
"Eh? Aku tidak apa Ra. Aku udah biasa kok, biasanya juga aku insomnia. Beneran deh," sahutnya sambil mengeringnkan rambutnya yang tergerai panjang.
"Nanti Rico jemput kamu kan?" tanyanya.
"Katanya sih gitu, tapi gak tau deh. Kenapa? Kamu udah kangen sama dia? cieee ...!" ledeknya membyat wajah Aura bersemu merah.
"Dih ...? Apa sih? Enggak kok ...!" sahutnya mengelak.
"Iya juga gak apa-apa Ra. Santai aja," gumamnya.
"Apa sih Wi? Aku kan cuma mastiin kamu ada teman ke kantornya, kalau sendirian kan kasihan ...!" jawabnya menjelaskan maksud dari pertanyaannya
_________________
Selesai berhias, Dewi membantu Aura turun dari ranjang dan memindahkannya ke kursi roda. Setelah menunggu Aura mencuci wajahnya, mereka segera keluar dari kamar menuju meja makan. Disana, Pak Ruli sudah menunggunya.
"Selamat pagi, Om ...!" sapanya dengan sopan.
"Pagi, Dewi ...! Wah sudah siapa juga. Mari sarapan," ajaknya.
"Pagi Yah," sapa Aura.
"Pagi Sayang, bahagia sekali pagi ini? Kalian habis ngapain sih?" tanyanya penasaran.
"Tidak. Cuma ngobrol aja, emang kelihatan ya Yah?" 5?tanya balik Aura.
"Hmm, pagi ini anak Ayah kelihatan lebih cantik dari biasanya," pujinya.
"Ih, Ayah bisa aja ...!" celetuknya.
Obrolan hangat terjalin di atas meja makan, Dewi sennag bisa melihat Aura kembali ceria. Untunglah Aura memiliki Ayah yang baik seperti Pak Ruli, bisa menerima putrinya dalam keadaan apapun terlepas dari masalah yang baru saja terjadi.
Usai sarapan, Pak Ruli segera berpamitan untuk ke Perusahaan. Dewi diajak untuk berangkat bersama, tapi Dewi dengan sopan mengatakan jika ia akan menunggu Rico yang akan datang menjemputnya.
10 menit setelah kepergian Pak Ruli, sebuah mobil berwarna hitam masuk ke halaman rumah. Terlihat binar bahagia dari wajah Aura. Dewi hanya meliriknya sesaat dan tersenyum melihat Aura pagi ini.
"Pagi Ra ...!" Sapa Rico.
"Pagi Ric," sahutnya dengan sangat manis.
"Astaga ...! Sepertinya aku tidak terlihat. Ra aku ke mobil dulu ya, kalian ngobrol aja dulu ...!" ucap Dewi.
"Eh? Kenapa?" tanya Dewi.
"Aku mau cek berkas yang di bawa Rico, takut ada yang kurang," mengedipkan sebelah matanya pada Rico memberikan isyarat agar Rico mengiyakannya.
"Oh iya, aku udah bawa semua berkas yang kamu minta semalam Wi, silakan di cek dulu sebelum kita ke kantor ...!" ujarnya.
"Aku sekalian pamit ya Ra, see you ...!" seraya bercipika-cipiki sebelum berlalu ke mobil Rico.
"Makasih ya Wi ...!" ujarnya.
__ADS_1
"Sama-sama Ra ...!" jawabnya.
Dewi segera berlalu masuk ke dalam mobil. Dia pura-pura mengambil berkas di kursi belakang kemudia karena Aura melihatnya dari jauh memastikan Dewi tak berbohong dan mencari alasan untuk meninggalkan mereka berdua di teras.
"Semoga saja Aura menerimamu Ric, biar aku bahagia melihat kedua temanku bahagia karena sudah menemukan pasangan," ujarnya.
*Sementara i**tu*...
"Bagaimana? Apa kamu udah ada jawaban Ra?" tanya Rico langsung to the point karena dia sendiri tidak au harus memulai pembicaraan dari mana.
Mungkin seharusnya Rico mengajak Aura ke sebuah tempat yang lebih nyaman untuk berdua ngobrol. Tapi dia tidak ada wkatu untuk itu, dan Aura tidak akan mau diajaknya pergi.
"Eh? Baru kemarin ... kamu udah tagih jawabannya ...!" ujar Aura.
"Oh kamu belum ada jawaban? Ya udah gak apa-apa. Kalau gitu aku pamit ya Ra," ujarnya dengan malu-malu.
"Gitu doang? Gak ada usaha biar aku cepat jawab?" celetuknya membuat Rico bingunh sendiri.
"Ma-maksud kamu?" tanyanya tak mengerti.
"Harusnya kamu paksa aku, jawab sekarang atau apa gitu biar aku mau kasih jawabannya ...!" timpalnya.
"Emang kamu udah ada jawabannya?" tanyanya lagi.
"Ada, tapi mendadak lupa," sahutnya berpura-pura ngambek.
"Ehh? Kenapa gitu? Hmm, aku harus gimana? ya udah, aku ulang pertanyaanku yang kemarin ya. Kali aja kamu jadi ingat dengan jawabanmu ...!" ujarnya seraya duduk kembali di kursi kayu teras rumah Aura.
