
Terakhir kali aku melihat ini adalah saat isteriku yang sakit dulu. Dan sekarang, setelah aku hampir lupa rasanya kini harus merasakannya lagi. Cobaan apa lagi ini? Kenapa ini harus terjadi pada keluargaku?
Melihat Mami, isteriku dan yang lainnya saat ini hatiku terasa begitu hancur. Isakan tangisnya begitu menyayat hati ini, aku merasa gagal sebagai anak laki-laki karena tidak bisa menjaga keluargaku.
Harusnya aku tetap disana agar aku bisa bertemu dengan Papi. Dan mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Bisakah waktu bisa di putar kembali ke beberapa jam sebelumnya? Aku ingin merubah apa yang sudah terjadi hari ini pada keluargaku.
____
"Mih kita pulang ya, hari sudah petang ...!" ujar Vannya dengan perlahan.
"Nanti Nak, sebentar lagi. Mami masih ingin menemani Papi kalian disini," ucapnya dengan tatapan yang sendu.
"Mih, besok kita kesini lagi ya. Papi pasti sedih kalau lihat Mami seperti ini," bujuknya lagi supaya Mami mau ikut pulang.
"Vannya benar Kin. Pulanglah, ada kami yang menjaga disini. Kamu percaya sama kita kan?" ujar Revan ikut bersuara.
"Ayo Bu, pulanglah ...!" celetuk Mamah Irene.
"Tapi aku masih ingin disini. Sebentar lagi," sahutnya dengan memohon.
"Kin ...! Masih banyak waktu untukmu besok, kamu boleh datang kesini dari pagi sampai sore. Tapi sekarang, nurut sama kita ya ...!" ucap Om Kea.
"Bagaimana bisa aku pulang, sedangkan suamiku masih belum membuka matanya dan tersenyum padaku," batin Kinan menatap ke arah bed dimana suaminya berada saat ini.
Dengan bersusah payah, akhirnya mereka berhasil mengajak Kinan pulang ke rumah. Sementara itu Revan dan Papah masih stay di sana untuk berjaga. Mereka pergi sebentar dari sekitar ICU untuk mandi di toilet yang ada di ruang kerja Om Keanu.
Setelah mereka menyelesaikan mandi secara bergantian, tak berapa lama kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu. Saat dibuka ternyata seorang driver mengantarkan gofood yang Vin pesankan untuk mereka berdua.
"Vin mengirimkan makanan Pak, ayo kita makan sebelum kembali ke sana," ujar Revan.
"Iya Pak, ini seperti bukan di Rumah Sakit ya Pak ...! Bahkan kita malah di perbolehkan untuk menggunakan toilet juga ruangan ini untuk kita istirahat," ucapnya.
"Iya Pak. Dan dengan kejadian ini, saya jadi teringat dengan kejadian 23 tahun yang lalu. Saat Kinan dan mendiang Ibunya Nana dirawat disini," ujarnya.
"Saya tau Pak bagaimana rasanya, karena saat ini saya juga ikut merasakan sedih. Melihat besan saya yang begitu baik, malah sekarang tak berdaya di ruangan sana ...!" imbuhnya.
Mereka menghabiskan makanannya sebelum kembali ke Ruang ICU untuk melihat kondisi Randy di sana.
Di sisi lain ...
__ADS_1
"Nak, kenapa bisa seperti ini? Apa kamu juga mau pergi meninggalkan Ayah? Seminggu yang lalu Mayang sudah pergi meninggalkan Ayah, dan sekarang kamu seperti ini ...!"
"Maafkan Ayah, karena kamu harus tinggal bersama Ibumu yang hidup di penuhi dengan ambisi untuk balas dendam. Ayah percaya kamu tidak salah, kamu hanya korban dari tindakan Ibumu kan?" ujarnya.
Sampai saat ini Aura masih belum sadarkan diri. Botol infus sudah 4x diganti. Namun belum ada tanda-tanda Aura sudah sadar. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara monitor di meja samping bednya.
Aura memang tidak berada di ruang ICU tapi di tubuhnya terpasang kabel. Kondisinya cukup mengenaskan, di usianya yang masih 22 tahun hatus kehilangan satu kakinya.
"A ... yaaah ...!"
"Ya Sayang ...! Ayah disini Nak. Buka kedua matamu, Ayah udah kembali ...!" ujarnya mengusap kepala Aura dengan lembut.
"I-ibu ... jangan ... Ibu jangan ...!" teriaknya spontan langsung membuka kedua matanya dengan lebar.
"Sayang, tenanglah ...! Ada Ayah ...! Wanita itu tidak akan lagi memarahimu," ucapnya.
