
Sementara itu di Perusahaan. .
Vin kini sudah berada di ruang kerja miliknya. Terpasang sebuah foto keluarga di atas meja kerjanya. Senyum kebahagiaan menghiasi wajah orang-orang tercintanya disana.
"Kak, aku sudah menerima tugas dari Papi. Meski ini pertama kalinya, tapi aku tidak akan mundur. Aku sudah lihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Papi menyelesaikan pekerjaan ini. Dan usia kami juga sama seperti dulu saat Papi menerima tugas dari Opa. Makasih Kak sudah menjadi motivator untukku, semoga Kakak juga bisa meraih impian kakak nantinya. Aku percaya Kak Nana akan bisa menjadi dokter hebat nantinya seperti om Keanu." Ucap Vin memandangi foto keluarga dan mengusap wajah Alina.
[Vin dimana Lo? Hari ini ga ke kampus?] Tanya seorang temannya yang setiap hari bersama Vin.
[Sorry, hari ini gw ikut Bokap ada acara. .]Jawab Vin membalas pesan dari temannya.
[Astaga. . Gw kira lo sakit. Besok ada undangan ulangtahun Dito di bar XX. Lo mau ikut gw? Ayolah sekali-kali ikut aja.] Ajaknya pada Vin.
[Sorry Yo, Lo tau kan gw alergi alkohol. Dan kebetulan besok gw ada acara, Kakak gw balik dari Jepang, jadi gw harus ikut jemput dia. Nanti gw titip aja hadiah buat Dito ya. .] Ujar vin dengan jujur pada Aryo.
[Baiklah. Ga asik Lo Vin, tapi lebih ga asik lagi kalo Lo mati gara-gara alkohol. hahaha]Ujar Aryo.
Tokk. . .tokk. . tok..
"Permisi. . . " Ujar seseorang dari arah pintu.
"Eh Om. . .silakan masuk Om." Ucap Vin mempersilakannya masuk.
"Terimakasih Nak." Ujarnga sambil membawa beberapa berkas ke arah Vin.
"Pasti Om di suruh Papi untuk membantuku kan? Hah. . .aku merasa lega, setidaknya ada Om yang bisa menjadi tempatku belajar selagi tidak ada Papi." Ujar Vin.
"Om hanya mengamati saja Nak. Ini beberapa buku dan berkas yang harus kau pelajari. Disitu juga ada beberapa daftar klien dan juga karakternya supaya kau bisa menghadapinya." Ujarnya menyerahkan setumpuk buku yang di bawanya.
"Oke Om. . makasih. Bagaimana kabar Tante Maya Om?" Tanya Vin yang memang sudah hampir satu bulan tidak bertemu dengan Maya.
"Sehat Nak. Dia juga menitipkan salam untukmu." Ujar Recan pada Vin.
__ADS_1
"Terimakasih Om. Oh iya bagaimana kabar Vannya? Apakah dia masih malu-malu? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Ujar Vin yang menanyakan anak kedua Revan dan Maya.
"Vany sekarang sibuk dengan kegiatan barunya. Dia menjadi pelatih penari tradisional di sanggar. Meski masih malu-malu tapi saat di panggung di bisa menguasai panggung dengan sempurna Nak. Kau harus melihat penampilan adikmu ya." Ujar Revan pada Vin.
"Tentu saja Om, aku akan menyaksikan penampilannya. Tapi kapan?" Tanya Vin.
"Minggu ini dia dapat undangan di Bandung. Om saja tidak tau kapan dia ada pentas di Jakarta. Karena jadwalnya sudah tersusun dengan rapih beberapa bulan sebelumnya." Ujar Revan.
"Wah. . dia benar-benar gadis yang hebat Om. Meski dia introvert, tapi bakatnya bisa berkembang dengan pesat. Bahkan aku saja kalah." Ujar Vin yang teringat dengan Vannya dulu yang begitu malu-malu dan hanya diam saat di depan Vin.
2 Tahun lalu. .
Hari ini semua teman-teman Kinan datang ke rumah untuk arisan entah apa namanya. Mereka datang bersama keluarganya. Vin dan Alina sudah mengenal anak-anak dari teman kedua orangtuanya karena memang sejak kecil mereka sudah sering bertemu dan main bersamanya.
