Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Bertemu


__ADS_3

"Selamat datang, Tuan dan Nyonya ...!" sambutnya dengan ramah.


"Silakan," imbuhnya menyiapka kursi untuk Arsen dna Tyas.


Arsen dan Tyas duduk di meja bagian tengah Cafe di terangi oleh beberapa lilin yang terpasang di atas meja dengan cantiknya. Semua ini adalah hasil kreasi dari Amanda yang memaksa ikut Kemal saat hendak mencari restoran untuk makan malam.


"Madav tidak ikut duduk disini?" tanya Tyas.


"Tidak, aku mau sama Kakak cantik saja. Kasihan Kakak tidak ada tema," celetuknya.


"Aiihh ...! Anak kita tua banget ya Mas, astaga ...!" gumam Tyas tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan dari putranya.


"Kelak kalau besar, dia akan bisa menghargai pasangannya karena sudah terlatih sejak kecil," ucapnya.


__________


Makan malam berjalan dengan tenang dan sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Tepat pukul 20.30 acara makan malam sudah selesai, setelah Kemal menyelesaikan pembayaran, mereka segera bergegas pergi untuk kembali ke hotel.


"Abang ...!" Panggilan yang tak asing di telinga Arsen.


Dengan cepat Arsen segera membalikkan badannya dan langsung terhuyung karena sebuah pelukan mendarat tepat mendekap tubuhnya yang sebenarnya belum siap untuk menerimanya.


"Abang, akhirnya kita ketemu ...! Kenapa Abang tidak mengabariku kalau ke Jakarta? Apa Abang membenciku? Hiks ...!" isakan tangis pecah dalam dekapan yang sangat erat.


Lidahnya kelu, badannya terasa lemas. Seperti mimpi rasanya, setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Akhirnya malam ini mereka di pertemukan tanpa adanya rencana.


Tak banyak kata yang bisa terucap dari bibirnya, spontan tangannya membalas dekapan sosok wanita di depannya. Dibelainya rambut yang terurai panjang berkibar tertiup angin malam yang seolah memahami apa yang sedang terjadi saat ini.


"Kamu disini?" hanya itu yang mampu ia ucapkan.


"Hmm, aku disini. Sekian lama aku menunggu moment ini, aku hampir putus asa Bang. Jangan lagi seperti ini, aku tidak bisa bertahan dalam kerinduan yang menyiksa," ujarnya.


"Maafkan aku,"


"... ."


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya lagi.


"Aku dalam keadaan yang tidak baik, karena tidak ada Abang ...!" jawabnya.


"Jangan berkata seperti itu Kak," ucapnya terus mendekap saudarinya dengan erat.


"Memang itu kenyataannya. Sejak dalam perut kita di takdirkan untuk bersama, hingga usia kita menginjak 22 tahun dan harus terpisah begitu saja tanpa ada kabar. Bagaimana aku akan baik-baik saja?" jawabnya menatap kedua mata Arsen lekat-lekat.


...TYAS POV...


Akhirnya aku bisa melihatnya, mereka adalah satu. Tidak bisa terpisah satu sama lain, akulah yang salah. Sudah membuat mereka harus berpisah dalam waktu yang sangat lama.

__ADS_1


Harusnya aku menolak dulu, tapi mulutku tak mampu untuk mengatakan tidak. Lima tahun lamanya aku hidup dalam rasa bersalah dan ketakutan. Mungkin ini adalah waktunya aku untuk mempersatukan suamiku dengan keluarganya.


Hancur rasanya harus menjadi pelaku dalam masalah ini. Bukan maksudku untuk memisahkan mereka, bukan maksudku untuk merebut Mas Arsen dari keluarganya. Aku sendiri tidak ingin berada di posisi itu jika boleh memilih.


"Tyas ...! Bagaimana kabarmu?" tanyanya seraya berjalan mendekatiku.


"Kak ...!" aku langsung memeluknya dengan erat. Tangisku pecah, membuat air mataku kian deras mengalir membanjiri wajahku yang sudah lelah.


"Makasih Yas," bisiknya dengan lirih.


"Maafkan aku Kak,"


"Tidak ada yang perlu di maafkan, tidak ada yang salah. Hanya terjadi kesalahpahaman yang cukup panjang. Tapi cepat atau lambat, masalah ini akan berkahir. Kita akan bersatu kembali menjadi keluarga besar yang saling merangkul," jawabnya seraya mengusap punggungnya dengan lembut.


[Flashback On]


Arsen dan Madav sedang mandi, Tyas segera mengambil ponsel suaminya dan membawanya keluar kamar mencari tempat yang aman untuknya. Bukan maksud yang lain, dia hanya ingin mempertemuakan dua saudara yang sudah lama tidak bertemu.


