
"Aiiihhh ...! Aku tidak dengar ... aku tidak dengar ... anggap saja tadi itu burem ...!" batin Dewi lagi mencoba menguatkan hatinya.
"Kamu ini ...! Wi, maaf ya ...!" ujar Vannya.
"I-iya Van gak apa-apa ...!" sahut Dewi dengan sedikit canggung.
"Tuhkan gak apa-apa katanya Sayang," timpal Vin.
"Tapi, kalau mau kaya gitu kasih aba-apa Pak. Biar saya gak lihat ...!" ujar Dewi dengan perlahan dan suaranya hampir tidak terdengar.
___________
"Yaudah ya, aku masuk dulu. Kalian hati-hati di jalan. Wi thank's ya atas bantuannya semalam," ujar Vannya sebelum keluar.
"Sama-sama Van, semangat kerjanya ya ...!" sahut Dewi menyemangati Vannya.
Vannya segera bergegas masuk ke dalam gedung Perusahaan. Ia langsung bergegas ke ruang kerjanya sebelum Chandra datang. Dan benar saja, selang 10 menit setelah Vannya duduk di meja kerjanya, Chandra datang.
"Pagi Van ...!" Sapanya dengan semangat.
"Pagi Kak ...! Wah benar-benar tidak libur rupanya," ujar Vannya.
"Haha ...! Bukan tidak libur, tapi sedang merencanakan libur yang tertunda. Kemarin aku mampir ke rumah Eyang, kayaknya kalau kita kesana ramai-ramai tidak ada salahnya Van. Kebetulan sebentar lagi kita ada cuti bersama kan?" ujarnya.
"Iya Kak ...! Semoga saja liburan kita tidak ada halangan ya Kak ...! Sudah lama kita tidak libur dan kumpul beberapa hari di tempat yang jauh dari Ibukota,"
"Kamu benar Van. Bagaimana kabar Mami?" tanya Chandra.
"Sudah jauh lebih baik Kak. Semalam Kak Vin mengundang klien dari Kalimantan, kebetulan beliau datang bersama anak dan isterinya. Dan, Kakak tau? Anaknya lucu sekali Kak, sampai-sampai Mami langsung dekat dengannya,"
"Itu adalah pertama kalinya aku melihat senyuman di wajah Mami setelah beberapa hari murung karena kepergian Papi," imbuhnya.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya Van ...! Makasih ya, udah jagain Mami. Mami adalah tanggungjawab kita bersama," ucap Chandra.
"Iya Kak ...!"
"Ya sudah, aku masuk dulu ya ke dalam. Semangat kerjanya Van," ujar Chandra.
"Makasih Kak ...! Selamat bekerja," ucap Vannya dengan sangat manis.
__ADS_1
Setelah Chandra masuk ke dalam ruang kerjanya, Vannya kembali menatap layar monitor yang menampilkan beberapa deretan huruf dan laporan masuk dari beberapa divisi juga laporan dari anak Perusahaan yang lain.
"Astaga ...! Kenapa harus masuk sepagi ini laporan dari anak Perusahaan. Okay Van ... semangat," gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Tring ...!
• Sayang, aku sudah sampai di Perusahaan. Semangat kerjanya Sayang ...! 🥰
• Iya Sayang, makasih. Semangat juga untukmu, love you ❤️
• Love you too, Sayang ❤️
"Astaga ...! Apa-apaan ini ... kenapa aku jadi geli sendiri, harusnya kan bukan aku yang bilang love dulu. Aiiih ...! Van ... kamu harusnya kontrol diri dulu biar Kak Vin duluan yang bilang," batin Vannya merutuki dirinya sendiri. Tapi senyuman terus saja mengembang menghiasi wajahnya yang terlihat berseri.
Sementara itu,
Sebuah senyuman mengembang di wajah pria berusia 25 tahun yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Kata manis dari isterinya menjadi penyemangatnya untuk melakukan aktivitasnya hari ini .
"Apa aku tidak salah baca? Tumben dia bilang lebih dulu sebelum aku ...!" batin Vin.
"Wi ...! Belikan bunga dan makanan apa saja terserah. Lalu minta orang untuk mengirimkannya ke isteriku," perintah Vin setelah menekan kode telepon yang langsung tersambung ke Dewi.
"Perasaan tadi Pak Vin baru saja ketemu sama Vannya deh," gumam Dewi seraya menyalakan ponselnya untuk memesan sebuket mawar putih dan juga makanan untuk Vannya.
