
Aku pikir, selama ini ...! Setiap aku pulang dari rumah Ibu, Ayah tidak melihatku yang sedih atau murung. Bahkan aku selalu memasang senyum di wajahku agar Ayah tidak tau kalau aku sedang kesal dan marah pada Ibu.
Tapi ternyata, dia tau semuanya. Ah ...! Anak macam apa aku ini, sudah membentak Ayah dan berlaku yang tidak sopan terhadapnya atas kejadian yang menimpaku karena kesalahanku sendiri.
___
"Non, kenapa Non Aura menangis? apa Bibi salah bicara? Maafkan Bibi ya Non," ucapnya.
"Tidak Bi, aku cuma merasa bersalah selama ini belum jadi anak yang baik buat Ayah. Bahkan akhir-akhir ini aku bersikap ketus padanya," dengan bersusah payah Aura menjawabnya.
"Non, yang sudah biarlah terjadi. Kita tidak akan bisa kembali ke masa lalu, kita hanya akan berjalan ke depan. Menjalani apa yang Tuhan takdirkan untuk masa depan kita," ucapnya seraya mengusap punggung Aura.
"Bi, maafin aku ...!" isaknya dengan lirih.
"Tidak ada yang perlu saya maafkan Non. Saya sudah menganggap Non seperti putri saya sendiri. Sudah ... sekarang Bibi antar ke kamar ya ...!"
Aura segera di antarkan ke kamarnya karena sudah waktunya untuk dia beristirahat. Sesampainya di kamar, Bibi segera membantunya berpindah ke atas ranjang dan menyelimutinya sebagian tubuhnya.
"Istirahat ya Non, kalau perlu apa-apa panggil Bibi saja ...!" ujarnya sebelum pergi meninggalkan kamar.
"Iya Bi, makasih ya ...!"
________
"Ric, kamu kenapa?" Sapa Dewi yang baru saja kembali dari lantai bawah.
"Aura tidak pernah membalas pesanku Wi, kenapa ya?" gumamnya.
"Mungkin dia tidak sempat pegang ponsel Ric. Kamu kam tau sendiri dia seperti apa. Maklumi ya,"
"Kalau kamu ke rumahnya, aku ikut ya ...?" celetuknya..
"Kamu yakin? Baiklah, kalau aku mau ke sana aku kabarin kamu kok,"
"Hmm, makasih ya Wi ...!"
"Sama-sama Ric. Yaudah, aku balik ke meja kerjaku dulu ...!" pamitnya seraya bergegas meninggalkan Rico.
...DEWI POV...
Mungkin ini satu-satunya cara untuk aku membantu kedua temanku, Aura dan Rico. Terlepas dari apa yang sudah terjadi, Aura tetaplah temanku. Tidak apa dia masih cuek dan ketus padaku, tapi aku yakin dia akan berubah dnegan sendirinya setelah dia sadar banyak yang sayang dan perduli padanya.
__ADS_1
Rico adalah pria yang baik, dia pantas mendapatkan gadis dambaannya. Aku akan berusaha semampuku untuk itu, selebihnya biar Tuhan yang melanjutkannya. Huh ...! Pasti ini akan jadi kebahagiaan tersendiri buatku saat melihat mereka bisa bersatu.
Hmm, Wi ...! Kamu harus bisa. Rico mencintai Aura, dan aku yakin dia akan bisa membahagiakan Aura.
_____
Di Tempat yang lain ....
Selesai makan siang dari bertemu klien, Chandra segera kembali ke ruang kerjanya. Dia segera memerika ponsel yang khusus di beli untuk mendapatkan laporan dari anak buahnya yang ia suruh untuk menjaga Ilham selama beberapa hari ini.
"Bagaimana?" tanyanya setelah telepon terhubung.
"Pak Vin meminta kami untuk membawanya ke RSJ Pak,"
"Nanti aku share alamatnya. Kalian bawa saja dia ke tempat itu,"
"Baik Pak,"
"Pastikan tidak ada orang yang melihat kalian saat membawanya keluar dari hutan,"
"Baik Pak,"
"Baik Pak," untung ketiga kalinya ia menjawa dengan kalimat yang sama dengan intonasi yang tegas.
Telepon terputus, Chandra segera mengalihkan perhatian pada benda pipih berukuran besar di meja kerjanya. Dia sedang membuka situs berita dna media sosial, melihat perkembangan dari pencarian Ilham yang di lakukan oleh pihak keluarganya.
