
"Kamu ini kayak lagi sama siapa aja sih Na ...! Kita udah lama kenal, jangan pernah sungkan. Justru aku yang makasih kamu udah kasih kepercayaan sama aku yang levelnya masih sangat jauh di bawahmu," sahutnya dengan lembut.
"Hahah ...! Tidak ada level dalam dunia ini Fan, kita semua sama. Toh aku tidak jago dalam semua bidang, bahkan sekarang aja aku gak bisa berlama-lama disini," ujarnya.
"Karena kita disini untuk saling melengkapi bukan? Kamu bukannya gak bisa, hanya harus berjaga-jaga karena ada si kecil di perutmu ...!" ucapnya.
"Kamu benar Fan, inilah yang aku suka darimu. Selalu memberikan kata-kata yang manis di setiap kalimat yang kamu ucapkan," pujinya.
___
"Kamu gak lagi memujiku kan?" ujarnya.
"Sedikit," sahutnya.
"Oh ya Fan, aku turut berduka atas kejadian yang menimpa Papimu ya," ucap Fani.
"Iya Fan, makasih ya ... minta doanya buat Papi agar lekas bangun dari komanya ...!" ujar Alina.
"Aamiin ... aku selalu mendoakan yang terbaik buat kalian. Apalagi kalian adalah orang-orang yang baik," ucapnya menggenggam erat tangan Alina.
"Ah, kan ...! Baru aja aku memujimu. Tapi sekarang aku harus memujimu lagi Fan,"
Mereka berpelukan, saling menguatkan diri masing-masing. Fani tau saat ini sahabatnya sednag rapuh, untuk itu dia meminta Alina untuk di klinik saja. Setidaknya supaya ada teman untuk berbincang.
Sementara itu,
"Pak, maaf mau tanya. Bagaimana kondisi Aura?" tanya Dewi setelah selesai pertemuan dengan para divisi.
"Aku tidak tau, yang jelas dia kehilangan salah satu kakinya. Dan Tante Erika meninggal di tempat," ujar Vin dengan tenang.
"Astaga ...! Meski Aura sudah berbuat jahat, saya merasa kasihan padanya Pak," ucapnya.
"Ya kamu benar. Ini semua bukan salahnya, tapi kesalahan Ibunya. Dan dia yang harus menanggung akibat dari ulah Ibunya,"
"Hmm, semoga saja dengan adanya kejadian ini Aura menyadari kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya," ucapnya.
"Bagaimana kondisi Pak Randy, Pak? Saya turut berduka atas kejadian yang menimpanya ...!" imbuhnya lagi.
"Terimakasih Dewi, saat ini kondisi Papi masih tak sadarkan diri ...!"
Setelah berbincang beberapa saat di dalam sana, mereka memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya dan melanjutkan pekerjaan. Sedangkan Dewi merapikan beberapa berkas sebelum menyusul pergi meninggalkan ruang rapat.
Sesampainya di meja kerja, Dewi melanjutkan pekerjaannya untuk menyalin laporan hasil dari pertemuam yang baru saja di selenggarakan dua jam yang lalu.
Tiba-tiba datang seorang pria dan langsung duduk di depan Dewi tanpa di persilakan lebih dulu. Ya, dia adalah Rico, pria yang menyukai Aura sejak pertama kali melihatnya.
"Wi ...! Apa aku ganggu?" tanya Rico.
__ADS_1
"Hmm, tidak. Tapi sebentar ya, tinggal sedikit lagi," jawab Dewi tanpa menoleh sedikitpun.
"Hmm, baiklah. Aku akan menunggumu disini," sahutnya seraya memainkan jemarinya di atas meja.
Dewi melanjutkan pekerjaannya, memasukkan beberapa data dari lembaran kertas di meja kerjanya. Entah berapa lama dia untuk menyelesaikan pekerjaannya dan membiarkan Rico yang sejak tadi sudah menunggunya.
"Wi, aku ke pantry dulu. Apa kamu mau secangkir kopi atau teh?" tanya Rico sebelum pergi meninggalkan Dewi.
"Emang boleh aku titip?" tanyanya dengan spontan.
"Tentu saja, kan aku yang menawarkan ...!" sahutnya.
"Ayo, mau titip apa? Selagi aku belum berubah pikiran ...!" imbuhnya seraya berdiri dari duduknya.
"Aku pesan kopi satu ya, jangan terlalu manis. Dna kamu yang buat, bukan OB ...!" pintanya.
"Heh? Sudah di kasih hati minta jantung. Baiklah, akan aku buatkan khusus untukmu Wi ...!" ujarnya seraya melenggang pergi meninggalkan meja kerja Dewi.
"Astaga, itu anak ...! Segitunya biar kamu dapat info tentang Aura ...!" gumamnya seraya menggelengkan kepalanya.
Tring ...!
