"Ah, Sayang ... aku benar-benar malu denganmu," rengeknya seraya menyembunyikan wajahnya di dada Chandra.
"Dengarkan aku ... kamu tidak marah saja aku udah bahagia Sayang, melihatmu tersenyum udah lebih dari cukup untukku," ujarnya.
"Hmm, aku I love you Sayang ...!" ujarnya dengan wajah yang bersemu kemerahan.
"Love you too, isteriku ...!" jawabnya seraya mengecup bibir tipis Alina yang manis.
Mereka berci*man dengan lembut dan penuh hasrat hingga nafasnya tersengal. Mungkin jika tidak kehabisan nafas, ci*man tersebut akan berlanjut sampai larut bahkan sampai malam.
"Tidka ada yang berubah, bibirmu tetap masih. Wajahmulah yang selalu ada dalam anganku, dan senyummu yang selalu menghantuiku kapan dan dimanapun aku berada," ujarnya.
"Sayang, makasih udah jadi suami yang baik, bertanggungjawab dan selalu ada untukku. Mungkin aku sudah mengatakan ini berkali-kali, tapi memang tidak cukup rasanya kalau aku hanya mengatakannya sekali," ucap Alina menatap mata Chandra tanpa berkedip.
"Makasih juga, karena kamu sudah mau menerimaku dengan segala kekuranganku. Memaafkanku yang sudah membuatmu koma selama dua tahun. Dengan sabar kamu menghangatkan hatiku yang mungkin sudah memebku," ujarnya.
"Hmm, karena Tuhan telah menakdirkan kita untuk bersama, saling mengisi kehidupan kita satu sama lain, saling menyayangi dnegan sepenuh hati," ujarnya.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali mereka berpelukan, malam ini adalah malam yang indah untuk keduanya. Jarang sekali seorang Chandra Wijaya memberikan sureprise kepada orang lain. Dan baru kali Alina juga mendapat sureprise yang berhasil membuatnya menitikan air mata.
"Woy ... apa masih lama?" teriak seseorang dari bawah sana.
"Eh? Siapa?" tanya Alina dengan kaget.
"Aihhh ...! mengganggu saja," gumam Chandra dengan kesal.
"Sayang, mereka siapa?" tanya Alina.
"Biasalah ...! Jomblo yang iri sama kita," jawab Chandra dengan santainya.
"Nana ... Pak Chandra ... Hallooo ...! Apa kalian masih disana?" teriaknya lagi dengan lebih lantang.
"Itu suara Stef, Sayang. Kamu memanggilnya kesini? Bukankah dia sedang ada acara di rumahnya?" ujar Alina tak percaya.
Flashback On
"Acara di rumah sudah selesai kan?" tanyanya tanoa berbasa basi,"
"Udah, tapi aku izin 3 hari. Ada apa?" ujarnya balik bertanya.
"Ada apa? Aku kan sudah bilang kalau aku izin 3 hari," sahutnya.
"Baiklah kamu izin tiap hari, setelah itu aku kasih kamu izin libur selamanya,"
"Astaga! Apa-apaan ini. Baiklah aku akan datang, tapi mau tidur dulu ...!" ujarnya menawar.
"Dalam waktu tidak lebih dari 60 menit kamu harus sudah sampai di halaman rumahku,"
Tuuut ...!
Telepon terputus begitu saja, Stef segera lompat dari atas tidur ke bawah. Rasa kantuknya seketika hilang, pekerjaannya lebih penting dari rasa lelah yang sudah membuat badannya seakan baru saja di pukuli warga sekampung.
"Astaga! Kalau bukan demi pekerjaan mana mungkin aku bela-belain pergi sekarang. Bahkan jarak rumah dnegan rumah mereka menghabiskan waktu 90 menit," ujarnya segera meraik jaket kulit berwarna cokelat susu.
Dengan langkah cepat, pria berusia hampir menginjak kepala 4 itu segera merain helm di spion motor miliknya. Setelah memakai helm, dan sarung tangan ia segera menyalakan mesin motor dan menarik gas untuk segera pergi meninggalkan rumah.
Flashback Off
"Nana ... Pak Chandra ... Yuhuuuu ...!" teriak Stef lagi.
__ADS_1
Alina segera berjalan mendekati pagar balkon untuk mwlihat ke halaman rumah. Lagi-lagi dia terharus dibuatnya. Rekan kerjanya berada disana saat ini. Dan Mami, Papi, Mamah, Papah dan yang lainnya juga disana.
Tangisnya semakin pecah, padahal ini anniversary yang mana seharusnya menjadi kejutan untuknya dan juga Chandra. Tapi serasa dirinya yang sedang ulangtahun karena semuanya di siapkan olwh Chandra.
"Sayang ...!" rengek Alina dengan manjanya.
"Jangan menangis lagi, apa kamu mau menemui mereka dengan wajahmu yang sembab?" ujarnya.
"Hmm, kamu sih bikin aku nangis. Sekali lagi, makasih Sayang ...!" ucapnya.
"Sama-sama Sayang, ya sudah ayo kita turun. Atau Stef akan teriak terus semalaman," celetuk Chandra dan langsung menggendong Alina untuk turun menemui yang lainnya.
"Aku bisa jalan," bisiknya.
"Tapi aku ingin menggendong isteri dan anakku," sahutnya.
"Emang aku gak berat?" tanya Alina melingkarkan kedua tangannya di leher Chandra.
"Berat sih, tapi lebih berat rasa cintaku terhadapmu," jawabnya membuat Alina tak mampu lagi menjawab.
Di Rumah Sakit Permata Ungu
Pukul 7.30 Malam
Proses USG sudah selesai, dan hasil lab juga sudah keluar. Sebenarnya tujuan utama dari hasil lab bukan untuk mengetahui apakah Vannya positif hamil, karena semua sudah di buktikan dari hasil USG.
Hanya saja dia ingin melakukan pemeriksaan darah lengkap juga, supaya tau apakah dirinya sehar atau mungkin ada beberapa yang harus ia penuhi untuk tubuhnya supaya lebih sehat.
Hasilnya semua bagus, dari sel darah merah (eritrosit), sel darah (trombosit) dan keping darah (trombosit). Tidak ada masalah dari hasilnya, Vannya dan Vin merasa tenang.
Setelah menunggu resep vitamin Dokter Fani, mereka segera keluar dan menuju apotek yang di tunjuk perawat di depan ruangan. Vin terus menggenggam tangan Vannya, mendengar denyut jantung janin (DJJ) yang adalah dalam perut isterinya membuat semangatnya bangkit dan lupa dengan kata lelah.
"Sayang, kamu tunggu di sini ya. Aku mau ambil vutaminnya. Kalau ada apa-apa telepon aku atau panggil namaku," ucapnya.
"Iya, Sayang ...!"
Saat menunggu Vin yang sedang berdiri di depan loket apotek 24 jam, tiba-tiba seseorang memanggil Vannya. Suaranya tak asing, Vannya pernah mendengarnya dna mengenali pemilik suara tersebut.
"Vannya ...!" panggilnya dengan jelas.
Terimakasih yang sudah mampir, pastikan sudah like di episode ini dan sebelumnya ya 🥰🥰🥰
__ADS_1