Kekasih Kontrak Till Jannah

Kekasih Kontrak Till Jannah
Foto berfigura


__ADS_3

Pukul 10.00 WIB


Dan anak manusia yang sebenarnya sudah menyandang status pernikahan masih terdiam, suasana hening di dalam mobil berjalan dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya Chandra mengalah, membuka suara untuk mengawali obrolan.


"Bagaimana keadaanmu?" Maksud hati ingin bertanya, apakah kau sudah mengingat ku? Tapi sepertinya mulut dan hati tak bisa ber kompromi dengan sempurna.


"Aku baik, bukankah semalam kau juga sudah bertanda demikian?" Ujar Alina dengan senyum mengembang di wajahnya yang merona, memperlihatkan dua kesung pipi yang menggemaskan.


"Hmm.. Iya juga sih. Entahlah, saat aku melihatmu.. Aku seperti terbius, aku bahkan lupa dengan apa yang ingin aku tanyakan satu detik sebelum aku bersuara." Ucap Chandra dengan melempar senyum ke isterinya.


"Kau ini, masih saja berusaha menggombali aku. Oh iya, kita mau kemana?" Tanya Alina pada Chandra karena sejak tadi memang belum mengatakan kemana tujuan mereka pergi kali ini.


"Aku ingin mengajakmu pergi ke rumah keluargaku, Opah ingin bertemu denganmu. Sudah dua tahun Opah tak melihatmu." Ucap Chandra.


"Hmm Opah, apakah aku pernah bertemu dengan Opah sebelumnya? Maaf aku belum bisa mengingatnya." Ucapnya dengan wajah kecewa.


"Ya, dua tahun lalu kau bertemu dengan Opah di Rumah Sakit. Saat itu Opah sakit parah, dan kebetulan kau sedang jaga pagi di Rumah Sakit. Jadi kau menyempatkan waktu untuk menjenguk nya." Ujar Chandra sedikit mengarang cerita supaya Alina percaya meski sebenarnya ingin mengatakan kalau saat itulah mereka menikah.


" Wqh benarkah? Andai aku bisa mengingat semuanya, pasti aku bisa menulis semua nya di dalam buku diary ku." Ujar Alina.


" Ya, kau akan mengingatnya Sayang. Aku akan menunggumu sampai kau bisa mengingat semuanya. Kau bisa ingat, aku lah suami mu. Dan kita akan menjalani hidup berdua dengan bahagia bersama anak-anak kita."


Senyuman dj wajah Alina dapat sedikit mengobati rasa ri du yang terpendam beberapa tahun lamanya. Ingin rasanya memeluk tubuh wanita di sampingnya, tapi tidak semudah itu. Alina bukanlah wanita yang dengan mudahnya berpelukan dengan siapapun meski itu teman dekat sekalipun.


Sesampainya di kediaman keluarga Wijaya, beberapa orang penjaga menyambut kedatangannya. Terlihat sosok pria dengan usia yang sudah hampir satu abad duduk di kursi roda dengan senyum kebahagiaan menyambut mmcucu menantu yang sudah lama tidak ia lihat.


Di sampingnya terlihat dua pasang suami isteri, yang tak lain adalah Orang tua Chandra dan juga Tante Resti dan suaminya. Tidak bisa di pungkiri, rasa bahagia dan haru beradu menjadi satu.

__ADS_1


Di sisi lain, mereka merasa bahagia karena bisa melihat Alina baik-baik saja. Di sisi lain, mereka merasa sedih harus berpura-pura menjadi orang lain padahal mereka sebenarnya ingin sekali memanjakan Alina seperti anak mereka sendiri.


"Mereka sudah menunggumu." Bisik Chandra dengan menggenggam tangan Alina dengan erat seperti hendak menyeberang di jalan raya yang ramai kendaraan.


"Kau sudah bilang pada Mereka kalau kita akan datang?"Tanya Alina sedikit beribisik.


" Tentu saja, toh mereka yang memintaku untuk menjemputmu. Mereka mengidolakanmu sejak kau menjadi model terkenal di Jepang."Ucap Chandra.


Dengan perlahan tapi pasti, kedua insan berjalan mendekati para orangtua yang sepertinya sudah gemas tidak sabar ingin mengucapkan kata sambutan untuk kedatangan mereka.


