Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Menemani Chandra


__ADS_3

Chandra tersadar di sana masih ada Vannya dan Mbak Eni yang menunggunya. Ia segera bangun, dan menyunggingkan senyum simpul di wajahnya.


"Hmm, maaf. Kalian jadi menungguku. Makasih sudah menemaniku," ucap Chandra.


"Sama-sama Pak ...! Saya turut berduka cita," ucap Mbak Eni dengan sopan.


_______


"Terimakasih, En ...!" jawab Chandra.


"Setelah ini kalian pulang saja, aku harus melanjutkan perjalanan untuk pertemuan. Sekali lagi, makasih y sudah menemaniku ke sini ...!" ujar Chandra.


"Sama-sama Pak, kalau begitu kami permisi. Semoga pertemuan berjalan dengan lancar ...!" jawab Vannya menyemangati.


Tring ...!


Sebuah pesan masuk, Vannya segera meraih ponsel dari dalam tas kecilnya. ternyata notifikasi ada saldo masuk ke rekeningnya. Sebelum dia bertanya, Chandra sudah menjelaskannya lebih dulu.


"Itu ongkos untuk kalian pulang, dan makan-makan saja dulu. Kapan lagi kalian jalan-jalan di jam kerja bukan," ujarnya dengan senyum tanpa arti di wajahnya.


"Makasih Pak ...!" ujar Vannya tak bisa berkata apa-apa lagi selain berterimakasih.


"Hmm, mobil kantor sudah datang. Silakan ...!" lagi-lagi Chandra membuat Vannya dan Mbak Eni terkejut.


Mereka segera berpisah di parkiran area pemakaman. Vanya dan Mba Eni pergi lebih dulu, mereka memutuskan mampir di restauran dekat area tersebut saja karena sepertinya Mbak Eni sudah tidak sabar untuk menanyakan sesuatu.


"Pak, ikut makan juga ya ...!" ucap Vannya dengan rah.


"Ta-tapi Bu ...!" ujarnya.


"Rezeki jangan di tolak Pak ...!" sahut Mbak Eni.


"Baik Bu ...! Jawabnya kemudian.


Mereka masuk, Pak Joni duduk si meja yang berbeda. Karena sungkan duduk bersama dua wanita yang bisa dikatakan mereka adalah atasannya. Padahal Vannya dan Mbak Eni sudah memintanya untuk duduk bersama tapi Pak Joni menolaknya secara halus.

__ADS_1


Sementara itu,


"Van ... tadi siapa yang meninggal?" tanya Mbak Eni yang sudah tidak tahan lagi menahan mulutnya yang sejak tadi di tahan untuk tidak banyak bicara.


"Itu makam Erlina, saudari kembar Erlita. Mbak Eni pasti tau kan siapa Erlita?" tanya balik Vannya pada Mbak Eni.


"Hmmm, tapi aku tidak tau kalau Erlita punya kembaran ...!" ujarnya.


"Mungkin Mbak Eni tidak dengan Erlita jadi tidak tau kalau dia ada kembaran," jawabnya.


"Haiis! kamu ini, aku pasti akan sungkan lah kalau dekat dengan kekasih Pak Chandra. Dulu saja kami tidak pernah bertatap muka dengan Pak Chandra,"


"Mengangkat wajah saja di depannya sangat sungkan karena beliau sangat keras dan kamu tau sendirilah ...!" imbuhnya.


"Hehe ...! Tapi setidaknya sekarang udah gak kan Mbak?" celetuk Vannya.


"Ya, sejak menikah dengan Dokter Alina. Lebih tepatnya setelah kejadian 4 tahun lalu," ujarnya.


"Hmm, begitulah kehidupan ...! kadang di atas kadang di bawah, kadang hujan kadang panas ... terus apa lagi ya perumpamaannya ...!" celetuk Vannya.


"Astaga ...! Malah main perumpamaan, ah ya ...! pertanyaan selanjutnya, kamu harus menjawab dengan jujur ...!" ucapnya.


"Aku positif, tapi belum check ke dokter kandungan. Jadi aku belum tau yang sebenarnya ...!" jawab Vannya dengan tenang.


"Syukurlah ...! Aku akan punya keponakan. Selamat ya Van, semoga kandunganmu sehat dan lancar sampai persalinan nanti," ujar Mbak Eni memeluk Vannya dengan kencang.