"*Heh ...! Andai saja orang yang kalian cari tidak mencari masalah dengan kami, mungkin saat ini dia masih bisa bernafas dengan tenang. Bisa berada di tengah-tengah kalian,"
"Dan sebentar lagi kalian akan bertemu dengannya meski dengan kondisi yang berbeda. Jangan harap orang lain bisa mengusik keluarga kami, siapapun yang mengusik akan bernasib sama dan bahkan lebih dari ini ...!" gumamnya seraya menggulir lama media sosial di layar monitor.
Tok ... tokk* ...!
Suara ketukan pintu terdengar untuk beberapa kali, dengam cepat Vin segera menekan tombol keluar di layar monitor agar tidak ada orang yang tau apa yang sedang dia kerjakan saat ini.
"Masuk ...!" sahutnya setelah beberapa kemudian.
"Terimakasih Pak Chandra ...! Maaf, apakah saya mengganggu?" tanya Mbak Eni yang baru saja masuk dengan beberapa berkas di dekapannya.
"Tidak, tidak sama sekali ...!"
"Syukurlah, maaf jika mendadak Pak ...! Karena baru saja saya dapat laporan dari anak Perusahaan di sana jika ada masalah dan Bapak harus datang kesana," ujar Mbak Eni seraya membuka berkas berisi beberapa laporan yang baru saja dia print.
__ADS_1
"Coba saya lihat dulu, kamu duduklah ...!"
"Terimakasih Pak," segera duduk seraya menunggu keputusan dari Chandra.
Setelah membaca semua isi laporan yang tertera, Chandra tak langsung menjawab. Melainkan mencari jalan keluar sebelum menyampaikan apa yang akan dia lakukan terhadap masalah yang terjadi saat ini.
"Bagaimana Pak? Apakah Bapak akan kesana? Atau mungkin bisa saya saja?" ujar Mbak Eni dengan sopan memberikan pilihan untuk meringankan beban Chandra yang pasti harus menjaga keluarganya di rumah.
"Biar saya saja yang kesana. Untuk sementara waktu, Perusahaan saya serahkan pada kalian. Besok Vannya sudah bisa berangkat," ujar Chandra dengan tenang.
"Baik Pak. Kalau begitu saya akan siapkan tiket keberangkatan Bapak, dan yang lainnya ...!" ujar Mbak Eni segera bangun dari duduk.
"Terimakasih En ...! Pastikan saya berangkat 2 jam dari sekarang," pesannya.
"Baik Pak. Saya permisi ...!"
"Hmm, silahkan ...!"
Setelah Mbak Eni keluar, Chandra segera menghubungi isterinya. Memberitahukan jika hari ini dia tidak pulang untuk 1-2 hari kedepan karena harus keluar kota menindaklanjuti masalah yang sedang terjadi di anak Perusahaan.
...*A***LINA POV**...
"Tuut ... tuut ...!"
Panjang umur ...! Baru saja aku memikirkannya, dalam waktu tidak kurang dari satu menit ponselku berdering. Sebuah panggilan darinya, astaga ...! Lucu sekali ini.
Obtolan di Telepon ...
"*Hallo Sayang ...! Ada apa? Baru aja aku mikirin kamu ...!" celetuk Alina setelah menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselnya.
"Iyakah? Pantas saja hidungku gatal. Ternyata kamu lagi mikirin aku. Kamu udah makan?" tanyanya berbasa basi.
"Hillih ...! Mana ada hidung gatal cuma gara-gara aku mikirin kamu. Udah kok ...! Kamu dah makan?" tanya balik Alina.
"Udah Sayang ...! Hmm, Sayang ...! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujarnya mulai serius.
"Ngomong apa? Apa ada sesuatu yang terjadi di Perusahaan? Kamu bangkrut? Gak apa-apa Sayang, sabar ya ...! Aku akan selalu ada buat kamu," ujarnya dengan lembut.
"Aiih ...! Mana ada seorang Chandra bisa bangkrut ...!" celetuknya.
"Oh bukan itu? Lalu apa? Baiklah aku akan diam ...! Ayo mulai cerita," ujarnya segera menutup mulut dan memasang telinga untuk mendengarkan apa yang akan Chandra katakan*.
__ADS_1