Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Jangan Sungkan


__ADS_3

Setelah memastikan isterinya sudah lelap dalam tidurnya, Chandra segera memindahkan isterinya ke atas ranjang. Lampu di kamar segera ia padamkan dan di ganti dengan lampu tidur.


Sementara itu, Chandra segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sebelum beranjak tidur menyusul isterinya yang sudah berkelana ke dunia mimpi lebih dulu..


drrrttt ... drrttt ....


Chandra segera memeriksa ponselnya yang bergetar, sebuah pesan masuk 2 menit yang lalu. Tidak ada nama pemilik disana, Chandra segera meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


Namun belum sempat ponsel lepas dari tangannya, ponsel kembali bergetar membuatnya mau tidak mau segera membuka pesan yang masuk untuk melihat apa yang sebenarnya nomor tersebuy inginkan.


• Hey, Honey! Apakabar? Apa kamu masih ingat denganku?•


• Aku Erlina, btw ... lusa aku akan ke Indonesia, aku harap kita bisa bertemu. Atau aku akan ke Perusahaanmu jika kamu sibuk,•


Chandra langsung mematikan ponselnya dan meletakkan kembali di atas nakas. Ia menggertakan rahangnya dan menyendarkan kepalanya di kepala ranjang.


Erlina adalah saudari kembali Erlita mantan kekasihnya yang meninggal beberapa tahun lalu karena kanker. Erlina sudah lama sangat terobsesi pada Chandra, saat dirinya berpacaran dengan Erlitapun secara diam-diam Erlina intens menghubungi Chandra bahkan terkesan meneror.


Untung saja setelah Erlita meninggal, kedua orangtuanya menarik Erlina untuk tinggal di negara kanguru. Dan itu berhasil membuat Chandra terlepas dari teror yang Erlina berikan.


Dan kali ini, wanita itu muncul kembali. Chandra takut jika Erlina akan melukai Alina yang saat ini sedang mengandung. Baru saja dia merasakan bahagia bersama keluarga kecilnya. Tapi kini masalah datang dengan tiba-tiba.


"Aku harus melakukan sesuatu supaya dia tidak sampai bertemu dengan isteriku. Dia berbeda jauh dengan Erlita yang lemah lembut, aku harus berhati-hati. Jangan samoai aku membuatnya tersinggung atau dia akan melukai wanita yang berharga dalam hidupku," gumamnya menghembuskan nafasnya dengan cukup panjang.


"Sayang! Aku tidak akan pernah membiarkan orang lain menyentuhmu, meski hanya ujung rambutmu. Aku akan menjagamu dengan sepenuh hatiku," batinnya membelai wajah isterinya yang terlelap.


Chandra meringkuk di samping isterinya, memandangi wajahnya yang begitu damai hingga ia terlelap dengan memeluk tubuh isterinya.


Di Tempat yang berbeda,


"Kak, kopinya ... ." ucap Vannya sembari meletakkan secangkir kopi panas di atas meja.

__ADS_1


"Terimakasih Sayang,"


"Emang besok gak libur Kak?" tanya Vannya ikut duduk di sebelahnya.


"Enggak Sayang, maaf ya aku belum ada waktu untukmu ... ." ucapnya merasa bersalah dan sejenak menghentikan aktivitasnya di depan laptop.


"Gak apa-apa Kak! Toh yang Kakak lakukan ini kan buat kita kedepanny juga, selagi Kakak di jalan yang benar aku selalu dukung Kakak kok," ucapnya bersikap dewasa.


"Iya Sayang! Makasih atas pengertianmu, aku janji setelah urusan selesai aku akan meminta libur beberapa hari buat honeymoon kita yang kedua," celetuknya.


"Eh? Kenapa honeymoon kedua?"


"Emang kamu gak mau kita honeymoon lagi? tanyanya tanoa merasa bersalah.


"Haih! Bukan gitu, tapi ... ah sudahlah, aku ikut saja apa kata Kakak! Yang penting Kakak semangat ya, aku masuk ke kamar dulu, besok harus berangkat lebih awal karena harus menggantikan kak Vallent seharian," ucapnya pada Vin.


"Iya, nanti aku nyusul ya!" celetuknya.


