Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Menjenguk Aura


__ADS_3

Mereka bergegas pergi meninggalkan area sepi tersebut. Benar-benar tidak ada orang yang terlihat disana, bahkan nyamukpun tak terlihat. Sementara itu, Chandra meraih kunci mobil di tangan Vin.


"Biar aku yang menyetir, emosimu sedang tidak stabil," ucapnya.


"Hmm, makasih Kak ...!" ucapnya.


Chandra segera menginjak gas meninggalkan tempat tersebut menyusul mobilnya yang sudah jalan lebih dulu di depannya. Mereka menuju Rumah Sakit dimana Vannya berada saat ini.


Dalam waktu 1 jam mereka sudah tiba di Rumah Sakit dan segera bergegas menemui Vannya dan Mbak Eni yang sudah mereka tinggal selama hampir 3 jam lamanya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Vin setelah tiba di depan ruang tindakan IGD.


_______________


"Sudah membaik Pak, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Pendarahan sudah berhenti," jawabnya.


"Makasih ya Mbak En," ujar Vin.


"Sama-sama Pak ...!"


"Kalau gitu, aku urus buat rujuk ke RS lain ya ...!" ucap Chandra.


"Pak, saya permisi pulang ya ...!" ucap Mbak Eni.


"Udah mau pulang? Ah ya, ini sudah waktunya pulang kerja. Pulanglah ... makasih ya En," ujar Chandra.


"Sama-sama Pak,"


Tring ...!


"Itu buat ganti makan siang kamu," ucapnya.


"Wah, banyak sekali Pak ...!"


"Itu tidak seberapa, di bandingkan dengan bantuan yang kamu berikan,"


"Hmm, kalau begitu saya makasih ya Pak. Kalau ada apa-apa sama Vannya, kabari saya ...!" ucap Mbak Eni.


"Pasti Mbak," jawab Vin..


Mbak Eni berpamitan untuk pulang, sedangkan Chandra bergegas ke bagian administrasi untuk menyelasaikan pembayaran. Sementara itu, Vin masuk menemui Vanya yang sedang terbaring di atas bed.


"Hai Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Vin seraya berjalan mendekat.


"Hai Kak ...! Sudah jauh lebih baik. Kakak darimana?/Kok baru datang?" tanya Vannya.


"Aku dari ada urusan tadi, maaf ya Sayang ...!" ucapnya mengusap kepala isterinya.


"Hmm, aku takut sekali ...!"


"Jangan takut, dia tidak akan lagi mengganggumu ..!"


"Darimana Kakak tau?" tanya Vannya.

__ADS_1


"Hmm, karena dia sudah mendekam di penjara," celetuknya berbohong. Vin ikut duduk di atas bed bersandar pada kepala bed menjadi bantalan Vannya.


"Benarkah? Tapi lukanya sudah diobati kan? Tadi aku lihat Kak Chandra memukulinya,"


"Udah kok ...! Kamu tenang aja ya ... sementara waktu kamu libur dulu," ujarnya.


"Hmm," gumamnya.


Vannya menyandarkan badannya di bahu Vin, memeluk lengannya yang kokoh dengan kedua tangannya. Rasa gundah yang menghantuinya sejak tadi sekarang sudah sirna.


...VANNYA POV...


Rasanya seperti mimpi, aku berangkat pagi ini untuk bekerja. Tapi kejadian tak terduga terjadi begitu saja. Aku takut, rasanya aku seperti di hadapkan dengan jurang yang sangat dalam juga monster besar yang siap menerkamku.


Tidak ada satu celahkpun yang bisa aku gunakan untuk berlindung, aku pikir kisah hidupku akan segera berakhir. Tapi Tuhan mendengarkan doa ku, disaat yang tepat Kak Chandra datang untuk menolongku.


Seketika jurang yang terjal lenyap begitu saja, rumput yang tadinya gersang sudah berubah menjadi padang rumput yang hijau dan subur. Udara yang menyesakkan dada berubah menjadi segar melegakkan segala sesak di dalamnya.


Namun tiba-tiba, perutku terasa begitu sakit. Apakah ini memang sudah waktunya untukku pergi? Bagaimana dengan calon anakku? Apakah Tuhan tidak akan memebrinya kesempatan untuk anakku melihat indahnya dunia.


Dalam doa aku kembali memohon, berikan aku kesempatan untuk tetap hidup berpijak di bumi ini. Menjadi seorang wanita seutuhnya, menjadi isteri dan Ibu yang baik untuk keluarga kecilku.


Jadikanlah rasa sakit ini sebagai penggugur dosaku, tapi jangan engkau ambil lagi aoa yang sudah engkau titipkan padaku. Bukan aku rakus atau tidak mau bersyukur.


Hanya saja, ingin menjadi manusia yang amanah. Menjaga apa yang sudah engkau berikan, merawatnya dengan kasih sayang. Memilikinya untuk sementara waktu, sampai tiba saatnya engkau akan datang untuk menjemputku lebih dulu atau anakku.


