
"Sus, biarkan Dokter Nana yang melakukannya," ucap Dokter yang lain.
...ALINA POV...
Ya Tuhan, jangan ambil Papi ku sekarang. Aku akan melakukan apapun untuknya, aku janji akan membahagiakannya. Beri satu kesempatan lagi supaya kami bisa bersama lagi.
Pih ...! Lihat anakmu ini, aku adalah dokter yang sudah mengobati banyak pasien. Dan sekarang, anakmu lah yang akan menyembuhkan Papi. Bertahanlah, ayo kita berjuang bersama-sama.
Dengan cepat aku mengambil posisi setwmgah jongkok. Bersiap-siap untuk melakukan pompa jantung, tenagaku sudah ku kumpulkan untuk bisa membangkitkan Papi lagi.
Aku tidak akan berhenti sebelum Papi membuka kedua matanya. Aku tidak akan membiarkan apapun yang berusahan memisahkan seorang anak dengan Papinya, seorang isteri dengan suaminya.
Aku berharap sebelum sesi 3 selesai, kedua mata Papi terbuka. Aku pernah melakukan ini pada pasien lain dna itu berhasil. Akucyakin, kali ini juga akan berhasil. Karena kekuatan cinta kami semua.
_______
Tut tut ... tut tuut ...!
"Denyut jantung kembali normal ...!" teriak seorang perawat yang melihat ke arah layar monitor.
"Sudha cukup Dok, pasien sudah stabil ...!" ucap Dokter.
"Pih, buka matanya ...! Ayo ...!" pinta Alina dengan senyum mengembang di wajahnya.
Perlahan kedua mata pria paruhbaya tersebut terbuka, tangis harus pecah begitu saja mendominasi ruangan yang hanya terdengar suara peralatan medis sejak tadi.
"Papi, aku tidak salah lihat kan? Puji Syukur," ucapnya memeluk Papi dengan erat.
"Sa-yang ...! Pa ... pi titip Ma ... mi ya ...! Ma ...afkan Papi yang ti-tidak bisa menjaganya dengan ba ... ik," ucapnya terbata.
"Papi ngomong apa sih? Papi akan segera sembuh, kita akan berkumpul seperti dulu lagi. Papi tidak akan pergi," ucap Alina menggenggam tangan Papi dengan erat.
"Papi, jangan tutup matamu. Ayo lawan Pi, Nana disini buat Papi," ucapnya menepuk kedua pipi Papinya dengan pelan agar Papi tak menutup kedua matanya.
"Nak ...! Su-sudah waktu ... nya Pa ... pi," ucapnya lirih.
"Tidak Pi, tidak ...! Kata Dokter Papi sudah melewatias kritisnya kok. Dok panggil Mami saya tolong," ujar Alina.
Tak lama setelah itu, Mami masuk dan segera memeluk Papi serta menciumi wajah Papi. Isak tangisnya kini pecah menjadi tangis oenuh rasa syukur mwlihat suaminya yang sudah membuka kedua matanya.
__ADS_1
"Mas, kamu sudah sadar? Syukurlah, jangan tinggalkan kami lagi. Kami butuh Mas," ucap Mami.
"Papi dengarkan? Kami semua butuh Papi," imbuh Alina.
"Sa ... yang. Ma ... af atas se ... mua kesalahanku, te ... rimakasih sudah menemaniku hingga detik ini. A ...aku ..!" Nafasnya tersengal beberapa kali dan kedua matanya kembali tertutup..
Layar monitor menunjukkan garis lurus disana, Papi sudah pergi. Dokter dan perawat disana hanya bisa diam, tak bisa berbuat apa-apa lagi. Alina terus mengguncang tubuh Papi, dan berteriak meminta dilakukan RJP lagi.
"Kenapa kalian diam? Ayo lakukan lagi, cepat ...!", teriaknya.
"Jangan biarkan Papi saya pergi, ayo tolong dia ... tolong ...!" isaknya.
"Mas, bangun ...! Jangan tinggalkan aku, kenapa Mas ninggalin aku? Mas udah janji kita akan selalu bersama," ucap Mami.
"Nana, cepat panggil Papi lagi Nak. Jangan biarkan Papi pergi Nak," pinta Mami pada Alina.
"Mam ...!" Hanya itu yang terucap dari mulutnya.
