
Rendy ingin mengajaknya bicara 4 mata mencari jalan damai agar dia tak mengganggu keluarganya lagi. Apalagi saat ini Putranya yang menjadi sasaran, Rendy tidak mau kejadian beberapa tahun yang lalu terjadi lagi.
Tring ...!
"Pi, Papi dimana? Kata Kakak Papi pergi dari 3 jam yang lalu," tanya Vin yang terdengar begitu mencemaskan Papinya.
________________
"Iya Vin ... Papi sedang ada urusan di luar," jawabnya.
"Papi dimana? Beritau aku, supaya aku menyusul Papi ...!" ujar Vin.
"Tidak perlu Vin. Papi akan menyelesaikan sendiri. Papi tidak mau kalian terlibat dengan masalah yang berhubungan dengan kejadian di masa lalu. Kalian tidak seharusnya bertemu dengan masalah seperti ini," jawabnya mencoba untuk menjelaskan.
"Papi di tempat Aura?" tanya Vin.
Telepon terputus begitu saja, Vin segera beranjak hendak pergi namun Pak Revan dan yang lainnya segera menahannya agar Vin tidak pergi dalam keadaan emosi dan akan membahayakan dirinya sendiri.
"Vin, tunggu dulu ...! Apa yang terjadi? Jangan pergi dalam keadan emosi, tidak baik untukmu ...!" cegah Pak Revan.
"Pah, Papi di tempat Aura. Aku takut mereka akan berbuat yang tidak-tidak pada Papi," ucap Vin dengan panik.
"Bagaimana bisa? Apa Papi mu sudah tau kalau Aura ada hubungannya dengan Erika?" tanya Pak Revan.
"Iya Pah. Waktu itu Kak Chandra yang tak sengaja tanya ke Papi," jawabnya.
"Hmm, kalau begitu biar Papah ikut denganmu. Tidak mungkin kalau kamu pergi sendirian," ujarnya.
"Baiklah ...! Om, Dewi ... kami pergi dulu ya ...!" ujar Vin.
"Iya Vin ... Kalau ada apa-apa kalian segera kabari aku ya," ujar Pak haris.
"Iya Ris, makasih ya ...!"
Pak Revan dan Vin segera bergegas pergi meninggalkan Perusahaan menuju lokasi rumah Aura. Untung saja kemarin tidak sengaja Vin melihat data diri Aura termasuk tempat tinggalnya.
Di sisi Lain ....
"Kak, kira-kira Papi kemana ya? Aku takut terjadi apa-apa sama Papi," ujar Vannya cemas.
"Aku gak tau dimana Papi, tapi mungkin saat ini Papi ke tempat Nyonya Erika," jawabnya seraya fokus ke depan.
"Nyonya Erika? Bukankah dia wanita yang jahat? Aku pernah mendengar ceritanya dari Mamah," ujar Vannya berusaha mengingat-ingat nama Nyonya Erika.
__ADS_1
"Iya kamu benar. Dan kamu tau Aura"? tanya Chandra.
"Aura staff nya Kak Vin kan?" sahutnya dengan cepat.
"Ya, dan Aura adalah putri tunggal dari Nyonya Erika,"
"A-apa? Bagaimana bisa?" tanya Vannya terkejut.
"Awalnya Vin juga tidak tau, karena di data diri Aura tidak mencantumkan nama Nyonya Erika. Melainkan Nyonya Mayang, isteri kedua Pak Ruli yang bukan lain adalah ibu tiri dari Aura,"
"Entah itu Aura yang mencantumkan nama Nyonya Mayang karena sangat menyayangi Ibu tirinya, atau emang atas perintah dari Nyonya Erika yang memiliki niat buruk," imbuhnya menjelaskan panjang lebar.
"Astaga ...! Dunia ternyata sempit. Tapi Aura gak jahat seperti Ibunya kan Kak? Selama ini aku gak pernah dengar berita yang gak enak di dengar," celetuknya.
"Awalnya sih begitu, tapi gak tau deh sekarang gimana?" jawabnya.
"Dan kemarin, Vin juga bilang kalau Aura sempat meyelipkan satu lembar kertas berisi pemindahan kepemilikan Perusahaan atas nama Nyonya Erika," ujarnya lagi.
"Heh? Licik sekali dia. Astaga ...! Lalu apa yang di lakukan Kak Vin?" tanya Vannya semakin penasaran.
"Setauku Vin menandatanganinya," sahutnya.