"Selamat pagi, Opah, Om, Tante." Sapa Alina dengan sopan dan langsung mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


"Selamat datang, Nak." Ucap Opah dengan perasaan haru. Tak menyangka saat ini cucu menantu nya telah kembali meski baru fisiknya.


"Hai sayang, boleh Mamah memeluk mu?" Tanya Mamah dengan mata yang berkaca-kaca menahan air yang hendak tumpah menjebol bendungan yang sudah di bangun sejak beberapa saat.


"Hmm.."Alina menganggukan kepalanya dan memeluk Mamah.


" Mamah kangen Nak, kangen sekali. Makasih ya, kamu sudah mau datang kesini. Dan ini adalah pertamakali nya kamu datang ke rumah ini Nak." Ucap Mamah mengusap punggung Alina dengan isak tangis hang pecah begitu saja.


"I-iya Tan. Eh Mah. Maaf Nana baru bisa datang kemari." Ucap Alina dengan perlahan, menepuk punggung Mamah dengan pelan.


Setelah acara makan bersama keluarga Wijaya, Tante Resty dan Mamah mengajak Alina pergi ke lantai dua untuk mengobrol seputar wanita dengan bebas tanpa di di ganggu Bapak Negara yang selalu rusuh kalau lihat para isterinya sedang bergosip.


Mereka pergi ke balkon di lantai atas, sambil menikmati es jeruk segar yang sepuluh menit lalu diantar oleh pelayan di rumahnya. Mamah dan Tante Resty tak henti-hentinya bercerita mengupas tuntas topik yang muncul begitu saja saat obrolan berselang.


Alina tanpa sungkan ikut berkomentar dan sesekali mereka bertiga tertawa saat Alina atau salah satu diantaranya bertukar peran sebagai tokoh dalam pembahasan mereka di pagi siang hari yang panas.

__ADS_1


Mamah ijin untuk kembali ke kamar mengambil ponselnya yang tertinggal sejak pagi di dalam kamar. Tak lama kemudian, ponsel Tante Resty pun berdering cukup panjang menandakan sebuah panggilan masuk di ponsel miliknya.


Dengan berat Hati, Tante Resty harus meminta izin pada Alina untuk mengangkatnya sebentar dan memilih menjauh sedikit dari Alina karena sepertinya mereka akan membahas sesuatu yang mungkin rahasia.


Tinggalah Alina seorang diri di balkon, karena bosan ia memilih untuk masuk ke dalam melihat-lihat setiap sudut di lantai dua. Dengan langkah perlahan kakinya melewati setiap jengkal lantai dua.


Beberapa foto berukuran besar lengkap dengan figura terpasang di tembok. Satu persatu di lihatnya, terlihat sata Opah masih muda dulu dengan seorang wanita cantik yang kemungkinan adalah isterinya.


"Apakah ini Oma? Cantik sekali, mereka adalah pasangan yang serasi." Gumam Alina saat melihatnya.


Satu persatu foto ia lihat tak ada satupun yang terlewat. Namun ada satu foto yang di tutup dengan kain merah di deretan terakhir. Cukup menarik perhatian Alina untuk mengintip sedikit kira-kira siapa orang di balik kain merah yang menutupi nya.


"Kenapa di tutup kain? Apakah ini orang yang spesial dalam keluarganya? Kalau tidak boleh ada orang lain yang melihat, kenapa tidak di turunkan saja dari pajangan. Apakah aku bisa mengintipnya sedikit saja?" Gumamnya dengan tangan kanan secara perlahan membuka kain merah yang menutupi bagian depan foto berfiguran hitam di depannya.


Saat di bukanya, Alina begitu terkejut.


Brukk....


Alina jatuh pingsan, Mamah yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Alina yang sudah terjatuh di lantai tak sadarkan diri.


______________________________________________


Maaf membuat kalian terlalu lama menunggu kelanjutan ceritanya, karena Author sempat kehilangan ide untuk lanjut ceritanya hehehe.


Maaf jika ceritanya tidak nyambung/tidak sesuai dengan yang kalian harapkan. 😥🙏🙏


Doakan semoga semangat ngetik Author tetap terjaga ya 😂😂

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. 😍😍😍


Happy Reading 😘😘


__ADS_2