Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Sudah tau


__ADS_3

"Mereka ada di dalam hatimu. Kamu tidak bisa melihatnya, tapi bisa merasakan keberadaannya," ucap Tyas.


"Mereka lagi tidur ya Bu?" tanya Madav lagi dengan polosnya.


"Iya Sayang," air mata tak mampu lagi terbendung. Mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya.


"Kenapa mereka tidur disini? Ibu kenapa menangis? Madav nakal ya Bu? Maafkan Madav Ibu," tangan kecilnya mengusap air mata di wajah Ibunya.


"Madav Sayang, ikut Kakak yuk ...!" ajak Amanda.


"Madav, sama Kakak dulu ya ...!" ucap Arsen.


"Hmm, Ibu jangan nangis lagi," ucapnya.


"Iya Nak," sahutnya dengan lembut.


_______________


"Jangan menangis," ujar Arsen pada isterinya.


"Tidak, aku cuma kangen sama Ayah dan adikku ...!" jawabnya.


"Aku tau, sabar ya Sayang ...! Aku tidak pandai merangkai kata untuk bisa menengkanmu, aku cuma bisa menyediakan bahu untukmu bersandar ...!" ujar Arsen.


"Hm, itu sudah lebih dari cukup Mas. Makasih sudah menerimakamu dalam kondisi apapun," ujarnya.


"Harusnya aku yang berterimakasih padamu, karena kamu mau menemaniku berjuang dari 0. Bahkan menyemangatiku dalam kondisi titik terendah sekalipun," ujarnya.


"Tugas Ayah, saat ini sudah berpindah ke pundakku Sayang," imbuh Arsen.


"Makasih Mas," ujarnya terisak.


Setelah menaburkan bunga, dan meletakkan sebuket bunga pada masing-masing makam juga menyiramnya dengan air mawar, mereka bergegas pergi meninggalkan area pemakaman.


Amanda dan Kemal tampak sedang bermain dengan Madav, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Arsen dan Tyas terdiam untuk beberapa saat, melihat mereka yang begitu dekat.


Sementara itu,


Pertemuan siang ini berjalan dengan lancar, setelah beradu pendapat dengan beberapa kliannang snegaja di undang secara mendadak, akhirnya mereka menemukan jalan keluar dari masalah yang terjadi saat ini.


Dengan tenang Chandra mempertahankan apa yang menjadi pilihannya meski banyak yang menentangnya.


Baginya, berbeda dari yang lain bukanlah kesalahan. Melainkan berani bertahan dan memperjuangkan apa yang menjadi pilihannya terkadang di butuhkan untuk menciptakan sesuatu yang beda meski banyak penolakan di awal.


"Maaf Pak Chandra untuk perdebatan tadi," uajrnya selesai pertemuan.

__ADS_1


"Perdebatan memang harus ada Pak. Sudah biasa bagi saya. Meeting tanpa adanya adu pendapat, bagai sayur tanpa garam," ujarnya.


"Bapak benar. Lebih baik berbeda argumen untuk bisa menyampaikan dari sudut masing-masing yang jelas berbeda. Daripada hanya diam, dan mengikuti kemauan orang lain," sahutnya.


"Ya, Bapak benar. Tapi sayangnya, sekarang lanhka ornag yang mau seperti itu. Lebih banyak yang mengalah karena merasa dirinya rendah, dan pasti akan kalah sebelum berperang,"


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Sebelum Bapak kembali ke Ibukota," ujarnya.


"Ide bagus. Mari Pak,"


Merekapun pergi ke sebuah tempat makan yang lumayan besar. Private room menjadi pilihannya, agar mereka bisa berbincang dengan leluasa tanpa mengganggu orang lain yang mungkin bisa saja terganggu dengan pembicaraan mereka.


"Setelah sekian lama, saya menantikan momen ini. Akhirnya datang juga, Bapak menyambangi anak Perusahaan di Jogja. Dan menjadi suatu kebanggaan untuk saya pribadi bisa bertemu dengan CEO muda terbaik," pujinya dengan rasa bangga.


Dia adalah Pak Jarwo, salah satu klien yang sudah bekerja sama dengan WIJAYA GROUP sejak satu tahun pertama Perusahaan berdiri. Usianya jauh lebih tua darinya, tapi semangatnya tak bisa di remehkan.


Dulu, sebelum Chandra yang mendapat gelar CEO muda terbaik, dialah sang penyandang gelar CEO dari berbagai kenamaan.


Selesai makan siang, setelah mengantar Pak Jarwo ke mobilnya. Chandra bergegas pergi bersama sopiryang di sewanya selama ia berada di kota Jogja. Chandra hendak mampir ke kediaman Eyang Buyut yang sudah kosong sejak beberapa tahun lalu.