Seperti biasa, Albian dan Vannya yang merupakan anak dari Maya dan Revan duduk bersama Alina, Vin dan yang lainnya. Alina yang paling dewasa di antara yang lainnya hanya mengawasi mereka yang sudah ia anggap sebagai adik-adiknya.
"Van. . kamu kenapa diam?" Tanya Alina pada Vannya yang sejak tadi hanya diam duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa kak." Jawab Vannya malu-malu.
"Apakah dia alergi Kak?" Tanya Vin yang juga melihat pipi Vannya kemerahan.
"Kau lagi. . dia malu. . Kau janfan melihatnya." Ujar Alina pada Vin.
"Apa dia alergi dengan mataku Kak?" Tanya Vin.
"Tidak Kak Vin, Vany memang begitu. Dia anaknya pemalu. Bahkan setiap pulang sekolah jarang sekali dia pergi dengan teman-temannya. Aku saja jarang melihatnya, karena dia terus saja di dalam kamarnya." Ujar Albian.
"Wahh. . adikmu ini memang pemalu rupanya." ujar Vin.
"Iya Ka Vin. . Ka Vany memang pemalu. Di sekolah saja dia sangat pendiam. Tapi banyak yang naksir Kak." Ujar Lily yang merupakan adik kelas Vannya.
__ADS_1
"Benarkah? Hmm . . Adik kakak ini malu-malu." Ujar Alina mengusap kepala Vannya yang sudah bersembunyi di balik punggung Alina.
"Tapi jangan salah Kak. . Kak Vany jago menari loh . . sekama dua tahun berturut-turut dia menjadi perwakilan sekolah dan menjadi juara." Ujar Lily lagi menceritakan Vannya dengan bangganya.
"Lily. . .jangan teruskan ceritamu. Aku malu, aku tidak sehebat itu." Ujar Vannya.
"Kan aku hanya menceritakan yang sebenarnya. Untuk apa malu, jelas-jelas kami bangga pada Kakak. Bahkan aku juga ingin seperti kak Vany, tapi tulangku tak selunak tulang Kak Vany." Ujar Lily.
Semua tertawa mendengar penuturan Lily. Vin dan Albian hanya menggelangkan kepalanya melihat para ciwi yang sedang ngobrol.
"Bian. . Bagaimana sekolahmu?" Tanya Vin.
"Hmm lancar Ka. Bulan depan aku ujian, doakan supaya aku lulus dan bisa seperti Ka Vin yang lulus dengan nilai terbaik." Ujar Bian.
"Hmm. . tentu saja. Mana mungkin aku mendoakan yang jelek ubtuk adikku. Rencananya kamu mau kuliah dimana?" Tanya Vin.
"Belun tau kak. Ikuti alurnya saja besok. Kak Vin bagaimana kuliahnya? Apakah enak kuliah disana?" Tanya Albian.
"Semua tempat sama saja Bi, asal kamu nyaman dan bisa mengikuti gaya hidup teman-teman yang kain. Setidaknya jangan mencari masalah. Kalau kamu tudak suka, tidak perlu kamu berkomentar. Cukup hindari saja." Ujar Vin.
"Hmm iya Kak. Jujur sampai sekarang aku belum tau akan bagaimana kedepannya." Ucap Bian.
"Kamu pikirkan dulu. . Pertimbangkan dulu mana yang lebih kamu kuasai. Kalau kamu mau kukiah di tempatku saat ini, aku akan menjadi temanmu disana." Ujar Vin dengan senyumnya.
"Terimakasih Kak Vin. Akan aku pikirkan lagi nanti." ujar Bian.
Disatu sisi, Alina dan anak-anak yang lain sedang bersibuk ria dengan obrolan para ciwi. Sesekali mereka tertawa dengan obrolan yang baru saja mereka bahas.
Alina dan Vin adalah anak tertua dari anak-anak teman kedua orangtuanya. Randy dan Kinan mengajarkan pada Alina dan Vin tentang arti kebersamaan dan peduli satu sama lain. Randy dan Kinan sengaja mengadakan arisan bulanan dengan tujuan supaya anak-anak mereka bisa semakin akrab dan berteman satu sama lain.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
♡Kekasih Kontrak Till Jannah♡
♡Ditunggu Kritik dan Sarannya Kak♡