Sesampainya di rooftop Tyas segera mendial-up nomor yang baru saja menghubungi suaminya. Tanpa menunggu lama, ia sudah menemukannya. Dan dengan sekali tekan ia sudah bisa menghubungi snag oemilik nomor tersebut.


Tuutt ... Tuutt ...!


Obrolan di Telepon ...


"*Abang ...!" panggilnya dari seberang sana.


"Tyas? Benarkah ini Tyas? Apa aku sedang tidak bermimpi?" ujarnya tak percaya.


"Iya Kak. Ini Tyas, aku cuma mau bilang. Malam ini aku akan mengajak Mas Arsen untuk makan di luar, nanti aku sharelok. Kakak datang ya ...!" ucapnya.


"Benarkah? Aku tidak sabar menunggu moment itu," ujarnya.


"Iya Kak ...! Aku ingin menebus semua kesalahanku, aku tidak mau putra kami tidak mengenal siapa keluarga," ucap Tyas mengungkapkan maksud hatinya.


"Kamu tidak salah Yas. Tidak ada yang menyalahkanmu, semua akan baik-baik saja ...!" jawabnya.


"Ya udah ya Kak, mungkin mereka udah selesai mandi. Aku harus segera kembali ke kamar, sebelum Mas Arsen mencariku,"


"Iya Yas. Makasih banyak ya ...!"


"Cuma ini yang bisa aku lakukan Kak. Sampai ketemu nanti malam*,"


Telepon terputus, lega rasanya setelah bisa menghubungin saudari iparnya. Yang tak lain adalah separuh nafas Arsen, mereka terlahir kembar dan tak pernah terpisah sebelumnya.


[Flashback Off]


"Jadi, ini kamu yang melakukan?" tanya Arsen yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Mas, aku tidak meminta izin lebih dulu sama kamu," ujarnya.


"Maaf untuk apa? Aku yang seharusnya berterimakasih sama kamu. Aku sendiri belum bisa menemukan waktu yang tepat dan cara supaya aku bisa bertemu dengan keluargaku. Tapi kamu sudah membuatkan jalan untuk itu, makasih sayang ...!" uvapnya seraya merengkuh Tyas dalam dekapannya.


"Mas tidak marah?" tanya Tyas.


"Tentu saja tidak," jawabnya singkat.


Amanda yang tidak tau apa-apa hanya bisa diam seraya menggendong Madav yang tertidur dalam pelukannya. Sedangkan Kemal masih dengan wajahnya yang datar, namun tatapannya sedikit berbeda dari biasanya.


Ada rasa haru yang tak bisa ia jelaskan. Selama ini Arsen banyak cerita padanya mengenai masalah dalam keluarganya. Kemal juga yang selama ini mengawasi keluarga Arsen di Ibukota, memastikan mereka dalam keadaan yang baik-baik saja.


"Kau menangis?" celetuk Amanda setengah berbisik.


"Tidak, siapa yang menangis ...!" sangkalnya seraya menyentuh kedua matanya dengan ujung jari berusaha menahan air mata yang sudah hampir keluar.


"Cih ...! Masih saja gengsi ...!" timpalnya.


"Memang itu kenyatannya, aku tidak menangis ...!" jawabnya dengan datar.


"Haihhh ...! Terserah kamu sajalah ...!"


"Wanita itu bukan mantan kekasih Tuan Arsen kan?" sebuah pertanyaan terlontar dari mulutnya.


"Menurutmu?" sahutnya.


"Astaga ...! Aku kan tanya. Kalau aku tau, tidak mungkin aku tanya ini," gerutunya.


"Dia adalah saudari kembar Tuan Arsen," jawabnya dengan singkat.


"Oh ya? Jadi, Tuan Arsen juga memiliki kembaran?"


"Apa maksudmu? Memang siapa lagi yang punya kembaran?" tanya Kemal.


"Amanda ...! Bawa Madav kesini," panggil Tyas.


"Baik Nyonya ...!" sahutnya segera berlalu menjauhi Kemal.


"Untunglah Nyonya segera memanggilku, jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan Kemal. Mulutku ini emang susah di ajak kerjasama," batin Amanda.


"Madav Sayang, bangun Nak ...!" ucap Tyas berusaha membangunkan putranya yang sudah berada di dunia mimpi.


"Madav ...!" panggilnya lagi dengan lembut.


"Ini putra kalian? Ah tampan sekali ...!" pujinya saat melihat wajah Madav yang tertidur pulas di pundak Amanda.


"Udah gak usah di bangunin, kasihan ...!" imbuhnya seraya mengusap rambut Madav dengan lembut.

__ADS_1


"Hmm, Ibu. Jangan acak-acak rambutku," rengeknya masih dengan kedua mata yang terpejam.


__ADS_2