Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Mulai Kagum


__ADS_3

"Seperti yang saya bilang, semua keputusan ada pada Bapak. Tapi harus dengan niat Bapak sendiri," ucapnya.


"Baik Dok ...!" jawabnya.


"Kalau begitu saya resepkan obat untuk tiga hari saja ya Pak. Semoga Bapak bisa segera mengambil keputusan yang tepat,"


"Kan kalau Bapak sehat, bekerjanya juga jadi semangat Pak ...!" imbuhnya.


"Iya Dok, makasih ...!" sahutnya.


Setelah meresepi obat, perawat dan pasien sudah keluar dari ruang kerjanya. Alina segera beranjak ke washtafel untuk mencuci tangan setelah melakukan tindakan meski hanya pemeriksaan fisik saja.


Tokk ... tokk ...!


"Hi, Ri ...! Silakan masuk," ujar Alina yang masih berdiri di dekat washtafel sedang mengelap tanganna dengan sapu tangan kecil.


"Thank's ...! Aman kan hari ini?" tanyanya segera duduk di kursi.


"Aman kok. Makasih ya udah mau datang. Aku gak tau lagi harus menghubungi siapa," ujar Alina berjalan mendekat ke kursi.


"Iya Na ...! Kamu ini kayak lagi sama siapa aja. Kebetulan aku juga sedang libur kok," jawab Riri.


Riri adalah dokter pengganti sementara selama Stef belum kembali bekerja. Dulu Alina bekerja di tempat yang sama dengan Riri, dia adalah salah satu rekan sejawat yang care dan tak segan-segan membantu Alina saat tau Alina sedang sedikit kesusahan dalam melakukan tindakan.


Setelah berbincang sebentar, Alina ijin pulang pada dokter Riri dan perawat yang berjaga siang.


Setibanya di rumah ....


"Hi Mam ...! Kok gak tidur?" tanya Alina saat mendapati Maminya sedang duduk menonton Televisi.


"Hi Sayang ...! Mami mengantuk, kamu istirahatlah. Pasti capek kan?" ujarnya.


"Hmm, Iya Mam ...! Tadi aku bertemu Om Keanu, dia menitipkan salam untuk Mami dan Papi ...!" ucapnya.


"Oh ya? Ketemu dimana? Apa Om kamu datang kesini? Tapi kenapa tidak mampir?" ujarnya.


"Bukan begitu Mam. Tapi aku yang ke Rumah Sakit, kebetulan semalam ada pasien yang terkena serangan jantung. Dan tadi pagi sempat anfal, syukurnya pasien masih bisa di selamatkan,"

__ADS_1


"Melihat kondisinya yang sempat anfal. Jadi aku sarankan untuk rujuk saja. Lalu aku ingat jika Om Keanu juga bekerja di Rumah Sakit itu," imbuhnya menjelaskan pada Mami.


"Nak, Mami selalu bangga padamu. Apapun yang kamu lakukan selalu membuat Mami, Papi dan yang lain bangga ...!" ucapnya mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Makasih Mam ...! Kalianlah kekuatanku, tanpa kalian aku tidak mungkin menjadi seperti sekarang ini Mam," Alina memeluk Maminya yang sudah terisak.


"Lia ...! Andai kamu masih hidup. Pasti kamu akan merasakan seperti yangbaku rasakan saat ini Li. Putri kecil kita yang selalu membuat orang lain bangga," batin Mami Kinan seraya meneteskan air matanya yang sejak tadi tertahan.


"Ya udah, kamu istirahat gih ...! Kamu udahnmakan kan?" tanyanya.


"Udah kok Mih ...! ya udah, aku ke kamar dulu ya Mam. Cupp!" sebuah kecupan hangat mendarat di pipi kanan Mami Kinan.


Alina segera berlalu meninggalkan Mami Kinan sendirian. Sesampainya di kamar, Alina segera bergantin pakaian dan mencuci wajah, tangan dan kaki sebelum membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sejak ia masuk sudah melambai-lambai.


"Akhirnya, sampai juga di pulau impianku ...!" celetuknya seraya memejamkan kedua matanya.


...**ARDHANA GROUP...


...Jam 3 Sore Lantai 8**...


Aura lupa masih ada satu berkas yang belum di tandatangani Pak Vin. Iapun segera pergi ke meja Dewi untuk menanyakan keberadaan Pak Vin saat ini. Namun tidak ada Dewi di meja kerjanya, Aura berinisiatif untuk masuk sendiri saja supaya cepat beres.