Tapi jangan sekarang, aku baru saja menyayanginya. Aku baru saja berandai-andai bisa menggendongnya, menggenggam tangan mungilnya. Mendengar celotehannya, dan hal baik lainnya bersama anakku kelak.


Meski tubuhku sudah mati rasa, pandangan sayup-sayup mulai meredup. Tusukkan jarum suntikpun bahkan tak bisa aku rasakan, tidak ...! Aku harus hidup, apapun yang terjadi nantinya aku harus tetap hidup.


_______


"Sayang ... kamu kenapa diam? Apakah masih sakit? Mana yang sakit?" tanya Vin.


"Tidak, aku sudah tidak merasakan sakit. Calon bayi kita kuat Sayang, dialah yang menguatkanku ...!" ujar Vannya mengusap perutnya yang masih terlihat rata.


"Terimakasih Sayang, kamu tetap bertahan dan kuat. Tanpa kalian hidupku takkan berarti," ujar Vin mengecup kening Vannya dan mengusap perut isterinya.


"Hmm, aku akan tetap bertahan untuk keluarga kecil kita Sayang,"


Tokk ... tokk ...!


"Boleh aku masuk?" tanya Chandra menyela.


"Kak Chandra ...! Masuklah ...! Aku belum bilang makasih sama Kakak, apa Kakak baik-baik saja?" tanya Vannya.


"Seperti yang kamu lihat sekarang, aku sangat baik. Bagaimana keadanmu? Calon keponakanku baik-baik saja kan?" tanyanya.


"Berkat Kakak, aku dan calon anakku baik-baik saja. Makasih Kak," ujar Vannya.


"Hmm, kalian adalah keluargaku. Tentu saja aku harus melindunginya,"


"Sebentar lagi kita akan pindah Rumah Sakit. Biar bagaimanapun kamu masih harus di rawat, biar kondisimu cepat pulih," ucap Chandra.

__ADS_1


"Hmm ... iya Kak,"


Tak berapa lama seelah itu, seorang perawat datang hendak melepas infus.


Di sisi lain ...


"Wi, ayo ...!" ajak Rico yang sudah berada di dalam mobil.


"Okay," sahutnya segera berjalan mendekat ke arah lobby.


"Dimana Rumah Sakitnya?" tanya Rico.


"Rumah Sakit Sumber Waras, kamu tau kan?" ujarnya.


"Hmm," gumamnya.


"Kamu tidak mau beli apa dulu gitu? Kan mau ketemu pujaan hatimu," celetuk Dewi menggoda Rico yang wajahnya langsung bersemu merah.


"A-apa sih Wi," sahutnya dengan malu-malu.


"Hahah ...! Ric lihat wajahmu merah seperti tomat," ujar Dewi terbahak melihat wajah Rico.


"Yuk nanti mampir ke toko bunga, pasti Aura akan menyukainya ...!" imbuhnya pada Rico.


"Hmm, baiklah ...!" sahutnya.


Mobil mulai melaju meninggalkan Perusahaan, hati Rico tengah berbunga-bunga saat ini. Hari ini ia akan bisa melihat wajah gadis yang selama ini sudah mencuri hatinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan Ibukota di sore hari yang ramai karena saat ini adalah jamnya mereka pulang kerja. Semua ingin cepat-cepat pulang ke rumah, bertemu dengan anak dan keluarga setelah seharian berkutik dengan pekerjaan.


Tak perlu memakan waktu lama, mereka tiba di Rumah Sakit dalam waktu 1 jam. Dewi dan Rico segera turun dari mobil dan menuju bagian informasi untuk menanyakan ruang perawatan Aura.


"Wi, aku nunggu di luar aja ya nanti ...!" ujar Rico.


"Kenapa? Kamu tidak ingin melihat Aura? Lalu untuk apa kamu beli bunga untuknya?" jawabnya.


"Aku ...!"


"Udah, masuk aja. Kalau dia gak mau liat kamu, kamu sembunyi aja di belakangku nanti. Beres kan ...!" celetuknya.


Mereka terus berjalan melewati lorong di lantai 3. Mereka mampir ke ruang jaga perawat untuk memastikan ruang perawatan Aura. Setelah mendapatkam informasi lagi, mereka melanjutkan perjalanan menuju ruangan yang terlihat dari ruang jaga perawat.


"Kamu masuk dulu aja Wi," ucap Rico.


"Kita kesini berdua, kenapa tidak masuk berdua aja. Udah yuk ...!" ajaknya seraya menggandeng tangan Rico untuk masuk.


Tokk ... tokk ...!


Cklekk ...!


"Selamat sore Pak, Aura ...!" sapa Dewi dengan ramah.


"Ngapain kalian kesini?" sambutan yang tak bersahabat dilontarkan dari mulut Aura.

__ADS_1


__ADS_2