"Astaga! Iya Kak, jangan lama-lama ya. Hmm, bukan gitu, maksudku ... jangan kemalaman kan Kakak baru saja pulang dari luar kota," ucapnya mencari alasan yang tepat.


Ia segera berlalu menuju kamarnya untuk melakukan rutinitas malam sebelum pergi tidur. Setelah mencuci wajahnya dan memakai lotion ia segera beranjak naik ke atas kasur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Semntara itu,


Di ruang kerja lantai yang sama, Vin masih terjaga di depan laptop. Suasana begitu hening hanya terdengar suara ketikan keyboard laptop dan lagi-lagi suara hujan yang kembali turun membasahi bumi.


Asap dari secangkir kopi masih terus mengepul, mengeluarkan aroma yang menggunggah selera. Sesekali Vin meneguk kopi panas yang di buatkan isterinya untuk mengurangi sedikit rasa kantuk yang sudah menyerangnya.


Besok ada pertemuan dengan beberapa divisi, laporan terkait perjalanan bisnis yang sudah dia lakukan selama satu minggu di kota berlambang Buaya dan ikan paus.


Akhirnya setelah hampir 2 jam berkutik di depan layar monitor, pekerjaan bisa selesai dengan waktu yang cepat. Sejenak Vin menyandarkan badannya pada kursi meregangkan otot-otot yang hampir membuat badannya kaku.

__ADS_1


_________


Malam telah berlalu dengan begitu cepat, Vannya bangun lebih cepat dari biasanya. Ia harus menyiapkan sarapan untuknya dan juga suaminya selama ART belum kembali bekerja.


Dengan melihat wajah suaminya yang masih terlelap membuat semangatnya bangkit dan rasa kantuknya hilang seketika. Vannya bergegas keluar dari kamar dan turun ke dapur.


Tring!


Tidak seperti biasanya Mamah menelepon sepagi ini, Vannya segera menggeser tombol berwarna hijau pada layar monitor dan menyapa wanita yang sudah melahirkannya.


"*Pagi Mah!" sapanya dengan lembut.


"Pagi, Sayang! Kamu lagi apa? Apa Mamah mengganggumu?" tanyanya dari seberang sana.


"Aku lagi di dapur Mah, mau siapin sarapan buat Kak Vin. Enggak Kok Mah, ada apa?"


"Suamimu sudah pulang? syukurlah, Mamag lega mendengarnya. Hari ini kan ulang tahun Papah, bisa gak pulang kerja langsung ke rumah?" ucapnya.


"Iya Mah, bisa kok. Nanti aku bilang Kak Vin deh, ada sesuatu yang harus aku beli gak? Nanti buar sekalian aku mampir ke supermarket," ujarnya sembari menyandarkan badannya pada wastafel.


"Enggak Nak, makasih ya kamu udah mau datang. Pasti Papah senang kalau melihat kalian datang," ucapnya dengan rasa bangga.


"Ih, Mamah kayak sama siapa aja. Aku kan anak Mamah,"


"Iya Sayang, tapi kan sekarang udah beda. Kamu udah punya suami,"


"Mah, walaupun Vannya udah menikah. Bukan berarti Mamah harus memperlakukan aku kayak orang baru. Toh, Kak Vin juga gak pernah membatasi aku. Selama aku gak menyalahgunakan kepercayaan yang udah Kak Vin kasih ke aku Mah. Kalau ada apa-apa jangan sungkan lagi buat hubungi Vannya atau Kak Vin ya Mah!" pinta Vannya dengan merasa sedikit terharu.


"Ya Sayang. Makasih ya. Salam untuk Vin, nanti hati-hati kalau mau kerja dan pulangnya. See you Sayang,"


"Ya Mah, See you too* ... ."

__ADS_1


Telepon berakhir, Vannya melanjutkan kegiatannya untuk menyiapkan sarapan. Dengan cekatan ia segera mengeluarkan beberapa sayur dan lauk dari dalam kulkas, serta menyiapkan perbumbuan yang ia butuhkan untuk memasak pagi ini.


Untung sebelum menikah, ia sudah sering membantu Mamah masak. Setidaknya dia tidak buta soal jenis bumbu dapur dan tidak kaku saat harus turun tangan bekerja di dapur seperti saat ini.


__ADS_2