"Makasih Mbak ...! tapi lepas pelukannya, atau aku akan kehilangan oksigen ...!" ujar Vannya dengan pelan.


"Astaga ...! Maaf Van, aku terlalu bahagia mendengarnya ... kamu tidak boleh capek-capek. Kalau bisa jangan pake high heels karena terlalu ber-risiko," ucap Mbak Eni.


"Hmm, Okey Mbak ...! besok aku tidak akan memakai high heels," jawab Vannya.


Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan sudah datang. Mereka segera memakannya, kebetulan Vannya sudah merasa lapar karena tadi pagi hanya menyantap sandwich dua potong di rumah.


Dan sepertinya nafsu makannya sudah membaik, tidak ada rasa kesal melihat makanan yang ada di depannya saat ini. Vannya langsung melahapnya, dan ternyata benar tidak ada rasa aneh di lidahnya saat ini.

__ADS_1


"Pelan-pelan Van nanti kamu tersedak," ujar Mbak En mengingatkan.


"Hmm, iya Mbak. Aku sangat lapar, tadi pagi tidak bisa menikmati sarapan di rumah. Karena rasanya nafsu makanku belum bangkit. Tapi melihat makanan di depanku saat ini aku langsung bernafsu," jawabnya sambil mengunyah.


"Ada-ada saja kamu," ujarnya seraya menggelengkan kepalanya.


Setelah makanan di lahap habis tak tersisa, perut pun sudah kenyang tidak ada lagi ruang untuk makanan yang masuk. Mereka memutuskan untuk kembali ke Perusahaan, sebelum Pak Chandra kembali ke Perusahaan lebih dulu.


Sesampainya di Perusahaan, Vannya dan Mbak Eni segera bergegas untuk naik ke ruang kerjanya. Semua pegawai lalulalang membawa berkas di tangannya, saat berpapasan mereka saling melempar senyum dan menganggukan kepalanya dengan anggun.


...VANYA POV...


Huhh ...!


Akhirnya sampai juga di kursi, kakiku rasanya pegal sekali padahal cuma jalan dari parkiran kesini. Apa ini salah satu keluhan dari ibu hamil? Astaga ...! bisa-bisa aku setiap malam tidak bisa tidur kalau begini.


Malang sekali nasibmu Erlina, sayangnya kamu meninggalkan kesan yang tidak bersahabat denganku. Jadi aku tidak terlalu merasa kehilangan kamu, aku harap kamu disana jadi makhluk yang baik ya Er.


Selama hidupmu kamu terobsesi dengan Kak Chandra sampai membuat hatimu buta. Dan kamu pergi dengan cara yang tidak baik, semoga Tuhan memaafkan semua kesalahanmu.


Maafkan aku yang sempat kesal dan benci padamu karena sikapmu yang angkuh saat pertama kita bertemu. Semoga kamu bertemu dengan pangeranmu di kehidupanmu yang lebih kekal.


Tapi disisi lain, aku merasa tenang karena kepergianmu. Itu berarti rumah tangga Kka Chandra dengan Kak Nana tidak terancam dengan adanya orang ketiga.


Astaga Van ...! Sedang suasana berduka tapi kamu masih merasa bersyukur juga. Erlina, tolong maafkan aku ya. Bukan begitu maksudku, kamu tau kan apa maksud dari ucapanku barusan?


Di Tempat Lain ....


Setibanya di tempat pertemuan, Chandra memilih untuk duduk di dekat jendela menikmati pemandangan di depan matanya sambil menunggu klien yang belum datang.


Erlina memang bukan siapa-siapanya, tapi Chandra merasakan kehilangan meski tak seperti dulu saat kehilangan Erlita. Saat melihat wajah Erlina sekilas dirinya seperti sedang melihat Erlita di hadapannya. Meski mendiang meninggalkan kesan yang tidak baik untuknya.


Tak lama kemudian, terlihat klien sudah datang. Chandra segera berdiri dan menambutnya dengan ramah. Namanya Pak Rian, salah satu klien yang sudah lama bekerja sama sejak Papahnya yang memimpin dulu.


"Selamat pagi, Pak Rian. Selamat datang ...!" sapanya dengan ramah seraya mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Pagi Pak Chandra ...! Wah sudah lama menunggu ya," ujarnya menambut jabat tangan Chandra.


"Tidak Pak, kebetulan tadi sedang ada urusan di dekat sini jadi saya langsung ke sini," ujar Chandra menjelaskan.


__ADS_2