Dadanya terasa sesak, tak mampu untuk berkata-kata lagi. Alina memeluk Mami dengan erat, menenangkan Maminya yang terus berteriak memintanya untuk menyembuhkan Papi lagi.
"Nak, kenapa kamu diam? Kamu dokter, ayo bangunkan lagi Papimu. Papi udah janji tidak akan meninggalkan Mami sendirian," ucapnya terus meracau.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Aku bisa membantu orang lain. Tapi kenapa tidak bisa membantu Papi? Orangtuaku sendiri, kenapa?" batinnya terus memeluk Maminya dengan erat.
"Pi ... kenapa harus pergi secepat ini? Baru saja harapanku mulai tumbuh, tapi sekarang sudah mati seketika. Nana akan jagain Mami Pi, itukan yang Papi minta?
Di Luar ...
*Obrolan di Telepon
"Mas, cepat kesini. Randy anfal ...!" ucap Tante Sofi terisak.
"Apa? Baiklah, aku akan segera kesana. Jaga Kinan sama Nana, Sayang ...!" ucapnya segera mematikan telepon.
Tak berlangsung lama, Om Keanu sudah tiba. Tante Sofi berhambur lari memeluk suaminya, tangisnya pecah. Tak mampu lagi ia tahan di depan suaminya.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Randy sudah meninggal Mas," jawabnya.
__ADS_1
"... ." Keanu mengusap punggung isterinya, membiarkannya untuk beberapa saat sampai dirinya tenang.
Entah apa yang harus ia lakukan saat ini, suasana hening ... telinganya seakan tuli tak mampu mendengarkan apapun saat ini.
"Mas, kabari Vin dan Chandra," ucap Tante Sofi.
"Hmm,"
Om Keanu segera merogoh ponsel di saku celananya, sedangkan Tante Sofi menghubungi Mamah Maya yang sedang menjaga Vannya di ruang perawatan. Dalam waktu 5 menit, Mamah Maya dan yang lainnya sudsh tiba di lorong ICU.
________________
"Vin ke Rumah Sakit sekarang ...!" telepon terputua, tak mampu mulutnya menjelaskan apa yang terjadi saat ini.
Dengan gemetar, tangannya kembali mencari nomor Chandra di daftar kontaknya.
"Chandra, ke Rumah Sakit sekarang ...!" ucapnya lagi dan langsung mematikan teleponnya.
_________________
Vin segera pergi meninggalkan ruang rapat begitu saja, dengan cepat Dewi segera mengambil alih menggantikan Vin dan menenangkan semuanya. Sementara itu, Papah Revan dan Om Haris ikut menyusul Vin khawatir terjadi sesuatu hal dengannya.
"Vin, tunggu ...! Ada apa?" tanya Papah Revan.
"Tidak tau, Pah. Om Keanu menyuruhku segera ke Rumah Sakit. Telepon langsung terputus," ucapnya.
"Baiklah, kami ikut ...!" ujar Om Haris.
"Hmm,"
Mereka segera berlalu meninggalkan lorong lantai 6. Om Haris yang menyetir mobil meninggalkan area Perusahaan Ardhana Group.
Sementara itu,
"Maaf Pak, saya harus segera pergi. Karena sesuatuchal telah terjadi pada keluarga saya. Mohon maaf jika saya tidak bisa menyelesaikannya hari ini, permisi ..."! ucap Chandra segera bergegas pergi tak perduli dengan tamu yang kebingungan saat ini.
Ia merasa telah terjadi sesuatu di Rumah Sakit, hingga Om Keanu tak mampu menjelaskan kenapa menyuruhnya unuk segera ke Rumah Sakit. Mobil ia bawa dengan kecepatan tinggi, mendahului beberapa kendaraan di depannya.
Waktu yang ia tempuh hanya 30 menit lebih cepat 1 jam dari biasanya. Mobil juga ia parkirkan sembarangan di lobby dan melempar kunci pada petugas Rumah Skait untuk di parkirkan.
__ADS_1
Sesampainya di ICU, Chandra berhenti sejenak. Melihat suasana disana, semua orang menangis. Suara isakan tangsi mendominasi lorong ICU saat ini. Dengan perlahan, Chandra melangkahkan kakinya yang tiba-tiba teras lemas.
Mamah Irene yang menyadari kedatanganngya segera memeluk putranya dan memintanya untuk tabah. Memberitahukan jika saat ini Papi Randy sudah tiada, membuat hatinya seperi di remas dengan keras.