"Hallo Kak ...! Saya Dewi dari Ardhana Group. Mau pesan mawar putih bisa kak? 1 buket besar ya, kirimkan ke Wijaya Group atas nama Ibu Vannya," ujar Dewi.
"Baik Kak. Terimakasih," sahutnya dari seberang sana.
Dewi melanjutkan pekerjaannya, membuat laporan hasil pertemuan kemarin dan segera mengirimkannya kepada Pak Arsen yang saat ini sudah mwninggalkan Ibukota.
"Wi, Pak Vin ada?" tanya Ricko.
"Ada, kenapa Ric?" tanya balik Dewi tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar monitor.
"Astaga ...! Sepenting itukah pekerjaanmu? Sampai gak mau lihat aku," celetuknya.
"Hmm, bukan begitu Ric. Maaf ...! Ada perlu apa?" tanya Dewi mengulangi pertanyaan yang belum dijawab Rico.
"Tidak tau, barusan aku dapat pesan untuk menemui Pak Vin," jawabnya.
__ADS_1
"Benarkah? Kenapa aku gak tau itu? Kamu melakukan kesalahan apa Ric?" tanya Dewi penasaran.
"Mana ada aku melakukan kesalahan. Kayaknya kamu deh yang melakukan kesalahan, buktinya Pak Vin gak ngasih tau kamu kan. Hayo loh Wi ...!" ucapnya menakut-nakuti Dewi.
"Aiihh ...! Kamu ini malah bikin kau takut,"
"Ya udah, aku masuk dulu ya Wi. Sebaiknya kamu ingat-ingat lagi deh, kira-kira kamu habis melakukan kesalahan apa sebelum ini," imbuh Rico sebelum beranjak dari tempat duduknya.
"Awas kamu ya ...!" ancam Dewi dengan kesal.
Tok ...Tok ...!
"Masuk ...!" sahutnya dari dalam.
"Permisi Pak," ucap Rico setelah membuka pintu.
"Oh Kkamu Ric, silakan duduk dulu. Sebentar ya," ujarnya.
"Baik Pak ...!" sahutnya seraya duduk di sofa.
Di Tempat yang berbeda
Setelah mandi, Mami Kinan segera beranjak menemoati spot favoritnya. Kursi di sudut kamar dekat jendela dengan angin sepoi yang masuk dari arah luar. Mami berencana untuk melanjutkan rajutan yang belum selesai.
Rwncananya ia akan membuat beberpaa potong pakaian bayi untuk cucu-cucunya yang saat ini masih berada di dalam kandungan. Kacamata sudah terpasang di kepalanya memudahkannya untuk memasukkan benang woll ke dalam lubang jarum.
Dengan lihai, bak designer yang handal. Kedua tangannya bekerja sama memainkan jarum dan benang membentuk pola yang indah. Rambutnya yang sudah tidak lagi menghitam sesekali menutupi wajahnya tertiup angin yang sednag berhembus lumayan kencnag.
Sesekali tanganya menyibakkan rambut dan merapikannya ke belakang telinga, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya. Begitu seterusnya hingga beberapa saat.
Suara alat pel terdengar dari arah luar kamarnya, mungkin Bi Minah yang sedang mengepel. Yang menandakan pekerjaan pagi ini sudah hampir selesai dan waktunya untuk istirahat sejenak sebelum melakukan pekerjaan yang lain lagi.
Suara gemuruh dari langit samar-samar terdengar. Menandakan hujan akan segera turun. Awan mendung sudah mulai terlihat dari sedikit celah antara jendela dengan horden yang berwarna putih.
Mami segera bangun dan menutup jendelanya agar tampias air tidak masuk dalam kamarnya dan akan membuat horden basah.
"Mau hujan ...! Aku harus segera menyelelesaikan ini supaya aku bisa kesana," batin Mami kemudian memutup jendela dengan rapat dan membuka horden agar ia bisa menikmati hujan yang akan segera turun pagi ini.
Tanpa menunggu lama, hujan segera datang dengan derasnya. Mengguyur tanah yang kering menjadi basah, membasahi pohon dan dedaunan di area taman dekat dengan kamarnya.
__ADS_1
Aroma semerbak tanah yang basah perlahan tercium dengan jelas oleh hidungnya. Ya, itu adalah harum yang tidak ada tandingannya. Bagi Mami Kinan, harum tanah basah saat hujan baru turun lebih segar dan membuatnya bisa menikmati hujan dengan caranya yang berbeda.