"A-ayah ... Ayah disini? Rara takut Yah ...!" tangisnya pecah.
Pak Ruli segera menekan bell yang di sediakan pihak Rumah Sakit untuk memanggil Dokter/Perawat yang sedang berjaga. Tak berapa lama datang seoramg Dokter dan Perawat menghampirinya.
"Selamat malam, Pak? Ada yang bisa kami bantu?" sapanya.
Dokter segera memasang stetoskop ke kedua telinganya dan segera menempelkannya pada bagian dada pasien untuk mendengarkan suara jantung dan suara nafas sebagai pemeriksaan fisik.
"Suara nafasnya normal, denyut jantung juga normal ya Pak ...!" ujarnya.
"Terimakasih Dok," jawabnya.
"Yah, kenapa kaki ku yang satu gak ada rasanya?" tanya Aura.
"Dok ... tolong jelaskan padanya," ujar Pak Ruli yang tidak sanggup menjelaskan apa-apa pada putrinya.
"Aura, maaf ya. Kami terpaksa harus melakukan tindakan amputasi karena tulang di kaki kirimu sudah hancur. Dan jika di biarkan akan membusuk dan bisa menjalar ke bagian tubuhmu yang lain," ujarnya dengan jelas menjelaskan maksud dari tujuan kenapa tindakan tersebut di lakukan.
"Ka-kaki ku hanya satu sekarang. Kenapa aku gak mati saja, Aaaargghh!" teriaknya histeris dan tak lama setelah itu Aura tak sadarkan diri lagi.
"Sayang, bangunlah. Kamu harus kuat, Ayah akan selalu ada buatmu," ucapnya.
"Sabar ya Pak ...! Hal ini biasa terjadi pada pasien seperti Aura. Apalagi usianya masih sangat muda, tingkat emosinya masih tinggi dan tidak ada orang yang bisa menerima keadaannya yang seperti sekarang,"
__ADS_1
"Saat ini, Aura hanya butuh ketenangan juga dukungan dari keluarga ...!" ujarnya dengan lembut.
"Iya Dok ...!"
...RS PERMATA UNGU...
...RUANG ICU...
...PUKUL 20.00 WIB...
Suasana begitu sepi, hanya terdengar suara alat medis di dalam ruang ICU. Bed tempat Randy di rawat tepat berada dekat dengan jendela. Revan hanya terdiam, melihat sahabatnya yang seperti sekarang ini.
Apalagi saat melihat Kinan dan yang lainnya. Ia jadi teringat saat Lia dan Kinan yang juga pernah di rawat di Rumah Sakit yang sama. Hanya saja fisik dari bangunan yang sudah di rombak.
Beberapa kali terlihat perawat mendatangi bed Randy untuk melihat hasil monitor dari Respiratory, ECG, SPO2, dan lain-lain. Begitu seterusnya yang mereka lakukan sejak tadi.
Yang menunggu hanya bisa berdoa dan berharap agar Tuhan memberikan keajaiban pada keluarga mereka. Di sana bukan hanya mereka berdua yang sedang harap-harap cemas menantikan keluarganya.
Bahkan, mungkin mereka sudah berhari-hari/minggu/bahkan sudah 1 bulan atau lebih. Tapi tak sedikitpun di wajah mereka terpasang kesedihan yang berlarut disana.
Di sisi lain ....
"Sayang, kamu belum tidur?" tanya Vannya setelah selesai dari melakukan night routine care.
"Belum ... kamu tidurlah. Aku di sini jagain kamu," ujarnya seraya melempar senyum.
"Bagaimana aku akan tidur. Sedangkan suamiku masih duduk di sana sekarang. Aku juga tidak akam tidur, menemani suamiku yang sepertinya mau terjaga mungkin sampai pagi," celetuk Vannya meraih ponselnya hendak menonton video di ponselnya.
"Hi ...! Kamu harus istirahat," ujar Vin segera merebut ponsel dari genggaman Vannya.
"Bukan cuma aku. Tapi kamu juga, aku tau kamu tifak akan bisa tidur. Tapi setidaknya di coba dulu meski harus menunggu lama sampai kamu tertidur," ucapnya seperti seorang Ibu yang sedang menasihati anaknya.
"Tapi ...!"
"Tidak ada kata tapi, Mami butuh kamu. Sekarang Papi sedang tak berdaya di sana, apa kamu juga mau ikut sakit dan membuat semua orang bingung karenanya?"
"Sayang," ujarnya.
"Tidak ada alasan, bukan cuma kamu yang terpukul. Kita semua terpukul karena kejadian ini terjadi begitu saja, tapi kesehatan tetaplah nomor satu,"
__ADS_1