Sejak kepergian Omah Ranty, tidak ada lagi yang tinggal di rumah itu. Hanya beberpa orang yang masih bekerja disana sebagai ART dan penjaga rumah yang sudah di percaya sejak dulu.


_________


Jenazah sudah dikeluarkan dari kantong jenazah, untuk di timbang berat badan sebelum di lakukan pemeriksaan fisik terlebih dahulu. Berat badan 70kg, dengan tinggi badan 180 cm.


Selanjutnya dilakukan pemeriksaan umum, seperti bentuk wajah jenazah, rambut pirang ikal, terdapat tanda lahir di bagian tengkuk sebelah kiri. terdaoat anting di telinga sebelah kiri.


Perut bagian kiricrobek sebesar 15 cm dengan darah yang sudah mengering. Baju yang di kenakan, kaos panjang berwarna hitam dengan jeans berwarna sama, dan lain sebagainya.


Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, jenazah siap untuk dilakukan pembedahan untuk mendapatkan bukti yang lebih akurat. Proses otopsi berjalan kurang lebih selama 2 jam lebih.


Hasil menunjukkan jenazah adalah saudara Ilham seorang dokter muda yang baru dua tahun mengabdikan dirinya di sebuah Rumah Sakit ternama di Ibukota.


Berkat bantuan dari beberapa rekan sejawat, mereka mendapatkan kontak keluarga jenazah dan mengabarkan jika Jenazah sudah di temukan dan sudah di lakukan proses otopsi.


Setelah menyelesaikan administrasi, pihak Rumah Sakit mengantar jenazah ke kediaman keluarga besarnya. Tangisan mengiringi kedatangan jenazah yang baru saja keluar dari mobil ambulance.


Sementara itu,


"A-astaga ...!" ujar Vannya terkejut setelah membuka pesan whatsApp dari teman semasa kuliahnya.


Berita kematian Ilham sudah sampai di telinga Vannya. Mbak Eni segera menenangkan Vannya agar tidak takut lagi, dan semua akan baik-baik saja setelah ini.


"Kamu udah tau?" tanya Mbak Eni.

__ADS_1


"Mbak Enudah tau? Kenapa tidak bilang aku Mbak?" tanya Vannya.


"Maaf Van, aku tidak tau harus memulainya darimana. Aku takut kamu akan kepikiran dan berimbas pada kehamilanmu, aku takut kejadian beberapa hari yang lalu terulang kembali," ujarnya.


"Hmm, tidak apa Mbak. Makasih ya, udah perhatian sama aku. Jujur, saat aku mendengar kabar ini. Kejadian itu langsung terbayang dengan jelas, tentu saja aku takut,"


"Tapi tidak setakut saat itu, aku malah kasihan sama Ilham. Walapun dia sudah jahat dan membuat trauma berat, aku masih menanggapnya dia adalah temanku.," Imbuh Vannya.


"Aku tau itu Van," sahut Mbak En.


"Aku sudah memaafkannya Mbak, walaupun aku masih takut sampai sekarang," ucapnya.


"Jangan takut, dia sudah tiada. Tidak ada lagi yang akan bisa mengganggumu,"


"A-apa Kak Vin juga udah tau ini?" tanya Vannya yang pastinya Mbak Eni tidak tau.


"Aku tidak tau Van," sahutnya.


"Sebentar, aku tanya dulu ...!" ucapnya seraya mendial up nomor Vin di daftar kontaknya.


Tuutt ... tutt..!


Obrolan di telepon ....


"Iya Sayang? Ada apa?" tanya Vin. Terdengat suara keyborad yang saling beradu di ujung telepon.


"Apa aku mengganggu?" tanya Vannya.


"Mana mungkin isteriku mengganggu, ada apa Sayang?" tanyanya menghentikan pekerjaannya. Terdengar dari hilangnya suara khas keyboard yang di tekan.


"Apa Kakak udah tau?" tanya Vannya setelah beberapa sata mengumpulkan tenaga untuk menanyakan masalah ini.


"Tau apa?"


"Tentang berita yang pagi ini sedang naik," jawabnya tanpa menjelaskan apa maksud dari pertanyaannya.


"Kamu tau darimana?"


"Dari teman alumni Sayang," jawab Vannya.


"Iya aku udah tau, pagi tadi saat aku baru sampai di ruangan. Kamu tenang saja, ini semua tidak ada hubungannya dengan masalah kemarin. Kamu tidak perlu takut," ujarnya.


"A-aku tidak takut. Hanya sedikit,"


"Kamu sama siapa disana? Apa aku harus kesana?" tanya Vin.

__ADS_1


__ADS_2