Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Mbok Jum


__ADS_3

"Iya Pak? Apakah ada yang harus saya siapkan lagi?" tanya Dewi dengan sopan.


"Tidak, semua sudah ada. Kamu ikut makan, temanj Madav ya ...!" ujar Vin.


"Ta-tapi Pak ...!"


"Kamu berani membantahku sekarang? Madav, marahi Tante kalau tidak mau," celetuk Vin melirik ke arah Madav yang sejak tadi berdiri di sampingnya.


_____________


"Tante, Madav mau makan sama Tante. Madav tidak mau makan kalau tidak sama Tante," rengeknya memasang wajah yang sangat menggemaskan.


"Madav makan dulu saja ya, nanti Tante makan setelah ...!" ujarnya mencari alasan yang tepat.


"Tidak mau ...! Madav mau pingsan saja," membuang muka dan melipat kedua tangannya ke dada.


"Dewi, makanlah ...!" pinta Tyas.


"Baiklah, Tante akan makan ...!" ujarnya menundukkan badannya di hadapan Madav yang ngambek.


"Ayo sekarang senyum dulu ...!" imbuhnya seraya mengusap rambut Madav dengan lembut.


"Yeay ...! Tante mau makan ...!" teriaknya dengan sangat girang.


"Tentu saja. Ayo makan sama Tante ...!" ucapnya dengan lembut.


Selesai makan siang, Arsen dan yang berpamitan menuju tempat penginapan. Vin tidak bisa mengantarnya, karena masih ada pertemuan lagi dengan klien yang lain.


Setelah mobil yang Arsen dan hang lain naiki tak terlihat lagi, Vin segera bergegas kembali ke ruang kerjanya. Dia ingin menanyakan keadaan Maminya hari ini.


"Hallo Sayang, kalian sudah makan?"


"Udah Kak, Mami juga udah ...! Semua aman terkendali, Kakak fokus saja kerjanya. Aku yang akan jagain Mami hari ini," suara lembut terdengar dari ujung telepon.


"Syukurlah ...! Makasih Sayang ...! Aku nanti pulang cepat, setelah pertemuan ini aku akan pulang. Mau titip apa?" tanya Vin.


"Tidak ada, cukup kamu pulang cepat dan sehat itu udah bikin aku sama Mami senang," jawabnya dengan cepat.


"Hmm, makasih Sayang. Ya sudah aku lanjut dulu ya, klien sudah menunggu ...!"

__ADS_1


"Iya, Sayang ...! Semangat kerjanya," ucap Vannya menyemangati suaminya.


...VANNYA POV...


"Vin yang telepon?" tanya Mami yang sejak tadi duduk di sampingku seraya melanjutkan rajutan.


"Iya Mam, katanya dia pulang cepat hari ini," jawabku seraya meletakkan ponsel diatas meja.


"Makasih ya Sayang, kamu sudah mau berada di sisi Vin. Mungkin kalau bukan kamu akan lain lagi ceritanya. Mami bahagia sekali, punya anak-anak yang baik dan berbedasr alhati seperti kalian,"


"Mami ingat kata pepatah kan? Apa yang kau tanam itulah yang engkau tuai ... Apa yang terjadi hari ini, adalah berkat doa dan usaha Mami juga Papi," jawabku seraya memeluk Mami dari samping.


"Mami adalah salah satu orang beruntung di dunia ini, sejak dulu Mami selalu di kelilingi orang-orang baik. (Karena Author tidak jago dalam menciptakan tokoh antagonis dengan sempurna🤭). Begitupun denganmu Sayang, Mami berdoa ... semoga anak-anak Mami selalu di kelilingi orang baik," ucapnya dengan sedikit tertahan.


"Aamiin. Makasih Mam atas doanya, dan sekarang izinkan kami ... anak-anak Mami untuk membahagiakan Mami. Apa yang kami lakukan untuk Mami tidak seberapa di bandingkan apa yang udah Mami lakukan buat kami," gumamku seraya menyandarkan kepalaku di bahu Mami yang empuk dan membuatku nyaman berlama-lama sandaran di bahunya, tapi kalau lama kasihan Mami kecapekan menahan kepalaku yang berat.


"Apa yang kami lakukan buat kalian adalah lewajiban kami sebagai orangtua Nak. Mami tidak berharap budi balas dari kalian, cukup lihat kalian bahagia seperti ini saja sudah membuat Mami bahagia tiada tara,"


"Begitupun dengan kami Mam, apa yang kami lakukan saat ini adalah kewajiban kami sebagai anak-anak Mami. Keluarga kecil kami sudah terlampau bahagia, dan tidak ada salahnya kan kami juga ingin mengajak Mami untuk berbahagia,"


"Teruslah tersenyum, apapun yang terjadi. Kita akan melewati semua ini bersama-sama. Cucu-cucu Mami yang masih dalam perut pasti udah gak sabar ingin segera lahir di gendong Omahnya," imbuhku lagi.