"Ya Tuhan ...! Kenapa begitu? Semoga aja gak ada masalah," ucap Vannya.
"Ah ya, sebaiknya kamu hubungi Vin ... tanyakan dimana dia sekarang," ucapnya.
"Iya Kak,"
Vannya segera mencari kontak atas nama suaminya. Tak menunggu waktu lama, ia sudah menemukannya dan segera menekan tombol berwarna hijau.
Tut ... Tuut ...!
*Obrolan di Telepon
"Hallo Sayang ...!" sahutnya dari seberang sana.
"Hallo Sayang, kamu dimana sekarang?" tanya Vannya.
"Aku di jalan, mau ke tempat Aura. Kayaknya Papi kesana deh,"
"Kalau gitu sampai ketemu disana ya, aku sama Kak Chandra juga sedang dalam perjalanan kesana," celetuknya.
"Benarkah? Ya udah, kamu hati-hati ya. Aku sama Papah, yang bawa mobil Papah katanya kalau aku yang bawa tidak aman," uajrnya seraya melirik ke arah mertuanya.
__ADS_1
"Kenapa bisa gitu? Kamu minum?" tanya Vannya curiga.
"Heh? Gak Sayang ... nanti aku ceritain ya ...!" ujarnya.
"Hmm, yaudah. Kita lanjut dulu ya. Kalian juga hati-hati," ujar Vannya.
Di Sudut yang Berbeda....
"Kamu sudah puas membuatku malu? Apa yang bisa kamu kerjakan selain membuatku merasa malu dan marah? Hah ?!" bentaknya dengan suara lantang.
"Ma-maaf Bu. Aku ceroboh, harusnya aku melihat kembali memastikan apakah tanda tangan itu asli atau tidak. Aku emang bo*oh, maafkan aku Bu ...!" ujarnya ketakutan.
"Cih! Kamu memang tidak pantas untuk di puji. Baru aku mau memujimu, tapi kamu sudah menamparku lebih dulu. Bahkan bukan cuma anak tengik itu yan sudah mempermalukanku, melainkan Revan dan yang lainnya," gumamnya.
"Tapi salah Ibu juga. Kenapa bertindak tanpa mengabariku lebih dulu. Setidaknya supaya aku melihat situasi di Perusahaan kan,"
"Bahkan aku baru saja hendak menjatuhkan reputasi Pak Vin, tapi Ibu sudah berada disana ...!" ujar Aura berusaha mencari alasan untuk menunjukkan bahwa aoa yang terjadi hari ini bukan murni kesalahannya. Melainkan ada kesalahan dari Ibunya juga.
"Kamu berani menyalahkanku? Coba katakan swkali lagi, tatap mataku dan katakan sekali lagi ... cepat ...!" bentaknya hingga membuat Aura tak berdaya lagi.
"... ."
"Kenapa diam? Ayo katakan lagi ...!" Kedua bola matanya sudah membulat dengan sempurna bak seekor singa yang sudah siap hendak menerkam mangsanya yang tak berdaya.
"Ti-tidak Bu. Ini semua salahku. Maafkan aku," jawabnya terbata.
"Kau pikir ini siapa? Berani menyalahkanku? Kamu hanyalah beban yang membuat hidupku semakin tak karuan,"
"I-iya Bu ...!" sahutnya.
Sementara itu,
"Pak mungkin Ibu masih lama, biasanya dalam waktu satu jam sudah kembali. Kalau tidak, mungkin nanti malam baru pulang," ujar ART dengan ramah.
"Ah, begitu ... baiklah saya permisi saja ya," ujar Papi.
"Iya Pak. Nanti saya sampaikan pada Nyonya jika Bapak datang kesini," sahutnya dengan sopan.
Mobil sengaja tak dibawa masuk ke halaman rumah, karena tadinya hanya ingin singgah sebentar untuk bertemu dna bicara 4 mata. Tapi rupanya ia datang terlambat beberapa menit.
Setelah melewati gerbang rumah yang menjulang tinggi, dan memastikan situasi aman untuk menyeberang iapun melangkahkan kakinya untuk mulai menapaki jalan menuju mobilnya yang ia perkirkan tak jauh dari rumah Nyonya Erika.
Saat hampir sampai ke bahu jalan, tiba-tiba sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menyenggol tubuhnya dan membuat tubuhnya terbanting cukup keras di atas kerasnya aspal.
__ADS_1
Brukkk ...!