Telepon diatas meja berdering, dengan cepat Dewi segera mengangkat gagang telepon dan menyapanya dengan ramah. Ternyata Pak Vin yang menghubunginya dari dalam sana.
Dia meminta Dewi untuk masuk karena ada suatu hal yang ia bicarakan dengannya mengenai masa depan Aura. Meski sudah berbuat curang, tapi dia tetaplah staff di Perusahaan ini.
Cklek ...!
"Masuk Wi," sahutnya dari dalam.
"Terimakasih Pak," ujarnya segera menutup pintu kembali.
"Duduk dulu, aku selesaikan ini ...!" perintahnya.
"Baik Pak," seraya duduk di sofa.
Tidak sampai 5 menit, Vin sudah berdiri dari duduknya dan menghampiri Dewi yang sudah duduk lebih dulu di sana.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Dewi.
"Hmm, kira-kira kalau aku memberikan sejumlah uang untuk Aura, ya anggap saja itu bonus untuknya atas kerja kerasnya selama dua tahun ini. Bagaimana menurutmu?" tanya Vin pada Dewi.
"Kenapa Bapak tanya pada saya? Kan ini hak Bapak," ujar Dewi dengan sopan.
"Iya juga sih, hanya saja aku masih ragu dan bingung," ucapnya.
"Kalau menurut saya pribadi sih setuju-setuju saja Pak, tapi sebaiknya Bapak juga meminta saran pada Pak Revan juga Pak Haris. Biar bagaimanapun mereka adalah orang kepercayaan dan sudah lebih senior di sini bukan?" ujar Dewi menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
"Hmm, benar juga sih. Aku hanya ingin membantu Aura saja, bukan bermaksud untuk merendahkan atau yang lainnya gara-gara kondisinya sekarang. Justru aku merasa kasihan,"
"Iya Pak, saya tau maksud Bapak. Hanya saja kadang orang lain menanggapnya beda. Makanya sebaiknya Bapak pertimbangkam lebih dulu,"
"Ya itu yang aku khawatirkan Wi, kalau misal ini jadi ... aku akan memina bantuanmu untuk mengantarkannya ya, kan kamu cukup dekat dengannya ...!"
"Baik, Pak ...! Hubungi saya saja, saya selalu siap ...!" jawabnya.
"Kalau gitu, makasih ya Wi. Ya udah, lanjutkan lagi pekerjaanmu. Maaf sudah menyita waktumu," ucapnya merasa tidak enak.
"Tidak apa Pak, kebetulan pekerjaan saya sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi dulu ya Pak ...!" pamit Dewi.
"Iya Wi. Sekali lagi, makasih ya ...!" ucapnya.
"Sama-sama Pak," jawab Dewi.
Dewipun segera bergegas keluar dari ruang kerja Vin. Disana sudah ada Rico yang memasang senyum.lebar di wajahnya. Seketika Dewi teringat jika dirinya sudah membuatnya untuk menunggu terlalu lama.
"Hi Ric ...! Maaf ya udah membuatmu terlalu lama nungguin aku," ucap Dewi merasa tidak enak karena sudah lama meninggalkan Rico.
"Hi Wi ...! Lihat, kopi buatanku khusus untukmu udah jadi. Minumlah dulu," ujarnya.
"Ah ya, makasih ya Ric ...!"
Dewi perlahan meneguk secangkir kopi yang masih panas kuku. Membuat perutnya merasa hangat dan merasa lebih baik dari sebelumnya.
"Hmmm ...! Ternyata Rico jago suka bikin kopi," batin Dewi.
"Enak kan? Kalau kamu mau lagi, hubungi aku aja. Nanti aku buatkan lagi untukmu," celetuknya seraya meneguk kopi dalam cangkir di genggamannya.
"Ini yakin kamu yang bikin?" tanya Dewi.
"Astaga ...! Kamu gak percaya kalau ini aku yang bikin, ayo kita ke pantry ... biar kamu lihat kalau aku yang bikin kopi ini," ajaknya.
"Ah tidak ... tidak ...! Oh iya, kamu ada apa kemari?" tanya Dewi mulai membuka percakapan.
"Aku mau tanya Auraku, aku ingin tau kondisinya. Kamu tau kan Wi?" tanya Rico.
"Auraku? sejak kapan kamu sama dia jadian?" tanya Dewi bingung.
"Jadian? Belum sih, tapi aku dan dia udah semakin dekat. Dan aku yakin suatu saat Auraku akan jadi milikku," ujarnya dengan yakin.
"Astaga ...! Seyakin itu kamu sama dia," celetuknya.
"Tentu saja Wi. Eum, kamu belum jawab pertanyaanku," ujarnya.
"Ah ya, aku hampir lupa. Aku tidak tau pastinya, tapi kaa Pak Vin Aura kehilangan salah satu kakinya. Dan Ibunya meninggal dalam keadaan yang cukup mengenaskan," ujar Dewi menjelaskan apa yang dia dengarkan dari Pak Vin.
__ADS_1