"Sebelum Mami tiada, Mami hanya ingin bahagia bersama anak-anak Mami. Mencium dan memeluk cucu Mami," imbuhnya membuatku terharu dan tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi aku sudah bersusah payah menahannya.


"Makasih Mami, anak-anak kami butuh Mami. Kami belum sejago Mami dalam merawat anak kecil. Kami ingin, anak-anak kami mengenal Omahnya, di ajarkan banyak hal dari Omahnya ...!"


Tadinya aku tidak ingin menangis, tapi air mataku memberontak menjebol dinding yang sudah aku bangun dengan susah payah. Tangis pecah, memenuhi seisi sudut ruangan kecil di lantai satu rumah kami.


Sementara itu,


Setelah beristirahat selama hampir 30 menit, Alina kembali bersiap-siap untuk kembali ke klinik. Sebelumnya Alina meminta mbok Jum menyiapkan makanan kecil dan beberapa buah untuk dia bawa ke klinik.


"Mbok, mana? udah siap kan?" tanya Alina setelah sampai di anak tangga terakhir.


"Eh Nyonya sudah mau ke klinik lagi? Sudah Nyonya, sebentar ...!" ujarnya seraya bergegas ke dapur, memgambil buah dan makanan yang sudah ia siapkan.


"Saya antar ke klinik ya Nyonya. Biar Nyonya tidak perlu membawanya," ucapnya dengan ramah.


"Hmm, baiklah ...! Makasih ya Bi. Aku bawa ini saja biar kelihatan," ujar Alina tak bisa menolak tawaran Mbok Jum yang ingin membantunya.

__ADS_1


Alina segera bergegas keluar rumah di ikuti Mbok Jum di belakanh dengan menenteng kotak berisi makanan dan juga buah di tangan Alina.


"Siang semua ...!" Sapa Alina setelah masuk klinik.


"Siang Dokter ...!" sahutbya secara bersamaan.


"Wah ...! Ada Mbok idolaku, hallo Mbok Jum ...!" sapa Dokter Stef yang memang sudah sering bertemu dengan Mbok Jum.


"Hallo Dokter," sahut Mbok Jum.


"Aihh ...! Mbok, jangan panggil aku seperti itu. Mana ada Ibu manggil ke anaknya Dokter," celetuk Dokter Stef.


"Tapi kan memang kamu seorang Dokter," jawab Mbok Jum.


"Khusus Mbok, tidak boleh panggil aku Dokter. Panggil aku sayang aja Mbok, kasihan anakmu ini yang jomblo," rengeknya membuat semua orang di dalam klinik tertawa. Untung saja sedang tidak ada pasien saat itu.


"Astaga ...! Jomblo pun tak segitunya Stef ...! Kamu malu-maluin kaum jomblo deh," celetuk Dokter Fani yang baru keluar faro ruang jaga Dokter.


"Tuh kan Mbok, lihat sendiri ...! Mereka tidak suka melihatku bahagia," ujar Dokter Stef yang merangkul Mbok Jum dengan hangat.


Begitulah perlakuan yang lain terhadap Mbok Jum yang ramah dan dekat dengan siapa saja. Termasuk rekan sejawat yang lain, mereka juga mengenal Mbok Jum dengan sangat baik dna sudah menganggapnya seperti Ibu mereka.


"Udah Fan, biarkan dulu dia bahagia ...!" sahut Alina pada Dokter Fani.


"Jangan kencang-kencang Stef, kasihan Mbok Jum susah nafas nanti," celetuk Dokter Fani seraya menerima kotak makanan dari Mbok Jum.


"Katanya sayang, tapi bukannya di ambil kotaknya ini malah nembah beban pakai peluk-peluk. Dikira gak berat kah?" ujarnya.


"Aiih ...! Tadinya aku mau begitu, tapi kamu udah duluan ambil kotaknya," sahut Dokter Stef membela diri.


"Astaga ...! Udah-udah, Nak ... Mbok mau kembali ke rumah," ujarnya.


"Cepat sekali Mbok, baru aja aku lihat Mbok ...! Masa iya udah mau pergi lagi,"


"Hahah ...! Lihat, Mbok aja gak betah lama-lama lihat kamu Stef ...! Jangan halangi Mbok, kasihan dia masih banyak pekerjaan. Kalau kamu tidak mau pisah sama Mbok, gih ikut ke rumah bantuin Mbok," celetuk Alina.


"Eh?? Iyakah?" ujarnya.


"Tidak, tidak ... mana ada Mbok tidak betah disini, tapi kata Nyonya benar. Pekerjaan saya masih banyak. Kalau kamu mau bantu Mbok, ayo Nak ...! Nanti Mbok minta izin sama Nyonya," ujar Mbok Jum yang membalas tiktok mereka hingga suasana semakin hangat dan gelak tawa pecah memenuhi bangunan kecil di halaman rumah Alina.

__ADS_1


__ADS_2