"Masuk," sahutnya dari dalam.


"Terimakasih Pak Vin, maaf mengganggu waktunya sebentar," ujar Aura dengan sopan.


"Oh, Aura ...! ada apa Ra? silakan duduk ...!" ucapnya.


"Iya Pak ...! Maaf kalau saya mengganggu, saya lupa masih ada satu berkas yang tertinggal di meja saya," ujarnya menjelaskan maksud dari kedatangannya.


"Hmm," gumamnya.


Aura membuka berkas dan menyerahkan pada Vin untuk di tanda tangani. Ada beberapa lembar yang harus ia tandatangani, dan membutuhkan wkatu mungkin 3 menit untuk itu.


"Astaga ...! Aku baru sadar ternyata Pak Vin tampan juga. Selain itu dia baik sekali, tidak cuek padaku. Beda dengan Arsen ...!" batinnya, sejak tadi kedua matanya tidak berkedip menatap Vin dengan rasa kagum.


"Hmm, apa aku ikuti aja ucapan Ibu? Mungkin kali ini aku emang harus patuh sama Ibu ... Pak Vin dan Arsen sama-sama tampan, dan juga puslnya isteri ...!"

__ADS_1


"Sudah ...!" ujar Vin menutup berkas yang baru saja di tandatanginya.


"Ra ...!" panggil Vin.


"I-iya Pak, saya ...!" sahutnya terkejut.


"Kamu kenapa?" tanya Vin saat melihat Aura gugup.


"Ti-tidak apa Pak, kalau begitu ... saya kembali ke runag kerja ya Pak. Makasih," ucapna dengan sopan.


Vin hanya mengangguk dan tersenyum simpul pada Aura. Setelah menutup pintu Aura senyum-senyum sendiri seperti remaja yang sedang kasmaran. Dewi yang melihatnya terkejut, dia tidak tau kalau Aura masuk ke ruangan Pak Vin.


"Hei Ra ...! Kamu ada apa ke ruangan Pak Vin?" tegur Dewi mendekati Aura yang masih berdiri di depan pintu.


"Eh Wi ...! Iya, tadinya aku mau minta kamu. Tapi kamu gak ada, jadi aku masuk saja daripada harus nunggu dna gak tau kamu masih lama apa gak kan. Maaf ya Wi ...!" ujar Aura mengatakan yang sebenarnya.


"Oh gitu, iya Ra tadi aku sedang ke bagian fotocopy. Tapi udah selesai kan?" tanya Dewi memastikan.


"Iya Wi, udah kok. Aku ke ruanganku dulu ya, lanjutkan lagi pekerjannmu ...!" ujar Aura menepuk pundak Dewi sebelum pergi meninggalkan Dewi disana.


"Aura tidak macam-macam kan di dalam?" batin Dewi penasaran.


Sementara itu,


Sejak dari ruangan Pak Vin, wajah Aura terlihat bahagia. Tidak biasanya dia seperti ini. Dia membuka ponsel, mencari foto Pak Vin yanh pernah Ibu Erika kirimkan padanya beberapa tahun yang lalu.


Dan dia menyesal, kenapa baru sekarang dia memperhatikan wajah Pak Vin yang tampan itu. Meski begitu di hatinya masih ada Arsen, teman kuliahnya dulu yang paling tampan dan banyak di kejar teman kuliahnya yang lain.


...AURA POV...


Hatiku masih saja berdebar, aku baru melihat wajahnya sedekat dan selama itu. Pantas saja Ibu pantang menyerah memintaku untuk mendekatinya. Baru kali ini pilihan ibu tidak mengecewakanku.


Tapi kan, isteri Pak Vin putri dari Pak Revan. Orang kepercayaan di Perusahaan ini, dan dia sangat baik padaku. Tapi ... apa salahnya mencoba, tidak apa aku jadi isteri simpanan asalkan uang bulanan sama dan fasilitas tidak kalah dengan isteri sahnya.


Oh God ...! Kenapa aku malah berpikir seperti ini? Terlalu jauh Ra, Kamu harus pilih Pak Vin atau Arsen? Hmm, tapi kenapa tidak nyoba dua-duanya. Kalau Arsen susah aku dapatkan setidaknya masih ada Pak Vin, begitupun sebaliknya.


Aihh ...! Baru kali ini aku pintar ....!

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir, pastikan sudah like di episode ini dan sebelumnya ya 🥰🥰🥰


__ADS_2