"Hmm ... hmm ...!" entah mengambil suara atau mengurangi rasa grogi yang saat ini menjalar ke seleuruh tubuhnya.
"Ra ... udah sejak lama rasa ini bersarang di hatiku. Dan sejak saat itu sampai sekarang, rasa itu masih sama. Tidak ada yang berkurang, melainkan bertambah ...! Ra ...! Aku mau kamu jadi pasanganku, menghabiskan sisa umur bersamaku, apa kamu mau?" ujarnya dnegan gugup. Matanya tak berani menatap Aura.
"Apa seperti itu cara cowok mengungkapkan perasaannya? Aku disini, apa wajahku sama dengan lantai di bawah?" ujar Aura.
"Aiihh ...! apa aku harus mengulanginya dari awal?" tanya Rico.
"Tidak perlu ...!" sahutnya.
"Lalu apa jawabanmu?" tanya Rico.
"Kamu yakin mau aku jawab sekarang? Kamu dah siap dengar jawaban yang nanti keluar dari mulutku?" tabya Aura.
"Ya, tentu saja ...!" Jawabnya.
"Sebelumnya aku minta maaf dulu, kalau apa yang keluar dari mulutku tidak sesuai dengan jawaban yang mungkin kamu harapkan Ric. Karena aku juga tidak tau apa yang hatimu inginkan ...!"
"... ."
"Eeuuummm ...! Mungkin aku belum bisa menerima kehadiranmu seutuhnya, bukan karena aku masih mencintai dia. Tapi aku sedang menata hatiku dari 0 lagi, dan untuk pernyataanmu yang kemarin ...!"
"... ."
__ADS_1
"Aku ... tidak bisa jawab iya atau tidak. Yang pasti aku ingin kita coba untuk menjalani ini berdua kedepannya,"
"Ma-maksud kamu ... kita ...!" ucapnya tak percaya.
"Hmm," sahutnya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"A-aku tidak lagi mimpi kan?" ujarnya.
"Sini mendekat ...!" menjentikkan jarinya memina Rico mendekat.
Pletakkk ...!
Sebuah sentilan mendarat tepat di atas keningnya. Membuat Rico terkejut dan mengaduh kesakitan, memang cukup keras dan bukan karena Rico yang lemah. Melainkan tangan Aura yang cukup kuat menyentil.
"Maaf, sakit ya?" ucapnya saat melihat Rico meringis kesakitan seraya memegang kepalanya.
"Ti-tidak apa-apa ...! Aku tidak mimpi," sahutnya dengan wajah berbinar.
"Makasih ya Ra, kamu udah kasih aku kesempatan untuk bisa buktiin ini ke kamu. Aku janji, aku akan menjaga perasaanmu," ucapnya.
"Iya Ric, aku juga tidak janji untuk bisa setia sama kamu. Tapi aku usahakan, untuk bisa memelihara rasa ini agar terus tumbuh dan berkembang di dalam hatiku biar aku tidak mengecewakanmu," jawabnya.
Tiinnn ...!
Suara klakson terdengar sangat nyaring membuat dua anka manusia yang baru saja megikrarkan isi hatinya terkejut di buatnya. Bukan maksud untuk mengganggu, tapi waktu yang terus berjalan membuat Dewi terpaksa menyalakan klakson mobil.
"Ra ...! Maaf aku mengganggu ... tapi ini udah jam 6.00, aku harus sampai di Perusahaan sebelum jam 6.30. Maaf ya ...!" teriak Dewi dari dalam mobil.
"Iya Wi ...!" sahutnya. "Ya, udah. Gih berangkat, kasihan Dewi kalau sampai telat," ucap Aura pada Rico.
"Iya Ra, aku berangkat dulu ya. Kamu jaga kesehatan," ucapnya mengusap rambut Aura dengan lembut.
"Iya Ric, kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut, ada sahabatku di sana. Jangan sampai dia lecet sekalipun,"
"Aku bagaimana?" tanyanya.
"Ya kalau kamu hati-hati kamu juga pasti tidak apa-apa kan? Udah ah, gih berangkat. Sebelum Dewi membawa sendiri mobilnya," ujarnya.
"Iya Ra, aku berangkat ...!"
Rico segera berjalan meninggalkan Aura di teras. Pagi ini hatinya tengah berbunga-bunga. Apa yang dia inginkan selama ini, akhirnya terwujud pagi ini. Senyum bahagia telrukis di sudut bibirnya, membentuk bulan sabit kecil.
"Gimana?" tanya Dewi setelah Rico masuk dan memasang seatbelt.
"Menurutmu?" tanya balik Rico seraya menarik menginjak kopling dengan perlahan.
"Kalian udah jadian? Awwhh ...! So sweet ...!" gumam Dewi.
"Makasih ya Wi, ini semua berkat kamu. Aku gak tau mantra apa yang kamu ucapkan semalam sampai membuat Aura mau menerimaku," ujar Rico.
"Mantra? Kau kira aku penyihir? Enak aja ...!" sahut Dewi memukul lengan Rico.
__ADS_1